VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 50. Makan Malam Dengan Chester Moriarty



“Musik apa yang kau suka?” tanya Chester. Ternyata sejak tadi dia sedang memilih piringan hitam dari setumpuk koleksi yang dimilikinya.


“Kukira, aku lebih suka melody manis,” kata Lennox tanpa ragu.


“Ahh … itu khas dari jiwa pria yang sedang jatuh cinta!” Chester kembali tertawa.


Sekali lagi, Lennox hanya bisa meringis. Seperti inikah ayahnya Shadow? Tak heran wanita itu tidak terlalu ketat dalam aturan. Ayahnya sangat ramah dan ceria.


“Aku juga punya koleksi melody yang manis. Yah … aku pernah jatuh cinta juga dulu.”


Chester tertawa geli sendiri. Lennox hanya tersenyum mendengarnya. Tak lama suara musik yang tenang, lembut dan merdu mengalun memenuhi ruangan. Kedua pria itu tersenyum bahagia dengan kepala bergoyang ke kanan dan kiri.


“Makanan sudah siap, Tuan.” Bratt masuk dan mengabarkan.


Chester memperhatikan jam di atas meja. “Panggil nonamu turun. Jangan-jangan dia tertidur!” gerutu Chester.


“Baik, Tuan.”


Bratt langsung pergi. Lennox bisa lihat pelayan pria itu menaiki tangga melingkar yang tak jauh dari tempat mereka duduk. Tapi tak butuh waktu lama. Lennox bisa lihat Shadow menuruni tangga. Ya! Itu memang Shadow! Meski sudah mempersiapkan diri, tak urung jantung pria itu hampir melompat juga. Jelas, malam itu Shadow mengenakan pakaian dengan bahan yang mahal. Sangat berbeda dengan yang biasa dikenakannya di kediaman Hugo.


“Hai Lennox. Apa kau sudah lama tiba? Maaf, aku tertidur di ruang mandi, hingga Nancy membangunkanku,” sapa gadis itu riang. Kemudian dia menghampiri Chester dan berdiri di sebelahnya.


“Ini putriku, Venus,” kata Chester memperkenalkan gadis di sampingnya pada Lennox.


“Venus?” tanya Lennox bingung.


Chester tertawa. “Apa dia menggunakan nama Shadow padamu?” Lennox mengangguk.


Chester kembali tertawa. “Yah ... itu juga namanya. Jadi dia tidak berbohong padamu,” kata Chester.


“Mari kita berbincang sambil makan. Aku sudah lapar sekali,” ajak Chester.


“Oh, ini untukmu.” Lennox memberikan buket bunga yang sejak tadi dipegangnya.


“Terima kasih, Lennox. Kau sangat manis,” puji Venus.


“Jadi, aku harus memanggilmu apa sekarang?” tanya Lennox bercanda.


Chester dan Venus tertawa. “Kau bisa panggil yang mana saja. Keduanya memang namaku,” angguk Venus. Mereka melewati tanggga melingkar dan ruang terbuka yang pintu lebarnya memantulkan cahaya lampu dari area kolam renang.


Lennox sampai bergumam dalam hati. “Tampaknya Venus jauh lebih kaya dari pada Hugo!”


Pelayan pria tadi sudah menunggu id depan ruang makan. Sementara di dalam ruangan, empat pelayan wanita berdiri menunggu, untuk melayani makan malam tuannya.


Meja itu penuh dengan makanan, termasuk makanan yang dibeli Lennox. Bratt membisikkan hal itu pada Chester, membuat pria itu terkejut.


“Venus, lihatlah akibat kau tidak berterus terang padanya. Dia membelikan banyak makanan  untuk makan malam ini. Terima kasih, Lennox.”


“Terima kasih, Lennox. Kau orang yang sangat baik,” puji Venus dengan ekspresi menyesal.


“Tidak apa. Kau bisa memakannya kalau suka,” balas Lennox dengan canggung.


“Baiklah, mari kita makan. Aku sudah sangat lapar. Hal lain bisa kita bicarakan nanti.”


Perbincangan di ruang makan itu hanya pembicaraan ringan saja. Tentang pekerjaan dan hobi Lennox maupun Chester.


“Tak kusangka kau juga suka berburu. Apa kau mau ikut dalam acara perburuan klub bulan depan? Kami akan berburu bebek yang migrasi, sebelum musim gugur berakhir.” Chester menawarkan.


“Bolehkah? Tentu saja aku bersedia, jika diijinkan.” Lennox dan Chester sudah mencapai tahap saling dukung hobi. Venus terenyum senang melihat Lennox tak lagi merasa canggung terhadap mereka.


Bratt masuk dan berbisik pada Chester. Pria itu mengangguk. “Mari kita lanjutkan pembicaraan di halaman belakang,” ajak Chester.


meja dan berdiri. Kemudian menunggu Venus menggandengkan tangan. Keduanya


keluar ruang makan, diikuti oleh Lennox.


Pria muda itu mulai berdebar-debar lagi. Dia yakin, inilah bagian serius dari undangan makan malam Venus. Entah apa yang akan dibicarakan oleh Chester. Namun, dia sudah memantapkan hati. Jika Chester memintanya menikahi Venus dia akan langsung menyatakan kesediaan. Tak mungkin kakeknya, -Damon- menolak gadis dari keluarga terpandang seperti Cheser Moriarty yang sangat disegani semua kalangan, bahkan para bangsawan. Hati Lennox berbunga. Dia mengikuti langkah ayah dan putri itu sambil tersenyum.


Sekali lagi Lennox harus mengakui bahwa kediaman Chester benar-benar ditata dengan baik. Taman di halaman belakang itu sangat indah. Ada barisan tanaman cypres yang tingginya cukup untuk menjaga privasi penghuni yang ingin bersantai di sana. Lalu tanaman hidragea berbaris bergerombol di bawahnya, dengan warna seputih susu di malam hari. Lennox tak tau warna asli bunga itu saat terang.


Kolam kecil dengan aliran air terjun buatan  yang menempel tembok samping rumah, serta perapian di dalam mangkuk kecil di atas meja yang mereka kelilingi, membuat suasana benar-benar nyaman.


“Sepertinya kalian sangat senang duduk di halaman,” komentar Lennox.


“Ya. Matamu sangat jeli. Aku dan Venus menyukai alam. Bahkan udara musim gugur yang dingin masih bisa kita usir dengan perapian, dan duduk di sini menikmati suasana,” sahut Chester sambil tertawa kecil.


“Tak heran kau melompat ke danau malam itu dan dihukum Hugo. Kau pasti sudah tak sabar melihat danau indah itu hanya dipandangi saja.” Lennox terlompat bicara.


“Apa? Hugo menghukummu? Berani sekali dia!” Chester marah pada Venus.


“Kurasa, dia Cuma takut aku tenggelam, mungkin itu sebabnya dia marah,” kata Venus mencoba menenangkan Chester.


“Menurut Moreno, Venus dilarang berenang di danau, karena itu mengingatkan Hugo pada ibunya.” Lennox mengatakan yang diketahuinya dengan jujur.


Chester hanya bisa melihat Venus dengan ekspresi sedih. “Putriku yang malang,” katanya benar-benar sedih. Dia jadi memikirkan bagaimana dulu Venus tinggal di sana sebagai Jeannette. Dan itu membuatnya sangat sedih.


Hanya saja, Lennox memahami itu dengan cara berbeda. Dia mengira, Chester sedih putrinya dihukum hanya karena berenang di danau. Sementara di sini, Venus bisa berenang kapan saja di kolam renang pribadi mereka.


“Andai Hugo tahu siapa Shadow, Dia tak akan berani berlaku kasar padanya,” batin Lennox.


“Oh ya, Lennox. Putriku sudah


bicara dengan jujur padaku tentangmu,” kata Chester.


Lennox membenarkan duduknya. Ini waktunya untuk serius. “ya, Tuan Moriarty. Saya mencintai putri Anda. Bahkan sebelum saya tahu dia putri Anda,” jawab Lennox jujur.


Chester mengangguk mendengar jawaban Lennox. Tapi dia tak langsung menjawab. Dan itu membuat pria muda itu menjadi tegang dan harap-harap cemas.


“Begini, Lennox. Kau tahu putriku hanya dia saja. Mungkin baginya tak masalah menerimamu apa adanya. Bagaimanapun juga, harus kuakui, kau tidak terlalu buruk. Terus terang, aku menyelidiki sedikit tentangmu.” Chester mengakui.


Sekali lagi, hati Lennox membeku. Setelah kematian istrinya, memang reputasinya tak terlalu bagus. Dia tenggelam dalam kesedihan dan mungkin  terkesan mempermainkan beberapa gadis. Lennox merasa itu bukan salahnya. Dia menyukai setiap wanita yang mendekati dan menghibur hatinya. Tapi dia belum siap untuk menikah lagi. Jadi, dia selalu mundur, jika hubungan itu sudah sampai pada tahap dipanggil keluarga untuk menikahi putri mereka.


“Tenang. Aku tidak permasalahkan semua affair yang terjadi sebelumnya. Aku juga pernah merasa sangat kehilangan saat istriku meninggal setelah sakit lama. Aku bisa memahami perasaanmu itu,” ujar Chester menenangkan pria muda yang sudah kaku seperti arca es di depannya.


“Terima kasih, Tuan Moriarty,” angguk Lennox lega. Baru sekarang dia menyesali jejak masa lalunya yang penuh affair dengan para gadis muda.


“Saya tidak menyangka bisa jatuh cinta lagi, sejak pertama kali melihat putri Anda dengan seragam pengasuh yang sederhana.” Lennox berusaha meyakinkan Chester dan Venus.


“Yah … jika Venus memang sesederhana itu, memang tak masalah. HAnya saja, putriku adalah pewaris tunggal, dari semua yang kumiliki. Dia tidak sesederhana seorang pengasuh balita, Lennox, kata Chester.


“Aku punya mimpi juga untuknya. Dia akan menjadi wanita terhormat dan menikah dengan seorang bangsawan yang punya martabat dan disegani.” Chester menekankan setiap perkataannya.


Lennox tertunduk. Dia menyadari bahwa dirinya tidak masuk dalam kriteria Chester sama sekali. Dia memang pria bangsawan, tapi bukan yang terhormat dan disegani. Baru kali ini Lennox merasa tak berdaya dengan gelar bangsawannya. Dia harus apa? Sesulit itukah mendapatkan gadis yang dicintainya?


“Apa kau benar-benar menginginkan Venus?” pancing Chester.


“Ya, Tuan Moriarty. Tapi aku sadar, aku tidak memenuhi kriteria Anda,” ujarnya sedih.


“Bukankah kau dua tahun lebih tua dari Hugo? Ayahmu juga adalah putra tertua Damon von Amstel. Bukankah seharusnya kau yang menjadi ahli waris utama?” cecar Chester.


Lennox memendam amarah. Dia juga merasa keputusan Damon sangat tidak adil. “Ayahku mati dalam kesedihan akibat ketidak adilan ini!”