
Setelah beristirahat cukup lama, Shadow akhirnya sadar. “Apa yang terjadi?” tanyanya heran. Dia ingat bahwa dirinya sedang berlari.
“Kau pingsan di titik akhir!” Falcon mengatakan itu dengan nada pujian. Senyumnya terkembang dan tampak bangga.
“Apakah aku sudah bisa sarapan sekarang? Aku lapar sekali,” kata Shadow.
“Hahahaa ….” Falcon menggelengkan kepala. “Apa kau berlari cepat di titik akhir itu karena sudah kelaparan?” tanyanya di tengah tawa.
“Ya! Kau kira apa?” Wajah polosnya kembali meledakkan tawa Falcon.
“Ini sarapanmu!” Falcon menyodorkan satu mangkuk kentang rebus, telur dan sosis yang tampak lezat
“Terima kasih,” katanya sambil mencicipi masakan mewah itu. Dia sangat menikmati setiap gigitannya.
Falcon terkekeh geli melihat bagaimana Shadow memejamkan mata saat menggigit sosis yang digoreng dengan sedikit mentega.
“Kau sangat lucu, bahkan saat makan.” Pria itu kembali tertawa geli saat Shadow kembali menunjukkan ekspresi lucu.
Hari-hari berikutnya dilalui Shadow dengan latihan keras. Falcon sangat serius saat melatihnya, seperti sedang melatih seorang tentara bayaran. Dan Shadow tidak pernah menyerah, meskipun tubuhnya cedera berkali-kali. Setelah pulih, dia akan berlatih lagi. Bayangan Moreno seperti pemandu sorak yang terus memberinya semangat.
***
Sore setelah latihan berat, mereka sedang pulang ke pondok kayu.
“Aku sudah melatihmu selama sepuluh bulan. Kau sudah sangat mampu. Namun, untuk membuktikan kau mampu dilepas sendiri, maka kau harus mencoba tugas dalam tim.”
Falcon menjeda kalimatnya untuk melihat reaksi Shadow. Dia hanya melihat anggukan sebagai jawaban.
“Baik. Hari ini bersiaplah. Besok kita pergi ke satu tempat …,” Falcon melompati akar pohon dan Shadow mengikuti langkahnya. “… tapi ini bukan latihan.,” ujarnya serius.
“Apa aku sedang mendapat tugas untuk membunuh atau menculik seseorang?” selidik Shadow.
“Hahaha ….” Falcon tertawa selama beberapa waktu.
“Aku mau kau bergabung dalam timku. Kami mendapat tugas untuk membebaskan seorang sandera. Jadi---”
Penjelasan Falcon terhenti, karena Shadow menghalangi langkahnya.
“Membebaskan sandera? Bukankah itu sangat berbahaya? Aku bisa saja mati ditembaki orang saat itu!” Mata Shadow membesar mengekspresikan kengerian yang dipikirkannya.
Falcon tersenyum lebar. “Yah, taruhan tugas ini adalah nyawa. Ini latihan yang serius dan tepat untukmu. Belajar menghadapi kematian, agar kau bersikap hati-hati.” Jelas Falcon.
“Huh!”
Shadow kembali melangkah. Ditinggalkannya Falcon di belakang. “Kalau aku mati di sana, siapa yang akan membalaskan dendamku?” gerutunya.
“Aku!” jawab Falcon serius.
“Kalau kau juga mati di sana, bagaimana?” ketus Shadow tak mau kalah.
“Emmm ….” Falcon kebingungan untuk membalas kata-katanya. Pria itu jadi garuk-garuk kepala.
“Apa kau kira, mencoba mendekati Hugo itu tidak berbahaya? Dia sama berbahayanya dengan tugas ini. Bahkan jauh lebih berbahaya mendekatinya. Karena kau sendirian di sana. Sekali kau masuk, tidak akan mudah untuk keluar lagi. Kecuali dalam kantong mayat!” kata Falcon serius.
“Kau sudah buktikan sendiri kekejamannya. Kau nyaris mati. Dan mungkin akan mati jika aku tidak sedang memancing di pantai itu!” Falcon menegaskan lagi bahaya yang sedang dicari Shadow.
“Baiklah-baiklah! Aku ikut dalam timmu!” Shadow akhirnya setuju.
Mereka langsung pulang untuk bersiap. Falcon mengajarinya mempersiapkan setiap perlengkapa tempur, agar praktis dibawa dan mudah digunakannya saat dibutuhkan.
***
Matahari belum lagi muncul, saat dua orang itu sudah menelusuri hutan menuju dermaga. Sebuah speed boat sudah menunggu di sana. Mereka langsung berangkat, begitu Falcon dan Shadow melompat masuk.
“Apa mereka anak buahmu?” bisik Shadow diantara deru angin laut yang kencang pagi itu.
Satu jam kemudian mereka berlabuh di sebuah pelabuhan pribadi. Shadow sedikit tahu tentang pelabuhan pribadi, karena dia pernah juga naik Yacht milik keluarga Von Amstel di pulau pribadi mereka. Di sana juga ada pelabuhan kecil untuk tempat bersandar kapal dan speed boat anggota keluarga.
Shadow mengikuti Falcon turun. Beberapa orang berhenti dan memberi hormat pada pria itu saat mereka lewat di depannya. Shadow tak mengira jika Falcon sangat dihormati.
Falcon terus berjalan melintasi hall beras yang kosong. “Di mana Jackson?” tanya Falcon pada seseorang berpakaian teknisi warna biru cerah.
“Dia sudah mengeluarkannya dan menunggu di landasan!” jawab orang itu, seperti mengerti maksud pertanyaan Falcon.
Pria paruh baya itu hanya mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya melintasi hall besar tersebut. Sekarang di hadapan mereka terhampar lapangan rumput. Beberapa pria bertelanjang dada berlari dalam barisan, mengelilingi track lari sembari bernyanyi penuh semangat.
“Ini markas tentara!” batin Shadow. Dia tak terlalu bodoh untuk tidak tahu tempat apa itu. Meskipun sejujurnya dia tidak tahu Falcon berasal dari angkatan apa.
Sebuah helikopter besar berdiri gagah di tengah helipad. Dan Falcon mengarah langsung ke sana. Shadow mengikuti dengan ragu. Dia sedikit takut dengan helikopter, tanpa disadari. Langkahnya memelan dengan sendirinya.
Falcon baru menyadari keadaan Shadow saat dia berbalik untuk menyuruh naik. Dia melihat sinar panik di mata Shadow, dan dia menyadarinya dengan cepat. Wanita itu mengalami trauma, karena pernah didorong jatuh dari sebuah helikopter di atas lautan.
Pria paruh baya itu menghampirinya dan membimbing tangannya. “Aku akan melindungimu!” bisiknya lembut.
Shadow memandang ke arahnya dan mencari kebenaran di mata pria itu. Kemudian dia mengangguk. Keduanya naik ke dalam helikopter dan segera pergi dari sana. Sinar matahari menyingsing di ufuk, mengantar perjalanan mereka.
Akhirnya helikopter berhenti di halaman sebuah bangunan megah. Awalnya Shadow mengira kalau itu madalah kantor tempat Falcon bekerja. Namun, melihat beberapa wanita dan pria dengan pakaian pelayan berjalan dekat bangunan, Shadow akhirnya menyadari bahwa itu adalah kediaman seseorang.
“Apakah kau mau menemui seseorang?” tanya Shadow.
“Ya. Aku harus bertemu dengan beberapa orang dulu, sebelum pergi.” Falcon mengiyakan pertanyaan Shadow. Mereka memasuki pintu bangunan. Seorang kepala pelayan telah menunggu di sana.
“Tuan, Nyonya Sherly dan putranya sudah menunggu di ruang baca,” lapornya.
“Hemm! Smith, beri sarapan untuk Shadow!” pesannya.
“Baik, Tuan.” Smith mengangguk patuh. Dia melambaikan tangan memanggil pelayan lain yang langsung mendekat.
“Nona Shadow, Anda bisa ikut dengan Nancy. Dia akan menyiapkan sarapan untuk Anda,” ujarnya sopan, sebelum menyusul langkah Falcon yang sudah hampir lenyap dari pandangan.
Shadow mengikuti pelayan wanita yang berjalan di depannya dengan cepat. Melewati deretan perabotan yang sangat bagus. Setahun menjadi istri Hugo, ditambah mengunjungi kediaman para kerabat ataupun menemani Hugo ke pesta, Shadow sangat jelas bahwa perabotan di kediaman ini jauh lebih mahal dari kediaman Damon.
“Siapakah orang kaya dan berpengaruh yang ditemui Falcon?” batinnya penasaran. Shadow belum pernah mendengar nama nyonya Sherly seperti yang dikatakan Smith tadi.
“Sepenting apa jabatan wanita itu, hingga Falcon bergegas menemuinya?” Shadow bertanya-tanya dalam hati.
“Silakan duduk, Nona. Saya akan siapkan sarapan Anda dalam lima menit!” Nancy si pelayan wanita itu segera menghilang di balik pintu ruang makan kecil yang tertutup.
Shadow melihat ke sekeliling ruangan yang hanya berisi empat kursi mengelilingi meja bundar dari kayu yang berkilat merah kehitaman.
“Ini kayu red wood.” Shadow mengelus permukaan meja dengan hati-hati. “Sangat terawat,” pujinya lirih.
Karena bosan menunggu, Shadow berdiri dan mengamati taman kecil di balik jendela kaca. Taman yang tertata apik dan dikerjakan oleh profesional. “Pemilik rumah ini sangat memperhatikan detail kecil,”
Bibirnya tak dapat menahan pujian. “Taman yang sangat cantik!”
“Terima kasih, Nona!” Sebuah suara membuat Shadow membalikkan badan. Di sana Nancy sedang menata piring makan dan minuman di meja. Ada dua set makanan dan minuman di sana.
“Apakah aku harus menunggu seseorang untuk sarapan?” Shadow harus jelas, apakah dia boleh makan lebih dulu, atau harus menunggu orang lain datang bergabung.
“Anda bisa sarapan lebih dulu, Nona.” Nancy membungkuk hormat lalu pergi.
Shadow melihat piring makannya. Itu sarapan yang sangat bervariasi. Dia sudah sangat lama tidak menikmati sarapan lengkap seperti itu. Tangannya dengan cepat meraih sendok yang disusun Nancy dengan cermat.
Shadow sedang menikmati sarapannya dengan penuh perasaan saat pintu ruangan dibuka dan Falcon masuk, kemudian duduk di depan makanan yang sudah dingin.
Nancy kemali masuk dan menuangkan secangkir kopi harum di cangkir Falcon. Kemudian dia pergi lagi, tanpa menawari Shadow yang tergiur aroma kopi lezat itu. Dia hanya bisa meneguk ludah dengan cemberut.
*****