
Jangan lupa Like dan Komen ya.
*****
Setelah penyerahan Katerina selesai, Shadow diantar kembali ke rumah besar yang sebelumnya dia datangi bersama Falcon. Dia juga ditempatkan di kamar yang sama seperti sebelumnya. Sekarang, pertanyaan tentang rumah besar ini, makin menguat di kepalanya.
“Anda bisa membersihkan diri. Makan malam akan disiapkan dalam sepuluh menit,” ujar pelayan yang mengantarnya ke kamar.
“Oh, baik. Terima kasih.” Shadow memang merasa butuh mandi sekarang. Dia merasa tubuhnya sangat kotor, lengket dan berkeringat.
Shadow mengenakan lagi pakaian yang dipakainya saat datang. Pakaian itu sudah bersih serta harum. Digantung rapi di dekat cermin besar. Dirinya merasa segar dan juga lapar. Jadi dia kembali turun ke ruang makan yang ada di lantai bawah.
Ruang makan itu kosong, namun pintunya terbuka. Seorang pelayan sudah menunggunya datang. Begitu Shadow duduk, hidangan hangat dan menggugah selera langsung disajikan di hadapannya. Semangkuk sup krim yang harum mentega segera membuat tangannya meraih sendok dan menikmati pelan-pelan kehangatan yang menenteramkan perutnya yang sejak tadi sudah bergejolak.
Pelayan kembali tepat waktu untuk mengantar hidangan utama, saat Shadow meletakkan sendok setelah menghabiskan semangkuk sup creamy. Shadow senang melihat ada steak di atas piringnya. Dia kembali menikmati makanannya.
“Orang-orang kaya ini, apakah mereka pernah merasakan masakan Falcon di hutan?” Shadow tersenyum dengan pemikiran itu. Bubur yang entah apa dimasak Falcon jadi satu. Rasanya yang sangat aneh pasti akan ditolak oleh siapapun jika tidak sedang kelaparan.
Setelah selesai menghabiskan dessert, Shadow tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
“Siapakah pemilik rumah ini?” tanyanya.
“Anda tidak tahu?” Pelayan justru menjadi bingung. Shadow menggeleng.
“Tuan Chester Moriarty,” kata pelayan itu akhirnya.
“Oh? Di manakah Tuan Moriarty sekarang? Aku ingin berterima kasih padanya karena sudah menerimaku sementara Falcon pergi.” Shadow berusaha bersikap sopan.
Pelayan itu sedikit terkejut, tapi kemudian menjawab juga. “Sayangnya Tuan kami sedang pergi. Kami hanya diminta untuk melayani Anda hingga dia kembali.”
Pelayan itu pergi sambil membawa piring kotor bekas makan Shadow.
“Ah … baiklah. Sekarang saatnya tidur.” Shadow kembali ke kamarnya di lantai dua. Dan melupakan keinginan untuk menemui Tuan Chester Moriaty.
Dua hari kemudian, barulah Falcon kembali. Pria tua itu tampak lelah. Shadow yang melihatnya dari jendela ruang baca, tak berniat mengganggunya untuk sementara waktu. “Biarkan Falcon istirahat untuk sementara waktu,” pikirnya.
Sore hari.
“Nona, anda diundang Tuan Moriarty untuk menikmati teh sore di taman.” Pelayan menyampaikan undangan di kamarnya.
“Oh, tentu saja. Ayo!” Dengan semangat, Shadow langsung mengikuti pelayan itu turun dan berjalan ke taman lain yang baru dilihatnya.
Dilihatnya seorang pria mengenakan jubah rumah yang santai, duduk membelakangi di samping sebuah meja bundar kecil. Di sisi lain meja, ada satu kursi lain yang mungkin disediakan untuknya.
“Nona Shadow sudah datang, Tuan,” pelayan memberi tahu, setelah jarak mereka tiga langkah di belakang pria itu.
“Oh, Shadow ... silakan duduk,” katanya mempersilakan.
Shadow terkejut mendengar suara yang sangat dikenalinya itu.
“Kau?”
Pria itu memutar tubuh dan melihat ke arah Shadow. Dia tersenyum sebelum menghirup teh yang sedang dipegangnya.
“Bagaimana bi---”
“Buatkan dia teh juga.” Pria itu memberi perintah pada pelayan. Pelayan itu mengelilingi meja dan menuangkan teh ke cangkir kosong yang sudah ada di situ.
“Duduklah,” perintah pria itu. Shadow mengikuti.
“Apa yang ingin kau tanyakan?” tanyanya.
“Tidak ada. Aku hanya merasa bodoh,” sahut Shadow.
Pria itu tertawa berderai. Shadow menyesap teh itu. Tapi dia masih cemberut.
“Bagaimana keadaan Lyon?’ tanya Shadow setelah suasana sunyi beberapa saat.
“Operasinya berhasil. Dia akan selamat. Hanya saja, ginjalnya tinggal satu.”
“Apa dia tak bisa ikut dalam tim lagi, kalau kehilangan ginjal?” tanya Shadow.
“Siapa yang mengatakan itu? Selama mereka masih mau ikut serta, masih punya kemampuan, dan masih ada nyawa, maka mereka selalu bisa ikut dalam tim!”
Shadow mengangguk-angguk. Entah dia mengerti atau sekedar respon atas pembicaraan itu. “Falcon, jika kau punya rumah semegah ini, kenapa kau memilih tinggal di hutan berbulan-bulan?”
“Aku suka berlatih di sana. Berlatih ketajaman indera di alam liar, berlatih kesabaran. Apa kau kira para prajurit tidak perlu lagi berlatih setelah dia bergabung dalam kesatuan?” Falcon justru membalikkan pertanyaan.
“Hemmm … aku tidak tahu soal itu.” Shadow mengedikkan bahunya.
“Jadi, kapan aku bisa pergi membalaskan dendamku pada Hugo?” tanya Shadow.
“Kau sudah lihat apa yang dialami Lyon. Apa kau siap menerima resiko yang lebih besar dari itu?” tanya Falcon. “Aku harus memastikan kau tidak menyesali keputusan ini.”
“Kenapa kau pikir aku akan menyesalinya? Membunuhnya adalah tujuan hidupku, sekarang ini!” tegas Shadow.
Falcon mengangguk-angguk. Pandangannya dibuang ke arah taman indah yang sangat terawat di depan mereka. “Karena, sekali kau mencoba membunuh manusia, kau bisa kehilangan sebagian hati nuranimu. Hidupmu tidak akan sama lagi!”
Shadow tertegun mendengarnya. Tak menduga bahwa membunuh bisa berefek seperti itu. “Aku harus membalaskan dendam dan mengambil putraku! Apapun konsekuensinya, aku terima!”
Falcon tidak mengangguk lagi kali ini. Dengan serius dia menatap Shadow. “Kau tidak bisa mendekatinya dengan tampilan seperti ini.”
“Apa maksudmu? Lalu mesti bagaimana?”
“Kau harus merubah bentuk wajahmu agar tidak dikenalinya,” jawab Falcon.
“Aku bisa memakai riasan agar dia tak mengenaliku,” sahut Shadow cepat.
Falcon menggeleng. “Terlalu beresiko. Kau bisa saja ketahuan jika seperti itu.”
“Lalu bagaimana?”
“Bagaimana kalau kau menjalani prosedur operasi plastik untuk merubah beberapa bagian wajahmu itu?” tawar Falcon.
Shadow membeliakkan mata. Tak mengira Falcon memiliki ide sejauh itu. “Aku tak punya uang untuk prosedur itu,” tolak Shadow.
“Aku bisa membantumu soal biaya, tapi dengan satu syarat,” timpal Falcon misterius.
Shadow diam cukup lama. Berusaha menduga apa yang diinginkan pria tua di depannya ini. “Apa dia ingin aku menjadi istrinya?” batinnya ragu.
Kembali diamatinya pria di sebelahnya itu. Falcon memang sudah mulai tua. Tapi dia masih sangat gagah dan ketampanannya terlihat matang.
“Jangan berpikir macam-macam!” sergah Falcon sambil mengetuk dahinya. Pria itu sudah berdiri dan melangkah ke dalam rumah. Gelap memang mulai jatuh di langit.
Shadow mengikutinya ke dalam sambil mengusap dahi. “Apa syaratmu!” kejar Shadow.
“Ikut aku!” perintah Falcon sambil terus berjalan ke dalam rumah. Seorang pelayan embungkuk hormat saat dia lewat, diiringi Shadow.
Mereka masuk ke ruangan yang menurut Shadow terkesan formal. Falcon duduk di balik meja besar dari kayu red wood yang berkilat dan terawat baik.
“Duduklah.” Dia mempersilakan Shadow duduk di kursi yang ada di depannya. Wanita muda itu menurut dan patuh. Dia siap untuk mendengarkan sekarang.
“Aku butuh ahli waris. Apa kau bersedia menjadi putri angkatku?” tanya Falcon tanpa menunggu lagi.
“Apa!” Shadow jelas jadi terlonjak dari duduknya. Tawaran itu sangat tidak terduga.
“Itu hal yang sangat besar. Apa Kau sudah memikirkannya?” tanya Shadow meyakinkan Falcon.
“Aku sudah memikirkannya sejak sebulan yang lalu,” jawab Falcon.
Ekspresi Shadow sekarang berubah haru. Tak mengira Falcon akan memikirkan dirinya sampai sejauh itu.
Tangan Falcon bergoyang ke kanan kiri di depan Shadow. “Jangan mengira kalau aku kasihan padamu. Aku hanya tidak mau investasiku tidak kembali. Aku bukan orang yang suka membuang-buang uang untuk hal yang tidak memberi keuntungan!” ujarnya ketus.
Shadow sedikit terkejut, tapi kemudian dia tersenyum tipis. “Berapa lama kau kursus mengucapkan kata-kata pedas seperti itu?”
*****