
Jangan lupa di like ya kaka.
*****
Venus belum pernah pergi ke museum itu. Jadi dia sedikit lebih bersemangat. “Kau suka ke museum?” tanya Chester.
“Aku belum pernah ke sana. Aku sangat ingin tahu apa saja isinya,” jawab Venus jujur.
Chester terdiam mendengarnya. Menatap prihatin gadis di sebelahnya. “Begini saja. Karena kau belum pernah melihat koleksi di sana, kau boleh jalan berkeliling, nanti. Aku akan mencarimu saat urusanku selesai.”
“Terima kasih.” Venus senang dengan kemurahan hati Chester. Dia memang ingin melihat koleksi yang kata teman-teman sekolahnya dulu, sangat unik dan tidak masuk akal.
Mereka masuk ke museum dengan mudah, setelah Chester menunjukkan undangannya.
“Koleksi museum ada di lantai satu dan dua. Aku ada urusan di lantai tiga. Kau berhati-hatilah pada orang yang tidak dikenal,” pesan Chester.
“Oke.”
Venus meninggalkan Chester dan melangkah ke arah sepasang patung kayu tak jauh dari sana. Tidak ada keterangan apapun di sekitar patung, hingga dianggapnya itu hanya sekedar hiasan pintu masuk saja. Venus melanjutkan melihat setiap koleksi yang dipasang di dinding, ataupun di dalam kotak kaca, di tengah ruangan.
Tak satu pun koleksi museum itu yang luput dari perhatiannya. Dia terus melihat berkeliling, hingga naik ke lantai berikutnya. Beberapa pria terlihat jalan bersama di lantai dua. Melihat seorang wanita cantik naik sendirian, mereka saling berpandangan.
“Apa kalian mengenalnya?” tanya salah seorang.
“Aku belum pernah melihatnya. Cantik sekali!” yang lain menimpali.
“Aku pernah dengar keluargaku membicarakan putri Jenderal Chester Moriarty. Kata mereka, kecantikannya mampu menggantikan kecantikan Baroness Frisia Holloway yang disunting Hugo von Amstel!” jawab anak muda lainnya.
“Maksudmu, dia adalah putri Tuan Moriarty?”
“Kenapa dia tak pernah menampakkan diri?”
“Mungkin saja dia sekolah di luar negeri?”
Mereka menebak asal-usul wanita cantik memukau yang sedang berkeliling dengan anggun di lantai dua museum.
“Kalau kalian tak berani, biar kudekati!” Seseorang tak bisa menahan diri untuk berkenalan.
“Jangan macam-macam, kalau tidak ingin keluargamu didatangi Tuan Moriarty!” yang lain memperingatkan.
“Belum tentu dia putrinya. Bisa saja hanya seorang pelancong yang sedang liburan musim panas di sini!” Orang itu menunjukkan senyum kemenangan di wajahnya.
“Ahh! Kenapa kita tidak berpikir begitu? Mungkin dia memang hanya turis yang ingin mencari suasana menyenangkan di danau Springhills!” Yang lain mulai berpikiran terbuka.
“Kalau begitu, ayo kita ke sana dan coba berkenalan!” ajak seseorang. Rombongan itu baru jalan beberapa langkah, saat temannya kembali dengan wajah kecut.
Mereka merubungnya. “Ada apa?” tanya mereka penasaran.
“Dia putri Tuan Moriarty!” jawab temannya sambil mengerucutkan bibir.
“Sial!”
“Mendekati Frisia masih lebih sederhana dari ini!” gerutu yang lain berbalik. Teman-temannya mengikuti dari belakang. Mereka melanjutkan melihat-lihat koleksi museum setelah gagal mendekati putri seorang jenderal.
Venus hanya tersenyum di kejauhan. Dia melanjutkan melihat-liihat museum. Ternyata ada lebih banyak pengunjung di lantai dua. Beberapa kali dia berpapasan dengan sekelompok murid yang sedang melihat dan mencatat informasi di satu koleksi.
Setelah lelah berkeliling dan merasa bosan, Dilihatnya ponsel. Tak ada pesan dari Chester. Venus merasa bodoh, karena tadi tidak bertanya, akan berapa lama pria itu menangani urusannya. Akhirnya dia memilih untuk duduk beristirahat di balkon museum yang difungsikan sebagai tempat beristirahat pengunjung yang lelah berkeliling.
“Aku baru pertama kali melihatmu di kota ini. Apakah kau turis atau penduduk asli?” tanyanya sambil menilai Venus.
“Apakah kau merasa tersaingi melihat kehadiranku di sini?” Venus balik bertanya dan melirik wanita itu dengan sudut matanya. Tampangnya sangat sinis, khas Venus yang ketus dan terus terang.
“Hah! Siapa kau hingga aku harus merasa tersaingi?” Wanita itu memandangnya remeh.
“Kalau begitu, menyingkirlah! Kehadiranmu hanya mengganggu pemandangan saja!” balas Venus tak kalah tajam.
“Kau!” Gadis itu hampir tak bisa menahan diri, saat temannya memanggil untuk bergabung dengan mereka.
“Darcy, ayo kita pergi. Elliot sudah tiba di kafe!” ajak temannya.
“Beruntung aku terlalu sibuk untuk meladenimu!” ketusnya lalu pergi.
“Hahaha … sibuk mengejar Elliot Morgan?”
Venus tertawa terbahak sambil melirik ke satu titik di balik pepohon tepi jalan. Dia lalu berdiri dan menyandarkan tangan pada teralis. Balkon. Melihat para gadis yang barusan turun. Wajahnya tersenyum lucu dan mengejek. Setelah para gadis itu keluar, Venus berteriak ke arah mereka.
“Semangat!” Lalu suara tawanya pecah.
Gadis yang tadi menegurnya, melihat ke arah balkon dan wajahnya memerah. Entah karena malu, tersinggung, atau marah. Venus tak peduli. Dia justru melambaikan tangannya mengiringi kepergian kelompok gadis itu.
Kemudian Venus masuk lagi ke dalam museum. Dia melihat-lihat sekilas ke semua tempat. Diambilnya ponsel dan mengetik pesan. “Hati-hati. Aku merasa melihat sesuatu yang mencurigakan!”
Tak butuh waktu lama, pesan Chester masuk.
“Jangan lakukan apapun. Kau pergi saja menunggu di kafe beberapa waktu. Jika aku tidak kembali dalam satu jam, maka pulang saja!”
“Apa maksudmu tidak kembali?”
“Nanti kujelaskan. Sekarang ikuti perintahku!” balas Chester.
“Biar kutangani mereka!”
“Mereka bukan yang bisa kau hadapi! Pergi dari sana sekarang!” itu pesan terakhir Chester. Venus langsung turun ke lantai dasar dan keluar dengan langkah tenang serta anggun. Sebuah kertas informasi yang diberikan museum digunakannya sebagai kipas, pengusir udara panas.
Langkah kaki dipaksanya untuk mengarah ke blok lain di jalan itu. Dia ingin melihat apap yang sebenarnya terjadi. Tapi seperti kata Chester, Dia harus mematuhi perintah.
Menyusuri udara panas di bawah kerindangan pohon peneduh, membuat hatinya yang khawatir menjadi makin tak nyaman.
“Heh, kau mengikuti kami juga?” Terdengar suara kasar seorang gadis dari sebuah kafe.
Venus menoleh dan segera tahu bahwa mereka adalah rombongan gadis yang tadi mengusiknya di museum. Tapi dia tak mempedulikan. Langkahnya terus saja berjalan menuju gedung di blok lain jalan itu.
“Hah! Apa kalian tahu siapa dia? Sombong sekali!” geram gadis yang diabaikan Venus.
Kegeramannya semakin menjadi saat melihat Elliot Morgan terlihat berbicara dengan Venus sebelum gadis itu menyeberang. “Dia juga mengenal Elliot!” ujar teman-temannya.
“Tapi sepertinya dia tak tertarik pada Elliot. Lihatlah, dia terus saja menyeberang!” jelas gadis lain.
Sementara dalam kepala Venus, dia terus saja berpikir. “Siapakah mereka yang membuat Chester mengirim pesan seperti itu?”
******