VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 51. Tekad Lennox



Chester mengangguk mendengar keluhan pria itu. “Jadi ini terjadi sejak ayahmu? Lalu kau akan diam saja? Apakah kau merasa apa yang kau terima selama ini, sudah cukup? Kurasa kau tidak terlalu berambisi.”


Chester berkata dengan nada santai. Tapi menyakitkan bagi telinga Lennox. Karena apa yang dikatakan Chester tidak sepenuhnya salah. Selama ini dia memang tidak terlalu mengkhawatirkan posisinya. Karena hidupnya sudah nyaman, Punya pekerjaan yang bagus dan penghasilan lebih dari cukup.


“Kakek orang yang sangat kejam. Hugo pun mengikuti jejaknya. Belum lama dia bertindak semena-mena mengambil beberapa pekerjaan saya dan mengalihkannya pada orang lain tanpa mengatakan kesalahan saya apa,” kata Lennox.


“Apa alasannya berbuat seperti itu?” tanya Chester heran.


“Sebelumnya kukatakan padanya bahwa aku mencintai Shadow dan ingin melamarnya. Esok hari, sebagian besar pekerjaanku dialihkan pada yang lain!” jawab Lennox.


Venus dan Chester saling pandang dengan heran. Lalu kau akan terus diam setelah dia menginjak harga dirimu?” desak Chester.


“Kupikir, aku akan mengadukannya nati pada kakek.” Lennox bahkan tak yakin itu akan berhasil, karena di matanya, Hugo adalah kesayangan Damon.


“Kurasa, Kau harus menunjukkan sedikit taringmu, Lennox. Dia juga berbuat semena-mena dengan memecatku tanpa alasan jelas!” kesal Venus.


“Sudahlah … meskipun kau menyayangi anak itu, kalau ayahnya tak menyukaimu, jangan dipaksakan,” kata Chester.


“Aku hanya ingin mengatakan bahwa Hugo itu memang arogan!” Venus menjelaskan sudut pandangnya.


Lennox terdiam mendengar apa yang dikatakan Venus. Hugo memang arogan. Dan sepanjang ingatannya, sikap Hugo memang seperti itu. Dingin, bicara pendek dan datar. Tatapannya tjam menusuk, dan


sangat jarang tersenyum.  Sangat berbeda dengan dirinya yang ekpresif dan ceria.


“Venus, apa kau punya ide bagaimana menunjukkan perlawanan pada kesewenangan Hugo?” tanya Lennox.


“Itu harus dari dirimu sendiri. Kau harus menentukan hatimu lebih dulu. Ingin terus ditindasnya, atau melawan!” Chester yang menjawab.


“Jika dia tahu kau kuundang makan malam, tidakkah dia akan semakin menindasmu?” pancing Venus.


Lennox terdiam. Benar, dia tidak tahu kenapa Hugo tak menyukai Shadow. Padahal wanita ini sangat baik dan menyayangi putranya. Jika Hugo mengetahui dia datang menemui Shadow dan mengetahui siapa gadis ini sebenarnya, mungkin saja dia akan dikeluarkan dari perusahaan. Jika hal itu terjadi, jangankan memikirkan diterima oleh ayah Venus. Dia bahkan mungkin tak bisa lagi menghidupi dirinya sendiri!


“Kurasa … sudah waktunya melawan Hugo!” ujar Lennox.


“Tapi aku belum tahu bagaimana caranya,” tambahnya cepat-cepat.


“Jangan langsung melawannya. Kau akan kalah!” Chester menggeleng.


“Lalu bagaimana?” Lennox menunggu penjelasan Chester.


“Ambil perhatian kakekmu. Misalnya dengan dekat dengan seorang gadis bangsawan. Bawa gadis itu dalam pertemuan keluarga. Maka Damon akan mulai memperhatikanmu dan membuat alternatif calon pewaris baru. Itu akan jadi pukulan keras buat Hugo, tanpa kau perlu menyentuhnya!” jelas Chester.


“Anda benar. Namun, saya tidak akan bermain-main dengan wanita lain lagi. Saya ingin memperkenalkan Venus pada kakek,” kata Lennox setelah memikirkan saran Chester.


Venus menggeleng. “Kami bukan bangsawan, Lennox,” ucap Venus dengan mimik tak berdaya.


“Tidak apa-apa. Aku ingin jujur pada kakek. Bagaimanapun juga, keluarga kalian bukan pula keluarga yang bisa diremehkan,” kata Lennox penuh tekad.


“Yah, kau bisa coba cara itu. Lalu lihat apakah Damon memberi perhatian padamu atau tidak.  Aku akan ijinkan Venus membantumu, tapi kalau itu tidak berhasil, maka kau lebih baik mencari gadis bangsawan lain.” Cheter menekankan hal itu.


“Terima kasih, Tuan Moriarty. Minggu depan, ada pertemuan keluarga di tempat kakek. Bisakah aku mengundang Venus untuk ikut ke sana?” tanyanya sopan.


Chester menoleh pada Venus. “Apa kau bersedia? Jika kau keberatan, kau masih bisa menolak.”


“Hemm … aku akan membantumu kali ini, Lennox. Tapi jangan katakan bahwa kita punya hubungan apapun dulu. Itu hanya akan membuatmu sulit, jika akhirnya kakekmu menolakku!” Venus mengatakan syaratnya.


“Aku bersungguh sungguh akan menyingkirkan dia dari garis pewaris utama. Sudah cukup kesombongannya selama ini!” Lennox udah bertekad kuat.


Larut malam barulah Lennox keluar dari rumah itu. Dan hatinya penuuh dengan harapan. Tekadnya sudah bulat sekarang. Dia merasa makin tertantang untuk bisa mendapatkan Venus


Minggu berikutnya, Mobil mewah Lennox datang untuk menjemput Venus dan membawa ke rumahnya. Mereka akan pergi ke acara makan malam di kediaman Damon. Venus sudah tak sabar membayangkan akan bertemu dengan putranya di sana.


“Apa kau lelah?” sambut Lennox di depan pintu.


“Sedikit,” jawab Venus. Tangannya menyambut uluran tangan Lennox dan keluar dari mobil.


Pria itu membawanya ke rumah besarnya yang tak kalah mewah. Lennox berjalan dengan bahagia dan penuh senyum. Mereka tiba di ruang tamu yang terang menghadap ke halaman depan rumah.


Seorang pelayan datang dengan cepat dan mengantarkan minuman untuk Venus. Mereka mungkin menyadari bagaimana tuannya sangat senang dengan wanita itu. Maka bisa jadi itu adalah calon nyonya baru mereka.


“Beristirahatlah dulu. Aku haru membersihkan diri,” pamit Lennox dengan berat hati.


Venus mengangguk dengan senyum tak lepas dari wajahnya yang jelita. Dia duduk santai tanpa tergesa-gesa. Tujuannya menemani Lennox kali ini hanya agar bisa bertemu Moreno. Dia akan menunggu dengan sabar.


Malam baru saja jatuh tatkala helikopter yang menjemput, tiba. Keduanya berangkat. Lennox duduk dengan bangga di samping Venus yang berdandan anggun.


“Bagaimana kalau nanti aku tidak diterima?” Venus mengajuk hati Lennox.


“Kalau begitu, kita pulang dan makan malam di tempat lain,” jawab Lennox tanpa berpikir.


 Venus tertawa kecil. Tapi kemudian dia mengangguk menyetujui ide itu. “Baiklah, jika cara ini tak berhasil, maka aku akan datang sendiri ke kediaman Hugo dan mengambil putraku!” kata Venus dalam hati.


Mereka tiba di sana tak lama setelah Sandrina tiba. Wanita itu sedikit terkejut melihat Venus. “Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Sandrina setelah dikenalkan Lennox sebagai Venus Moriarty.


“Ah … wajahku sangat pasaran. Tak heran bisa mirip dengan yang lainnya,” balas Venus. Lalu Lennox ikut tertawa.


“Beberapa waktu yang lalu, aku pernah mendengar betapa cantiknya putri Tuan Moriarty. Hanya saja, sudah agak lama juga tidak ada yang membicarakannya. Dan sekarang kau duduk di depanku. Harus kuakui, cerita mereka tak berlebihan!” puji Sandrina yang selalu bermulut manis.


Venus tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya tersenyum mendengarkan. Kemudian beberapa keluarga Von Amstel lain juga tiba. Dan seperti biasa, Lennox akan jadi yang terakhir sampai.


Matanya melotot sebentar, menyadari Shadow yang duduk di samping Sandrina.


“Ah Hugo, Kau baru datang. Mari berkenalan dengan kekasih Lennox, Venus Moriarty!” panggil Sandrina riang.


Frisia dan Moreno menoleh, dan tanpa diduga Moreno langsung berlari menghambur.


“Shadow! Aku merindukanmu. Kenapa kau berhenti kerja? Apa benar kau kekasih Paman Besar? Kau bisa datang ke rumah kapan-kapan bersama Paman Besar!” teriak Moreno gembira.


Venus tertawa lebar dan merentang dua tangannya untuk menerima pelukan putranya tercinta. Kedua orang itu sangat bahagia, hingga membuat Hugo tertegun. Dia bisa melihat mata wanita itu berkaca-kaca sebelum memejamkan mata dengan erat. “Apa dia menangis?” pikirnya.


“Ya, nanti Paman Besar akan mengajaknya ke rumahmu. Kau harus memanggilnya Bibi Besar mulai sekarang,” kata Lennox dengan suara lantang. Kata-kata itu ditujukannya untuk Hugo yang tetap berdiri di tempatnya. Seolah tidak terpengaruh sama sekali dengan kehebohan barusan.


“Oh, apakah aku ketinggalan informasi bagus? Sepertinya kalian sedang sangat bahagia!” Damon von Amstel muncul. Suasana seketika menjadi hening.


“Kakek, aku perkenalkan Venus Moriarty.”


Lennox menyongsong Damon dan berbisik. “Aku sedang mengejarnya.”


Venus yang sudah berdiri di sebelah Moreno yanga tak mau melepaskan tangannya, membungkuk hormat. “Selamat malam, Tuan Von Amstel,” sapanya sopan.


“Moriarty? Kau putri Moriarty yang pensiunan tentara?” tanya Damon.