VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 46. Sikap Hugo



Wanita itu mulai melayangkan lagi tangannya ke arah Shadow yang terkejut sambil memegangi pipi.


Lalu sebuah tangan menahan pukulan itu dan balas menampar si wanita. Semua orang sekarang berseru lebih terkejut lagi.


“Aku tak pernah mentoleransi siapapun yang mencoba menindas orangku!” kata Hugo tajam.


“Kau … berani sekali. Apa kau tahu siapa aku?” tanya wanita itu marah.


“Kau bisa layangkan tuntutan ke rumahku, Hugo Von Amstel!” kata Hugo lebih dingin lagi.


Orang-orang di sana langsung terdiam. Siapa yang tidak pernah mendengar nama bangsawan Von Amstel? Keluarga bangsawan lama yang sangat misterius dan dijauhi bahkan oleh keluarga bangsawan lain yang lebih kecil.


Wanita itu juga langsung menutup mulutnya dengan tangan, agar tidak lagi meneriakkan kata-kata yang bisa menimbulkan kemarahan keluarga Von Amstel.


Hugo yang melihat wanita itu sudah tahu diri, segera menoleh pada Shadow. “Kau tak apa-apa? Jika itu sangat sakit, kita bisa ke dokter dan meminta mereka memberi ganti rugi!” Hugo menyindir si wanita asing.


Shadow menggeleng. “Tidak apa-apa, Tuan.”


Dia terdiam bukan cuma karena kesakitan. Tapi terkejut dengan sikap Hugo. Sejak kapan dia begitu perhatian pada orang-orang yang bekerja padanya?


“Ayah ….” Moreno memanggil dengan takut dari balik punggung Shadow.


Kemarilah ….” Hugo mengulurkan tangan untuk membimbing putranya.


“Ayah tidak akan membiarkan siapapun menakutimu!” kata Hugo tegas.


Sekarang orang-orang di sana tahu siapa anak itu dan pengasuhnya. Mereka bukanlah orang yang bisa diganggu seperti yang dilakukan oleh wanita yang tak masuk akal itu.


Shadow mengikuti langkah Hugo dan Moreno. Mereka pergi ke meja dan kembali makan dalam suasana yang tidak terlalu menyenangkan.


Moreno sudah menempel sepenuhnya pada Shadow, untuk menyembunyikan ketakutannya.


Shadow mengangkat dan membiarkan Moreno duduk di atas pangkuannya, agar tetap bisa disuapi makan, meskipun dia sudah tak berselera.


“Sedikit lagi, ya. Setelah ini kita istirahat di kamar,” bujuk Shadow sabar.


Moreno bahkan terus memagut leher Shadow saat wanita itu sedang menghabiskan makan siangnya. Dia tak mau lepas sekejap pun juga. Bahkan meskipun Hugo sudah menawarkan untuk menggendong, Moreno tetap memilih Shadow.


Setelah makannya selesai, Shadow menyadari kalau putranya tertidur kelelahan. “Saya mau menidurkan Tuan Muda, di kamar,” kata Shadow meminta ijin.


“Pergilah,” kata Hugo.


Shadow segera pergi dari sana untuk ikut beristirahat bersama Moreno. Dia juga kelelahan mengikuti putranya berlarian di sepanjang pantai pagi tadi.


Malam terakhir mereka di pantai. Setelah usai makan malam dan Shadow juga segera membawa Moreno pergi dari restoran. Frisia juga ikut berdiri untuk pergi. Hugo menarik tangannya. “Aku menginginkanmu malam ini!” kata Hugo dingin.


Ditariknya tangan istrinya itu menuju kamarnya sendiri. Pelayan gadis itu ingin mengejar, tapi ditahan oleh dua orang sopir.


“Itu urusan Tuan dan Nyonya. Kau tidak boleh ikut campur!” mereka memperingatkan. Pelayan itu tak berkutik. Dia kembali ke kamar lain yang semula ditempati dengan nyonya mudanya. Lalu menunggu dengan khawatir di sana.


“Aku tidak mau!” tolak Frisia.


“Kau istriku! Tak ada yang bisa melarangku menidurimu!” sergah Hugo kasar. Tangannya menghela tangan Frisia ke arah tempat tidur hingga gadis itu jatuh terbanting disana.


Frisia dengan cepat bergerak. Tangannya menjangkau betis dan segera menghunuskan belati kecil pada Hugo. Ternyata dia selalu menyimpan senjata bersama dirinya, ke mana pun juga.


“Jika kau seperti ini terus, maka aku kan mengambil mistress dan menjadikannya ratu di rumahku!” Hugo gantian memberi ancaman.


“Aku tak peduli! Kau bisa mengambil mistress sebanyak yang kau mau! Tapi aku tak akan pernah melayanimu! Kau penipu!” teriak Frisia marah.


“Menipu? Kapan aku menipumu?” Hugo mendekat, tapi Frisia makin mendekatkan pisa yang digenggam, ke lehernya sendiri. Hal itu memaksa Hugo untuk menjaga jarak darinya.


“Kalian mengancam kekasihku agar aku mau menikah denganmu!  Bukankah kalian berjanji akan melepaskannya setelah hari pernikahan sialan itu! Tapi kenapa dia tidak pernah kelihatan lagi? Orang tuanya sudah mencari kemana-mana. Sudah meminta tolong ayahku. Tapi kakekmu masih menahannya! Kalian hanyalah penipu licik! Sama sekali bukan keluarga bangsawan!”


Malam itu Frisia mengeluarkan semua beban di hatinya pada Hugo. Dia lelah menyimpan semua itu dan tak menemukan jalan keluar apapun. Itu mmebuatnya lelah dan putus asa.


“Kakek tidak melepaskannya?” batin Hugo cemas. Dia benar-benar sangat cemas sekarang. Hasratnya lenyap begitu saja.


“Keluar Kau!” usir Hugo setelah membuka pintu.


Gadis itu keluar dengan wajah bersimbah air mata. Tangannya yang gemetar, masih menggenggam pisau belatinya kuat-kuat.


“Apa yang direncanakan kakek kali ini?” pikir Hugo di dalam kamarnya. Tangannya meremas rambut dengan frustasi.


Setelah emosinya mereda, Hugo keluar kamar untuk melihat suasana malam pantai. Dia melangkah menyusuri bibir pantai. Beberapa lampu kecil terlihat menerangi pohon-pohon kelapa dekat hotel.


Kemudian matanya kembali tertumbuk pada sosok Shadow yang sedang berenang dengan lincah di laut, tak jauh dari bibir pantai. Tak ada sedikit pun rasa takut gadis itu akan digulung ombak malam.


“Kenapa aku terus memperhatikannya!’ kata Hugo kesal. Terngiang di kepalanya tuduhan Lennox bahwa dia menyukai Shadow.


“Yang benar saja!” bantahnya sendiri.


Hugo ingin berbalik ke kamar dan meninggalkan pantai. Tapi matanya justru melihat Shadow yang sedang berjalan santai dengan pakaian renang dan menonjolkan lekuk tubuhnya. Gadis itu sedang menuju kamarnya dan Moreno. Tanpa terasa Hugo meneguk air liurnya sendiri.


“Aku harus menjauhinya!” putus Hugo sambil membuang muka. Dia kembali memandang laut dan membiarkan Shadow hilang dari pandangan sejenak.


Sehari setelah mereka kembali ke rumah, Lennox tanpa sungkan menunjukkan wajah cemburu. Dia selalu kesal pada Hugo, juga pada Shadow.


“Kenapa kau tidak mengajakku ke sana!” kesal Lennox pada Hugo.


“Kenapa aku harus mengundangmu? Ini adalah liburan keluarga!” balas Hugo sinis.


“Itu karena kau membawa pacarku pergi!” bantah Lennox tak mau kalah.


“Dia pengasuh anakku. Bukan salahku jika kau tak nyaman!” Hugo akhirnya bosan dengan sikap Lennox.


“Jangan kau kira, karena kau adalah ahli waris kesayangan kakek, kau bisa semena-mena ingin merebut kekasihku!” seru Lennox yang masih tidak puas.


“Aku tak mengerti maksudmu. Pergilah!” ujar Hugo tak peduli.


“Jangan memancingku, Hugo. Selama ini aku tak meributkan soal pewarisan, karena aku ingin hidup tenang. Tapi kalau kau gunakan posisimu itu untuk merebut kekasih orang lain, aku juga bisa membalas dan mengancam posisi ahli warismu itu!”


Lennox tak mau berbasa-basi lagi. Dia ingin Hugo  berhati-hati mengambil sikap terkait Shadow.


“Jaga bicaramu, Lennox. Kau tidak tahu apapun!” suara Hugo meninggi karena emosi.


“Aku tidak akan biarkan siapapun menggeser tempatku sebagai ahli waris utama! Itulah tujuan hidupku selama beberapa tahun terakhir. Menjadi kepala keluarga Von Amstel!” kata Hugo tegas.


*****