
Venus mengangguk dan bicara dengan rendah hati. “Benar, Tuan Von Amstel. Tak mengira Anda mengetahui tentang ayah saya yang hanya orang biasa.”
“Orang biasa yang sangat terkenal.” Damon menganggukkan kepalanya.
Kepala pelayan datang dan mengatakan sesuatu padanya, lalu pergi.
“Mari kita makan malam ebih dulu,” ajak Damon. Pria tua itu
telah melangkah lebih dulu menuju ruang tamu.
Frisia menjejeri langkah Venus dan berkata sinis. “Jadi, Kau sebenarnya Venus atau Shadow?”
“Itu nama yang kugunakan di saat-saat tertentu,” jawab Venus dengan senyum. Tangan kanannya menggandeng Moreno yang tak mau dijauhkan darinya.
Suasana makan malam itu sedikit lebih panas dari biasa. Biasanya hanya Damon yang berbicara, lalu dipatuhi oleh anggota keluarganya. Malam ini, dia mencecar Venus selama makan malam. Tidak memikirkan sama sekali jika itu mungkin akan membuat orang lain jadi kehilangan selera makan. Wajah Lennox jelas sangat masam.
“Aku tidak pernah melihat kau dalam pertemuan-pertemuan keluarga kelas atas. Tak mungkin kau tiba-tiba jatuh dari langit di atas kediaman Moriarty!” Damon jelas tidak mudah percaya pada Venus.
Venus tertawa kecil mendengar sindirannya. Pria tua itu sangat kritis.
“Yah, karena sejak kecil aku tinggal di luar negeri. Setelah ibubmeninggal, kuputuskan untuk pulang dan menemaninya,” kata Venus. Itu persis yang diajarkan oleh Chester.
“Bukankah itu sudah lebih dari lima tahun yang lalu?” kejar Damon.
“Aku tidak langsung pulang, karena pendidikanku belum selesai. Setahun kemudian baru datang ke sini. Hemm ... apakah Anda sedang menginterogasiku?” tanya Venus tanpa takut.
Semua orang terkejut mendengar pertanyaan Venus yang sangat berani. Lennox makin kesal melihat kakeknya masih ingin bicara.
“Kakek, bisakah kita makan malam dengan tenang? Aku sangat lapar!” katanya dengan wajah tak senang.
Venus menenangkan Lennox. “Tidak apa-apa.”
“Jika masih banyak pertanyaan, Anda bisa datang ke rumah kami dan menanyakan apapun tentang saya, pada Ayah,” kata Venus dengan senyum manis.
Suami Sandrina sampai terbatuk-batuk mendengarnya. Membuat istrinya dengan cepat mengambilkan segelas air minum.
Setelah itu, ruang makan itu hening dan mencekam. Damon tak biasa dibantah dan dibalas perkataannya. Apa lagi ketika balasan pertanyaannya sangat pedas dan menusuk tepat di harga dirinya. Wajahnya memerah menahan marah. Tangannya yang memegang sendok menggantung di atas piring dan sedikit bergetar.
Kemudian dua alat makannya diletakkan di atas piring. Dia melepas serbet dan meletakkannya di samping. Semua merasa tegang, kecuali Venus yang sibuk mengambilkan makanan untuk Moreno yang duduk di sebelahnya. Dia bahkan tidak peduli saat Damon berdiri dan
pergi setelah memanggil Hugo untuk mengikutinya.
“Kau sangat berani, Venus!” komentar Frisia.
“Lennox, sepertinya jalanmu sangat terjal,” kata kerabat lain dengan wajah meringis.
“Tapi yang ditanyakan kakek juga tidak salah. Kau tiba-tiba
saja muncul. Seperti jatuh dari langit!” ujar suami Sandrina. Pria flamboyan itu pastilah tahu setiap gadis dari keluarga kaya daerah mereka.
“Yah, karena, untuk membayar waktu yang terbuang selama bertahun-tahun itu, maka kuputuskan untuk bergabung dalam tim tentara bayaran yang dikelola ayahku!” jawab Venus.
“Apa?”
Semuanya terkejut. Itu adalah hal yang paling tidak mereka perhitungkan.
“Kau tentara bayaran?” tanya Sandrina tak percaya.
Bahkan Frisia menatapnya dengan wajah rumit. Venus mengangguk dengan sungguh-sungguh.
“Di sana, namaku Shadow!” tambahnya lagi.
Frisia jadi terdiam. Dia tak sanggup berkata-kata lagi. Pertanyaan di kepalanya mulai terjawab satu per satu.
“Itu juga kah makanya tanganmu begitu kasar?” tanyanya sambil tertawa geli.
“Yah, ayahku sebenarnya cukup keras dalam mendidik. Karena aku tak punya dasar militer, maka dia mendidikku lebih keras dari yang lainnya.”
“Menurutku bukan bersikap keras. Tapi karena dia menyayangimu. Dan dia ingin kau selamat saat bertugas!” Lennox membela Chester.
Venus menyerah. “Kurasa Kau benar. Tapi dia koki yang buruk. Saat aku dalam pelatihan, aku hampir tak bisa memakan masakannya, jika bukan karena sangat lapar.”
Orang-orang di meja makan jadi terhibur. Mereka sudah lupa pada Damon yang tadi kesal dan marah. Sesekali mereka tertawa ramai ketika Venus menceritakan pengalamannya saat masa latihan.
“Coba ceriakan tentang tugas lapanganmu!” tanya salah seorang kerabat lain.
“Tak ada hal yang perlu diceritakan jika itu menyangkut urusan yang berdarah-darah!” tolak Venus.
Tak ada yang mendesaknya, setelah meihat wajah Venus yang tak terlalu senang.
Setelah makan malam selesai, mereka pindah ke ruang duduk. Tak lama Hugo keluar. “Lennox, kau dipanggil kakek!” katanya.
“Bisakah kau menungguku? Atau kau bisa pulang bersama Sandrina ataupun Hugo,” tawar Lennox.
“Kalau kau tak ingin ditunggu, aku bisa minta ayah untuk menjemputku,” kata Venus.
“Itu akan merepotkannya. Lebih baik kau pergi dengan Sandrina,” tawar Lennox lagi.
“Aku akan menunggumu. Aku khawatir kau mati jika kutinggalkan!” Venus tertawa kecil. Lennox makin jatuh hati padanya.
“Baiklah. Tunggu aku kembali.” Lennox berjalan pergi menemui kakeknya.
“Kau tidak takut apapun, heh!” kecam Hugo saat dia melewati Venus.
“Apa maksudmu Tuan Hugo?” tanya Venus.
Mendengar suara Venus yang nyaring, semua keluarga mengalihkan perhatian pada Venus dan Hugo yang sedang berjalan ke arah Frisia. Mata Venus jelas menunjukkan ketidak sukaan yang nyata.
Keluarga besar itu mulai berspekulasi. Para pria sudah mendengar cerita versi Lennox. Dan sekarang tampaknya tuduhan Lennox itu ada benarnya.
Hugo menyukai Venus saat gadis itu bekerja menjadi pengasuh Moreno. Lalu mengusir gadis itu saat Lennox bilang jatuh cinta pada wanita yang bekerja pada Hugo.
“Ada apa denganmu?” tanya Frisia pada Hugo.
“Aku tak mengatakan apapun!” kelit Hugo. Dia sangat terkejut dan tak menduga, bisikannya tadi dibalas Venus dengan suara keras dan menarik perhatian semua orang.
“Aku lebih mempercayai dia, ketimbang kau!” ketus Frisia.
“Itu bukan urusanku!” kata Hugo.
“Moreno, sudah saatnya pulang!” panggilnya.
“Aku mau ke tempat Paman Besar. Aku mau main dengan Shadow!” tolak anak kecil itu.
“Kau harus pulang sekarang! Jangan mulai tidak tahu aturan dan membantahku!” kata Hugo marah.
“Hei! Jaga bicaramu! Dia masih kecil!” kata Venus emosi. Beraninya pria itu memarahi Moreno di depannya.
“Kau kenapa, Hugo? Jika kakek memarahimu, jangan timpakan itu pada Moreno! Venus benar, Moreno masih belum mengerti apapun. Tak bisakah kau membujuk atau setidaknya bicara dengan baik?” Sandrina ikut kesal.
“Sayang, kau pulanglah dulu. Besok atau lusa, aku akan datang bersama paman besarmu ke sana. Bagaimana?” bujuk Venus.
“Aku mau main sekarang,” kata anak kecil itu lagi.
“Bukankah ini sudah malam. Kau sudah waktunya tidur. Jadi, pulanglah. Nanti kita akan bertemu dan main bersama lagi,” bujuk Venus lagi, sambil memeluk anak itu.
Moreno mengangguk. Venus tersenyum cerah dan mencium kedua pipinya. “Jangan nakal ya.” Venus melepaskan tangan Moreno dan memberikannya pada Frisia.
“Selamat tinggal semua ....” Frisia menyusul Hugo yang sudah berjalan lebih dulu.
“Lennox benar. Hugo mulai arogan. Hanya karena Lennox
mencintai Venus, dia mengambil alih banyak pekerjaan Lennox dan diserahkan pada yang lain!” Para pria mulai membahas gossip keluarga mereka sendiri.