
Matahari belum muncul tapi para prajurit yang mengikuti pelatihan sudah mulai lari mengelilingi pulau. Mereka tampak bersemangat dan bernyanyi seirama dan kompak. Tak terkecuali Shadow yang memang sudah lama tidak berlatih. Baru setengah perjalanan, gadis itu sudah kewalahan.
Yang melatih mereka bukan hanya Falcon. Ada lima pelatih lapangan yang sangat keras dan tak peduli meskipun Shadow putri angkat Falcon.
“Kalau kau lembek seperti tahu, bagaimana mau menghadapi musuh!” ejeknya pedas.
“Ayo Shadow ... semangat! Kau pasti bisa!” seru teman-temannya ramai.
Setelah menyelesaikan lari, Shadow masih harus bergelantungan di palang-palang besi. Dia baru setengah jalan, tapi sudah jatuh dua kali. Tinggal satu kesempatan lagi agar dia tetap bisa melanjutkan ke pelatihan berikutnya. Atau dia gugur dan dipulangkan.
Di ujung sana, Falcon menatapnya tajam. Tapi di mata Shadow, itu adalah senyum Moreno. Putranya seperti sedang memberinya semangat. “Ayo, Bu, kau pasti bisa!”
Shadow menggertakkan rahang dengan kuat, seiring dengan genggamannya yang makin kukuh. Tubuhnya mulai diayun ke depan dan belakang. Setiap kali, semakin kencang. Dan saat mencapai kesepatan sesuai, dia melepas sebelah tangan dan mengulurkannya pada tiang lain di depan.
Pelan tapi pasti, penghalang besi itu dilewatinya satu persatu. Suara sorai sorai semakin ramai untuk mendorong semangatnya. Dia sudah hampir kehilangan tenaga di palang terakhir. Shadow tak ingat apakah tangannya berhasil menyentuh palang besi terakhir. Pandangannya mulai menggelap saat tubuhnya melayang jatuh ke tanah.
Ketika Shadow bangun, yang pertama dilihatnya adalah dinding kayu suram pondok di tengah hutan. Perlahan dilihatnya ke tempat biasanya Falcon berbaring. Pria itu tak ada. Shadow duduk di tepi tempat tidur kayu. Ada selembar kertas di samping bantalnya.
“Kau gagal menyelesaikannya. Istirahatlah ... sore nanti akan ada speed boat yang mengantarmu kembali.”
“Aaa ...!” kesal Shadow.
Dia menyesali sikapnya selama ini yang mengabaikan pelatihan keras yang telah diterimanya dari Falcon. “Aku terlalu malas berlatih sejak menjadi pengasuh Moreno. Pantas saja gagal menyelinap di sana. Dasar bodoh!” Shadow berdiri dan melihat mangkuk makanan di meja kecil kecil baru di pojok rumah. Isinya bubur gandum yang sudah dingin. Tanpa mengeluh, dia mengambil sendok dan mulai makan. Ada beberapa irisan daging asap di atasnya. Dan itu cukup untuk memberinya tenaga.
Setelah membersihkan bekas makan dan merapikan lagi pondok itu, Shadow mengangkat ranselnya dan berjalan ke tempat pelatihan.
“Hei, Shadow kembali!” seru beberapa orang.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya teman-temannya.
“Yah, aku baik-baik saja,” angguk Shadow. Dilepasnya ransel dan berjalan menuju tiang palang besi yang tadi gagal dilakukannya. Tangannya yang masih terasa pedas digerakkan untuk melemaskan otot yang kaku akibat terlalu lama tidak latihan.
Orang-orang menyaksikan Shadow berdiri di depan halangan besi pertama. Dia harus berhasil melewati seluruh halangan sejauh sepuluh meter.
“Semangat, Shadow! Kau pasti bisa!” teriak semua temannya. Mereka mengelilingi tempat latihan itu.
Shadow membungkuk sedikit dan menumpu kaki menjadi awal pijakan yang melontarkan tubuhnya yang mungil, untuk mencapai palang besi. Kembali tubuhnya diayunkan dengan irama konstan, lalu makin kencang dan dia mulai melompat ke depan.
Suara sorakan menggema setiap kali tangannya mencapai balok besi berikutnya. Hingga ke besi terakhir yang tadi gagal dijangkaunya. Dia melompat dan menyentuh, lalu melompat dan bersalto ke depan. Tepuk tangan meriah menyambt pijakan kakinya di tanah.
Mereka tersenyum lebar dan memeluknya. “Akhirnya kau berhasil juga!” kata mereka senang. Shadow lebih senang lagi. Pelatih datang dengan senyum lebar.
“Selamat, kau berhasil menyelesaikannya. Tapi tetap saja kau gagal dalam tes,” katanya dengan wajah menyesal.
“Tapi kau tetap boleh mengikuti pelatihan. Hanya saja, tidak bisa mengikuti tes naik level!” kata pelatih itu buru-buru.
“Tak apa. Aku ikut latihan saja. Lain kali aku akan mengejar level kalian!” teriak Shadow.
Shadow mengikuti latihan keras selama ebih dari dua minggu. Tes skill dan kenaikan level sedang berlangsung. Meskipun dia tak akan mendaparkan level karena gagal di awal pelatihan, itu tak menyurutkan langkah Shadow untuk mengikuti pelatihan skill bertarung jarak dekat.
Dan nanti sore, dia harus bertanding dengan salah seorang lawan yang ingin menaikkan level skil bertarungnya. Mereka sama-sama pemula dan belum punya level. Harusnya itu adalah lawan yang seimbang.
“Kau siap untuk pertandingan sore nanti?” tanya teman wanitanya.
“Ya!” jawab Shadow yakin. Mereka menikmati makan siang yang disiapkan. Lalu istirahat sebentar. Pukul tiga, pertandingan naik level akan dimulai kembali.
Setelah empat petarung menyelesaikan ujian dan mendapatkan
peringkat terbaru mereka, maka sekarang giliran Shadow dan seorang anggota pria yang baru bergabung.
Keduanya sudah berdiri di tengah arena dan saling berhadapan. Tak ada aturan beladiri di sini. Tujuan utamanya adalah menjatuhkan lawan. Cara apapun sah selama itu bisa menjatuhkan lawan mereka. Benar-benar dibuat mirip dengan kenyataan di lapangan.
Pria itu memegang senjata genggam tiruan yang dibuat sangat mirip aslinya. Dan Shado memegang dua bilah belati kecil tiruan di tangannya. Setelah saling membungkuk, pertandingan keduanya dimulai. Shadow tak menunggu lama. Dia langsung lompat dan menendang pria yang masih belum berdiri dengan stabil.
“Yeeaaaa ....” Para prajurit wanita bersorak gembira melihat lawan Shadow terjajar ke belakang.
Pertarungan kembali dilanjutkan. Keduanya benar-benar berada di level keterampilan yang sama. Shadow dan pria itu bergantian jatuh dan berdiri lagi. Mereka sangat gigih. Tapi pertandingan itu tak akan selesai sampai salah seorang kalah dan tidak berdiri lagi!?
“Mereka berkali-kali kena. Kalau di dunia nyata, bukankah seharusnya mereka suda mati kehabisan darah?” celetuk salah seorang penonton. Yang lain tertawa geli.
Tapi pertandingan itu memang belum dihentikan oleh pelatih. Entah apa tujuannya. Jadi mereka terus menonton. Ingin melihat, siapa yang akan kehabisan tenaga lebih dulu.
Ketika pertandingan lain sudah dihentikan saat senja jatuh, tapi Shadow tetap berdiri lagi setelah jatuh yang kesekian kali. Meskipun berdirinya sudah sempoyongan.
“Apa kalian masih belum ingin menyerah?” tanya yang lain.
‘Bagaimana jika dilanjutkan setelah makan malam? Isi tenaga dulu ....” tawar yang lain tersenyum.
Shadow tersadar dari fokusnya. Langit senja sudah turun. Warna orange hangatnya membuat lapangan pertadingan jadi terlihat romantis. Pria di depannya sudah setengah terpejam. Tapi masih memaksakan diri untuk tetap berdiri.
Shadow menumpun sebelah kakinya di tanah dan melentingkan tubuh ke atas. Dia melompat tinggi sambil membalikkan badan. Kemudian meluncur cepat ke arah si pria dan menendangnya tepat di pundak. Tubuh pria itu berputar terbalik dan jatuh ke tanah dengan keras. Dan sebelum pria itu bangkit lagi, Shadow langsung menduduki tubuhnya dan menusukkan dua pisau kecilnya di dada lawan.
Suara sorak sorai gegap gempita menyambut kemenangan Shadow. Itu adalah gerakan terkunci mati. Pria itu kalah. Pertandingan dihentikan.
Kemudian Shadow jatuh melorot di samping si pria yang tak bisa bergerak lagi. Keduanya terkapar kelelahan.
Falcon menghampiri dan mengangkatnya ke tenda. “Kau sudah lulus!” katanya.
“Terima kasih, ayah,” kata Shadow tertawa senang. Sekarang dia hanya ingin berbaring sebentar. Dia bisa lihat Moreno tersenyum senang dan menunggu untuk dijemput.
“Tunggulah. Sedikit lagi, ibu akan menjemputmu!” bisiknya dalam hati.