VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 32. Aku Menyayangimu



“Aku tenang sekarang. Dia mampu mengatasi situasi sulit dan mengambil alih tanggung jawab. Putriku sangat hebat!” kata Chester bangga.


Bratt hanya bisa mengangguk. “Akan saya siapkan pelayan dan penjaga untuk Anda, sesuai perintah Nona Venus!” Pria tua itu pergi ke bagian lain rumah yang dihuni para pelayan.


Chester tersenyum senang. Dia tak salah pilih orang untuk mewarisi semua harta kekayaannya. Diteleponnya Shadow. Mereka belum bicara banyak pagi ini.


“Ya,” jawab Shadow.


“Bagaimana dengan cucuku. Apakah dia baik-baik saja?” tanya Chester.


“Dia diasuh dengan cara keliru. Sikap dan cara bicaranya lebih mirip anak usia sekolah. Padahal dia baru satu tahun lebih. Anak segitu biasanya masih sangat cengeng. Dia kekurangan kasih sayang. Para pelayan itu hanya menjaga, tidak memberinya kasih sayang. Itu membuat dia sangat berbeda.” Shadow sangat prihatin dengan hal itu.


“Aku akan merubah pola asuhnya mulai sekarang. Biarkan dia menikmati masa kecil yang menyenangkan, tanpa perlu menghkhawatirkan apapun,” tekadnya.


“Bagus! Dia harus diberi kasih sayang dan cinta. Agar tidak menjadi manusia kejam seperti ayahnya!” Chester mendukung.


“Benar. Aku mau Moreno punya hati nurani.”


“Baiklah. Aku juga akan bersiap ke pulau. Ingat pesanku. JIka terjadi hal yang buruk, pulanglah. Kau bisa minta bantuan pada Bratt kapanpun!” tegas Chester.


“Baik. Akan kuingat. Berhati-hatilah di sana!” sahut Shadow. Panggilan telepon itu pun berakhir.


“Kita turun di depan resort saja,” pesan Shadow pada sopir.


“Baik, Nona.” Sopir itu menepikan mobilnya di dekat resort di bukit Springhills. Shadow turun dan berjalan menuju rumah sambil menenteng tas pakaiannya. Diliriknya jam yang masih jam enam lewat seperempat. Tepat saat dia sudah dekat dengan kediaman itu, pintu terbuka. Frisia keluar diikuti seorang pengawalnya. Dia berpakaian santai dan ringkas, seperti hendak olah raga atau jalan pagi.


“Nyonya,” sapa Shadow sopan.


Frisia melihat ke arahnya. “Oh, kau sudah sampai. Masuk saja. Dia belum kembali,” katanya.


“Terima kasih.” Shadow mengangguk dan melangkah masuk melewati penjaga yang masih membuka pintu gerbang. Dia langsung berlari kesil masuk rumah besar dan pergi ke kamarnya.


Pukul tujuh tepat, Shadow sudah siap dengan seragamnya dan berjalan ke kamar Moreno. Hari baru lagi bagi dia dan putranya. Waktunya memberikan kasih sayang yang hilang selama berbulan-bulan. Selalu ada sesal yang menorehkan luka di hati Shadow. Itu karena dia kehilangan masa-masa emas perkembangan buah hatinya. Sekarang Moreno sangat berbeda dengan saat ditinggalkannya.


“Sayang, ayo bangun … sudah pagi. Saatnya kita berolah raga,” bisiknya lembut di telinga anak kecil yang polos itu. Anak itu membalikkan badan. Tangan kecil diangkat dan samai di leher Shadow. Pelukan kecil tanpa disadari itu, menyentuh rasa keibuan Shadow yang paling dalam. Dinikmatinya sejenak pelukan putranya dengan merebahkan kepalanya di tepi tempat tidur.


“Apa yang kau lakukan? Bukan membangunkannya, malah ikut tidur di sini!”


Suara Hugo yang tidak ditahan sama sekali, sukses membangunkan Shadow dan juga Moreno. Shadow yang terkejut segera bangkit dari duduknya di lantai. “Maafkan saya, Tuan.” Dia menunduk, menunjukkan rasa bersalah.


“Kenapa kau tidak bangun juga? Ini sudha jam delapan pagi! Kau membuatku menunggu lebih lama untuk sarapan!” Kecaman itu ditujukan pada Moreno.


Shadow kembali terkejut mendengar kata-kata kasar pria itu. “Maafkan saya. Saya yang salah. Jangan memarahi Tuan Muda,” Shadow makin menunduk, demi menenangkan Hugo dan mengakhiri kata-kata jahatnya pada Moreno.


“Heh! Cepat persiapkan dia. Jam sarapan sudah terlewat sangat lama!” Pria itu berbalik dan keluar kamar.


“Maaf … aku terlalu mengantuk, jadi lupa membangunkanmu,” kata Shadow.


Moreno tak membalas. Dia berjalan ke kamar mandi dan membersihkan diri. Shadow menyiapkan pakaian bersih untuk putranya. Dalam lima belas menit, keduanya sudah berjalan menuju ruang makan. Shadow tak melihat siapapun di sana. Tak ada Hugo, ataupun Frisia. Tak ada juga makanan di situ.


“Sarapan terlambat apanya? Bahkan tidak ada seorangpun di sini,” gerutunya.


“Duduklah di sini sebentar. Biar kusiapkan sarapanmu,” ujar Shadow lembut. Moreno mengangguk dan duduk dengan patuh.


Sampai setengah jam berikutnya, Moreno masih duduk diam di tempat itu. Kepalanya tegak, tapi matanya menutup. Sepertinya dia masih mengantuk berat.


Kelopak mata kecil itu membuka perlahan. Dilihatnya wajah Shadow yang tersenyum, berada sangat dengannya.


“Ini sarapannya,” Shadow menunjukkan mangkuk bubur krim bertabur ayam cincang.


“Kau makan juga,” pinta Moreno.


“Ah, aku---”


“Ayo!” desak Moreno. “Temani aku makan.”


“Sebentar, kuambil sarapanku di dapur.” Shadow kembali ke dapur dan mengambil sekeping roti, untuk dimakan bersama Moreno.


Keduanya makan dalam hening. Tidak ada Frisia maupun Hugo yang tadi minta sarapan bersama.


Seminggu berlalu. Moreno jadi semakin lengket dengan Shadow. Suasana rumah terasa ceria dengan suara gelak tawa dan teriakan Moreno sesekali. Bagi Shadow, itulah rasanya rumah. Rumah yang hidup karena penghuninya saling dekat, seperti saat dia tinggal di panti asuhan.


Frisia juga makin dekat dengannya. Sesekali mereka bertiga keluar untukberjalan-jalan ke pasar desa. Moreno yang tidak pernah diajak keluar, merasa senang tak terkira. Shadow menunjukkan banyak hal dan menjelaskan apa-apa yang ditanyakannya.


Satu sore, saat menunggu Moreno yang sedang mandi, Shadow mendengar para pelayan bergosip di dekat jendela kamar.


“Seingatku, Tuan tidak pernah mendatangi kamar Nyonya,” kata seseorang.


“Benar. Nyonya terlihat kesepian. Seperti burung dalam sangkar!” timpal yang ain.


“Berbeda dengan Nyonya Jeannette. Tuan masih akan datang ke kamarnya kapan pun dia mau,” Seseorang membandingkan dua nyonya mereka.


“Mungkin saja Tuan tidak mencintai Nyonya Frisia,” duga seseorang.


“Atau … Tuan terlalu cinta pada Nyonya Jeannette. Belum bisa melupakan kecelakaan tragis itu,” timpal seseorang.


“Sok tahu!” geram Shadow dalam hati. “Mana ada orang yang cinta membuang istrinya ke laut!” Kesalnya, masih di dalam hati.


“Orang itu hanya mencintai dirinya sendiri!” kekesalannya makin bertambah. Wajahnya pasti terlihat mengerikan saat itu.


“Apa mereka menggosip lagi?”


Suara Moreno mengejutkan Shadow. Ekspresinya kembali seperti semula. Dia berbalik dan melihat putranya. “Mereka sangat kurang ajar. Lancang menggosipkan tuannya sendiri,” kecam Shadow.


“Dari gosip itu aku tahu kalau ibuku sangat dicintai oleh ayah!” Anak itu melihat pada foto Shadow dengan pandangan penuh kasih dan rindu.


Hati Shadow trenyuh. Dia berjongkok. "Maafkan ketidak tahuanku. Mulai sekarang, aku akan memberimu kasih sayang, kalau kau bersedia.” Venus berlutut di lantai. Tangannya mengembang ke arah Moreno.


Anak lelaki itu tahu bahwa itu adalah tanda pelukan dari Shadow. Hatinya ingin menghambur dalam pelukan pengasuhnya. Tapi dia tetap berdiri di tempatnya dengan tak acuh.


Shadow bisa lihat kalau putranya sedang menjaga hatinya agar tidak terluka jika suatu saat Shadow pergi meninggalkannya. “Aku sungguh menyayangimu,” kata Shadow dengan wajah sedih dan tangan jatuh ke samping. Dia berusaha bangkit dari posisi berlutut, ketika merasakan tubuhnya ditabrak seseorang.


Tangan kecil mungil yang melingkari leher itu dikenalinya. Putranya memeluknya dalam keadaan sadar sekarang. Itu membuat hatinya berbunga-bunga, seperti taman di musim semi.


Shadow memeluk erat Moreno dan bangkit dari lantai. Dibawanya anak itu berputar-putar di dalam kamar dan menghujaninya dengan begitu banyak ciuman tulus. “Aku menyayangimu. Jangan ragukan itu,” bisiknya.


*****