VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 14. Venus Moriarty



Siang hari, Pengacara yang bernama Tuan Brook akhirnya tiba. Falcon mengurus legalitas mengangkatan anak dan menyerahkan surat wasiatnya pada pengacara untuk menjadi wakilnya dalam urusan hukum atas semua harta kekayaannya.


Venus terkejut melihat begitu banyak properti yang dimiliki Falcon, termasuk usaha-usaha yang menjadi sumber penghasilan pria itu. Setelah menyelesaikan penanda tanganan beberapa dokumen, pengacara itu pergi.


“Sekarang, kau sudah sah menjadi putriku.” Wajah Falcon tampak sangat lega dan bahagia.


“Apa kau tidak akan menyesali hal ini?” tanya Venus. Baru sekali ini dia bertemu seseorang yang merasa senang telah menyerahkan seluruh harta kekayaannya pada orang asing.


“Apa yang harus disesali, jika menyerahkan semua harta pada putriku sendiri?” tanya Falcon enteng.


“Heh … kita sangat tahu kalau aku hanya putri angkat.” Shadow menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi empuk di ruang kerja. Dibuangnya pandangan pada taman indah di bawah sana.


“Falcon, apakah kau keturunan bangsawan?” tanya Venus.


“Kenapa kau bertanya begitu?”


“Karena menurutku, taman-taman seindah itu hanya dimiliki keluarga bangsawan,” jawabnya polos.


“Hahahaa … inilah yang aku sukai darimu. Kau sangat polos dan jujur. Tapi, mulai sekarang berhati-hatilah. Di luar sana, ada sangat banyak orang yang siap menerkam dan membunuh demi sepotong roti!”


“Hemm … aku tahu kalau soal itu.” Venus teringat saat-saat pahit dan sulit di panti asuhan. Tempat itu menampung banyak anak, sementara donasi yang mereka dapatkan sering tidak memadai, bahkan untuk makan. Itu sebabnya dulu dia bersama seorang anak laki-laki lain bekerja, agar meringankan beban Nyonya Mildred.


“Oh iya, Falcon.” Venus kembali duduk dengan tegak dan mencondongkan tubuh ke meja kerja.


“Ada apa?” tanya ayah angkatnya.


“Bisakah aku memberi sumbangan untuk panti asuhan tempat aku dibesarkan dulu?” tanyanya.


“Bukankah seharusnya mantan suamimu itu sudah membantu mereka sejak kau menjadi istrinya?” tanya Falcon.


“Hemm, seharusnya saat perjanjian itu masih berlaku, dia melakukannya. Tapi aku tidak pernah menyelidiki. Aku tak punya kesempatan untuk ke sana. Dan setelah aku dilemparnya ke laut, entah bagaimana keadaan Nyonya


Mildred dan adik-adikku di sana.” Venus menunduk.


“Bukan aku ingin meracuni pikiranmu. Tapi menurutku, kau juga harus hati-hati dengan Nyonya Mildred itu. Tapi,  tentu saja aku akan memberikan cek untuk kau serahkan ke sana.” Falcon langsung menulis pada buku cek dan menyerahkan pada Venus.


“Apa itu cukup?” tanya Falcon yang melihat Venus membaca kertas cek.


“Ini jumlah yang sangat memadai. Mereka seharusnya tidak akan menderita lagi selama beberapa bulan,” angguk Venus.


“Mari makan siang, setelah itu, biarkan sopir yang mengantarmu ke sana. Ingat, namamu sekarang adalah Venus Moriarty.”


“Yah, dan ayahku adalah Chester Moriarty,” timpal Venus. Dia mengikuti Falcon yang mengangguk-angguk senang di depannya.


“Bisakah kau memanggilku ayah, mulai sekarang? Karena, Nama Falcon itu adalah nama samaranku saat bertugas. Tak semua orang boleh mengetahui hal itu.”


“Tentu saja, ayah. Aku senang akhirnya bisa memanggil seseorang dengan kata ayah,” Venus mengulas senyum manis di wajah cantiknya.


“Makan siang akan siap dalam lima menit, Tuan, Nona,” ujar pelayan di ruang makan. Chester mengangguk.


Hari belum terlalu sore ketika sebuah mobil mewah berhenti di depan sebuah panti asuhan yang sekarang terlihat berbeda di mata Venus. Sepertinya Hugo menepati janji untuk merenovasi dan membantu panti itu sejak dia menikah dan masuk ke keluarga Von Amstel.


“Halo kakak yang cantik. Apakah Anda ingin bertemu dengan Nyonya Mildred?” seorang anak lelaki kecil yang dulu sangat disayangi Jean, datang mendekat.


Venus membungkuk sambil tersenyum padanya. “Kau sangat tampan. Siapa namamu?”


“Aku Jhonny,” sahutnya antusias. Seantusias anak-anak yang berharap mendapat keluarga baru.


Venus mengusap-usap kepalanya lembut. Teringat dulu dialah yang mengurus Jhonny sejak bayi itu diletakkan seseorang di depan pintu panti asuhan. “Aku ingin bertemu Nyonya Mildred. Apakah dia ada?” tanyanya kemudian.


“Mari kuantar.’ Jhonny menarik tangan Venus tanpa canggung, seperti mereka sudah kenal lama. Gadis cantik itu mengikutinya sambil tersenyum.


“Nyonya Mildred … Nyonya Mildred, ada seorang gadis cantik yang ingin bertemu dengan Anda!” Dengan tingkah polosnya, Jhonny berteriak sejak dari pintu depan hingga ke ruang kerja Nyonya Mildred.


“Siapa?” Wanita paruh baya itu mengangkat kepala ke pintu. Dilihatnya Jhonny menarik tangan seorang wanita cantik dan sangat berkelas di belakangnya. Dia segera menyapa dan memasang tampang ramah.


“Mari, silakan masuk,” sambut Nyonya Mildred.


“Jhonny, Bisakah kau minta salah seornag kakakmu membuatkan minuman untuk Nona ini?” perintah Nyonya Mildred.


“Tentu saja.” Jhonny sumringah dan segera melesat pergi, seperti anak panah yang lepas dari busurnya.


Venus tersenyum kecil melihat anak laki-laki yang sangat lucu itu. Namun, suara Nyonya Mildred segera mengalihkan perhatiannya.


“Saya Nyonya Mildred, pengurus panti ini. Boleh saya tahu Anda siapa?” Senyuman hangat tak lepas dari wajah tua yang mulai keriput itu.


“Saya Venus Moriarty,” Venus memperkenalkan diri.


“Dari keluarga Moriarty? Saya pernah dengar tentang nama keluarga bangsawan itu. Tapi baru kali ini punya kesempatan untuk bertemu salah seorang anggota keluarga Moriarty. Terima kasih sudah memberi kami perhatian.”


Sambutan Nyonya Mildred terasa seperti madu. Entah kenapa, Venus tak terlalu menyukainya sekarang. Kalau dulu, dia akan menganggapnya sebagai hebat, karena selalu berhasil mendapatkan sedikit sumbangan dengan memuji para wanita kaya yang singgah ke sana.


“Kami bukan keluarga bangsawan,” Venus meralat kata-kata Nyonya Mildred.


“Ayahku menitipkan ini untuk kuantar ke sini.” Venus mendorong sebuah amplop putih di atas meja, ke depan wnita tua itu.


“Oh, jadi, siapakah nama ayahmu itu? Aku harus mencatatnya di buku penerimaan, bukan?’ Nyonya Mildred langsung mengeluarkan buku besarnya setelah melihat isi amplop.


“Ayahku, Chester Moriarty,” sahut Venus, sambil mengawasi Nyonya Mildred yang sedang mencatat. Wanita yang mendedikasikan hidupnya mengurusi puluhan anak. Kelelahan tergurat jelas di wajah tua itu. Usianya mungkin baru sekitar lima puluhan, tapi lebih mirip wanita enam puluhan lebih.


“Ini minuman anda, Nona.” Seorang gadis kecil muncul bersama Jhonny. Venus tak mengenal gadis kecil itu.


“Teirma kasih,” sahut Venus sopan dan penuh senyum. Bagi anak-anak panti, sebuah senyuman bisa menjadi menyalakan api semangat yang sebelumnya redup akibat kesulitan di panti.


“Gedung panti ini sangat bagus. Sepertinya Anda punya donatur tetap dan sangat royal,” puji Venus.


“Oh, itu Tuan Hugo von Amstel.” Nyonya Mildred membungkuk sedikit dan berkata dengan suara rendah. “Dulu, salah satu anakku dijadikannya istri tapi dia meninggal saat mereka liburan. Sungguh Jean yang malang.”


*****