VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 49. Undangan Makan Malam



Lima hari kemudian Chester kembali dan mendapatkan putrinya terlihat gelisah. “Apa rencanamu sekarang?” tanyanya sambil menemaninya duduk menemani taman belakang sore itu.


“Kurasa sudah waktunya aku melakukan hal yang kutunda sejak lama,” jawab Venus.


“Caranya?” selidik Chester.


“Aku sudah memeriksa camp anak-anak itu. Mereka hanya mengadakannya selama satu minggu di awal bulan gugur. Jadi seharusnya Moreno akan kembali dua hari lagi. Aku akan ke sana mengunjungi Frisia dalam empat hari dan menenangkan Moreno,” kata Venus.


“Lalu?”


“Jika memang tak mungkin membalas Hugo, maka aku akan membawa Moreno pergi saja dari sana!” ujarnya sambil menggertakkan gigi.


Chester bisa melihat kalau putrinya itu mulai tidak sabaran. “Sebaiknya rencanakan dengan matang. Kau sudah pernah mencoba menyelinap di sana, tapi tidak berhasil. Seperti yang kukatakan sejak mula, penjagaan kediaman itu sangat ketat. Bagaimana kau bisa berpikir datang ke sana dan membawa Moreno pergi begitu saja? Kau bahkan sudah diusir dari sana!” Chester berkata tegas.


“Lalu bagaimana? Aku merindukannya. Entah apa yang sedang dilakukannya sekarang. Anak sekecil itu, dijauhkannya dari rumah hanya agar bisa mengusirku? Pria itu benar-benar tak punya hati. Bahkan pada putranya sendiri!” kesal Venus.


“Aku bisa membantumu mengambil Moreno dan membunuh Hugo, kalau kau mau,” Chester menawarkan bantuannya dengan lembut.


“Aku tahu kau bisa. Tapi aku ingin bisa merasa puas, membunuhnya dengan tanganku sendiri!” geram Venus lagi. “Tapi aku masih tidak mengerti cara mendekati tempat itu, tanpa diusir penjaga.”


“Bukankah ada Lennox von Amstel yang tergila-gila padamu?” tanya Chester memberi ide.


“Lalu?” tanya Venus tak mengerti.


“Dekati dia, beri sedikit harapan, agar dia mabuk kepayang dan membawamu ke dalam keluarganya,” ujar Chester.


Venus menatap pria paroh baya itu tak percaya.


“Menurut pendapatku, cinta Lennox itu jujur. Mungkin akan sedikit sakit baginya saat mengetahui kau memanfaatkannya. Namun, jika dia mendapat imbalan yang sepadan, itu mungkin bisa mengobati luka hatinya.” Chester memberi petunjuk.


“Apa hubungannya itu dengan Hugo?” tanya Venus masih belum mengerti.


“Selama ini Lennox dianggap sebelah mata oleh Damon, karena dia tak punya cukup kualifikasi. Latar belakang ibunya yang orang biasa, sudah lebih dulu menjatuhkan posisinya ke urutan yang tidak diperhitungkan sama sekali,” kata Chester.


“Lalu, bukankah akan sama saja, jika aku mendekatinya? Aku juga orang biasa!” sanggah Venus.


Chester kemudian tertawa keras, merasa kata-kata Venus begitu lucu. “Siapa bilang kau orang biasa. Kau putriku!” kata Chester masih terus tertawa.


Venus terkejut. Dia melupakan hal itu. Ya, dia adalah putri seorang Moriarty. Wajahnya berseri-seri seketika. “Apakah aku boleh mengundang Lennox makan malam ke sini?” tanya Venus ragu.


“Tentu saja. Aku juga ingin mengenal pria yang berani dengan lancang jatuh cinta pada putriku!” jawab Chester tersenyum.


“Venus memeluk Chester. Kau yang terbaik, Ayah,” ujaranya senang.


Saat itu juga Venus menelepon Lenoox yang telah beberapa hari tidak diacuhkannya.


“Shadow! Aku tak mengira kau meneleponku. Apa kau marah padaku karena Hugo memecatmu? Ayolah … itu bukan salahku. Dia memang orang yang tidak masuk akal seperti itu. Bukan aku tidak memarahinya setelah itu. Tapi kau tahu, dia bersikap sangat dingin! Aku kehabisan kata untuk membujuknya memanggilmu kembali.”


Lennox memberondongnya dengan begitu banyak penjelasan. Hal itu membuat Venus tertegun sejenak. Dia belum pernah dicintai dan dikhawatirkan begitu rupa oleh seorang pria. Kecuali oleh Chester yang kemudian mengangkatnya sebagi anak.


“Shadow … apa kau masih di sana? Aku merindukanmu. Bisakah kita bertemu? Kau bisa bekerja denganku. Dan sesekali aku akan membawamu mengunjungi Moreno. Aku tahu kau pasti merindukan jagoan kecil lucu itu, kan?” Lennox kembali bicara secepat kereta api.


Venus tertawa dan sedikit menanis di ujung telepon. Itu membuat Lennox justru menjadi cemas. “Jangan menangis … kau bisa langsung bekerja denganku. AKu akan membawamu ke rumah Hugo, begitu Moreno kembali dari camp!” bujuk Lennox.


“Terima kasih, Lennox …. Aku tak mengira kau akan sekhawatir itu padaku. Dan ya, aku memang meras sedih dan marah beberapa hari ini. Tapi mendengar tawaranmu tadi, aku menjadi sedikit lebih baik,” ujar Venus.


“Bagus kalau begitu. Aku senang mendengarnya. Jangan sedih berlama-lama. Aku akan membantumu. Percayalah … aku sangat mencintaimu,” kata Lennox lagi.


“Ehem … bisakah kau datang makan malam denganku?” tanya Venus.


“Tidak perlu memesan tempat, Lennox. Bisakah kau datang ke rumah sederhanaku?” tanya Venus lagi.


“Tentu saja. Tidak masalah. Kirimkan waktu dan alamatnya. Aku pasti datang!” janjinya.


“Bagaimana kalau malam ini saja? Tapi, karena mendadak, mungkin aku tidak bisa mempersiapkan jamuan yang layak. Apakah---”


“Jangan khawatir. Jika denganmu, tak ada yang tak layak. Aku akan datang. Kirimkan alamatnya padaku!” Lennox memotong kata-kata Venus.


Dia sudah sangat bahagia membayangkan akan bertemu dengan gadis itu. Siapa yang peduli apakah makanan yang disiapkan akan layak atau tidak. Dia bisa membeli beberapa jenis makanan untuk dibawa ke sana. Maka semua akan jadi sempurna. Wajahnya sangat bahagia sore itu. Dengan cepat dia berdiri dari kursi dan keluar dari ruang kerjanya.


“Mau ke mana Kau?” tanya Hugo yang berpapasan jalan dengannya.


“Mempersiapkan diri untuk bertemu kekasihku!” Lennox menjawab sambil terus jalan. Dia tak peduli dan tak ingin tahu bagaimana reaksi Hugo.


“Kekasihnya? Siapa kekasihnya? Aku tidak tahu dia punya kekasih akhir-akhir ini!” Hugo menggelengkan kepala dan melanjutkan langkah. Dia malas pulang cepat sejak Moreno pergi.


***


Lennox melihat sebuah rumah besar dari jendela mobil. Sopirnya kembali bertanya.


“Benarkah alamatnya di sini, Tuan?”


Sekali lagi Lennox menunjukkan alamat yang dikirimkan Shadow padanya. Sopirnya mengangguk. Mobil dilajukan hingga ke depan pagar rumah yang dibuat dari batu setinggi pinggang, lalu bagian atasnya ditumbuhi tanaman bunga merambat.


“Aku mengantar Tuan Lennox von Amstel untuk undangan makan malam,” kata sopir pada seorang pria yang kebetulan sedang membawa ember dan sapu di balik pintu pagar rendah dari kayu.


“Sebentar kutanyakan.” Pria


itu berlari menuju pintu rumah yang memiliki tangga batu. Kemudian dia kembali


dengan cepat dan membukakan pintu pagar lebar-lebar.


Lennox terkejut. Dengan begitu, berarti benar bahwa ini adalah alamat yang dimaksud Shadow. Begitu mobil berhenti, pria tadi membukakan pintu mobil dengan sopan.


“Selamat datang, Tuan. Anda sudah ditunggu.” Pria itu mengarahkan pandangannya ke tangga batu dan pintu lengkung dari kayu tebal di sana.


Lennox turun dan membawa bunganya. Dia berjalan ke bagasi belakang. Tadi dia memang membeli beberapa makanan untuk makan malam ini. Meski sekarang dia tahu bahwa itu tidak terlalu perlu lagi, sekarang, tapi dia sudah terlanjur membelinya. Jadi, mari bawa saja ke rumah itu.


“Saya membawa sedikit makanan di sini. Bisakah Anda bantu?” tanya Lennox sopan.


Pria tadi memanggil wanita yang berdiri di depan pintu. Dua pelayan turun dan membantu membawakan semua yang dibeli Lennox.


“Mari, Tuan.” Bratt menunjukkan jalan pada Lennox.


Pria itu hanya membawa buket bunga di tangannya untuk Shadow. Dia mengikuti dengan kepala penuh tanda tanya. Benarkah ini kediaman Shadow? Dia orang kaya! Bagaimana dia bersedia jadi pengasuh Moreno?


“Tuan Lennox von Amstel sudah datang, Tuan,” lapor Bratt dari depan pintu ruang tamu.


Chester yang sedang melakukan hal lain dan membelakangi pintu, segera berbalik dengan wajah cerah.


“Silakan masuk, Lennox,” ujarnya.Lennox memasuki ruang tamu yang bergaya klasik itu.


“Duduklah dulu. Putriku masih belum turun. Kau tahu wanita, kan? Meskipun dandanannya sederhana, tetap saja kita para pria harus mau menunggu sebentar!” kata Chester tertawa riang.


Lennox hanya bisa meringis, bukan tertawa, mendengar pria itu mengatakan putrinya belum turun. Apakah dia ayahnya Shadow? Berapa banyak rahasia yang disimpan Shadow darinya?