VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 16. Elliot Morgan



Jangan lupa beri Like dan komentar ya. Terima kasih.


*****


Setelah suara tawa mereda, Venus tetap menyapa balik pria itu dengan ramah. “Selamat malam, Tuan Handerson,” katanya sopan.


“Ini Tuan dan Nyonya Roland,” Chester kembali memperkenalkan pasangan lain pada Venus.


Ada tiga pasangan tua lain di ruangan itu. Mereka semua adalah rekan bisnis Chester. Setelah semuanya berkumpul, Tuan rumah, Stephen Lawrence muncul bersama istri dan putranya. Mereka berbincang sebentar. Putranya Oscar, tak bisa melepaskan pandangan dari Venus sejak mereka diperkenalkan. Dan sialnya, hanya merekalah yang menjadi generasi muda diantara para orang tua. Mau tak mau, Venus harus bersabar untuk berbincang dengan lelaki muda itu.


Setelah acara makan malam yang membosankan, Akhirnya para wanita bisa duduk dengan tenang di balkon atas kediaman. Mereka melepaskan pandang ke arah kota yang gemerlapan di bawah sana. Maka gossip pun mulai terdengar. Venus yang tak mengenal siapapun, hanya bisa ikut mendengarkan,  tertawa kecil atau tersipu malu untuk lelucon jorok yang sesekali mereka lontarkan.


“Venus, baru kali ini Moriarty membawamu keluar. Kukira, dia tak akan pernah mau bergabung lagi dalam acara seperti ini, sejak istrinya meninggal.” Seseorang mulai menyasar Venus sebagai target lelucon dan gossip.


“Berhati-hatilah, Barbara. Tuan Moriarty bukan orang yang bisa kau gossipkan!” temannya memperingatkan.


“Ya! Dia seorang Jenderal Besar. Jangan berani bicara omong kosong!”


“Gossip itu kalau kita bicara di belakang seseorang. Lagi pula, aku kan hanya ingin bertanya padanya. Di mana dia selama ini disembunyikan Tuan Moriarty.” Nyonya Barbara berkelit.


“Aku hanya di kediaman. Kadang di luar negeri. Kadang ikut tugas di lapangan bersama pasukan yang lain.” Venus menjawab pertanyaan itu.


“Apa? Bertugas bersama pasukan?” Nyonya Barbara langsung terdiam.


“Tak heran tubuhmu sangat bagus. Tubuh yang dilatih dengan baik,” puji salah seorang nyonya.


“Nah, sekarang kau kehilangan bahan gossip setelah tahu bahwa dia bagian dari pasukan Tuan Moriarty. Tak heran dia tak pernah bergabung dengan kita.” Seorang nyonya merasa puas melihat Barbara tak berkutik.


“Bagaimana kau bisa ikut datang hari ini?’ Yang lain memancing informasi.


“Kami sedang tidak ada tugas. Ayah dan aku sedang di rumah dan ada undangan ini. Dan aku tak keberatan ikut menemaninya kali ini,” jawab Venus sopan.


“Tuan Moriarty sangat beruntung memilikimu sebagai pendukungnya,” puji yang lain tak kalah sopan.


Venus hanya mengulas senyum. Jika bukan karena ingin dikenal orang kalangan atas, dia paling malas berbasa-basi seperti ini. Seperti dulu, setiap kali pergi makan malam ke tempat kakek Hugo. Dia tak menyukai siapapun di keluarga Von Amstel, kecuali Sandrina. Mereka semua palsu di matanya.


Pukul sebelas malam, mereka bersiap untuk kembali.


“Tuan Moriarty, bolehkah aku berkunjung ke kediaman Anda besok?” Oscar Lawrence tak melewatkan kesempatan untuk mendekati Venus.


“Sayang sekali, Oscar, besok aku dan Venus akan pergi selama beberapa waktu.” Chester menemukan alasan untuk menolak anak muda itu.


“Sayang sekali. Semoga kita bisa bertemu lagi lain kali.” Oscar tidak menyembunyikan kekecewaannya atas penolakan itu.


Di dalam mobil menuju pulang.


“Tidakkah kau terlalu kejam pada Oscar?” kritik Venus.


“Kenapa? Apa kau menyukainya?” tanya Chester.


“Tidak! Hanya saja, aku tidak ingin bsnismu dengan ayahnya terganggu sebab kau terlalu melindungiku,” jawab Venus.


“Dia pria mata keranjang. Sekali aku memberi kesempatan, dia kan menemukan jalan lain untuk datang dan mengganggumu lagi!” ujara Chester.


“Dan tentang bisnisku dengan ayahnya, tak perlu kau khawatirkan. Merekalah yang membutuhkanku di sini,” ujarnya percaya diri.


“Baiklah, terima kasih.” Venus menyandarkan punggung di jok mobil. Dia sangat lelah hari ini.


“Apakah para nyonya itu membuatmu kesulitan?” tanya Chester penuh perhatian.


“Jawaban yang bagus!” puji Chester. “Mereka tidak akan berani lagi macam-macam.” Pria itu terkekeh kecil. Tampaknya dia senang dengan ide Venus.


“Oh ya, Minggu depan tim akan berlatih di pulau. Jika kau mau ikut ….”


Venus sudah tertidur di tempatnya. Chester hanya bisa menggeleng. “Apakah kau bermain hingga kelelahan?” bisiknya haru.


Saat mobil sampai di rumah, Venus belum bangun. Chester mengangkatnya ke dalam kamar dan menyelimuti. Lalu keluar lagi. Sopir yang mengantar Venus dipanggil ke ruang duduk.


“Venus sangat kelelahan. Kemana kalian pergi sore tadi?” tanyanya.


“Saya mengantar nona dan dua anak dari panti itu ke taman. Mengawasi mereka dari jauh, bermain semua permainan yang ada di sana,” jawab sopir itu.


“Oh, pantas saja. Apakah dia senang?” tanya Chester lagi.


“Ya. Tapi setelah pulang dari panti, nona terlihat sedih,” lapor sopir lagi.


“Baiklah. Kau boleh pergi.”


Chester merenung cukup lama di ruangan itu, sebelum pergi untuk istirahat.


***


Dua minggu berikutnya, dihabiskan Venus di pulau, berlatih bersama tim Falcon. Dia terus mengasah kemampuannya bersama tim yang sudah profesional  itu.


“Falcon, di pertemuan makan malam lalu, seseorang mengatakan bahwa Kau adalah Jenderal Besar. Apakah mereka juga pasukan pemerintah?” tanya Venus di sela istirahatnya.


“Aku sudah pensiun. Mereka adalah tentara bayaran yang aku latih sendiri,” jawab Chester. Venus mengangguk mengerti.


“Oh ya, tiga hari lagi ada acara lelang. Biasanya keluarga kaya dan para bangsawan akan datang. Kurasa kau bisa bertemu dengan musuh besarmu itu di sana,” bisik Chester.


“Apa kita akan kembali?” tanya Venus heran.


“Ya. Besok pelatihan ini selesai. Lalu kita pulang.”


Malam baru saja turun. Venus dan Chester melangkah menuju pintu masuk gedung lelang yang megah. DI depan penjaga, Chester menunjukkan kartu undangannya.


“Selamat datang, Tuan Moriarty.” Pelayan menyambut mereka berdua dan mempersilakan masuk.


“Oh ho, siapa ini yang datang? Tuan Chester Moriarty yang terhormat!” Seorang pria yang seketika menimbulkan rasa tak suka di hati Venus, berjalan menghampiri.


“Hai Elliot. Aku tak mengira kau masih hidup,” balas Chester kasar.


Pria yang dipanggil Elliot menatap Chester tajam. Di detik berikutnya, pandangannya jatuh pada Venus. Pandangan menilai yang sangat dibenci wanita itu.


“Jaga matamu itu, Elliot. Putriku bukan pajangan yang bisa kau pandangi dengan ceroboh!” tegur Chester.


Pria itu jelas sangat terkejut. “Dia putrimu? Aku sungguh tidak tahu. Maafkan aku, Nona Moriarty,” ujarnya sedikit membungkuk khas para bangsawan. Tapi Venus tahu bahwa itu salah. Dia dan Chester bukanlah bangsawan. Itu seperti sebuah ejekan untuk Chester.


“Abaikan dia. Dia sedikit tidak waras!” Chester menarik tangan Venus untuk pergi.


“Tolong jangan menyakiti hatiku, tuan Moriarty!” tegur Elliot. Wajahnya tampak mengerikan ketika melihat punggung Chester yang makin menjauh.


“Aku bukan lagi Elliot Morgan yang dulu kau masukkan dalam penjara!”


******