
Kediaman Hugo sepi. Rasa senyap yang menghadirkan berbagai makna. Bagi Shadow, kesunyian itu menghadirkan kecemasan padanya. Cemas dengan nasib putranya.
Bagi Frisia, kesunyian itu menjadi sesuatu yang menegangkan. Karena suaminya telah mengeluarkan ancaman yang menakutkan, jika kesehatan putra tirinya itu berakhir buruk!
Bagi sebagian istri yang menikah tanpa cinta, maka perceraian adalah hal yang diidamkan. Dan Hugo sangat tahu kalau Frisia telah berulang kali memancing kemarahannya agar Hugo menceraikannya. Jadi, Hugo tidak akan memberikan kebahagiaan itu pada Frisia.
“Kau akan mendapat hukuman yang paling kejam, dari yang bisa kau bayangkan di kepala kecilmu itu!” ancam Hugo dingin.
Dan sekarang, dia kembali dikurung di dalam kamar, tanpa boleh dilayani.
Pukul sebelas malam, Seseorang mengetuk pintu kamar Shadow. Wanita itu membukanya dan melihat penjaga berdiri di sana.
“Tuan memanggilmu ke kamar tuan muda!” katanya memberi tahu.
“Tak menunggu lama, Shadow langsung berjalan cepat ke kamar Moreno. Dia ingin tahu apa yang sedang terjadi. Sejak tadi dia sudah gelisah dan hanya bisa berjalan mondar-mandir di dalam kamar sambil berdoa.
Setelah ketukannya mendapat panggilan dari dalam, Shadow masuk ke dalam kamar Moreno. Di sana ada Hugo dan Moreno yang terlihat lesu.
“Mm … Tu-tuan Muda!” serunya bahagia. Dia hampir saja salah memanggil putranya di depan Hugo.
“Shadow ….” Moreno menjawab lemah. Tangannya otomatis terulur begitu saja.
Shadow sedikit mendekat. Namun, tentu saja dia tak bisa memeluk Moreno. Ada Hugo yang duduk di tepi tempat tidur.
“Ya, Tuan muda, Anda bisa istirahat lagi. Saya akan menjaga hingga pagi nanti,” kata Shadow menenangkan bocah lelaki itu.
“Kau berjagalah di sini. Dokter sudah pergi dan besok akan memeriksa perkembangannya lagi.” Hugo berdiri dari duduknya.
“Baik, Tuan.” Shadow membungkukkan kepalanya sedikit. Mencoba menyembunyikan senyum senangnya dari pandangan Hugo.
Setelah pintu kamar ditutup, cepat-cepat dia berjongkok dekat tempat tidur dan memeluk putranya dengan tubuh gemetar.
“Syukurlah … kau tidak apa-apa. Aku takut sekali tadi,” lirih Shadow.
“Maafkan aku, tidak mengawasi makanan yang masuk ke mulutmu. Aku sangat ceroboh. Tidak akan terjadi dua kali. Siapapun yang melakukan ini, jika ayahmu menemukannya, aku akan merujaknya!” geram Shadow emosi.
“Apa itu merujak?” tanya Moreno lemah.
“Hemm … semacam mencincangnya hingga *****,” jawab Shadow sambil tersenyum.
Anak kecil itu terkekeh kecil.
“Tidurlah lagi. Aku akan menemanimu hingga dokter datang besok pagi,” kata Shadow lembut.
Keduanya berpelukan dan Shadow menepuk-nepuk pelan punggung Moreno sambil menggumamkan lagu pengantar tidur.
Di balik pintu yang terbuka sedikit, Moreno mengintip dan menguping interaksi putranya dengan Shadow. Dia tidak merasakan kejanggalan sikap Shadow. Dia bisa merasakan ketulusan dari kasih sayang pengasuh itu pada putranya. Kemudian dia pergi setelah suasana di dalam kamar itu berubah hening. Dua orang itu tertidur dengan pulas sambil berpelukan.
“Bagaimana keadanmu sekarang? Apa kau tahu kalau paman besarmu ini sangat cemas melihat kau sakit hari itu?” tanya Lennox, mencoba mengambil hati Moreno.
Bocah yang sedang bermain di kamar bersama Shadow, melihat pada pengasuhnya, minta pendapat. Shadow mengangguk.
Moreno berdiri dan berjalan ke tempat Lennox berdiri. Dia menerima hadiah yang diulurkan oleh pamannya itu. “Terima kasih, Paman,” balasnya datar.
“Apa kau sedang bermain? Boleh paman besar ikut serta?”
Pertanyaannya itu tak butuh jawaban. Karena dia sudah ikut duduk di lantai menghadapi lingkaran rel kereta besar yang dibuat Moreno. Anak itu dan Shadow tak mungkin menolak orang yang sudah duduk dan tampak tertarik dengan permainan mereka.
Moreno meletakkan hadiahnya di meja. Tapi Lennox segera mencegahnya.
“Buka saja. Tambahkan rel dan kereta itu di sini. Coba kita lihat … di bagian mana kita bisa menambahkan satu stasiun lagi,” katanya sambil berpikir serius.
Tanpa terasa, ketiga orang itu bermain hingga jam makan siang tiba. Lennox akhirnya dengan tidak tahu malu, ikut makan bersama dengan Frisia, Shadow dan Moreno.
Dia masih ingin bermain setelah itu, jika tidak dicegah Shadow. “Moreno harus tidur siang. Dia masih dalam pengawasan dokter.”
“Oh, baiklah. Selamat istirahat masinis kecil! Paman besar akan membawakan kereta seri terbaru setelah kembali dari luar negri,” katanya dengan senyum ramah. Moreno mengangguk dengan mata berbinar. Setelah waktu bermain mereka tadi, dia tidak lagi takut pada Lennox.
“Aku pergi, Shadow. Apa kau menginginkan oleh-oleh dari luar negri? Katakan saja yang kau mau. Jika aku menemukannya, pasti kubawakan,” tawar Lennox ramah.
“Tidak perlu, Tuan. Terima kasih.” Shadow menolak keramahan Lennox.
“Baiklah, selamat tinggal!”
Lennox tidak memaksakan keinginannya. Dia akan mendekati Shadow pelan-pelan. Baginya Shadow adalah gadis yang sangat berbeda dari gadis kebanyakan yang dikenalnya.
Kalau gadis lain ditawarkan hadiah, mereka akan punya semacam list barang impian dan akan mulai menyebutkan hal yang paling mahal di dalam daftar itu ketika ditawari. Sikap Shadow membuat semangatnya makin tumbuh. Dia menginginkan wanita seperti Shadow dalam hidupnya yang kacau.
“Kau tidak menawariku oleh-oleh?” sindir Frisia. Dia bisa melihat bahwa perhatian Lennox tidaklah tulus. Sangat jelas terlihat, bahkan oleh para pelayan, kalau pria muda itu sedang mengincar Shadow.
“Aku masih ingin umur panjang!” kata Lennox sambil berlalu. “Good bye Frisia!”
Frisia jadi cemberut. Lennox mengingatkan bahwa dia milik Hugo! Jadi dia tak ingin berbasa-basi yang bisa mengakibatkan salah paham dengan Hugo dan seluruh keluarga besarnya. Akibatnya bisa sangat berbahaya dan mengancam kedudukannya yang sudah sangat genting!
Bagi orang luar, Lennox adalah tuan muda bangsawan terhormat yang tak kalah tampan dengan Hugo. Dia cukup dihormati karena nama keluarga yang melekat padanya. Hanya saja, keadaan di dalam keluarga besarnya, posisinya tidaklah seterhormat itu.
Lennox memiliki ibu warga biasa, memiliki posisi lebih rendah dari Hugo. Padahal, ayahnya adalah kakak dari ayah Hugo. Dan ayahnya sudah sangat patuh, setia, dan mengorbankan hati serta pikirannya untuk kelangsungan keluarga besar Von Amstel hingga dia meninggal karena sakit akibat terlalu lelah bekerja.
Dalam daftar ahli waris keluarga Von Amstel, jika Damon kakek mereka tiada, maka ahli waris urutan pertama adalah Hugo! Padahal, jika melihat urutan lahir dan orang tua, seharusnya Lennoxlah yang menjadi ahli waris pertama dan yang akan menjadi pemimpin nama keluarga Von Amstel. Tapi itu tidak terjadi.
Lennox sedikit tidak senang dengan sikap pilih kasih Damon von Amstel padanya. Ayahnya dulu sering mengeluh. Kenapa kerja kerasnya tak pernah dihargai ayahnya, hanya karena dia ngotot menikahi ibu Lennox yang orang biasa. Sangat berbeda dengan ayah Hugo yang menikah dengan gadis bangsawan yang dicintainya. Meski hanya bangsawan kecil dan juga tidak kaya, tapi itu tetaplah keluarga bangwasan!
Semenjak itu, garis hidup Lennox berubah. Bahkan ketika pamannya itu berulah dengan menentang keinginan Damon untuk menceraikan ibu Hugo agar bisa menikahi gadis bangsawan lain. Posisi Hugo justru semakin jelas. Ahli waris pertama yang semula dipegang ayahnya, otomatis turun kepadanya. Dan Lennox tak akan pernah bisa memperbaiki posisi tak adil itu selamanya!