
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar ya kak. Terima kasih.
*****
Sejak pertemuan di kediaman Damon minggu lalu, keadaan Frisia tidak baik-baik saja. Tidak tahu apa yang sedang dihadapinya. Tapi Hugo makin bersikap dingin pada istrinya.
Seperti malam ini. Setelah makan malam dan menemani Moreno hingga tidur, Shadow berjalan-jalan di teras untuk mencari sedikit angin sejuk. Di sana sudah ada Frisia yang duduk di kursi kayu. Pelayan pribadinya mengawasi sambil sesekali menguap.
Shadow berjalan ke sana dan menyapanya. “Kau belum tidur?”
“Heh! Aku bosa dan tidur di penjara ini!” balas Frisia.
Sekarang Shadow benar-benar mengamatinya. Tanpa permisi dia duduk di kursi yang lainnya. Sekarang dia tahu mengapa Frisia berbicara dengan aneh. Ada botol minuman tergeletak tak jauh dari kakinya. Dapat dipastikan itu sudah dikosongkan Frisia, karena tak ada lagi isinya yang tumpah ke lantai.
Shadow duduk dengan santai. Menempelkan punggungnya ke sandaran kursi. Dia menikmati suasana danau di malam hari. Kelip lampu di tepian lain membias pada permukaan danau yang gelap. Membuatnya jadi sangat cantik sekaligus misterius.
Udara musim panas yang kering belum berakhir. Menggelitik hatinya untuk terjun ke danau mencari kesejukan. Dulu dia suka berenang di danau saat malam tak bisa tidur. Dia melakukan itu untuk menyembunyikan tangisnya dari semua orang di rumah itu. Tapi sekarang Hugo sudah melarang siapapun untuk berenang ke danau itu saat malam hari.
“Apa kau pikir mabuk bisa menyelesaikan masalahmu?” tanya Shadow.
“Itu tak akan pernah bisa diselesaikan! Jadi biarkan aku mabuk untuk melupakannya!” balas Frisia dengan suara khas orang mabuk. Tangannya bergerak tak jelas.
“Pelayan! Ambilkan aku minuman lagi! Tenggorokanku sudah kering sejak tadi!” perintahnya.
“Nyonya, Anda sudah terlalu banyak minum,” kata pelayannya yang sudah sangat mengantuk.
“Apa kau ingin mengaturku sekarang? Ambilkan!” teriak Frisia.
Pelayannya bergeming. Menatapnya dengan raut wajah sedih.
“Kalau kau tak juga pergi mengambilkanku minuman, aku akan lompat ke danau!” ancam Frisia. Dia berusaha untuk berdiri dengan susah payah.
“Nyonya ….”
Pelayan itu tampak khawatir melihat Frisia yang berjalan dengan tubuh bergoyang karena mabuk. Kaki Nyonya muda itu melangkah menuju tepian danau. Beberapa langkah lagi, dia akan sampai di dek terendah yang berhampiran dengan permukaan air.
“Tunggu!” Pelayan itu berlari mendapati Frisia dan memegang lengannya. “Biar saya ambilkan Anda minuman,” katanya sambil membimbing Frisia kembali ke tempat duduknya tadi.
“Tolong awasi Nyonyaku sebentar,” pintanya pada Shadow. Dibalas anggukan oleh pengasuh itu sebelum si pelayan pergi.
“Apa kau punya masalah?” tanya Shadow setelah pelayan itu benar-benar menghilang.
“Apa kau kira menjadi Nyonya Hugo von Amstel akan memberimu kebahagiaan?” Frisisa menjawab pertanyaan Shadow dengan pertanyaan lagi. Matanya menerawang sedih.
“Kau sangat penuh beban. Kata teman-temanku, jika aku punya masalah pelik yang belum menemukan pemecahan dan membebani pundakku hingga dia tak bisa tegak, maka itu saatnya membagi kisahnya dengan orang lain!” pancing Shadow.
“Apa gunanya bicara kalau tidak menemukan cara menyelesaikannya!” tanya Frisia lagi. Tangannya bergerak-gerak di udara saat bicara. Kali ini mata merahnya menatap Shadow dengan pandangan meremehkan.
“Dengan bercerita, hampir setengah berat beban itu diangkat dari pundakmu. Meskipun belum bisa diselesaikan, setidaknya kau tidak akan merasa tertekan lagi karenanya,” bujuk Shadow. Dia ingin tahu apa yang disembunyikan Frisia.
Frisia memiringkan kepalanya mendengar kata-kata Shadow. Entah dia mengerti atau tidak mendengarkan sama sekali. Pelayannya kembali dengan satu botol minuman beralkohol di tangan dan menyerahkannya dengan ragu. Shadow hanya mengamati. Itu botol minuman yang cukup mahal. Dia pernah lihat yang seperti itu di mini bar Chester.
“Kau mengambil minuman di tempat Tuan?” tanya Shadow heran.
“Tidak! Aku membawa minumanku sendiri dari rumah orang tuaku! Apa Kau kira kami sangat miskin hingga harus mengambil milik orang lain!” tunjuk Frisia kesal pada Shadow.
Shadow tak menjawab. Diperhatikannya Frisia minum langsung dari mulut botol. Menurutnya, Frisia punya masalah yang sangat serius, hingga seluruh keanggunan yang selama ini dia tunjukkan, hilang lenyap malam itu. Shadow menoleh pada pelayan yang masih berdiri tak jauh dari nyonya mudanya. Tubuhnya kadang bergoyang ke kanan dan kiri karena sudah hampir dikuasai kantuk.
“Sepertinya Kau sangat lelah. Lebih baik duduk di sana dan mengawasinya sambil duduk.” Shadow menunjuk bagian teras yang persis berada di depan pintu. DI sana ada pagar batu rendah yang bisa dijadikannya sandaran kepala.
Pelayan itu menatapnya ragu.
“Aku akan menemaninya di sini. Jangan kkhawatir.” Bujuk Shadow.
Pelayan itu mengangguk dan segera pergi ke teras dan duduk di sana. HAnya sebentar saja kepalanya bisa tegak. Setelah lima menit, kepala itu terkulai ke pagar batu di sebelahnya. Dengkuran halusnya bahkan didengar Shadow.
Frisia menenggak minumannya seperti orang kehausan.
“Kau bisa sakit kepala besok,” tegur Shadow.
“Bukan urusanmu!” balas Frisia.
Frisia tak menjawab. Dia tenggelam dalam keasikannya sendiri menggores-gores udara dengan jarinya.
“Kurasa ini pasti soal hati. Apa kau sedang patah hati?” tebak Shadow.
Frisia mengangguk, lalu menggeleng. Wajahnya cemberut dan mengejek. “Kau tak terlalu pintar menebak!”
“Yah … aku juga tak pernah bilang kalau aku pintar, kan.” Shadow tertawa kecil. Frisia ikut tertawa kecil.
“Aku sedang marah!” kata nyonya muda itu sambil memukul udara.
“Padaku?” pancing Shadow dengan mimik heran.
“No!” Frisia menggoyangkan telunjuknya ke kiri dan kanan. Mulutnya mengeluarkan aroma alkohol yang tajam hingga Shadow menjauhkan wajahnya sedikit.
“Pada Tuan?” tebak Shadow lagi.
Frisia mengangguk dengan kuat. “Pada semua keluarga Von Amstel!” teriaknya kencang.
“Sssstttt …!”
Shadow mendudukkan lagi Frisia yang tadi sempat berdiri karena emosi.
“Jangan bicara terlalu keras. Apa kau ingin para penjaga itu mendengarkan ocehanmu?” tegur Shadow.
“Huh … biarkan saja mereka tahu!” ketus Frisia.
“Duduk dan bicaralah yang tenang. Tak perlu berteriak. Aku belum tuli” tegur Shadow lagi.
Setelah beberapa waktu mendengarkan sumpah serapah Frisia yang kesal, Shadow mengeluarkan pancingannya lagi.
“Apa kau sedang ribut dengannya? Kulihat, sejak aku tinggal di sini, dia tak pernah datang ke kamarmu,” bisik Shadow ke telinga Frisia.
“Dia tak pernah menyentuhku. Aku akan membunuhnya kalau berani mendatangiku!” ketus Frisia.
“Hah? Kau sangat berani!”
Shadow benar-benar terbelalak mendengarnya. Ini kenyataan baru. Jadi, Hugo tak pernah ke kamarnya itu bukan karena dia masih ingat pada Jean, tapi karena Frisia mengancamnya? Apa mungkin Hugo setakut itu pada Frisia? Shadow meragukan tingkat mabuk Frisia sekarang.
Dia mengamati saja Frisia yang sedang berceloteh tak jelas persis seperti orang mabuk. Namun, pernyataannya
tadi seperti tak bisa dipercaya. Sementara yang diketahui Shadow, orang akan mudah berkata jujur jika sudah mabuk.
“Mungkinkah … itu yang ingin dipercayainya saat ini?” batin Shadow.
“Kalau kau bisa mengancamnya, kenapa juga kau jadi benci padanya dan seluruh keluarga Von Amstel? Bukankah Nyonya Sandrina sangat baik padamu? Bukankah Tuan Lennox juga bersikap baik?” tanya Shadow heran.
“Karena ….”
Frisia berusaha menahana hal yang ingin dikeluarkannya.
“Karena itu cuma khayalanmu saja!” sambung Shadow telak.
Dengan cepat Frisia membalikkan tubuhnya hingga menghadap Shadow sepenuhnya. Mata merah itu melegkapi ekspresinya yang sangat marah.
“Karena dia menyekap kekasihku agar aku bersedia menikah dengannya!” teriak Frisia lantang. Shadow terkejut mendengar suara tinggi itu. Dengan cepat dibekapnya mulut Frisia.
“Ssstttt …! Apa kau mau kita mati?”
Shadow menggeleng melihat wanita muda itu yang sudah sepenuhnya tak terkendali. “Aku tak bisa membantumu kalau kau selemah ini!” ketusnya setelah mendudukkan Frisia lagi ke kursinya.
“Maaf, Frisia. Aku masih harus hidup untuk tujuanku sendiri. Aku tak bisa menemanimu yang sudah tak terkendali!” Shadow melangkah pergi. Pelayan yang tertidur tadi dibangunkannya.
“Bangun! Dia sudah sangat mabuk dan berteriak-teriak. Lebih baik bawa ke kamar agar tidak menimbulkan masalah. Aku juga mau tidur!” kata Shadow.
Pelayan yang bangun dengan terkejut itu, melihat ke tempat nyonya mudanya yang sedang meracau.
Shadow pergi meninggalkan mereka berdua. Pelayan itu akan menjaga Nyonyanya dengan baik. Sementara itu, dirinya telah mendapatkan rahasia yang disimpan Frisia rapat-rapat.
*****