VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 33. Lennox von Amstel



Sebulan berlalu.


Chester memberi tahu bahwa dia sudah kembali ke kediaman. Shadow merasa lega mendengar kabar itu. Tapi dia tak bisa keluar sembarangan. Dia sedang berfokus mengambil hati putranya dan mendekati Frisia. Nyonya muda itu sudah mempercayainya sekarang. Kadang, saat Shadow menjaga Moreno, Frisia ikut serta dan sebentar kemudian menepi untuk berbincang. Hanya saja, sepertinya wanita muda itu masih belum sepenuhnya percaya untuk menceritakan apa yang paling disimpannya di dalam hati.


“Besok ada acara di sini,” kata Frisisa.


“Acara apa?” tanya Shadow ingin tahu. Meski menanggapi Frisia, tapi matanya tak pernah luput dari menjaga Moreno.


“Kakek Hugo akan datang dan memindahkan rapat keluarga di rumah ini,” jelas Frisia.


Shadow terdiam. Dia ingat bagaimana acara seperti itu di kediaman Damon. “Besok pasti akan jadi hari yang sangat merepotkan!” komentarnya.


“Yah. Itu sebabnya para pelayan sibuk sejak hari ini. Membersihkan rumah sejak pagi. Berbelanja bahan masakan dan besok mulai menyiapkan semuanya.” Firisa menambahkan.


Shadow mengangguk. Apa pedulinya dengan kesibukan itu? Tugasnya toh hanya untuk melayani Moreno!


“Kau tidak tertarik?” tanya Frisia.


Shadow menolehnya dengan heran. “Apa aku harus tertarik?” Matanya kembali diarahkan pada Moreno. Anak lelaki kecil itu sekarang berada di tepian dek menuju danau.


“Apa kau ingin duduk di sini dan menyentuh air danau? Shadow berjalan mendekati Moreno.


Di tempatnya Frisia mendengus tak senang karena ditinggalkan begitu saja. “Aku sedang bicara denganmu!” tegurnya keras.


“Kita bisa bicara nanti. Aku sedang menjaganya!” jelas Shadow dengan keheranan.


Dia bertanya-tanya apa disembunyikan dan memberatkan hati Frisia hingga meributkan hal sekecil itu? Dilihatnya dari sudut mata, Frisia melangkah pergi. Tapi Shadow tak mempedulikan. Tanggung jawab dan tuugasnya sangat jelas dibuat Hugo.


Tak lama terdengar suara tawa kecil dan ceria anak lelaki itu. Seiring waktu, sikap kaku, dingin dan sok dewasa Moreno, berhasil dikikis Shadow. Sekarang bocah itu bisa kembali tertawa lepas khas anak sebayanya. Dia juga tak malu lagi menangis di depan Shadow. Tak sungkan lagi memeluk dan mencium pipinya.


Mendengar gelak tawa ramai itu, Frisia makin kesal. “Kalau bukan karena aku, bagaimana kau bisa mendapatkan pekerjaan yang sangat bagus seperti itu!” kesalnya.


“Ada yang Anda inginkan, Nyonya?” tanya pelayan pribadinya. Wanita itu dibawanya dari kediamannya sendiri.


“Aku hanya ingin menonton film! Ambilkan cemilan dan minuman untukku!” perintahnya.


“Baik!” Pelayan itu pergi dengan cepat.


Setelah tak ada seorang pun di kamar, Frisia menangis sambil menutup wajahnya dengan dengan kedua tangan. Tubuhnya sampai berguncang.


“Bagaimana caraku menyelamatkannya?” lirihnya sedih.


“Nyonya!” Pelayan pribadi itu terkejut saat mendapati Frisia menangis. Nampan berisi penganan yang diminta Nyonya muda itu segera diletakkan di meja.


“Jangan biarkan mereka melihat kelemahan Anda, Nyonya,” nasehatnya.


Frisia menyeka air mata di pipinya dengan kasar.


“Dia tidak mencintaiku, lalu untuk apa memaksa menikahiku?”


“Nyonya, pelankan suara Anda,” Pelayan itu ketakutan. “Sangat bahaya jika didengar oleh para penggosip di rumah ini!” bisik pelayan pribadinya.


Wanita itu sedang kesal dengan apa yang terjadi. Jadi dia sedikit tidak peduli.  “Kau tahu? Ayah akhirnya mengatakan kebenarannya!” bisik Frisia.


“Nyonya, Anda sudah menikah. Lupakan pria lain dan masa lalu Anda,” nasehat pelayan itu lirih. Dia tak ingin Nyonyanya mendapat masalah karena membicarakan pria lain di rumah itu.


Frisia melihat ke sekeliling ruang kamarnya. Dia tidak melihat ada keanehan apapun di ruangan itu yang mungkin sebagai alat pengintai.


“Aku tak peduli! Dia mungkin menikahiku hanya sebagai hiasan saja, karena menuruti perintah kakeknya. Sementara cintanya pada ibu Moreno belum terhantikan! Bukankah itu bagus? Aku bisa pergi dan mencari kekasihku!” teriaknya lantang.


“Nyonya!” Pelayan itu benar-benar ketakutan sekarang. Dia menunduk di lantai dengan sikap tak berdaya dan menolak dikaitkan dengan apapun yang diucapkan wanita muda itu.


Setelah ruanagn itu hening beberapa saat, pelayan pribadinya mengingatkan lagi. “Besok Tuan Besar Damon akan datang. Anda harus bersikap lebih baik lagi di depannya!”


“Persetan!” Frisia dudu dan menyalakan televisi. Dia mulai tenggelem dengan cerita-cerita yang disajikan stasiun televisi dan melupakan kekesalannya. Tangannya tak putus-putus menjangkau toples makanan.


Pelayan pribadinya terlihat prihatin. Selalin menonton televisi, kegiatan Nyonya mudanya hanyalah berjalan pagi ke desa terdekat dan mengobrol dengan pengaruh bocah lelaki itu.


Hal yang disesalkannya adalah, Frisia tidak berusaha mendekatkan dirinya dengan anak kecil itu. Mereka berdua seperti dua orang yang berada di dunia berbeda dalam rumah besar itu. Sementara dalam satu bulan, pengasuh itu berhasil mengambil hati Moreno yang dingin dan kaku seperti ayahnya.


Yang ditakutkan pelayan itu adalah, Hugo mungkin akan lebih menaruh perhatian pada Shadow yang cantik dan dekat dengan putranya, ketimbang dengan Frisia yang dingin dan tidak peduli apapun selain dirinya sendiri.


***


Sejak pagi, rumah sudah sangat sibuk. Tak ada yang mempedulikan Moreno dan Shadow. Mereka bisa bebas bermain di danau pagi dan sore. Shadow mengakali kejang yang diderita Moreno. Jadi dia menggeser jadwal Moreno agar anak itu tidak harus bermain air di saat matahari sedang terik. Sekarang bocah lucu dan menggemaskan itu bisa bermain air dengan puas bersama Shadow.


“Sudah sore. Apakah kau tidak tahu bahwa putraku harus dipersiapkan untuk bertemu dengan kakeknya?” Hugo berdiri menjulang di tepian danau. Memperhatikan Shadow yang sedang mengajari Moreno berenang. Pekik ceria anak kecil itu seketika terhenti.


“Ayo kita bersiap-siap. Berenangnya besok lagi,” bujuk Shadow. Moreno hanya mengangguk patuh.


Hugo sudah memperhatikan Shadow sejak dia masuk bekerja ke rumah itu. Terlihat bisa dipercaya, dan bersungguh-sungguh dalam bekerja. Dia tak terlalu khawatir lagi melepas Moreno di tangan gadis itu. Entah bagaimana, dia percaya bahwa Moreno akan baik-baik saja di tangannya.


Di atas dek, Moreno yang sudah naik lebih dulu, mengulurkan tangan pada Hugo. Dia minta digendong.


Hugo menaikkan sebelah alisnya tak senang. “Apa kau tak bisa berjalan sekarang?” tanyanya kasar.


Shadow terkejut. Dengan amarah menyala, dipeluk dan digendongnya Moreno. Matanya menatap Hugo dengan tajam. Begitu tajam, hingga Hugo sedikit terkejut.


“Mulutmu pedas, bahkan pada putramu sendiri. Kau akan berakhir jadi orang yang paling kesepian di dunia, jika tidak berubah!”


Dengan kesal, Shadow membawa Moreno yang sudah menangis dalam pelukannya.


“Hah! Betapa beraninya dia marah padaku. Dia kira siapa dirinya? Jika kupecat, apa dia bisa punya pekerjaan sebagus ini lagi?”


Hugo sangat kesal karena mendapat teguran dari Shadow, orang yang hanya bekerja sebagai pengasuh putranya.Sekarang dia sudah menambahkan hasil pengamatannya atas Shadow, sebagai gadis kurang ajar!


Pukul tujuh, satu persatu keluarga Von Amstel berdatangan. Moreno harus ikut duduk menyambut di ruang tamu. Tak jauh dari tempatnya, Shadow duduk menemani. Dia mengenali semua keluarga besar Hugo yang hadir malam itu. Dia juga melihat Sandrina yang merupakan sepupu Hugo.


Wanita itu datang bersama suaminya. Terlihat mesra dan harmonis di depan semua anggota keluarga. Tapi Shadow sangat tahu bahwa dia tak bahagia dengan pernikahan yang diatur oleh kakeknya. Pria itu selingkuh berulang kali dan sudah terang-terangan. Tapi Damon tak melakukan apapun, karena pria itu adalah pengusaha sukses yang mereka sangat tergantung pada lancarnya perjalanan bisnis kedua keluarga.


Bukan hanya dirinya dan Sandrina yang menjadi korban keserakahan Damon von Amstel. Sekarang Frisia juga


ikut menjadi korban, karena Hugo tidak meliriknya sama sekali.


“Apa yang dipikirkan Hugo? Kenapa dia tak menyentuh Frisia? Apakah dia takut jatuh cinta dan berakhir menyakitkan karena kutukanku?” batinnya.


Damon von Amstel masuk ke ruangan. Di belakangnya mengikuti Lennox von Amstel yang merupakan sepupu paling dekat Hugo, selain Sandrina.


*****