
Amarah Hugo tak terbendung pada Shadow. “Aku baru saja memberikan kepercayaan padamu. Tapi sudah kau khianati! Dasar tidak tahu terima kasih. Semua orang mencoba berkhianat padaku!” geramnya sambil membanting pintu kamar Shadow.
“Aku menemukannya!” Seorang penjaga memberi tahu. “Dia ada di dek tepi danau!” tambahnya lagi.
Hugo berjalan dengan langkah yang panjang-panjang. Jelas tidak sabar untuk menghukum Shadow. Dengan segera dia sampai di sana dan melihat gadis itu ditelungkupkan di lantai dek dengan tubuh basah kuyup. Hugo tertegun sebentar tapi terus mendekat.
“Dari mana kau!” kaki Hugo menginjak salah satu tangan Shadow ke atas dek.
“Ssshhh ….” Shadow meringis menahan sakit pada tangannya. “Aku berenang di danau. Apa tidak lihat kalau aku basah?” jawab Shadow dengan nada kesal.
“Siapa yang mengijinkanmu berenang di danau?” tanya Hugo.
“Apa di sini dilarang berenang di danau?” Shadow bertanya dengan mimik bodoh.
Mendengar Shadow terus melawan Hugo, penjaga yang menahannya jadi kesal. Dia menekan tubuh Shadow lebih kuat ke atas dek.
“Ouhh!” rintih Shadow dengan pipi yang kini sudah menempel di lantai kayu yang basah.
“Kau harus sopan!” kata penjaga kasar.
“A-aku ti-dak tahu kalau di-larang bere-nang di-da-nau,” ujarnya terbata.
Hugo memberi kode agar tekanan itu dikurangi. “Kenapa kau tidak tidur di kamarmu?” selidiknya.
“Tuan, sebulan aku di sini, aku merasa tubuhku mulai mengembang. Jadi aku olah raga sebentar di kamar. Lalu merasa berkeringat. Kupikir akan menyenangkan berolah raga sambil berenang sebelum tidur nyenyak. Jadi aku ke sini. Aku juga tidak berenang terlalu jauh. Takut danau ini terlalu dalam. Maafkan aku jika berbuat salah. Tidak ada yang bilang dilarang berenang di danau sejak aku di sini.” Tangis Shadow pecah dan tubuhnya bergetar.
Hugo tidak begitu saja mempercayai kata-kata Shadow. Tapi dia bisa lihat tubuh gadis pengasuh itu gemetar dan suhu memang akan semakin turun menjelang dini hari.
“Kau dihukum di kamarmu!” putus
Hugo.
“Bawa dia dan jaga kamarnya!” perintah Hugo pada para penjaga.
Shadow langsung ditarik paksa. Dia terhuyung mengikuti langkah cepat para penjaga rumah. Hugo melihat gadis itu hanya mengenakan pakaian santainya untuk berenang. Sedikit bagian atas hot pant itu tertarik ke pinggul dan menunjukkan kulitnya yang pucat di bawah sinar bulan. Lekuk tubuhnya terlihat jelas pada baju yang basah melekat.
Hugo memalingkan pandangannya dengan cepat. Mengawasi danau itu sejenak, mengharap apa yang ada di pikirannya terbukti. Jadi dia punya alasan kuat untuk menghukum Shadow. Kemudian dia
berbalik dan meminta seorang penjaga untuk berjaga di dek itu.
Di dalam kamar, Shadow merasa lega karena berhasil mengelabui Hugo. Dia kemudian pergi mandi dan tidur. Tak
ada yang bisa dilakukannya saat ini selain tidur nyenyak dan mengisi tenaga
untuk menghadapi Hugo besok pagi.
Shadow sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Tapi pintu kamarnya masih dikunci. Dia sudah berusaha meminta dispensasi dua kali, yang berakhir dengan suara bentakan penjaga.
“Apa Moreno sudah bangun? Sudah mandi? Sudah makan?” Hanya pertanyaan-pertanyaan itu saja yang hinggap di pikirannya. Dia mencemaskan putranya itu sekarang dan menyesak sudah bersikap ceroboh tadi malam.
Seorang penjaga masuk dengan membawakan sarapan dan minuman untuknya.
“Bagaimana dengan Tuan Muda? Saya belum menyiapkan sarapan untuknya,” kata Shadow.
Penjaga kamar itu tidak mengatakan apapun. Membuat Shadow sempat terpikir untuk memukulnya saja saking jengkel didiamkan sejak tadi. Pintu kamarnya kembali dikunci dari luar.
Meskipun matanya melihat ke piring, namun pikirannya justru mengembara. “Mungkinkah Frisia mendapat hukuman kurungan juga karena keributan jamuan makan waktu itu?” batinnya.
“Ayo fokus Shadow. Frisia tidak masuk dalam misimu!” katanya membuatkan tekad.
Sehari semalam Shadow dikurung. Makan malamnya sedang diantarkan penjaga. “Apa kau bisu? Semua pertanyaanku tidak kau jawab!” kesal Shadow sambil menarik kasar piring yang dibawa penjaga itu.
Penjaga itu berbalik pergi, sama sekali tak peduli, tak terpancing dengan ulah Shadow. Pintu kamar kembali dikunci dari luar.
“Kau memang bisu! Tuli!” seru Shadow kheki.
“Huaaaa! Apa salahku!” teriak Shadow keras. Kesunyian menelan teriakannya. Tak ada yang peduli padanya. Shadow meletakkan piring di meja. Matanya tergoda untuk keluar dari jendela dan mengintip Moreno dari jendela kamarnya. Dia sangat merindukan putranya.
Tangannya sudah memegang handel jendela kaca. Dipegangnya erat besi kecil itu sementara pikirannya menimbang baik-buruknya hal ini.
“Sabar Shadow, hati-hati jebakan Hugo. Dia sangat pintar dan sabar menunggu celah yang tak mungkin bisa dibantah lagi. Mungkin saja sekarang ada cctv dipasang tepat di atas bingkai jendela kamar!” kata hatinya.
Namun kerinduan pada Moreno begitu menyiksanya. Dia ingin mendengar suara anak itu. Dia ingin melihat senyum polosnya/ Dia ingin memeluknya, membawa kepala kecilnya ke dadanya. Tangannya terkulai dan jatuh di sisi tubuh. Shadow menangis tersedu-sedu hingga tubuhnya berguncang.
Malam berakhir tenang. Di sebelah kamarnya, Moreno berbaring di bawah selimut. Dia tak bisa tidur. Anak itu tak mengerti apa sebabnya. Tadi ayahnya sudah membacakan cerita hingga lelah, tapi Moreno tak juga terlelap.
Anak itu bisa mendengar teriakan Shadow dari kamar sebelah, lalu tangisannya. Tak disadari, air matanya ikut bergulir. Bocah kecil itu meringguk seperti bola dan menangis sedih di lantai, dekat dengan dinding kamar Shadow.
Hugo datang memeriksa tempat itu sebelum pagi. Dia terkejut melihat putranya tidur meringkuk di lantai batu yang sangat dingin. Perlahan diangkatnya tubuh kecil itu dan dibaringkan di tempat tidur. Tubuh Moreno sudah sedingin es. Bibirnya sedikit pucat. Pipinya terlihat bekas-bekas air mata.
Dengan hati terenyuh, Hugo naik ke tempat tidur dan memeluk putranya. Memberinya kehangatan untuk mengembalikan rona cerah di pipinya.
“Shadow … jangan pergi ….”
Suara lirih Moreno mengejutkan Hugo. Dia sangat jelas melihat bahwa Moreno menyukai Shadow menjadi pengasuhnya. Hanya saja, dia tak tahu kalau anaknya jadi sangat bergantung pada Shadow.
Pagi hari, Hugo yang kembali tertidur di kamar itu, baru terbangun. Hal pertama yang dilihatnya saat membuka mata adalah foto dirinya, Jean dan Moreno saat berusia sebulan. Hugo memejamkan mata dengan kuat, untuk mengusir bayangan Jean. Kemudian dia bangkit dan membangunkan Moreno.
“Ayah, bisakah aku menegok Shadow di kamarnya?” tanya Moreno.
“Dia sedang dihukum!” tolak Hugo.
“Dihukum karena berenang?” mata Moreno yang bening menyadarkan Hugo. Sebenarnya dia tak punya alasan kuat menghukum gadis itu.
Melihat Hugo tak menjawab, Moreno bertanya lagi. “Apakah aku akan dihukum juga kalau berenang di danau?” tanya anak itu dengan polosnya.
“Jangan pernah lakukan itu!” Larang Hugo cepat.
Moreno mengerjapkan matanya berulang kali, mencoba melembutkan hati ayahnya yang kaku. “Apa Shadow membuat ayah ingat pada ibu yang suka berenang di danau?”
Hugo terkejut dengan asumsi Moreno. Dia sendiri tidak memikirkan itu sebelumnya. Kemudian wajahnya berubah. Dia mendapatkan ide agar hubungannya dengan Moreno tidak terganggu dengan insident pengurungan Shadow.
“Seperti itulah!” jawab Hugo cepat. Mata Moreno membulat memenuhi kelopak mata. Hugo sampai gemas melihatnya.
“Kalau gitu, biar aku ke sana. Akan kubilang alasan dia dihukum,” bujuk Moreno dengan mata kembali mengerjap-ngerjap.
“Kau harus bisa membuatnya berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi!”
Moreno megangguk cepat. Wajahnya kembali cerah. Tapi Hugo ternyata belum selesai bicara. “Kalau dia tidak bisa berjanji, maka dia akan dikurung di sana selamanya!” tegas Hugo.
“Akan kubujuk,” kata anak kecil itu senang.
*****