VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 56. Membawa Moreno



Melihat Hugo tak lagi bergerak, Venus membenahi pakaiannya. Dihubunginya Chester dan mengatakan yang terjadi.


“Tunggu aku di sana!” kata Chester.


Seperti yang dijanjikan Chester sebelumnya bahwa dia akan siap siaga menunggu untuk menjemput Venus. Maka helikopternya dalam sekejap sudah berputar-putar di atas kediaman Hugo.


“Kau di mana?” tanya Chester.


Aku di kamar lantai tiga. Tapi aku harus mengambil Moreno lebih dulu di kamar lantai dua!” kata Venus.


Tak lama kemudian. “Kau bisa keluar dari kamar itu. Sudah tak ada penjaga di sana!” perintah Chester.


Shadow tak ingin tahu apa yang dilakukan Chester hingga tak ada penjaga di luar.  Dia segera mengambil belati yang tadi dipegang Hugo. Lalu keluar dari sana dan lari menuju lantai dua. Sepanjang perjalanannya, sepi, tanpa ada  penjaga seorang juga. Dia berlari ke kamar Moreno dan mengangkat anak itu dalam pelukannya.


“Shadow, kita mau ke mana?” tanya anak kecil itu dengan mata mengantuk.


“Liburan. Kau mau liburan denganku?” tanya Venus sambil terus berlari.


“Ayo cepat!” chester muncul di ujung tangga lantai tiga. Venus mengikutinya.


“Apa ayah tidak ikut?” tanya Moreno lagi. Kali ini dia sudah lebih sadar dan membuka mata.


“Tidak! Dia menyuruhku untuk membawamu bersamaku. Dia mau pergi jauh,” bujuk Venus.


“Baiklah.” Moreno memeluk leher Venus dan menyembunyikan kepalanya di atas pundak Venus.


“Hei, kau mau bawa dia ke mana?” Frisia yang masih dalam pengaruh alkohol, keluar kamar dan menemukan Venus yang sedang berlari.


“Pergi ke atas, biar aku yang mengurusnya!” perintah Chester. Venus mematuhi dan terus berlari menuju helikopter yang sedang menunggu dan berputar-putar di atas atap rumah Hugo.


Tak tahu apa yang dilakukan Chester, tapi dengan cepat dia menyusul ke atas. Dengan diikat tali, Venus dan Moreno ditarik naik ke atas helikopter. Chester mengikuti dengan menaiki tangga tali, setelahnya. Dan burung besi itu segera berlalu dari sana.


Moreno melihat keluar dan memperhatikan langit yang masih gelap dan pekat.


“Apa kau takut?” tanya Venus. Anak itu menggeleng. Namun, kedua lengannya memeluk erat tubuh ibunya.


“Jangan takut, mereka orang baik. Teman-teman kerjaku,” kata Venus, menyadari arah pandangan anak itu.


“Dan aku kakekmu!” kata Chester dengan senyum lebar.


Mata Moreno membulat. “Kakek?” tanyanya tak percaya.


“Dia sangat pintar. Kau harus menjelaskan lebih detail,” kata Venus lagi.


“Aku, ayah ibumu! Apa kau mau pergi ke tempat kakek dari ibumu?”  tanya Chester lagi.


“Tentu saja. Tapi kenapa dia tak pernah muncul selama ini?” tanya Moreno kritis.


“Itu karena ayah dan kakekmu terlalu kejam!” gerutu Chester dengan mulut mencebik.


“Bagaimana kalau kukatakan bahwa ibumu masih hidup?” tanya Chester lagi.


Moreno sudah duduk dengan sempurna sekarang. “Tak mungkin! Kata ayah, ibu tewas di laut saat liburan!”


“Dia terlalu banyak omong kosong! Meski dia bisa membohongi siapapun, tapi aku tak bisa dibohonginya!” Chester kembali mencibir kesal.


Anak itu memperhatikan Venus dengan mata bertanya. Kemudian dilihatnya Venus mengangguk. “Ibumu masih hidup, Sayang. Aku akan membawamu ke sana.” Dipeluknya anak itu penuh kasih, untuk menenteramkan hatinya yang gelisah.


Helikopter itu mendarat di markas tentara bayaran milik Chester. Venus menggendong Moreno dan mengikuti langkah Chester ke ruang istirahat pribadinya.


“Baiklah, mari kita tidur dulu dan melanjutkan perjalanan besok,” kata Venus. Moreno mengangguk. Anak itu tak mau melepaskan pelukannya sedikit pun dari Venus.


“Tak ada yang perlu kau  takutkan di sini. Mereka semua akan menjagamu tetap aman.” Tangan Venus mengusap-usap punggung Moreno agar dia merasa nyaman.


Entah berapa lama dia tertidur. Tapi kemudian terbangun. Moreno masih memeluknya. Tapi sudah tidur dengan nyenyak di sebelahnya. Saat Venus beranjak dari tempat tidur, Moreno menyadarinya.


“Venus ....”


“Aku mau ke kamar mandi. Apa kau mau ikut?” tanya gadis itu.


“Jangan lama!” pesan anak itu dengan mata mengantuk.


“Iya. Sebelum kau menyadarinya, aku sudah kembali.” Venus keluar dan menutup pintu lagi.


Dia memang pergi ke kamar mandi sekaligus mencari Chester. Ada informasi yang belum disampaikannya. Setelah dari kamar mandi, baru disadarinya pria itu tidur di sofa ruangan yang mungkin dipakai sebagai ruang serba guna. Venus belum pernah datang ke bagian bangun ini.


Melihat pria itu tidur, Venus membatalkan rencananya mengatakan rahasia Hugo. Dia berjalan lagi ke ruangannya.


“Apa kau ingin mengatakan sesuatu?” Suara Chester terdengar.


Langkah Venus terhenti. Dia berbalik dan melihat pria itu membuka mata tanpa merasa perlu bangkit dari posisinya. Yah ... tapi kukira Kau sedang tidur tadi,” jawab Venus.


Sekarang Chester duduk dan siap untuk mendengarkan informasi Venus. Ditunggunya hingga gadis itu duduk setelah menyeret sebuah kursi lain.


“Hugo bilang, ibunya ditahan Damon. Kekasih Frisia juga ditahan Damon. Mereka ada di penjara bawah tanah di bawah kediaman pria itu!” kata Venus.


“Aku tidak akan bertanya bagaimana kau mendapatkan informasi itu. Tapi, bukankah itu bukan urusan kita? Urusan kita adalah mengambil Moreno kembali agar dia tahu bahwa kau ... ibunya, masih hidup!”


“Kata Hugo, itu penting, agar aku bisa hidup tenang bersama putraku,” balas Venus.


“Jadi dia sudah tahu kalau kau Jean, ibunya Moreno?” Chester melihat Venus dengan mata melebar.


“Ya, dia katakan kalau dia menyesali tindakannya melemparku ke laut. Tapi dia harus melakukannya, agar nyawa ibunya selamat!”


“Astaga! Segitu gilakah Damon? Menantu dan cucunya sendiri dia jadikan tawanan!” geram Chester.


“Hugo memintaku mengurus Moreno, lalu dia menggorok lehernya sendiri!” Suara Venus tercekat.


Chester mengusap wajahnya dengan kedua tangan. “Sebentar lagi, apa yang terjadi di sana, akan segera diketahui. Bahkan meskipun dia menggorok lehernya sendiri, kau bisa jadi tersangka karena ada di sana sebelumnya. Maka kita harus bergerak cepat ke kediaman Damon, untuk membebaskan ibu Hugo dan kekasiih Frisia. Jadi gadis itu tak perlu lagi berada dalam ancaman!”


Venus mengangguk setuju. Dia sudah tak sabar untuk menghukum Damon. Chester melihat kilat kemarahan di mata putrinya.


“Kau tidak akan ikut serta dalam operasi ini. Tugasmu menjaga cucuku!” tegas Chester.


“Tapi, Ayah, aku memang menaruh dendam pada Damon von Amstel!” bantah Venus.


“Menjaga putramu jauh lebih penting! Jika terjadi sesuatu padamu, maka anak itu akan sebatang kara! Apa itu yang kau inginkan? Untuk apa membawanya jika dia harus kehilangan ayah dan ibunya di hari yang sama?” kata Chester mencoba memberi pengertian.


“Lalu bagaimana denganmu?” Venus menjadi cemas sekarang.


“Aku harus melindungi keluargaku. Cucuku harus hidup tenang dan baik. Aku akan mengorbankan apa saja untuknya. Seperti itulah seharusnya tindakan seorang kakek. Bukan malah mengancam dan menganggap keluarganya sebagai alat untuk mencapai kekuasaan yang semu!”


Wajah Chester sangat serius saat mengatakannya. Venus tahu. Itu artinya pria itu tak ingin dibantah.


“Baiklah,” ujarnya patuh.