VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 25. Baroness Frisia Holloway 2



 Jangan lupa dukungannya ya kak.


*****


Siang itu tak banyak yang dilakukan Venus selain mengamati kediaman Hugo dengan teropong. Dengan berpakaian sederhana, sore itu berjalan-jalan sebentar untuk mencari celah mendekati kediaman Hugo tanpa diketahui. Hingga malam tiba, tak banyak yang bisa dilakukannya. Pengawalan kediaman itu ternyata sangat ketat. Ada jarak lahan kosong sekeliling kediaman yang menyulitkan orang asing untuk menyelinap. Ada banyak cctv yang dipasang di seluruh pagar kediaman mengarah ke luar.


“Kenapa dia memasang pengaman seketat itu? Apakah ada yang mengancam nyawanya selain aku?” Venus membatin.


Pagi sekali, Venus kembali lari pagi menyusuri jalan desa. Lalu beristirahat di sebuah café kecil pinggir jalan. Duduk menikmati matahari hangat yang menguapkan embun yang basah. Venus menikmati lalu lalang warga setempat yang hendak melakukan berbagai keperluan mereka pagi itu. Beberapa toko mulai dibuka dan dibersihkan.


Sampai pandangannya tertuju pada seorang wanita yang berjalan santai diikuti beberapa pengawal pria dan wanita di belakangnya. Itu Baroness Frisia, istri Hugo. Venus yang tak menduga pertemuan ini, berpikir cepat, apa yang bisa dilakukannya sekarang. Dia harus menggunakan kesempatan ini untuk mendekati wanita itu.


“Ah, Baroness. Kita berjumpa lagi di sini.”


Venus berdiri sopan ke arah wanita cantik dan anggun yang seperti sedang berusaha mengingat siapa yang barusan menyapanya.


“Ah, ya. Aku memang bukan orang penting. Aku Shadow, Nona.” Venus menunduk hormat dan tidak mendesak. Namun, Frisia justru mengingatnya.


“Kau, gadis di pesta kemarin.” Frisia mendekat. “Sedang apa di sini?” tanyanya. Pandangan wanita itu jelas menyelidik dan bersikap waspada.


“Sedang menikmati udara yang sangat nyaman ini. Tak heran bukit Springhills sangat terkenal hingga ke distrik lain. Aku mengakui keistimewaan tempat ini.” Venus mengangkat jempol, memberi tanda istimewa.


Frisia menoleh ke beberapa pengawalnya. “Kita istirahat sebentar di sini,” katanya. Para pengawal itu patuh dan langsung mengamankan kafe kecil pinggir jalan itu. Frisia duduk di kursi lain yang ada di meja Venus. Tangannya memanggil pelayan. Venus ikut duduk.


“Ya, Nyonya.” Pelayan siap dengan kertas catatannya.


“Aku mau kopi dan roti foccasia,” pesan Frisia.


“Baik.” Pelayan kafe mencatat dan segera berlalu.


“Kau sedang liburan?” tanya Frisia.


“Tidak juga. Aku sedang mencari pengalaman hidup sambil mencari pekerjaan,” jawab Venus.


“Kau sedang tidak bekerja?” Frisia tidak mudah diyakinkan.


Venus menggeleng. “Aku sedang tak punya pekerjaan. Sebelumnya aku dipecat karena terlalu mencintai pekerjaanku. Berikutnya, aku sering tidak dianggap karena mungkin tidak cukup kompeten.” Venus meringis.


“Kau bisa kerja apa?” tanya Frisia.


“Hampir apa saja. Asal bukan mencuri, maka akan kukerjakan. Aku seorang pekerja keras!” Venus meyakinkan Frisia, dengan menunjukkan telapak tangannya yang kasar.


Gadis bangsawan itu terkejut setelah mengusap telapak tangan Venus yang kapalan dan kaku seperti tangan pria.


“Apa kau mungkin membutuhkan tukang kayu?” Venus menarik lengan baju kaosnya ke atas dan menunjukkan otot lengannya yang berisi.


Frisia tertawa dan menggeleng.


“Kenapa kau tertawa? Aku serius membutuhkan pekerjaan. Dalam seminggu ini, aku akan kelaparan kalau tidak punya pekerjaan baru. Kemarin aku ke pesta itu, agar bisa makan dengan kenyang!” Venus berkata serius.


Mata Frisia melebar tak percaya. “Aku bukan nyonya rumah yang buruk. Jadi tidak tahu apa yang dibutuhkan di kediaman itu.”


“Nyonya rumah? Jadi kau sudah menikah. Beruntung sekali,” puji Venus. “Aku mengerti bahwa dalam rumah tangga, kau tak bisa membuat keputusan sendiri.” Venus menghempas punggungnya ke sandaran kursi. Memperhatikan orang yang lalu-lalang. Wajahnya sedikit putus asa.


“Mengobrol? Aku mendapat upah hanya untuk mendengarkanmu mengobrol?” Venus terlihat tersinggung. Dia menekankan. “Kita bisa ngobrol di sini selama yang kau mau. Gratis!”


Melihat Venus membuang muka, Frisia mengerti. “Aku bukan mengasihanimu. Hanya saja, kukira pantas bagiku


untuk membayar waktumu menemaniku. Karena waktumu pasti sangat berharga dan mungkin bisa kau gunakan untuk mencari pekerjaan lain!”


“Yah, aku sedang mencari-cari kafe ataupun toko yang mungkin butuh pelayan cadangan.” Venus mengangguk.


“Habiskan sarapanmu. Lalu temani aku seharian ini setelah itu kau akan kubayar!” putus Frisia. “Bukankah sama saja dengan kerja di salah satu toko itu?”


Venus diam dan menimbang. “Kau bukan bermaksud menculikku, kan?” tanyanya serius.


Ledakan tawa Frisia menarik perhatian orang-orang yang mulai ramai. “Kau sangat lucu.” Wanita yang biasanya anggun itu, mendorong cangkir kopinya ke tengah meja dan berdiri.


“Ayo! Kau dapat pekerjaan hari ini!” senyumnya berusaha menahan tawa.  Venus ikut bangkit dan ingin membayar sarapannya. Tapi dicegah Frisia. Biar aku yang traktir!”


Keduanya berjalan berdampingan di trotoar. Para pengawal mengikuti dari belakang. Venus berusaha keras untuk bersikap santai dan menimpali pembicaraan Frisia. Padahal, hatinya sedang melonjak gembira, karena kemungkinan melihat Moreno jadi semakin besar.


Mereka masuk kediaman besar itu dengan lancar. Para pelayan yang melihat Frisia berjalan, semua menunduk. Kemudiam mengintip pada wanita asing yang dibawa masuk oleh nyonya rumah itu.


“Kediaman yang sangat bagus!” puji Venus sembari melihat sekeliling.


“Kau bisa duduk di sini sebentar. Aku akan berganti pakaian,” kata Frisia.


“Tentu.” Venus mengangguk.


Dia duduk dengan tenang, di ruang samping yang punya jendela kaca besar menghadap ke danau. Dulu ruangan itu hanya akan digunakan saat ada keluarga Von Amstel yang datang berkunjung. Mereka suka membuat barbekyu di teras samping itu. Mata Venus melihat sekeliling. Mencari-cari bayangan putranya. “Di mana kau, Nak?” batinnya.


Samar-samar telinganya mendengar suara anak kecil. Kaki Venus melangkah ke teras samping. Di pelataran bagian bawah, seorang anak kecil bermain dengan gembira bersama para pelayan. Tawa dan pekik kecilnya memenuhi hati Venus, membuatnya tersenyum tanpa disadari.


“Kau suka anak kecil?” suara Frisia memasuki kesadaran Venus. Dia berbalik.


“Tubuhmu sangat bagus. Tidak seperti sudah punya seorang putra. Apa rahasia perawatanmu?” Venus mengajukan pertanyaan untuk mengelakkan kecurigaan Frisia.


“Itu bukan putraku. Itu putra suamiku. Ibunya tewas saat mereka sedang berlibur di laut. Sangat tragis!”


Venus melihat ekspresi Frisia yang berbeda dengan kata-katanya. Wanita bangsawan itu sama sekali tidak terlihat prihatin ataupun ada jejak kesedihan di sana. “Anak yang malang,” timpal Venus. Pandangannya kembali diarahkan pada Moreno. “Apakah ibu barumu tidak memberimu kasih sayang, Nak?” rintihnya dalam hati.


“Mereka bukan baby sitter,” tunjuk Venus ke arah para pelayan yang menemani Moreno bermain. Beberapa pelayan datang dan pergi bergantian, karena para pelayan itu juga harus melakukan tugas utama mereka.


“Aku rasa bukan.” Frisia mengedikkan bahunya tak peduli.


“Kau tidak mencintainya?” bisik Venus dengan suara halus.


“Bukan salahnya. Jadi aku tidak perlu membencinya. Tapi jangan memintaku mencintainya juga. Aku sudah katakan itu pada ayahnya!” ujar Frisia.


“Dan suamimu, setuju?” Mata Venus makin melebar. Dia sungguh tak percaya dengan pernikahan yang dijalani wanita bangsawan di depannya ini. Kedudukannya sangat jelas lebih tinggi dari Venus saat menjadi istri Hugo. Mustahil mereka juga membuat pernikahan kontrak juga.


“Tentu saja dia harus setuju. Karena aku tidak mencintainya!” Balas Frisia dengan nada rendah.


*****