VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 11. Pulang



Jangan lupa dilike dulu yaa..


***


Kotak kayu itu bergeser sangat pelan, seiring kaki bawahannya menjinjit naik, memberi ruang untuk kotak itu menggantikan posisi kakinya.


“Apakah beratnya sama dengan berat kakiku?” tanya bawahannya.


“Tidak tahu,” jawab Falcon jujur. Dia memang tak sempat menimbang berat kotak kayu itu.


Bawahannya pucat. Jika terjadi kesalahan, maka mereka berdua bisa meledak bersama. “Sungguh mengharukan sekali,” batinnya.


“Tiga!” ujar Falcon.


Pria disampingnya dengan cepat menarik kakinya dan melompat ke samping. Falcon meletakkan kotak tepat di posisi kaki itu. Ranjau di bawah lantai tidak menunjukkan reaksi sama sekali.


“Cepat sekali kau lompat dan meninggalkanku. Sungguh tidak setia!” gerutu Falcon. Dia melangkah tenang keluar pintu dan menarik tangan Katerina.


“Kita harus pergi dari sini sekarang.” ajaknya. Gadis itu mengangguk patuh. Kemudia ikut berlari ke arah berlawanan dari tempat mereka datang.


“Kalian sudah di mana?” tanya Falcon pada Tim Backup,


“Kami di belakangmu!” sahut suara di radio.


Falcon menoleh ke belakang. Tim yang dicarinya sedang berlari menyusul anggota tim lain yang sudah pergi lebih awal saat Falcon memberi perintah.


Lima menit berlari, mereka bisa mendengar suara ledakan dari lokasi yang mereka tinggalkan. Lalu suara tembakan menyalak beberapa kali. Falcon dan timnya terus berlari. Titik penjemputan masih lumayan jauh. Mereka masih terlalu dekat dengan sarang ******* itu.


Sebelum tengah hari, titik penjemputan sudah kelihatan. “Kami sudah di sini. Di mana kalian?” Falcon memanggil lewat radionya.


“Lima menit lagi kami sampai, Bos!” sahut suara dari seberang.


“Dua menit!” perintah Falcon.


“Siap!”


“Cari tempat aman dan sembunyi. Perhatikan apakah mereka menyusul kita ke sini. Jemputan kita masih tiga menit lagi!” ujar Falcon.


“Siap!” anggota pasukannya menyebar di sekitar,  dan mengawasi arah mereka datang. Mengantisipasi siapapun yang mengejar sampai ke titik jemputan.


“Ada yang datang!” Shadow berbisik sambil menunjuk ke depannya.


“Helikopter kita sudah datang. Cepat ke sana!” perintah Falcon pada beberapa anggotanya, sambil menyerahkan tangan Katerina pada mereka.


“Bos?” tanya anggotanya heran, karena Falcon tidak ikut pergi dengan mereka.


“Aku ikut helikopter berikutnya! Shadow, kau pergi dengan mereka!” perintah Falcon.


“Apa? Aku---”


“Jangan pernah membantah perintah. Pergi!” pimpinan timnya menghardik marah.


“Baik!”


Shadow segera lari menyusul setengah pasukan yang sudah mendekati helikopter. “Tunggu, aku diperintahkan ikut!” ujarnya.


“Cepat!”


Seorang pria mengulurkan tangan agar Shadow menjangkaunya dan dia bisa menarik tubuh wanita muda itu naik seiring dengan mengudaranya helikopter.


“Mana jemputan yang satu lagi? Mereka dikejar musuh di belakang sana!” tanya salah seorang anggota pasukan pada pilot.


“itu mereka datang!” ujarnya menunjuk ke depan.


Sebuah helikopter lain melewati mereka dengan cepat, untuk menjemput sisa pasukan yang tertinggal.


“Apakah Falcon akan baik-baik saja?” tanya Shadow. Pandangannya terus mengarah ke temat yang mereka tinggalkan.


“Terjadi baku tembak!” seru anggota pasukan itu.


“Tidak! Tugas kita adalah membawa sandera kembali dengan selamat!” jawab seorang anggota pasukan itu dengan tegas. Mereka sangat patuh pada perintah Falcon dan tidak akan mempertanyakan kebijakan yang diambilnya.


“Aku hanya---”


“Sebagai prajurit, sebagai anggota tim. Jangan pernah mempertanyakan keputusan yang dibuat oleh atasan. Mereka sudah mempertimbangkan sebuah keputusan dengan matang, berdasarkan pengalaman yang teruji!”


Anggota pasukan lain menegaskan hal itu. Berharap Shadow mengerti hingga lain kali tidak lagi bertanya hal-hal yang mereka anggap tidak penting. Tidak perlu juga menunjukkan perasaan, seakan-akan anggota pasukan lain tidak punya rasa khawatir meninggalkan teman-temannya di belakang.


Sambil mengangguk, Shadow menimpali. “Aku mengerti.”


Lima belas menit kemudian, helikopter yang kedua menyusul terbang di belakang mereka. Wajah-wajah tegang pasukan itu terlihat cerah. Teman-teman mereka berhasil kembali.


“Bagaimana situasi kalian?” tanya salah seorang dengan radio.


“Aman!”


Senyuman kecut membayang di wajah semua pasukan di heli pertama. “Apa maksudnya itu?” tanya Shadow tak mengerti. Dia bisa melihat perubahan nyata keceriaan tadi berubah jadi sedikit asam. Entah apa yang terjadi.


“Kita lihat saja saat sampai.” Mata orang itu melihat helikopter kedua, terbang lebih cepat dan mendahului kendaraan mereka. Wajahnya berubah tegang.


“Apakah ada yang tertembak di sana?” tanya Shadow penasaran. “Bagaimana dengan Falcon?” berondongnya lagi.


“Oh Tuhan, Aku juga wanita, Shadow. Tapi kau terlalu cerewet!” kesal salah seorang anggota pasukan itu.


“Mereka anggota timku tadi!” Shadow ngotot. “Dan ada Falcon di sana. Tanpa dia, maka semua rencana balas dendamku, hancur berantakan sebelum dimulai!” Shadow tak mau kalah.


“Hei pilot, tak bisakah kau juga terbang lebih cepat, sebelum dua wanita cantik ini berkelahi di sini?” kata salah seorang sambil menggeleng lelah.


Kemudian dia beralih ke arah Katerina. “Kau jangan jadi gadis cerewet seperti mereka nanti. Sungguh mengerikan berada di antara keduanya!” kelakarnya.


“Diam!” bentak Shadow dan anggota pasukan wanita itu bersamaan.


“Oh, ya Tuhan … aku takut sekali.” Ujarnya sambil meletakkan dua tangan di dada. Dengan mimik sedemikian rupa, hingga membuat semua temannya tertawa.


 Ketegangan akhirnya mencair. “Maafkan aku,” lirih Shadow. Dia akhirnya mengerti bagaimana semua anggota pasukan itu kompak. Tak mungkin mereka tidak mengkhawatirkan temannya.


Dua jam berikutnya, mereka mendarat. Tapi bukan di tempat mereka berangkat. Di sana ada Falcon yang menunggu sambil mengurus segala sesuatunya dengan telepon. Dia terlihat sangat sibuk membuat beberapa panggilan. Anggota pasukannya bergabung dengan beberapa anggota yang masih menunggu.


“Di mana Pimpinan Tim kita?” tanya Angel pada nggota pasukan Back up yang ada.


“Mengantarkan Lyon ke rumah sakit. Dia tertembak di pinggang,” jawabnya ringkas dan jelas.


“Dia pria yang membantuku saat terjepit,” kata Shadow.


Dia ingat bagaimana Lyon menembak dan dengan cepat menjatuhkan orang-orang yang datang menyerbu ke arah mereka, saat Shadow kewalahan. Tapi, agar tidak disebut sebagai cerewet lagi, Shadow tidak banyak bicara. Meskipun banyak pertanyaan di kepalanya, termasuk kenapa mereka turun di bandara kecil dan masih tetap di sana.


“Aku harus belajar sabar dan menunggu penjelasan saja,” batinnya.


Berikutnya, sebuah pesawat kecil mendarat tak jauh dari tempat mereka menunggu. Falcon datang mendekat. “Kalian kembali lebih dulu."


“Kau, serahkan Katerina pada neneknya,” pesan Falcon pada pimpinan tim Back up.


“Bagaimana denganmu?” tanya Shadow.


“Aku harus ke rumah sakit,” jawab Falcon.


“Lalu aku harus ke mana kalau kau tidak kembali?” tanya Shadow.


“Ada yang akan menjemputmu pulang dan tunggu aku di sana!” katanya.


Shadow mengangguk. "Baik. Sampaikan salamku pada Lyon. Katakan bahwa dia harus segera sembuh. Aku belum membalas budinya menyelamatkanku tadi!” ujar Shadow.


Falcon mengerti. “Akan kusampaikan!” Lalu dia pergi.


Anggota pasukan itu masuk pesawat dengan tertib dan terbang kembali ke basecamp.


******