
Venus berbincang sebentar dengan Sandrina sebelum wanita itu juga pulang dengan suaminya. Satu per satu keluarga Von Amstel pulang. Akan tetapi, Venus tetap menunggu Lennox di sana. Dia menolak setiap tawaran kerabat Lennox yang bersedia mengantarnya pulang.
“Kau di mana?” Chester menelepon karena Venus tak kunjung kembali.
“Aku menunggu Lennox. Dia dipanggil kakeknya tapi belum keluar juga hingga sekarang,” jelas Venus.
“Aku akan menjemputmu!” kata Chester tegas.
“Tidak perlu, aku baik-baik saja di sini,” tolak Venus halus.
“Tidak, Venus. Damon itu sedang menantangku! Kau tunggu di sana. Aku akan menjemputmu segera. Tak akan kubiarkan putriku dipermainkan olehnya. Dia kira siapa dirinya!” kata Chester geram.
“Tidak perlu, ayah,” kata Venus sekali lagi.
“Kalau kau bertekuk lutut seperti itu, maka kau hanya akan berakhir seperti Frisia Holloway! Dan aku bukan pria yang bisa dia gertak. Damon harus tahu itu!”
Chester langsung memutuskan panggilan telepon. Venus hanya bisa diam menunggu. Sebagai pribadi, dia tak ingin terlalu menonjol. Tapi yang dikatakan Chester juga ada benarnya. Sekarang Venus adalah putri Chester. Jika dia diperlakukan tidak hormat, maka itu sama saja dengan menghina Chester.
Dalam lima belas menit, sebuah helikopter tentara yang berisi beberapa orang prajurit, mendarat di helipad kediaman Damon. Awalnya mereka ditolak mendarat dan disuruh kembali terbang. Tapi Chester mengatakan sedang menjemput putrinya Venus.
Penjaga kediaman itu menelepon Damon, mengatakan bahwa Chester dan beberapa tentaranya, datang untuk menjemput Venus.
Di dalam ruangannya, Damon tak menyangka jika Chester datang ke kediamannya membawa beberapa orang tentara.
“Apa kau menyuruhnya menunggu?” tanya Damon pada Lennox yang sedang mendapatkan hukuman, karena membawa gadis seperti Venus.
“Aku yang mengajaknya. Tentu saja dia tak akan meninggalkanku begitu saja,” kata Lennox dengan suara lemah. Dia harus menjalami hukuman cambuk karena Damon tak menyukai Venus.
“Ijinkan dia menjemput putrinya!” kata Damon pada penjaga keamanan.
Chester masuk ke dalam kediaman, diantar oleh salah seorang penjaga. Dilihatnya Venus sedang duduk di ruang tamu besar yang kosong. Hanya ada seorang pelayan menunggu di kejauhan.
“Venus! Mari kita pulang,” ajak Chester.
“Tapi Lennox belum kembali.” Venus mulai khawatir.
“Itu bukan urusan kita. Itu urusan keluarga Von Amstel yang tak bisa kita campuri,” kata Chester.
“Aku cemas jika dia mati hanya karena membawaku ke sini. Bukankah aku harus bertanggung jawab?” bantah Venus lagi.
“Bahkan meskipun seperti itu, Lennox pasti tak mau kalau kau melihat dia dalam keadaan terlemahnya,” kata Chester lembut. Dia sangat mengerti perasaan lelaki yang ingin terlihat kuat di depan wanita yang disukainya.
“Tapi---“
“Percayalah padaku, dia akan lebih tenang jika kau sudah pulang ke rumah di jam seperti ini. Seperti itulah cinta seorang pria.” Chester membimbing Venus untuk berjalan keluar bersamanya.
Dari layar cctv, Damon bisa melihat helikopter besar itu langsung pergi setelah Venus dan Chester naik. “Si jenderal tua .... Kau mau tunjukkan bahwa kau hebat hah!” Wajah Damon sangat masam.
Bagi Damon, tak terlalu sulit menjadikan seseorang bangsawan atau kalangan atas sebagai sekutu. Bahkan penguasa kota itu takluk di bawah ancaman Damon. Tapi Chester, bukanlah orang yang bisa diperlakukannya seperti itu. Jenderal itu telah mengetahui terlalu banyak trik kotor sepanjang karirnya. Maka langkah Damon akan selalu bisa diantisipasi atau bahkan seperti tadi.
Adalah mustahil Chester akan menggunakan helikopter tentara hanya sekedar untuk menjemput putrinya. Chester pasti punya tujuan lain dengan membawa para prajuritnya. Dan Damon tahu artinya!
Dan bersekutu dengan Chester tidak melulu buruk. Jika mereka bersekutu karena pernikahan alami tanpa campur tangannya, maka kedudukan keluarga Von Amstel juga akan semakin disegani dan ditakuti.
Baru sekarang dia mempertimbangkan siapa calon istri Lennox. Sebelumnya, Damon sama sekali tak peduli. “Apa kau sedang berusaha menarik perhatianku, Lennox?” batinnya.
***
Di dalam helikopter, teman-teman Shadow menyambutnya gembira. “Hei, kenapa kau tak pernah ikut misi lagi?” tanya salah seorang.
“Aku sedang dalam misi pribadi!” kata Venus dengan senyum misterius.
“Ahh ... aku ingat misi pribadimu itu.” Seorang pria tertawa tergelak. Venus hanya mengangguk dan melebarkan senyumnya.
Helikopter itu terbang ke markas tentara bayaran Chester. Mereka mendarat di sana. Begitu turun, seorang pria memberikan masing-masing mereka satu tas ransel besar. Lalu semuanya mengikuti langkah Chester ke dermaga.
“Kita mau ke mana?” tanya Venus bingung.
“Latihan di pulau. Bulan depan akan ada tes kemahiran. Dan kita butuh itu untuk menaikkan level skill.” Salah satu tentara menjawab.
“Agar Falcon mau memberi bayaran lebih tinggi lagi,” bisik yang lain diikuti tawa kecil.
“Kirim pesan pada Lenox, kalau kau ada tugas dan terpaksa meninggalkannya,” saran Chester, sebelum mereka menaiki spead boat.
Venus melakukannya dengan patuh. Kemudian bergabung dengan anggota tim yang lain. Dia menggertakkan gigi kesal menghadapi perubahan rencana yang dibuat Chester. Chester duduk di sebelahnya.
“Jangan kesal. Kau sepertinya harus diingatkan lagi pada tempat itu, agar tidak bersikap lemah. Aku sudah membiarkanmu membuang-buang waktu saat di kediaman Hugo. Sekarang kulihat kau kembali lemah dan mengikuti permainan Damon. Nanti kau baru sadar, sudah separah apa kelemahanmu, saat Lennox menyakitimu seperti Hugo menyakitimu, hanya demi mematuhi kakek mereka!” kata Chester tajam.
“Bukankah kita sudah sepakat dengan Lennox bahwa aku akan dikenalkan dulu pada kakeknya? Dan aku hanya mengikuti rencana itu saja.” Venus membela diri.
“Ketika kau menunggunya, artinya kau menunjukkan kelemahanmu. Sedangkan sudah kukatakan dengan jelas pada Lennox, aku mau putriku dihormati!” tegas Chester.
“Satu hal lagi, Venus,” Chester menjeda kalimatnya yang penuh penekanan itu.
“Jika Damon sudah tidak menyukaimu, maka angkahmu tidak bisa lagi halus. Kau harus melakukan langkah tegas. Singkirkan Hugo. Maka jalan Lennox akan lebih mudah. Dan kau juga bisa merebut Moreno tanpa repot harus pura-pura menyukai pria itu.” Penjelasan Chester sangat gamblang. Venus tak mungkin tak paham. Jadi dia tak membantah lagi.
Dalam satu jam, speed boat itu mendarat di pulau yang sangat dikenal Venus. Dia sedikit kesulitan mendarat dan berjalan di pulau yang memang tidak memiliki jalan aspal.
“Kegiatan dimulai besok pagi. Jadi, beristirahatlah!” kata Chester. Pria itu lalu pergi.
“Kau harus mengganti gaunmu, Shadow!” Seorang wanita menyapanya. Keduanya saling menyatukan tinju dan tersenyum lebar. Shadow berjalan mengikutinya ke tenda para wanita. Tangannya menjinjing sepatu high heels agar bisa lebih mudah berjalan.
Ternyata ada banyak tenda yang sudah terpasang di sana. Seperti ada seratusan orang yang mengikuti pelatihan lanjutan di pulau itu.
“Apa spesialisasimu?” tanya temannya.
“Aku tidak tahu. Aku belum lama bergabung, kan!” kata Venus mengingatkan.
“Kau harus latih salah satu skill. Misal menembak, bermain pisau, mengatasi ranjau, bom dan sebagainya. Itu akan berguna saat kita turun ke lapangan,” jelas temannya.
Sambil mengganti pakaian dengan yang ada dalam ransel, Venus memikirkan skill apa yang berguna dalam misi pribadinya. Dia masih belum cukup mahir menyelinap saat di tempat Hugo. Apakah ada spesialisasi menyelinap?
Malam itu para anggota pasukan tentara bayaran itu tidur dengan tenang. Pulau itu benar-benar sunyi.