VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 18. Gadis Misterius



Selamat Idul Fitri buat semua yang merayakannya. Mohon maaf lahir dan batin ya. Tolong dimaafin author yang up masih suka-suka. Jangan lupa di like, komen, vote, rate, difavoritin dan kasih gift untuk menyemangati author ya. Terima kasih.


*****


 “Aku akan membalasmu!” ancam Elliot sambil melirik Venus yang duduk santai di kursinya.


“Kuperingatkan kau! Putriku adalah batasan terakhir kesabaranku padamu!” Chester berkata dingin.


Elliot menggeram, karena begitu kesal tidak menemukan alasan untuk melampiaskan kebenciannya pada Chester saat itu. Dia berlalu setelah membanting sebuah kursi kayu hingga hancur. Seorang pelayan yang semula mengejar untuk minta ganti rugi, akhirnya mundur teratur saat mengetahui siapa yang membuat ulah siang itu.


“Laporkan saja pada kepala keluarga Morgan, bersama bukti cctv!” Menejer mengambil jalan tengah ketimbang melawan pria yang emosional itu.


“Anda tidak apa-apa?” tanya menejer pada Chester.


“Kupikir kami sudah selesai,” ujar Chester. Diletakkannya beberapa lembar uang sebagai pembayar makan siang mereka, kemudian berlalu dari sana.


Suhu belum turun di sore hari, di awal musim panas. Venus melanjutkan rencananya hari itu dengan berenang sepanjang sore. Seorang pelayan bolak-balik melayani dengan mengambilkan minuman dingin dan buah segar. Lalu kepala pelayan datang dan menghampirinya yang sedang berenang melintasi kolam. Saat Venus berhenti di pinggir kolam, pelayan memanggil.


“Nona, Anda sudah terlalu lama bermain air. Nanti sakit.”


Kata-kata penuh perhatian yang sebenarnya adalah perintah dari Chester agar dia berhenti berenang sore itu. Venus keluar dari air. Nancy dengan cepat menutupkan handuk besar ke tubuhnya. Venus duduk di kursi kayu, di bawah payung taman.


“Oke. Aku sudah berhenti,” jawabnya.


Kepala pelayan mengangguk dan pergi. Dia puas setelah pesan Tuannya dipatuhi Venus.


Beberapa hari berikutnya, benar-benar terasa panas, hingga kolam renang menjadi tempat bermain Venus sejak siang hingga sore menjelang.


“Petang nanti kita pergi ke pesta ulang tahun Nyonya Baker. Jadi bersiaplah.”


“Hah … hari yang sangat panas. Bolehkah jika aku tidak menggunakan pakaian resmi? Itu tidak akan nyaman,” sahut Venus malas.


“Pakailah yang membuatmu nyaman.” Chester mengangguk. Venus bangkit dari kursi kayu dan ikut masuk rumah.


***


“Selamat datang, Tuan Moriarty, Nona,” sapa pelayan di depan pintu. Dia langsung membawa Chester dan Venus masuk dan menemui tuan rumah.


“Ah, Tuan Moriarty, akhirnya kita bertemu lagi setelah sekian tahun.” Tuan Adam Baker berdiri menyambut Chester. Venus bisa lihat bahwa itu bukanlah keramahan yang dibuat-buat. Sepertinya, Chester dan pria itu memang punya hubungan yang baik, sebelumnya.


“Selamat malam, Tuan Baker,” sapa Venus sopan.


“Ah … aku yakin dia adalah putrimu yang jadi pembicaraan orang sekota belakangan ini. Tak mengherankan. Dia memang sangat cantik!” puji Adam Baker.


Venus hanya tersenyum tipis. “Terimakasih.”


“Di mana Nyonya Baker? Biarkan aku menyapanya dulu, sebelum kita berbincang mengingat masa lalu.” Chester mencari-cari.


“Kau benar. Ayo, ikuti aku ke ruangan dalam. Mungkin dia sedang duduk di teras belakang bersama para keponakannya. Hari yang terlalu panas, membuat orang tak terlalu senang duduk di dalam.”


Adam Baker membawa Chester melewati ruang tengah, untuk kemudian melintasi sisi gedung menuju ke belakang kediaman. Angin yang sejuk segera menyambut mereka. Taman indah yang ditutupi rumput hijau, menyejukkan pandangan di udara yang panas.


“Taman yang sangat indah,” puji Venus begitu saja.


“Hahaha … terima kasih, Dear. Tapi sebenarnya istriku sedikit iri, karena Chester memiliki tukang kebun yang terbaik di kota ini. Lain kali kau harus mengundang aku dan Claudia ke sana. Aku yakin dia akan terpana dan meminta aneka macam bunga lagi, untuk mengisi tamannya.” Adam Baker tertawa riang.


“Aku kira apa yang bisa membuatmu tertawa begitu senang. Ternyata kehadiran Tuan Moriarty.”


“Bagaimana kabarmu, Nyonya?” sapa Chester. Punggung tangan wanita itu diciumnya dengan sopan.


“Aku sangat baik dan sehat seperti yang kau lihat. Meskipun kukira kau sedikit tidak peduli pada kami akhir-akhir ini.” Wanita itu sedikit cemberut untuk menegaskan perkataannya.


“Ah … maafkan kecerobohanku. Tak ada alasan yang bisa dikatakan karena sudah membuatmu kecewa.” Chester menundukkan kepala sebagai permintaan maaf yang tulus.


“Aku akan memaafkanmu, kalau Kau mau memperkenalkan wanita cantik ini,” balas Nyonya Baker sambil tersenyum ke arah Venus.


“Ini putriku, Venus.” Chester menoleh pada Venus, “Venus, nyonya cantik ini adalah Claudia Baker.” Chester memperkenalkan mereka.


“Ternyata ini dia gadis yang menjadi buah bibir seisi kota.” Senyum Nyonya Baker makin lebar melihat kesopanan Venus yang sedikit menunduk kepadanya.


“Senang bertemu dengan Anda, Nyonya. Ini hadiah ulang tahun yang tak seberapa. Semoga Anda menyukainya,” ujar Venus.


“Seketika aku merasa seperti wanita bangsawan, melihat sopan santunmu. Chester, kau sangat beruntung memiliki putri sepertinya!”


“Sayang, jangan berdiri terus. Lihatlah mereka juga sudah tak sabar untuk berkenalan dengan Venus.” Tuan Adam memotong pembicaraan istrinya.


“Ah, maafkan wanita tua ini. Ayo, silakan berkenalan dan duduklah.” Nyonya Baker segera memanggil pelayan untuk mengantarkan minuman dingin bagi Chester dan Venus.


Sekarang Venus berbincang dengan tiga orang keponakannya Pria dan wanita. Mereka adalah remaja tanggung yang baru berusia belasan tahun. Indah dengan segala kepolosannya. Seperti bunga di taman. Tak lama, seorang pria muda muncul. Wajahnya terlihat mirip dengan Nyonya Baker. Dan karena garis kecantikan wanita itu menurun pada putranya, maka itu keberuntungan baginya, menjadi pria yang sangat tampan. Menurut Venus, pria muda ini bahkan lebih tampan dari Hugo von Amstel.


Chester menyentuh tangan Venus dan berkata, “ Ini putra kedua Tuan Baker, Jason Baker.”


Venus mengangguk sopan. Pria itu mendekat dan mengambil tangan Venus lalu mencium punggung tangannya. “Apa kabar Nona Moriarty?” sapanya sopan. Pria yang sangat tenang, hingga Venus tak mampu menilai reaksinya saat mereka pertama bertemu.


“Pria yang misterius.” Itulah kesimpulan yang disimpan Venus dalam otaknya, mengenai si tampan, Jason Baker.


Mereka berbincang santai hingga satu keluarga lain tiba. Mereka adalah Tuan dan Nyonya Baldwin. Teman dekat keluarga Baker. Setelah itu mereka menikmati acara makan malam yang sangat menyenangkan di teras.


Ternyata acara makan malam itu adalah khusus untuk mendekatkan kembali para teman lama. Karena akhirnya Venus tahu bahwa ketiga pria itu adalah para mantan tentara. Meski tidak berasal dari kesatuan yang sama, namun latar belakang itu cukup mampu mempertahankan persahabatan merek di masa pensiun.


Setelah para pria pindah duduk untuk menikmati wine, maka Nyonya Baker mengajak Nyonya Baldwin berbincang di gazebo dekat kolam renang. Tinggallah para anak muda berbincang dan tertawa. Venus hanya tersenyum mendengar lelucon yang dilontarkan para keponakan Tuan Baker.


“Aku belum pernah mendengar tentangmu sebelumnya.” Jason Baker memulai pembicaraan dengan Venus.


“Yah … aku tak terlalu senang keluar. Dan sedikit sibuk dengan urusanku sendiri,” jawab Venus.


“Oh, apakah kau bekerja?”


Venus menoleh padanya. Dia bisa melihat bahwa pria itu sangat ingin tahu tentang dirinya. Tapi pengendalian emosinya amat sangat baik, hingga tak ada yang bisa melihat apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Venus membuang pandang ke kolam renang tak jauh dari sana.


“Kau tidak masuk dalam kriteriaku, Jason.”


Pria itu sedikit terkejut sebentar. Namun lagi-lagi berhasil mengendalikan emosinya, hingga wajah cueknya yang tampak di luar. Senyum tipis menghiasi wajah Jason.


“Sebaiknya kau katakan pada orang tuamu, siapa yang telah mencuri hatimu itu. Seorang pria harus berjuang untuk mewujudkan cintanya!”


Kali ini, kata-kata Venus berhasil menghancurkan pertahanan Jason. Wajahnya yang biasa dingin, kaku dan serius itu terperangah. Matanya membelalak tak percaya. Hanya saja, sudah tak ada kesempatan baginya membalas kata-kata Venus, karena wanita muda itu sudah berjalan-jalan di taman, menikmati angin malam yang sejuk.


“Gadis yang sangat misterius!” batin Jason.


*****