VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 15. Strategi Kalangan Atas



Venus tertegun mendengarnya. Jadi Hugo memang benar membantu panti ini. Syukurlah. Pengorbanannya tidak sia-sia.


“Apakah setelah itu dia tidak membantu lagi?” tanya Venus sambil pura-pura memperhatikan foto-foto yang dipajang di seluruh dinding. Foto para orang terkenal yang pernah menyumbang ke panti.


“Dia masih membantu setiap bulan.” Nyonya Mildred memperhatikan wanita muda di depannya yang sedang mengamati foto satu demi satu.


“Apa kau ingin difoto juga?” tawarnya.


“Oh, tidak perlu. Lagi pula, itu bukan sumbanganku,” tolak Venus.


“Siapa namamu Nona? Seandainya Jean masih hidup, kurasa dia sebaya denganmu. Gadis yang baik, namun usianya tidak cukup panjang untuk berbahagia bersama suaminya,” ujar Nyonya Mildred sedih.


“Aku Venus. Venus Moriarty.” Venus mengulurkan tangan. Tampaknya dia siap untuk pergi. Nyonya Mildred menyambutnya hangat.


“Apa Anda akan segera pergi, Nona?” Si kecil Jhonny menghadangnya di ruangan besar tempat mereka biasa berkumpul. Wajahnya terlihat sedih. Venus terhenti, lalu jongkok.


“Apakah aku boleh membawanya berkeliling kota, Nyonya? Nanti aku akan mengantarnya kembali. Anda bisa mencariku di kediaman Moriarty, jika hingga sore aku tidak mengembalikannya ke sini.


Nyonya Mildred tampak kesulitan. Jadi Venus melakukan panggilan video dengan Chester. “Ayah, aku sudah menyampaikan pesanmu pada nyonya panti ini,” lapornya begitu panggilan mereka tersambung. Wajah Nyonya Mildred masuk dalam video itu.


“Terima kasih sumbangannya, Tuan Moriarty,” timpal Nyonya Mildred.


“Oh, ya, tidak masalah. Semoga itu cukup membantu operasional Anda.”


“Sangat membantu,” angguk Nyonya Mildred.


“Ah, aku sedang ada pertemuan, jadi maaf tidak bisa berlama-lama.” Chester menunjukkan beberapa orang di dalam ruangan.


“Baiklah.” Nyonya Mildred tidak ingin mengganggu.


“Ayah, aku ingin membawa Jhonny kecil berjalan-jalan di kota, bolehkah?” tanya Venus.


“Siapa itu Jhonny kecil?” tanya Chester heran.


“Ini Jhonny kecil.” Venus berjongkok agar wajah Jhonny bisa masuk dalam video.


“Itu ayahku,” kata Venus pada Jhonny.


“Halo Tuan.” Jhonny melambaikan tangannya.


“Apakah kau mau menarik perhatian putri kecilku?” canda Chester. Tapi Jhonny jelas tidak mengerti candaan seperti itu.


“Dia masih kecil, ayah,” protes Venus.


“Oh, baiklah. Asalkan Nyonya Panti tidak keberatan, maka kau bisa bermain sebentar. Pukul lima sudah harus kembali,” pesan Chester.


“Baik. Terima kasih.” Panggilan itu langsung diputuskan Venus.


“Sekarang aku harus minta ijin Anda, Nyonya.” Venus menunggu. Jhonny juga menunggu penuh harap.


“Bukan aku tidak mempercayaimu. Tapi aku takut dia akan merepotkan. Bagaimana kalau salah seornag kakaknya ikut menemani?” tawar Nyonya Mildred.


“Begitu juga bagus. Ayo Jhonny. Mari cari siapa yang bisa ikut jalan-jalan ke kota,” ajak Venus penuh semangat.


Seorang remaja lelaki masuk sambil menuntun sepeda yang dulu biasa dipakai Jean untuk pergi kerja. Venus tersenyum. Tak heran mereka menemukannya. Dia diculik persis di seberang bangunan, malam itu.


“Apakah dia anak panti juga?” tanya Venus.


“Ya. Dia Bob.” Nyonya Mildred paham maksud Venus. Remaja itu dipanggilnya.


“Bob, bisakah kau menemani Jhonny berjalan-jalan dengan Nona Venus?” tanyanya.


Bob memperhatikan Venus dan Jhonny yang tangannya tak mau lepas dari Venus. Dia sangat mengerti kalau adik kecilnya sedang tak ingin lepas dari Nona muda yang datang ke panti.


“Tentu saja. Apakah kita akan main-main ke taman? Bukankah itu sangat menyenangkan?” Bob mengulurkan tangan pada Jhonny.


“Horreee ….” Dia sudah menarik tangan Bob untuk berlari ke taman.


“Mari naik mobil saja. Taman terdekat dari sini, lumayan jauh, bukan? Bob terlihat lelah. Jadi biarkan dia istirahat sebentar,” kata Venus.


Jhonny semakin gembira. Dia sudah berdiri dekat mobil mewah Venus sambil menarik tangan Bob.


“Saya pergi dulu, Nyonya,” pamit Venus.


“Ya.” Nyonya Mildred mengangguk.


“Bersenang-senanglah!” teriaknya pada Jhonny dan Bob.


Hingga sore, mereka bertiga bermain di taman. Menemani Jhonny bermain seluncuran atau memanjat dan bergelantungan. Saat kembali, anak itu tertidur kelelahan. Dia sudah kekenyangan dengan aneka jajanan di taman. Venus mengantar mereka kembali dengan seabrek mainan yang mereka beli.


“Terima kasih, Bob.” Venus menyelipkan selembar uang ke dalam tangan anak remaja itu. “Belilah sepatu baru,” bisiknya.


“Terima kasih, Nona.” Bob menggendong Jhonny yang tidur lelap dan jalan ke panti. Tas mainan tergantung di pundaknya. Nyonya Mildred menunggu di pintu. Membalas lambaian tangan Venus.


“Kita pulang!” perintah Venus pada sopir. Matanya berkaca-kaca sepanjang jalan pulang.


Sopir hanya memperhatikan nona mudanya yang kini diam seribu bahasa. Sangat berbeda dengan ketika dua anak panti itu ada di mobil. Sangat ramai dan ceria.


***


“Kau kembali tepat waktu,” sambut Chester.


“Apakah aku membuatmu menunggu?” Venus menghempaskan diri di sofa. Chester sedang sibuk dengan entah apa yang ada di tangannya.


“Kita ada undangan makan malam. Pergi bersiaplah. Satu jam lagi kita berangkat!” katanya.


“Apakah itu penting?” Venus sedang malas pergi ke manapun malam itu.


“Jika kau ingin mendekati Hugo, maka kau harus mulai masuk dalam pergaulan kelas atas. Istrinya yang sekarang adalah putri penguasa kota. Mereka biasa berpesta. Kau mungkin bisa punya peluang untuk mendekatinya,” jelas Chester.


“Kau benar.” Venus langsung berdiri dan berjalan ke kamarnya. Dia harus memanfaatkan peluang yang dibuat Chester.


Satu jam kemudian, mereka sudah dalam perjalanan ke tempat acara makan malam. “Yang kita datang ini adalah kediaman Tuan Stephen Lawrence. Istrinya bernama Mathilda. Mereka bukan keluarga bangsawan. Tapi kekayaan mereka sudah dibangun sejak dari kakeknya. Jadi, mereka sudah sangat terpandang sejak lama.”


Venus mengangguk, Dia berusaha mengingat informasi dasar yang diberikan Chester. Selebihnya, nanti dia harus mencari tahu sendiri siapa-siapa saja tamu undangan yang ikut dalam acara itu.


“Selamat datang, Tuan Moriarty,” apa pelayan kediaman itu hormat.


“Ini putriku, Venus.” Chester memperkenalkan Venus agar pelayan itu mencatat dalam bukunya. Langkah awal Venus untuk dikenal kalangan atas, telah dimulai.


“Selamat datang, Nona Moriarty,” sapa pelayan itu hormat.


Seorang pelayan lain mengantar mereka masuk ke dalam rumah. Ternyata di dalam sudah berkumpul beberapa orang. Mereka berbincang santai di ruang tamu. Seorang gadis memainkan piano dengan sangat mahir, menimbulkan decak kagum dari para wanita yang hadir.


“Ah, Tuan Moriarty yang sangat sibuk akhirnya bersedia datang,” sambut seorang pria gendut dan kepala nyaris botak. Matanya dengan cepat, menangkap sosok indah yang sejak masuk masih menggantungkan tangan di lengan Chester.


“Apakah kau sekarang sudah berubah pikiran?” tanyanya penuh selidik.


“Ini putriku, Venus.” Chester memperkenalkan Venus pada orang-orang di ruangan.


“Putrimu sangat cantik. Itukah sebabnya kau selalu menyembunyikannya?” Orang yang kepalanya nyaris botak itu langsung mengomentari.


“Dia Tuan Handerson. Berhati-hatilah padanya. Jangan percaya rayuannya,” kata Chester memperkenalkan pria itu. Venus tersenyum, sementara seisi ruangan tertawa terbahak-bahak.


Tuan Handerson cemberut. “Kau sangat kejam, Chester!”


*****