VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 10. Membebaskan Sandera



Falcon berdiri di tempatnya dengan tenang. Mengamati dengan lebih teliti lagi area lantai sekitar gadis sandera yang terikat di kursi.


“Mereka berniat membunuh siapa saja yang mencoba menyelamatkan gadis itu. Termasuk sandera itu sendiri,” kata bawahan Falcon.


Falcon tak menjawab. Dia sibuk dengan peralatan teknis yang disodorkan oleh bawahannya. Alat itu untuk mendeteksi letak ranjau beradarkan getaran magnet peralatan tersebut.


“Dasar bodoh!” desis Falcon. Di sebelah, anak buahnya ikut tersenyum melihat posisi ranjau yang persis berada lurus sejalur dari depan pintu hingga ke tempat sandera.


“Kau! Pergilah selamatkan dia lebih dulu!” perintah Falcon. Anak buahnya menatapnya sejenak. Lalu dengan cepat mengangguk. Dia tahu bahwa Falcon punya rencana sendiri.


Pria itu masuk lewat pinggir pintu dan berjalan lebih ke pinggir. Dia berhasil mendekati gadis itu. Tapi kemudian kepalanya menjadi miring.


“Gadis ini diikat dengan bom!” tunjuknya ke bagian punggung sandera.


“Apa kau bisa mengatasinya?” tanya Falcon tenang.


“Biar kulihat lebih dulu.” Pria itu menggunakan kata mata yang tersangkut di dada dengan tali rantai. Itu juga peralatan khusus yang dimiliki tim penjinak ranjau dan bom. Berfungsi untuk melihat bagian dalam yang tertutup. Apakah ada jebakan lain saat membuka penutup kabel.


“Aku bisa mengatasinya!” katanya yakin.


“Lakukan!” perintah Falcon.


“Siap!”


Pria itu mengeluarkan peralatan khususnya dan mulai membongkar kotak bom di punggung gadis itu. Dia melakukannya dengan sangat hati-hati. Setelah membongkar kotak dan menelusuri seluruh kabel yang ada, dia menyadari sesuatu.


“Kurasa, kabel ini berhubungan dengan semua ranjau di bawah lantai itu!” Dia melihat Falcon, meminta pertimbangan. Sementara Falcon berpikir, pria itu berbisik pada Sandera.


“Apa kau Katerina Sancez?” tanyanya. Gadis itu mengangguk.


"Nenekmu mengirim kami untuk membebaskanmu. Jadi, bisakah kau tetap diam jika penutup mulutmu kubuka?” tanyanya. Gadis itu kembali mengangguk.


Bawahan Falcon membuka penutup mulut sandera. Gadis itu langsung bicara. “Pergi saja. Katakan pada nenek, jangan pedulikan aku. Jangan mau membayar tebusan apapun!” ujarnya lirih, penuh ketakutan.


“Katakan hal itu langsung pada nenek Anda nanti, Nona.” Senyum pria itu.


"Lakukan dengan hati-hati. Lepaskan gadis itu dan taruh semua bom itu di atas kursi!” perintah Falcon.


“Baik!” jawab anak buahnya.


Nona, bisakah kau berhenti gemetar?” senyumnya pada gadis itu. “Aku khawatir pisauku bisa melukaimu tanpa sengaja.”


“Ma-maaf!” Katerina mencoba menahan diri dan meredakan ketakutan yang membuat tubuhnya gemetar tak terkendali.


Bawahan Falcon mulai bekerja, Dia sangat tenang dan hati-hati. Menjaga jangan samai terjadi goncangan tak terduga yang bisa memicu bom tersebut.


“Bos! Apaka---”


“Sstt!” Falcon menghardik pada seorang anak buahnya yang menyusul datang dan menyapa dengan suara keras. Mengagetkan mereka yang sedang sangat tegang di ruangan itu.


Pria itu mengkerut melihat Falcon melotot. Dia langsung menutup mulut dan melihat bahwa situasi di depan sana lebih berbahaya dari pada di luar tadi. Akhirnya dia memunggungi Falcon. Menjaga ketiga orang di dalam, dari serangan yang mungkin datang dari luar.


Suasana sudah sunyi di luar. Suara tembakan berhenti sama sekali. Falcon menghubungi pimpinan tim pendukung di luar. “Bagaimana situasi kalian?” tanyanya.


"Lokasi musuh sudah dibersihkan. Sepertinya yang tinggal di sini hanya sebagian. Jumlah penjaga tidak sebanding dengan luasnya area,” lapor pimpinan tim di luar sana.


“Berarti, ada kemungkinan akan datang penjaga tambahan, jika salah seorang dari mereka berhasil melaporkan kedatangan kita!” ujar Falcon.


"Waspadai keadaan di luar. Laporkan jika ada tanda-tanda pasukan tambahan mereka!” perintah Falcon.


“Siap!”


“Kau! Pergi periksa seluruh bangunan, apakah ada orang lain yang mungkin bersembunyi dan mengabarkan kedatangan kita pada teman-temannya di luar sana!” perintah Falcon.


“Baik!” Pria itu baru akan berbalik untuk pergi menjalankan tugas, saat suara tembakan kembali terdengar di sayap lain kompleks tersebut.


“Lapor Bos. Kami menemukan beberapa orang di rumah yang terpisah!” ujar bawahan Falcon di luar.


“Bereskan!” perintah Falcon.


“Siap!”


Suara tembahan kembali bersahutan. Pria yang tadi mendapat perintah, sudah pergi keluar, menyusul teman-temannya.


“Ini lebih rumit dari biasanya, Bos.” Pria itu membela diri.


“Kalau dalam lima menit masih tidak bisa mengatasinya, maka kau harus menggantikanku berdiri di sini!” ancam Falcon.


Pria itu menelan ludah. Falcon memang atasan yang keras dan kejam. Tapi dia juga orang sangat menghargai nyawa semua bawahannya. Apapun yang dikatakannya bukanlah untuk merendahkan atau karena membenci. Itu karena dia mempertimbangkan hal yang lebih besar. Mereka tak boleh terlambat kembali ke titik penjemputan. Operasi harus selesai sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Dan yang paling penting, sandera serta seluruh pasukan selamat kembali ke markas.


“Bos, seperti dugaan Anda. Ada pasukan dalam jumlah besar sedang bergerak ke sini!” lapor anggota tim yang memantau keadaan di luar.


“Berapa lama mereka sampai sini?” tanya Falcon.


“Sekitar setengah jam hingga lima melas menit, paling cepat!” jawab pasukan di luar.


“Mereka berlari!” desis Falcon.


“Ya!” timpal suara dari seberang radio.


“Kau dengar? Waktu lima menitmu hampir habis!” ujar Falcon lantang.


Pria itu berdiri dari posisi merunduknya.


“Saya kira, sebaiknya Anda saja yang mengatasi ini. Biar saya berdiri di sana,” ujarnya menyerah.


“Hah! Cepat ke sini!” panggil Falcon kesal.


Pria itu mendekati Falcon dengan hati-hati. Mendekati posisi kaki Falcon yang menginjak ranjau. Falcon berjinjit perlahan, memberi tempat untuk berganti posisi.


Dalam dua menit, keduanya berhasil berganti posisi. Falcon segera berjalan setengah berlari menuju sandera yang sudah pucat dan dibasahi keringat.


“Hai, Katerina. Apa kau suka es krim pistachio?” tanya Falcon sambil menunduk, memeriksa rangkaian bom di punggung gadis itu.


“Tidak!” jawab gadis itu dengan suara gemetar.


“Kau suka yang rasa apa?” tanya Falcon lagi.


“Aku suka gelato rasa passion fruit,” ujar gadis itu.


“Itu bukan yang biasa ada di toko, bukan?” balas Falcon.


“Bukan. Tapi nenek akan senang jika buah itu ada di musim panas,” jawab gadis itu dengan lancar.


“Sepertinya aku ingin mencobanya. Maukah kau mengundangku menikmati gelato rasa Passion fruit di musim panas nanti?” tanya Falcon. Suaranya terdengar serius.


“Tentu. Nenek akan sangat senang jika ada yang menyukai rasa favoritnya itu.” Gadis sandera itu tersenyum. Dia sudah rileks sekarang.


“Kalau begitu, kita harus bergegas pulang. Berdirilah.”


Tali yang mengikat tubuh gadis itu ke kursi sudah jatuh. Sandera itu melihat tak percaya. Dia berbalik ingin memeluk Falcon, Namun batal. Pria tua ramah itu sedang memegang bom di kedua tangannya dan tersenyum menenangkan.


“Bisakah kau berjalan keluar pintu dan tunggu di sana?” tanya Falcon ramah. Dia sedang meletakkan rangkaian bom itu di atas tempat duduk yang ditinggalkan gadis itu.


“Apa aku harus berjalan dari samping?” tanya gadis itu. Dia tadi melihat pria pertama berjalan menyamping.


“Gadis yang pintar. Ayo!” Falcon membimbing tangannya menuju pintu keluar.


“Kau tunggu dulu di sini.”


Gadis itu patuh, merunduk patuh di undakan bawah tangga menuju ruangan. Falcon mencari-cari sesuatu di luar. Dia kembali dengan membawa sebuah kotak kayu. Lalu mendatangi bawahannya yang masih menginjak ranjau.


“Tunggu aba-abaku,” kata Falcon.


“Bos, mereka akan segera sampai!” lapor anggota pasukan di luar. Falcon tak menyahuti. Dia membuat siaran pada semua anggota lain.


“Jika urusan kalian di sini sudah selesai, segera kembali ke tiitik penjemputan!” perintahnya.


Perlahan digeserkan kotak kayu yang dibawanya mendekati kaki bawahan yang menginjak ranjau.


“Satu, dua ….”


  ******