VENUS REVENGE

VENUS REVENGE
Bab 38. Perasaan Lennox



Saat Frisia kembali dari pasar, Shadow langsung menghadangnya. “Apa kau sudah merencanakan ini?” tanyanya tajam.


“Merencanakan apa?” Frisia keheranan.


“Hei, Di sini akulah yang menjadi Nyonya. Kenapa kau bertanya seolah kau telah dirugikan? Lancang sekali!”


Suara Frisia yang melengking marah, membuat Hugo tahu bahwa istrinya itu sudah kembali.Dia melangkah cepat diikuti oleh Lennox. Wajahnya menunjukkan kemarahan yang terpendam.


“Aku tahu kau membenci Tuan, tapi jangan korbankan anak kecil untuk membalas kebencianmu padanya, lalu mengorbankan aku yang tak tahu apa-apa, sebagai kambing hitam yang harus menanggung perbuatan kotormu!” balas Shadow berani.


Hugo mendengar itu. Tuduhan Shadow terasa masuk akal baginya. Dia juga telah berpikir sama dengan Shadow. Jadi dia menunggu respon Frisia sebelum dirinya terlihat. Dia ingin melihat kejujuran wanita itu.


“Ya, aku membencinya. Aku benci pada semua keluarga Von Amstel. Tapi aku tidak segila itu akan menaykiti seorang anak kecil! Apa kau waras?” balas Frisia.


Shadow berjalan mendekati Frisia, dengan mata menyala marah. Hingga Nyonya rumah itu tak bisa mundur lagi dan menempel di dinding rumah. “Dengarkan aku baik-baik. Aku bukan musuhmu! Jadi jangan cari perkara denganku! Apa lagi mencoba mengganggu pekerjaanku. Kau tidak akan tahu seperti apa aku kalau sudah marah!” ancam Shadow.


Frisia melihat pada Shadow dengan ngeri. Dia merasa bahwa Shadow tidaklah sederhana. Saat mengancamnya tadi, yang berbicara itu seperti bukan Shadow yang dikenalnya selalu lembut dan ramah.


Hugo tak tahu apa yang dibisikkan Shadow. Tapi dia tahu bahwa itu adalah kalimat ancaman yang membuat Frisia ngeri hingga tak berani lagi membalas tatapan pengasuh itu.


“Apa kau akan biarkan saja istrimu diintimidaasi oleh pengasuh yang kesal itu?” tanya Lennox.


Hugo mendengus sebelum keluar dari bayangan tiang. “Akhirnya kau pulang juga!” katanya dengan nada dingin.


Shadow yang mendengar suara Hugo, mundur dari tempatnya. Tapi matanya masih menunjukkan sikap permusuhan pada Frisia. Meskipun wanita muda itu tak melihatnya, karen sudah menunduk dan jatuh di lantai dengan lemas.


Pelayan pribadinya mencoba membantunya bangun. Tapi ditolaknya. Dia benar-benar tak bisa melawan aura Shadow yang ganas dan menakutkan. Tubuhnya sampai merinding. Sepertinya, pengasuh itu bisa sama kejam seperti Hugo.


“Kau harus punya penjelasan bagus, Frisia. Moreno masih belum bangun dari tidurnya setelah pulang dari pasar denganmu!” kata Hugo yang sekarang sudah berdiri di depan Frisia.


“Apa?”


Tubuh Frisia bergetar hebat. Sekarang dia mengerti kenapa Shadow marah tak jelas dan Hugo juga bersikap dingin. Ketakutannya jadi nyata sekarang. Entah tuduhan itu benar ataupun salah, dia sama sekali tak punya nyali untuk melawan Hugo. Tubuhnya mengkeret menempel tembok makin rapat. Bahkan pelayan pribadinya tak bisa mendekat setelah diusir Hugo.


Hugo memanggil dua penjaga untuk membawa Frisia ke kantornya. Kemudian pria itu pergi sambil membawa aura dingin yang nyata.


Lennox turun dan berjalan ke arah Shadow. “Sudah, kurasa ini hanya salah paham saja. Biarkan Hugo membereskan masalahnya,” katanya mencoba membujuk Shadow yang tampak tidak puas.


“Aku tak akan pernah memafkan orang yang menjadikan anak kecil sebagai tumpuan pembalasan dendam!” kata Shadow dingin.


“Terutama, jika itu putraku sendiri!” tambahnya dalam hati.


“Kenapa kau begitu marah?” tanya Lennox. Dia mencari tempat duduk di sofa yang mengarah ke dek tepi danau.


“Karena aku tidak setuju seseorang menjadikan anak kecil sebagai target pembalasan dendam. Atau, apakah kau orang yang seperti itu?” tuduh Shadow tajam.


“Tidak! Aku juga akan membenci orang yang seperti itu. Itu adalah tindakan seorang pengecut!” tambah Lennox. Dilihatnya Shadow mengangguk dan ketegangannya yang tadi sempat muncul, telah hilang.


“Kau mengkhawatirkan Moreno?” tebaknya.


Shadow menoleh pada pria itu. Sejak dia kenal Lennox yang sepupu Hugo, Shadow tidak pernah tahu bahwa pria ini sangat perhatian. Tapi dia tetap mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Lennox.


“Ayo kutemani untuk melihat ke sana,” ajaknya sembari berdiri.


“Tapi Tuan melarangku ke sana,” kata Shadow ragu.


“Kita hanya melihat dari luar. Tidak akan mengganggu dokter dan perawat,” kata Lennox lagi. Pria itu sudah berjalan lebih dulu. Shadow akhirnya mengikuti.


“Kalau tuan marah, bagaimana?” tanya Shadow dengan nada takut.


“Biar aku yang terima kemarahannya,” ucap Lennox percaya diri.


Shadow mengikuti di belakang sambil tersenyum simpul. Tidak yakin jika Lennox mampu menahan kemarahan Hugo, jika itu memang benar-benar marah. Pria dingin itu amat sangat kejam dan pembunuh berdarah dingin. Dia sudah membuktikannya sendiri.


Dan memang, mereka hanya berdiri mengamati dari pintu kamar. Dokter secara berkala memeriksa Moreno yang tertidur pulas dan damai. “Seegralah bangun, sayang. Ibu sangat mencemaskanmu. Jangan tinggalkan ibu,” bisik Shadow dalam hatinya. Tanpa terasa, air matanya menetes jatuh. Makin deras air mata, makin sakit sesak dan sakit rasa dadany, hingga Shadow menangis terisak-isak.


“Tuhan, jika putraku punya penyakit yang parah, pindahkan saja sakitnya padaku. Kembalikan senyum dan keceriaannya seperti semula,” rintihnya dalam hati.


Lennox tak tahan melihat bahu Shadow yang terguncang menahan agar tangisnya tak mengganggu siapapun. Lengannya segera dikalungkan untuk memeluk Shadow dan membujuk. “Menangislah, jika itu bisa lebih menenangkanmu. Jangan menyimpan semua kesedihan dalam hati. Itu bisa merusak dirimu sendiri.”


Tangis Shadow akhirnya pecah. Dibiarkannya Lennox memeluknya. Dia memang sedang butuh bahu untuk bersandar sekarang. Seperti kata Lennox, dengan menumpahkan tangis, bebannya sedikit berkurang.


Di ujung lorong. Hugo berdiri mematung. Pandangannya menyala dan tidak senang melihat sepupunya memeluk Shadow. Bahkan meskipun itu hanya sekedar menunjukkan sikap gentle dan simpati pria bangsawan pada seorang wanita yang bersedih, dia tetap tidak suka!


“Sedang apa kalian di sini?” tanyanya dingin.


Shadow terkejut dan segera menyingkirkan lengan Lennox dari bahunya. Dia mundur dan menghapus bekas air mata di pipi.


“Shadow sedang cemas, jadi aku bawa melihat Moreno ke sini.”


Shadow melihat bahaimana Lennox menepati ucapannya untuk bertanggung jawab. Hugo hanya menunjukkan wajah tak senang. “Kau lebih baik beristirahat. Jadi, saat Moreno bangun, kau bisa menggantikan dokter dan perawat untuk menjaganya,” perintah Hugo.


“Baik.” Shadow membungkuk sedikit dan pergi ke arah kamarnya sendiri, di samping kamar Moreno.


Lennox menjadi sedikit kesal. “Apa kau tak bisa membiarkan aku mendekatinya? Aku menyukainya!” bisik Lennox.


“Huh! Kemudian kau buang, seperti kau membuang banyak gadis lain” cibir Hugo tak senang.


“Dia berbeda. Kau bisa liihat juga, kan. Meski berkedudukan rendah, tapi jiwanya kuat! Sebagai keluarga Von Amstel, Kau tahu bahwa  kita harus punya istri yang kuat, biar tidak depresi!” Lennox masih belum selesai dengan Hugo, Tapi pria itu sedang bicara dengan dokter. Dia tak ingin mengganggu lagi dan pergi dengan kesal.


“Aku sudah menemukan wanita idamanku. Akan lakukan apapun untuk mendapatkannya!” tekad Lennox.


*****