
"Ran, bantu Mama lipetin baju!"
Mau tidak mau, Ran yang sedang santai rebahan di kasur harus bangun dan menghampiri sang Mama
Ran duduk dan membantu Mamanya melipat baju setelah meletakan ponselnya di meja
"Makan sana, kamu kan belom makan"
"Engga ah males. Gak napsu, nyebelin banget"
"Kenapa sih? Berantem lagi sama Aga?"
"Emang nyebelin banget anak itu"
"Kenapa lagi?"
"Atuh Mah, masa tadi aku udah capek-capek nulis rangkuman malah dirobekin sama Aga dibuat pesawat-pesawatan sama dia. Nyebelin banget" cerita Ran
Ponsel Ran bunyi, telpon dari Argha. Ran mengabaikan panggilan dari Argha
"Itu hp kamu bunyi terus. Barisik tau"
"Bodo ah, males ngangkat"
"Dari siapa sih? Aga?"
"Hmmm"
3 kali tidak diangkat, telpon diangkat yg ke 4 kali
"Apaan!?" Tanya Ran galak
"Galak amad neng, lagi ngambek ya"
"Maaf ini siapa ya?"
"Aga ganteng segalaxy"
"Ngok!"
Argha tertawa
"Keluar, gue di depan"
"Hah? Bukanya gerimis?"
"Iya, makanya keluar"
Ran memutuskan panggilannya dan langsung berjalan cepat keluar
Benar saja, Argha duduk di motornya
"Lo ngapain ke sini sih, gerimis juga. Gak pake jaket lagi" omel Ran
"Nih nganterin makanan" Argha memberikan plastik yg berisi makanan "Lagian lo kalo ngambek suka males makan. Nanti kalo lo sakit siapa yg gue nistain hah?" Tambahnya mengacak rambut Ran pelan
"Lagian lonya nyebelin"
"Iya deh maaf, gue udah tulisin lagi rangkumannya. Besok gue bawa"
"Hmmm"
"Udah ya gue balik"
"Udah sono"
"Tawarin masuk dulu kek"
"Lah tadi katanya mau balik"
"Basa-basi elah"
"Gak masuk dulu?" Tanya Ran dengan senyum paksanya
"Engga, nanti kak Una ngamuk gue keluar"
"Kangen kak Una"
"Makanya ke rumah. Lo kalo disuruh ke rumah gak mau terus"
"Besok deh ya"
"Kalo kak Una gak lembur. Akhir-akhir ini kak Una sibuk banget sama tugas kuliahnya"
"Yaudah deh, kalo libur aja"
"Yaudah, gue balik"
"Hmmm, chat kalo udah sampe rumah"
"Iya"
Argha menyalakan motornya
"Hati-hati"
"Iya hujan" Argha mengacak rambut Ran lagi
"Aga bego!" Marah Ran
Argha tertawa
"Gue balik"
"Iya udah sana ih"
Argha menjalankan motornya
Ran tersenyum melihat plastik pemberian Argha lalu masuk kedalam rumahnya
...🌿🌿🌿...
"Assalamualaikum"
"Walaikumssalam, eh den Hanif. Masuk den"
"Sepi amat Bi"
"Ada den Leon sama den Yoga di atas"
"Bilangin makasih buat Mama atuh ya. Aden udah makan belom? Makan dulu sana di dapur"
"Udah makan kok Bi. Hanif mau ke bang Leon dulu"
"Yaudah. Kalo mau pulang panggil bibi dulu ya"
"Iya Bi" jawab Hanif
Hanif berjalan menaiki tangga menuju lantai dua tempat latihan band anak Bangtan
Tanpa mengetuk, Hanif membuka pintu
"Bang" panggil Hanif
"Tumben? Kenapa?" Tanya Leon yg sedang duduk di bangku drumernya
Hanif duduk di sofa sebelah Yoga yg memegang ponselnya. Sedang bermain game online dia
"Nganter sayur dari Mama"
"Mama Lisa apa kabar?" tanya Leon
"Baik, lo disuruh ke rumah"
"Iya nanti"
"Nanti-nanti mulu"
"Besok dah, gue ke Butik"
"Gue mau sekalian nanya"
"Nanya apaan?" Tanya Leon lagi
"Lo kenapa deketin Yunna?"
Leon menatap Hanif
By the way, Hanif dan Leon sepupuan. Mamanya Hanif adik dari Papinya Leon. Tidak banyak yg tahu bahwa mereka sepupuan, kecuali anak Bangtan. Bahkan Yunna, Ellen, Nazwa dan Ziko pun tidak tahu
"Pengen?" Jawab Leon
"Bukanya temen lo ya? Gue sering liat lo sering sama dia" Yoga
"Gue gak mau lo maenin Yunna. Yunna sahabat gue, gue gak mau liat Yunna nangis. Gue gak mau liat Yunna kaya dulu lagi"
"Gak masalah kalo lo deket biasa sama Yunna. Sering jalan, atau temenan sama Yunna. Tapi gak nyakitin Yunna"
"Lo suka sama Yunna?" Tanya Leon
"Gue sayang sama Yunna karena dia sahabat gue"
"Gak ada yg namanya persahabatan antara cowok sama cewek"
"Lah, lo sendiri sama Bella emang gimana tolol" balas Yoga
"Gue tau kalo Bella suka sama gue. Makanya gue diem aja pura-pura gak peka"
"Seriusan?!" Yoga tidak percaya
Ponsel Hanif bergetar, ada telpon dari Yunna
"Lama banget ih, jadi gak kesini? Gue sendirian, Aga gak ada, gue sendian. Takut ih, buruan kesini"
"Emangnya Aga kemana?"
"Nemenin Dimas di rumah sakit"
"Gue otw"
"Sekalian bawa makanan, kelaparan gue"
"Mau apaan?"
"Roti bakar kayak biasa"
"Hmmm"
Sambungan mati
Hanif bangun, berjalan menuju pintu
"Kalo gue serius sama Yunna gimana?"
Hanif berhenti berjalan, menoleh menatap Leon
"Kalo sampe lo nyakitin Yunna, buat Yunna nangis gue gak diem bang" balas Hanif lalu pergi
"Lu seriusan sama si Yunna? Seriusan? Terus si Bella gimana? Bukanya lo mau di jodohin sama Bella?" Tanya Yoga
"Makanya itu. Gue mau serius sama Yunna biar gak di jodohin sama Bella. Gue sayang sama Bella kayak adik gue sendiri, gak lebih"
"Seriusnya serius kayak gimana? Lo seriusan suka sama Yunna atau gimana?"
"Gue juga belom tau. Tapi gue tertarik sama Yunna. Kita liat aja nanti"
"Cantik sih si Yunna. Sayang bego kalo cuma di jadiin isengan doang"
"Sifatnya gak bisa di tebak. Itu yg buat gue tertarik"
TBC~
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...*************...
~ Bella Bellagio
Anak New York, bule asli. Kenal Leon udah lama, soalnya orang tua mereka temenan. Suka sama Leon, tapi Leonnya suka sama Yunna. Leon sayang sama Bella tapi sebatas adik, gak lebih