Up

Up
Lan Las



"Kenapa Wa?" Tanya Yunna


"Lo di mana? Sibuk gak?" Tanya Nazwa di sebrang telpon


"Gue di Kedai Edoy sama Ell, sama Hanif juga. Kenapa? Lo sini juga dong"


"Engga kenapa-kenapa sih. Cuma-"


Terdengar helaan napas dari Nazwa


"Kenapa?" Tanya Yunna lagi


"Gue cuma kangen aja sih"


Yunna paham, sangat paham. Pasti ada sesuatu yang ingin Nazwa ceritakan


"Lo dimana?"


"Gue di rumah lo"


"Gue otw balik sekarang. Lo masuk aja, ada Aga"


"Iyaaa"


Sambungan di matikan oleh Yunna


"Kenapa?" Tanya Hanif


"Ada something"


"Noh kan, apa kata gue" balas Ellen


"Gue balik duluan"


"Nanti cerita-cerita"


"Iyaaa"


💤


💤


💤


"Kak Awa? Kenapa duduk di sini?" Tanya Argha yang baru saja pulang dari sekolah


Nazwa bangun dari duduknya


"Nunggu Una" jawab Nazwa "Kamu baru pulang sekolah atau gimana?" Tambahnya bertanya karena Argha baru datang masih mengenakan seragam sekolah, lengkap


"Iya, baru kelar ngurus persiapan pensi besok. Kak Awa dateng ya, ada Bangtan jadi guest"


Nazwa tersenyum


"Iya, insyaallah ya"


Argha ikut tersenyum


"Nunggunya di dalem kak, nanti aku buatin teh manis"


"Iya, nanti aja sekalian sama Una. Bentar lagi juga dateng"


"Yaudah, aku masuk nih"


"Iya, udah sana istirahat"


"Iya kak" Argha masuk ke dalam


Nazwa duduk di kursi kayu yang berada di teras samping pintu masuk


Ponselnya bergerak, ada telpon dari sang Ibu. Nazwa menghelakan nafasnya sebelum mengangkat telponnya


"Iya Ibu, kenapa?" Tanyanya lembut seperti biasa


Tidak ada balasan dari sang Ibu


"Gak papa Bu, Ibu gak usah khawatir. Aku bisa sambil kerja di sini. Aku juga bisa tinggal sama Una atau El, jadi bisa irit juga" jelas Nazwa


Yunna datang, menghampiri Nazwa


"Maafin Ibu ya neng. Nanti kalo Ibu ada uang, Ibu kirimin"


"Gak papa Ibu, gak usah. Buat keperluan Ibu di sana aja. Buat biaya sekolah Sandy juga. Ibu gak usah khawatir sama aku, aku bisa cari sendiri" Nazwa tersenyum menatap Yunna "Udah dulu ya Bu, aku lagi di motor soalnya" tambahnya berbohong


"Iya, baik-baik di sana ya neng. Kalo ada apa-apa telpon Ibu"


"Iya Ibu, assalamualaikum"


"Walaikumssalam"


Sambungan mati


Yunna langsung memeluk Nazwa. Saat itu lah, air matanya tidak bisa ditahan lagi. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi


Nazwa adalah orang yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan orang lain. Tidak, bukanya antisosial. Nazwa hanya tidak nyaman. Butuh waktu lama untuk mengenal Nazwa, seperti Yunna dan Erin


'Kalo bisa di selesain sendiri kenapa harus minta bantuan orang lain?' Pikir Nazwa


Nazwa juga tipikal orang yang tidak memperlihatkan atau memendam masalahnya kepada semua orang, kecuali kepada Yunna dan Erin. Ia akan membagi semua keluh kesahnya tanpa rasa khawatir hanya kepada Yunna dan Erin


Tentu saja Yunna tidak keberatan. Ia membuka pintu untuk siapa pun, jika mereka membutuhkan seseorang untuk membuatnya merasa lebih baik


"Everything will be fine. Don't worry, I'm here" Yunna menepuk punggung Nazwa


S


K


I


P


Yunna meletakan 2 gelas es teh manis di meja


Sekarang keduanya berada di balkon kamar Yunna. Keduanya duduk di bawah bersandar pada pagar pembatas balkon


"Feeling better?"


Nazwa tersenyum dan mengangguk kepalanya


"Gue gak maksa lo buat ceri-"


"Ayah gue di PHK" balas Nazwa


Yunna menatap Nazwa kaget


"Kok bisa?"


"Gue juga gak tau" Nazwa menghelakan nafasnya


"Jadi masalah ini yang buat lo jadi kalem banget, sampe jarang banget ngumpul kek biasa"


"Ya maaf, gue nyari tempat kerja part time tapi gak dapet-dapet. Belom lagi ngerjain tugas, capek banget" cerita Nazwa


"Mereka gak bisa ngirimin uang. Kasian juga kalo misalnya harus ngirimin uang buat gue, soalnya mereka juga lagi irit-iritan" tambahnya


"Kayak gak punya siapa-siapa aja si lo. Ada gue, El, Ziko sama Hanif disini" omel Yunna "Lo tinggal di sini aja, gak usah ngontrak. Dari dulu kan gue udah bawel gak usah ngontrak, tinggal sama gue. Lo gak usah mikirin soal makan, gampang itu mah. Masalah kerjaan, nanti gue minta tolong sama Leon buat cariin deh. Dia kan banyak noh temennya yang punya Kafe. Si Agam juga gue denger punya Kafe gitu, nanti gue tanya sama anaknya ya" tambahnya


Nazwa kembali memeluk Yunna


"Maaf gue sering banget ngerepotin lo sama yang lain"


Yunna melepas pelukannya, memegang kedua bahu Nazwa


"Jangan suka ngomong kayak gitu ah, gue gak suka. Kita engga banget ngerasa direpotin. Malahan kita seneng kalo lo cerita kayak gini, daripada lo diem nahan semuanya"


"Kalo misalnya lo diem, kita tuh mikirnya 'lo nganggep kita apa sih? Kita tuh sahabat lo buka?' El khawatir banget sama lo Awa, Hanif sama Ziko juga"


"Maaf"


* * *


* *


*


Yunna mengangkat tangannya, meregangkan ototnya yang sedikit pegal. Ia melihat jam yang menunjukkan pukul 10 lewat 20 menit


"Laper" gumamnya memegang perutnya "Pengen mie goreng pakde Diran"


Ia mengambil ponselnya untuk menelpon seseorang


"Lo lagi di luar?" Tanya Yunna


"Engga, gue di dalem"


"Kirain lo masih ngalong"


"Kenapa dah?"


"Laper, pengen nasi goreng pakde Diran"


"Beli lah"


"Najis! Gak peka banget lo"


Sambungan di matikan oleh Yunna. Ia menidurkan kepalanya pada meja sambil mengelus perutnya


"Laper" gumamnya lagi


Ponselnya bergetar


"Apa?!" Tanya Yunna tidak santai


"Bener kata orang, kalo singa lagi laper galak"


"Lo Maung ngeselin"


"Gue di depan"


"Hah? Depan mana?" Yunna mengangkat kepalanya


"Depan kuburan!"


"Seriusan bego"


"Mau langsung serius ayo, gue udah siapa"


"Maung ihhhhh"


"Gue di depan rumah lo. Katanya laper mau nasi goreng pakde Diran"


Yunna mematikan sambungan telponnya lalu berlari keluar


Benar saja, Leon sudah duduk di kursi depan rumahnya


"Berasa tukang abang gofood gue"


Yunna tersenyum


"Makasih abang gofood"


Yunna duduk di kursi sebelah kursi yang di duduki Leon


"Besok jadi ke sekolah Aga?" Tanya Yunna


"Jadi lah, udah pada siap anak-anak. Lo mau ikut?"


"Iya, gue mau ikut. Sama lo ya"


"Hmmm" jawab Leon menganggukkan kepalanya


"Oh iya, gue mau minta tolong dong"


"Kenapa?"


"Temen-temen lo banyak yang punya Kafe gitu kan?"


"Hmmm" Leon kembali menganggukan kepalanya


"Tanya dong, bisa gak nerima kerja part time gitu?"


"Lo mau kerja part time?"


"Bukan gue, tapi Awa. Dia ada masalah soal keuangan. Ayahnya di PHK, mungkin gak di kirimin uang bulan-bulan ini. Dia lagi butuh uang banget" jelas Yunna "Agam juga punya Kafe kan? Tanya aja dulu sama dia. Gue minta tolong" tambahnya


"Nanti gue tanyain sama anaknya"


"Thank you"


Leon tersenyum


"Gak gratis"


"Idih! Kok gitu sih? Pamrih banget jadi manusia"


"Gak gampang bersikap baik tanpa mengharapkan balasan"


"Itung-itungan banget sama pacarnya sendiri"


Leon tersenyum senang menatap Yunna


"Kenapa lo senyum-senyum? Takut gue"


"Asal lo tau ya, seneng banget rasanya kalo lo udah bilang. 'pelit banget sama pacarnya sendiri. Masa warna kesukaan pacarnya lupa. Iseng banget sama pacarnya sendiri. Seneng banget bikin pacarnya kesel' dan sekarang? Berarti lo udah nganggep gue sebagai cowok lo. Kita udah official"


"Hah? Kapan gue ngomong gitu?" Yunna mulai salah tingkah


"Eiyyyyy! Gemes banget" Leon mengusap rambut Yunna gemas


Ia bangun


"Udah ya, gue balik"


"Hmmm" balas Yunna


"Gak bilang 'hati-hati dijalan' gitu? Atau 'kalo udah sampe telpon'? Kalo misalnya gue kenapa-napa di jalan gimana? Lo gak khawatir? Mau jadi calon janda?"


"Tu mulut kalo ngomong minta di lelepin sendal atau apa? Makanya berdoa biar gak kenapa-napa"


"Kan misalnya, seandainya atau andaikan"


"Banyak bacot mau pulang juga, heran"


"Bilang dong biar pacaran kayak orang-orang gitu"


"Yaudah, pacaran aja sana sama orang-orang"


"Gak mau pulang sebelum lo bilang"


"Banyak maunya anak bagong"


Leon tersenyum menunggu ucapan Yunna


Yunna menghelakan napasnya


"Hati-hati di jalan. Kalo jatoh bangun sendiri, gak usah manja minta dibangunin. Kalo udah sampe rumah, cuci muka, cuci tangan, cuci kaki, sikat gigi, baca doa terus tidur oke. Byeee" kata Yunna lalu masuk ke dalam


Leon tertawa gemas karena tingkat pacarnya itu


Pintu kembali terbuka


"Kalo udah sampe chat" kata Yunna lagi lalu langsung kembali menutup pintunya


"Bisa-bisa malem ini gak bisa tidur gue" gumam Leon


TBC~