
Ku kira bakal end di part 40an, eh ternyata masih berlanjut:'
Belum mencium bau-bau end
Enjoy and happy reading guysss😗
💚
💚
💚
Dengan cemas dan takut, Yunna duduk di sebelah Letha di depan ruang IGD. Sesekali ia mengusap kasar air matanya yang terus keluar tanpa izinnya
Letha juga khawatir pada Galuh, tentu saja Yunna juga sangat khawatir. Letha kembali mengusap bahu Yunna, mencoba menenangkannya
"Kak Galuh pasti gak papa"
Lagi, Yunna menghembuskan nafas
Tadi pagi, Galuh mencoba untuk bunuh diri dengan mencoba menyayat nadi di tangannya
Setelah bangun tidur, Yunna langsung pergi mandi, setelahnya langsung pergi ke dapur untuk memasak. Tadi malam Yunna tidur bersama Galuh, sedangkan Ellen, Nazwa dan Letha tidur bersama di kamarnya. Saat Yunna kembali ke kamar, dia sangat kaget melihat Galuh tidak sadarkan diri di kamar mandi dengan banyak darah di tangannya
Buru-buru, Yunna dan ke-3 kawannya membawa Galuh ke rumah sakit
"Una" panggil Leon
Ada Ziko dan Hanif juga
Yunna dan Letha menoleh
"Leon~" tangis Yunna pecah, berhamburan ke pelukan Leon, menangis disana. Mengeluarkan yang ia tahan sedari tadi
"Kak Galuh hiks kak Galuh, Leon hiks kak Galuh- hwaaaaa"
Leon membalas pelukan Yunna. Mengusap kepala dan punggung Yunna lembut
Letha juga ikut menangis, tapi tidak menangis seperti Yunna. Ziko merangkul pacarnya itu, ikut menenangkannya
Ellen dan Nazwa pergi untuk mengurus administrasi
"Udah, gak usah nangis. Kak Galuh gak akan kenapa-napa, percaya sama gue"
Pintu terbuka,
Keluar dokter Rizal bersama perawatnya
Yunna melepas pelukannya, langsung menghampiri dokter Rizal, teman abangnya
"Kak Galuh gimana, kak?" Tanya Yunna to the poin
"Galuh banyak kehilangan darah. Untungnya stok darah yang sama kayak Galuh masih ada, jadi gak perlu donor darah" jelas dokter Rizal
"Terus bayinya gimana?" Tanya Letha
"Luka di tangannya gimana?" Tanya Yunna lagi
"Bayinya engga papa. Lukanya juga udah diobati, jadi enggak apa-apa. Sekarang kita tunggu sampai kondisinya stabil"
Yunna dan Letha menghela nafas lega. Begitupun Leon, Ziko dan Hanif
Yunna memeluk Rizal karena lega
"Makasih, kak"
Rizal membalas pelukan Yunna, menepuk bahunya
"Kamu udah nelpon Jeo?"
Yunna melepas pelukannya
"Udah" jawab Yunna menganggukkan kepalanya "bang Je cuti, hari ini pulang" tambahnya
Rizal menganggukkan kepalanya paham
"Kalo gitu, kakak pamit. Kalo Galuh bangun, panggil kakak"
"Sekali lagi, makasih kak Ijal"
Rizal tersenyum, lalu pergi diikuti perawat setelah pamit kepada yang lain
"Keliatannya, dokter deket banget sama mereka, apalagi sama cewek tadi" ucap perawat yang bername tag Juliana
"Dia adik dokter Jeo"
"Oh?" Kaget Juliana "Dokter bukanya bilang kalo dia adiknya dokter Jeo"
"Ya kamu enggak nanya"
Juliana menatap Rizal sebal. Sedangkan yang ditatap hanya tertawa
Juliana itu juniornya saat kuliah, jadi mereka terlihat sangat akrab. Ditambah lagi, Juliana sedang naksir kepada Jeo
Ellen dan Nazwa sudah kembali setelah menyelesaikan semua administrasi
"Na, mending lo masuk aja sekarang. Kak Galuh sama kita" kata Nazwa
"Iya Na. Kalo lo sekarang gak presentasi, nanti nilai lo kosong. Percuma Hanif sama Idam ikut alesan waktu itu" balas Ellen
Karena waktu itu Yunna izin, Hanif dan Idam sengaja ikut izin dengan alasan, tugas mereka belum selesai. Idam jujur, memang tugasnya belum selesai. Sedangkan Hanif sengaja. Karena ada 3 orang yang belum presentasi, jadi lah, Mr. Sanjaya memberi waktu besoknya untuk melanjutkan presentasi untuk 3 orang ini
"Gimana gue bisa fokus presentasi kalo pikiran gue kemana-mana"
"Bener kata El. Sekarang lo harus masuk, daripada nilai lo kosong. Tau sendiri kan Mr. Sanjaya kayak gimana. Masalah Galuh ada mereka. Leon juga ditemenin sama Alif. Bentar juga kan, bang Je dateng" Hanif
Karena sedang di rumah sakit, Leon sekalian untuk berobat
"Yaudah" Putus Yunna "Kalo ada apa-apa, telpon gue"
"Iya, udah sana. Jangan mikirin apa-apa. Fokus sama presentasi" jawab Nazwa
"Balik dulu ambil plasdisk"
Yunna pergi ke kampus bersama Hanif
Setelah semua kelas selesai, Yunna langsung ke rumah sakit dengan naik bis. Karena Hanif masih ada urusan di kampus, jadilah Yunna pergi sendiri
Galuh sudah di pindahkan ke ruang rawat setelah sadar tadi siang. Ellen dan Letha menunggu di luar karena Galuh ingin sendiri, katanya
"Coba lo yang masuk" suruh Ellen
Yunna mengetuk 2 kali sebelum membuka pintu
Galuh tidak menoleh. Ia menatap ke luar jendela, entahlah apa yang dipikirkan
Yunna berjongkok disamping ranjang, menghadap Galuh yang masih menatap bengong ke keluar jendela
Yunna menggenggam tangan Galuh dengan kedua tangannya, saat itu lah air mata Galuh kembali turun. Yunna ingin sekali menangis melihat Galuh yang sudah seperti kakaknya sendiri terlihat tidak baik-baik saja
"Kak Galuh jangan gini" ucap Yunna tidak bisa menahan air matanya untuk tidak turun
"Aku mau sendiri" balas Galuh pelan
Yunna melepas genggamannya, mengusap air matanya
"Aku sayang kak Galuh. Aga sama bang Je jaga sayang sama kak Galuh. Temen-temen yang lain juga sama. Jangan pernah lakuin hal kayak tadi lagi" ucapnya lalu keluar meninggalkan Galuh
"Gue mau ke kamar Leon dulu" katanya
"Mau di temenin?" Tawar Letha
"Gak usah"
Setelah di periksa, ternyata Leon sakit tifus dan harus di rawat
Yunna pergi ke kamar rawat Leon yang ada di lantai 5 dengan naik lift. Kamar rawat Galuh ada di lantai 2
Ia melihat jam tangannya yang menunjuk pukul 15:46
Leon lagi ngapain ya? Di kamarnya ada siapa aja? Atau lagi tidur? Pikir Yunna karena chatnya belum dibalas
Sampai di depan ruang rawat Leon, Yunna tidak langsung masuk
Ternyata didalam ada Bella yang sedang menyuapi Leon
Yunna malas untuk masuk, ia hanya memperhatikan dari luar kamar melalu jendela
"Udah lah, udah ada si Bellalabela" gumamnya lalu pergi
Dari arah berlawanan,
Baru saja Risa ingin memanggil Yunna, tapi tidak jadi karena Yunna pergi begitu saja- tanpa masuk?
"Pantesan" gumam Risa melihat apa yang Yunna lihat
"Assalamualaikum" salam Rissa, masuk
"Wallaikumsalam" balas Bella dan Leon
Bella mencium tangan Risa, begitupun Leon
"Bella, bisa tolong ambilkan minum?" Pinta Risa
Bella tersenyum
"Iya Tante" jawab Bella
Ia menyimpan makanan Leon di meja, lalu pergi mengambil air di ruang penyimpanan
Risa meletakan tas dan plastik yang ia bawa ke meja
"Gimana? Udah enakan?"
"Ya Leon emang gak papa. Paling minum obat, terus tidur pasti sembuh. Bunda segala minta Leon di rawat"
"Gimana Bunda gak khawatir kamu pingsan"
"Bukan pingsan, tapi ketiduran" alibi Leon lagi
Saat akan pergi memeriksa kondisi, tiba-tiba Leon pingsan. Untung saja saat itu, Yunna sudah pergi ke kampus
"Alesan aja kamu" Risa duduk di bangku yang diduduki Bella tadi
"Tadi ada Yunna di depan pintu"
"Hah?" Bingung Leon
"Baru juga mau dipanggil, tapi udah pergi duluan" jawab Risa "Bunda kira kenapa dia gak masuk, eh ternyata liat kamu sama Bella" tambahnya
"Yunna lagi banyak banget pikiran. Leon takut dia sakit, Bund"
"Gak papa. Nanti Bunda mau nemuin Yunna, sekalian jenguk Galuh"
"Bunda tau?"
"Hanif udah cerita semuanya"
Risa bangun dari duduknya, mengambil tasnya
"Bunda mau kemana?"
"Mau ke Yunna lah"
"Ikut" pinta Leon
"Engga, kamu disini dulu. Kan ada Bella"
"Ah! Bunda mah"
Risa pergi begitu saja tanpa memperdulikan rengekan Leon
TBC~