Up

Up
Pat Luh Pat



"Assalamualaikum!" Seru Yunna dan Ellen bersamaan didepan pintu


"Wallaikumsalam" balas Afra, senang melihat Yunna dan Ellen


Keduanya masuk menghampiri Afra


"Kok gak bilang mau kesini?"


"Surprise!" Balas Yunna


"Berhubung kita gak ada kerjaan, daripada gabut, jadi kita kesini aja" jawab Ellen, duduk lesehan dibawah membongkar plastik yang ia bawa


"Alesan banget. Boong Fra, ada udang di balik pintu. Pengen liat dokter gizi yang katanya ganteng itu" Yunna ikut duduk disamping Ellen


"Enggaaa" elak Ellen


"Dokter Rama?" Tanya Afra


"Ohhh, namanya dokter Rama" Yunna menganggukkan kepalanya "Noh El, dokter Rama namanya" ledeknya menyenggol lengan Ellen


"Nyenyenyenyenye" balas Ellen sebal


Afra tertawa, Yunna juga


"Kok Awa gak ikut?"


"langsung ke Kafe, soalnya Abil izin, jadi dia gantiin sip Abil" balas Yunna


"Lo mau?" Tawar Ellen kepada Afra


"Emang mau ngasih?" Tanya Yunna


"Engga lah!"


"Eyyyyy" balas Afra


Yunna dan Ellen memakan seblaknya masing-masing


Ponsel Yunna bergetar, ada telpon dari Leon. Ia menekankan tombol call menggunakan kelingkingnya karena kedua tangannya sibuk memegang tulang ayam. Tidak lupa mode speaker


"Kenapa?"


"Dimana? Gue ke kelas lo, tapi lo gak ada"


"Gue di rumah sakit"


"Ngapain? Lo sakit?"


"Periksa kandungan" ini Ellen yang ngomong


"Gue sama El maen ke Afra. Emang kenapa? Katanya lo mau langsung ke kantor, kok ke kelas?"


"Ngisi Batre"


"Gak jelas, gue matiin ya"


"Gak asik ah!"


"Yaudah, ulang. Kenapa ke kelas? Tadi katanya mau langsung ke kantor?"


"Baru tau gue, kalo maung alay" gumam Ellen


Afra tertawa


"Kalo belom liat lo, tenaga gue belom full. Harus liat lo dulu supaya gak cepet kangen"


Tawa Ellen dan Afra pecah


"Y y y, udah ya. Bhay!"


Sambungan langsung dimatikan oleh Yunna. Ia malas mendengar gombalan pacarnya itu lebih jauh. Malu juga kalo di denger Ellen sama Afra. Bisa diledek habis-habisan oleh Ellen


"Gue kira, Leon termasuk pacar diem tapi perhatian. Ternyata kocak juga" kata Ellen yang menggerogoti ceker ayam


"Ya kadang kalem, kalo lagi kalem. Kadang nyebelin juga kalo udah iseng. Nanti tiba-tiba sweet banget. Konyol juga. Paket lengkap deh"


Ponsel Yunna kembali bergetar. Argha yang nelpon


"Kenapa?"


"Lo nunggu di depan kak, bentar lagi gue sampe"


"Iya, gue nunggu di lobby"


"Hmmm"


Sambungan di matikan oleh Argha. Lalu Yunna bangun


"Gue keluar dulu. Jangan dicomot loh, El"


"Cuci tangan dulu" balas Ellen


"Oh iya!"


Yunna yang sudah sampai pintu keluar, berbalik, masuk ke kamar mandi untuk mencuci tangannya


...🎶🎶🎶...


"Kalo mati, belom punya banyak bekel. Kalo hidup, cuma nambahin dosa. Serba salah bung"


"Husss! Jangan ngomong gitu. Gak baik" Letha memukul bahu Ziko


"Gak bersyukur banget masih di kasih hidup" kata Hanif


"Alhamdulillahhhh" balas Ziko sambil mengelus dada Hanif


"Apaan sih lu!? Emang gue cowok apaan dipegang-pegang!" Dengan kasar, Hanif menyingkirkan tangan Ziko


"Dasar" gumam Nazwa


"Pas hamil, nyokapnya ngidam apaan sih?" Tanya Agam


"Jangan salah, gak kaleng-kaleng nyokap gue kalo ngidam" jawab Ziko


"Mama kamu ngidam kaleng?" Bingung Letha


"Bukan, dulu Mama ngidam-"


"Jengkol goreng lumer coklat" potong Hanif


Agam sama Letha diem kan, loading mereka


Mereka berjalan beriringan menuju ke Kafe Agam. Kafe tidak jauh dari kampus, mungkin butuh 20 menitan kalo jalan kaki dari kampus


"Are you sure?" Tanya Letha tidak percaya masih dengan tawanya


"Kalo gak percaya, tanya aja langsung"


"Kok aneh?"


"Jadinya juga aneh kan?" Jawab Nazwa dengan sisa tawanya


"Gak salah sih kalo liat modelnya kayak gini" saut Agam


"Makanya, kalo kerja tuh yang bener. Kalo misalnya bapak kerjanya bener, gak akan kayak gini!"


"Maaf pak, saya kerjanya udah bener. Bapaknya aja yang kurang hati-hati"


"Jadi bapak salahin saya? Terus saya yang salah gitu?!"


"Maaf pak sebelumnya, saya minta maaf"


"Ayah?" Panggil Nazwa melihat ayahnya yang sepertinya sedang adu argumen dengan seorang laki-laki. Ia menghampiri Ayahnya, diikuti Agam, Letha, Ziko dan Hanif


Keduanya menoleh


"Ada apa ini?" Tanya Hanif


"Kalian siapa? Gak usah ikut campur urusan orang tua" jawab si bapak sewot


"Bapak siapa? Kenapa bentak-bentak ayah saya?" Tanya Nazwa berdiri di depan ayahnya menghadap si bapak


"Eneng, udah. Gak usah ikut-ikutan kamu" Bagas menarik Nazwa mundur


"Bapak kamu kerjanya gak bener. Membahayakan pejalan kaki" jawab si Bapak itu


Nazwa menoleh menatap Ayahnya, meminta penjelasan


"Ayah lagi mindahin bunga, tiba-tiba si bapaknya teriak, nabrak ini. Hpnya jatoh" jelas Bagas "Jadi maaf banget ya pak, disini bapaknya yang kurang hati-hati. Bapak terlalu fokus mainin hpnya jadi nabrak papan ini. Untung aja gak nyemplung bapaknya" lanjutnya menatap si bapaknya


"Wahhh!" Kesal si bapaknya menahan kesalnya sambil memegang pinggang


"Makanya pak, kalo jalan jangan sambil mainin hp. Disini ayah saya engga salah" bela Nazwa


Nambah kesel kan si bapaknya


"Bapak sama anak sama aja kalian. Kurang ajar. Tau dari mana kalian hah?!"


"Disana ada cctv, kita bisa liat siapa yang salah disini" rerai Agam


"Nah! Betul" saut Ziko yang sedari tadi diam


"Boleh" setuju Bagas


Si bapaknya diam


"Anak jaman sekarang gak ada sopan santunnya sama orang tua. Percuma dikuliahin mahal-mahal" balas si bapaknya lalu pergi


"Takut dia" Ziko terawat melihat si bapaknya kabur


"Gak boleh ketawain orang tua" Letha kembali memukul bahu Ziko pelan


"Om gak papa?" Tanya Agam


"Engga papa" jawab Bagas menggelengkan kepalanya "Kalian baru pulang?" Tambahnya bertanya


"iya, Yah. Kita mau ke Kafe" jawab Nazwa "Ayah ngapain disini?" Tambahnya


Setau Nazwa, Ayahnya memang ada proyek ke kota. Tapi tidak bilang, ternyata Proyeknya di jalan dekat kampusnya


"Ada perbaikan jalan di deket sini. Ayah denger jalan ini, jalan yang sering kamu lewatin. Yaudah, Ayah kesini aja. Barangkali ketemu kamu, beneran ketemu"


Nazwa memeluk lengan sang Ayah manja. Kangen juga katanya


"Seharusnya Ayah telpon. Kalo misalnya aku naek motor gimana?"


"Tapi kan kamu jalan"


Walaupun Bagas menetap di kota yang sama dengan putrinya, mereka jarang bertemu karena Bagas sibuk bekerja dan Nazwa sibuk di kafe dan kuliah


"Oh iya, kenalin Yah, ini Letha. Ayah kan belom kenal" tambahnya


Letha tersenyum


"Heran Ayah mah, kenapa temen kamu teh cantik-cantik" ucap Bagas sambil tertawa


"Heran aku juga" balas Nazwa


"Punya Ziko nieh Yah" sombong Nico merangkul Letha yang membuat gadisnya malu


"Hah? Pacar kamu Ko? Kok bisa? Kenapa kamu mau neng sama Ziko?" Bagas pura-pura kaget


"Iya lah, Ziko kan ganteng kayak Ayah. Jadi Letha kepincut"


"Apaan sih, Ziko" Letha mendorong bahu Zico malu


Bagas, Nazwa dan Ziko tertawa, sedang Hanif dan Agam hanya tersenyum


"Kerjaan om udah selesai belum? Kalo udah, ikut gabung kita aja makan siang" kata Agam


"Eh? Emang boleh?"


"Boleh lah, kan Ziko yang traktir" jawab Nazwa


"Ayo lah" seru sang Ayah semangat


"Allahuakbarrrrr, padahal akhir bulan. Dompet isinya cuma kartu tranportasi sama ktp" sedih Ziko yang menjadi tumbal


Nazwa tersenyum senang. Menarik Bagas berjalan bersama, masih memeluk lengan sang Ayah. Diikuti Ziko, Letha Hanif dan Agam


Letha tersenyum melihat Nazwa dan Ayahnya. Ia senang dan kagum melihat interaksi anak dan Ayah itu. Hangat dan manis. Tidak ada rasa malu atau canggung diantara keduanya


Oke, Letha mendapatkan pelajaran yang sangat berharga lagi dari Nazwa


_


_


_


TBC~