Up

Up
Wa Luh Pat



"Bismillahirrahmanirrahim" gumam Nazwa sebelum masuk Kafe


Kafe terlihat ramai. Ia mencari Agam yang ternyata sedang mengantar pesanan


"Agam" panggil Nazwa


Agam menoleh, tersenyum lega melihat Nazwa yang berjalan menghampirinya


"Syukur deh lo udah dateng, lagi keteteran banget"


"Sorry, seharusnya gue dateng lebih awal" Nazwa merasa tidak enak


"Gak papa, ayo ikut gue"


Nazwa mengikuti Agam ke belakang tempat khusus untuk staf


Agam memberikan celemek yang khusus untuk pegawai Kafe


"Nanti lo dibantu sama bang Paul. Kalo ada yang gak ngerti, lo tanya-tanya aja sama dia"


"Iyaaa" jawab Nazwa


"Yodah, gue tinggal ya"


"Gam" panggil Nazwa karena Agam hendak pergi


Agam kembali menoleh


"Makasih, makasih banyak"


Agam tersenyum


"Hmmm" balasnya lalu pergi


Nazwa tersenyum, memakai celemeknya lalu keluar menghampiri laki-laki yang bernama bang Paul itu


"Oke, fighting Awa" gumamnya menyemangati diri sendiri


~


"Aga! Pulpen gue mana?" Terik Yunna


"Mana gue tau! Di tempat pensil lo kali!" Balas Argha ikut berteriak


Yunna di ruang tengah sedang mengerjakan tugas. Sedangkan Argha di ruang tv, sedang menonton tv


"Cassan leptop gue mana?!"


"Di kamar lo kali!"


"Aga, gue minjem mous lo, di mana?!"


"Di kamar!"


"Aga-"


"Apalagi sih?! Coba cari sendiri! Berisik amat sih lo! Nyarinya pake mata bukan pake mulut!"


Nah loh, Argha udah mengamuk


Yunna diam, takut jika Argha sudah marah-marah seperti itu


"Galak amad kek macan betina lagi ngidam" gumam Yunna


Ia pergi ke kamar adiknya untuk mengambil Tipe-X


Dari luar terdengar suara ketukan pintu


"Aga kemana sih? Kok gak di bukain pintunya?" Gumam Yunna karena pintu terus diketuk


"Aga!" Panggil Yunna, dan tidak ada sautan


"Tu bocah mana sih? Ngilang kek jin iprit" dumal Yunna pergi untuk membuka pintu


"Suprise!"


Yunna diam, kaget melihat siapa yang ada dihadapannya


"Katanya kangen banget, kok malah di pelototin doang?" Kata Jeo


Mata Yunna mulai berkaca-kaca


"Peluk?" Emy merentangkan tangannya


Yunna langsung memeluk Mamanya, menangis di sana melepas rindu


"MAMA!" Teriak Argha berlari memeluk Emy. Lebih tepatnya memeluk punggung Yunna


Sama seperti Yunna, Argha sangat rindu Mama. Emy tersenyum, ia menarik Argha ke sebelah kirinya. Ingin memeluk si bungsu juga


Jeo tersenyum senang melihat keluarganya berkumpul lagi. Ya, walaupun hanya untuk beberapa hari


Emy sudah punya niatan sejak lama ingin pulang ke Indonesia saat ulang tahun putrinya. Menghabiskan waktu bersama ke-3 anaknya, melepas rindu yang lama dipendam dan merayakan hari ulang tahun Yunna bersama


🌸🌸🌸


"Ay" panggil Leon duduk di hadapan Yunna yang sedang makan


"Apa? Gak usah minta, beli sendiri" balas Yunna


"Gue gak celamitan kayak lo"


Yunna kembali memakan makanannya, malas membalas ucapan Leon


"Kelas terakhir jam berapa?"


"Abis ini, jam satuan" jawab Yunna


"Berarti keluar jam tigaan" Leon melihat jam tangannya "Nanti kalo gue belom keluar nunggu di ruang musik aja" tambahnya menatap Yunna


"Mau ngapain?" Tanya Yunna


"Pulang bareng lah"


"Gue pulang bareng sama El"


"Engga engga, lo pulang sama gue. Sekalian gue mau ketemu sama Mama mertua"


"Mama mertua siapa?" Tanya Yunna sambil tertawa


"Mama Emy lah. Mama mertua gue"


"Emang pernah nikah?"


"Calon Mama mertua" koreksi Leon


"Ngomong nih sama sambel"


"Nanti malem jadi. Lo bareng sama El, gue ada latihan band dulu" Leon meminum es teh manis Yunna


"Ke Kafe Agam. Masa lo lupa sih? Kan gue udah ngomong dari kemaren-kemaren"


"Ngapain?"


"Ya maen, ngumpul-ngumpul. Malem ini jadwal Bangtan perform"


"Alesan ya lo! Bilang aja mau bikin surprise kan lo. Udah ketebak"


"Surprise apaan?" Tanya Leon


"Gak usah pura-pura lupa deh"


"Lupa apaan?" Leon pura-pura bego


"Gak lucu bego"


"Lah? Ngapa si lo? Gue seriusan nanya"


'Beneran lupa?' -Yunna


"Lo lupa?"


"Lupa apaan?"


"Hari ini lo lupa?"


"Hari ini?" Leon masih bingung


"Hari ini kan gue-"


"AH!" Tariak Leon memotong ucapan Yunna


Yunna menatap Leon kaget


"Hari ini gue ada presentasi Mr. Tambang"


Yunna mengedipkan matanya beberapa kali mencerna ucapan Leon barusan


"Jangan pulang duluan. Nanti gue telpon" kata Leon lalu pergi setelah mengusap kepala Yunna


"Apaan tadi? Mau tarik tambang?" Gumam Yunna bingung


~


Seperti sepasang kekasih, Emy memeluk lengan putranya yang lebih tinggi darinya, berjalan menuju pedagang nasi goreng yang terlihat ramai. Ia sangat heran, kenapa putra bungsu bisa tumbuh setinggi ini


"Sekalian beli buat kak Una gak?" Tanya Emy


"Engga usah, nanti suruh beli sendiri aja" balas Argha


"2 bang, yang satu pedes yang satunya lagi sedeng" pesan Argha


"Iya, tunggu sebentar ya" balas si abangnya yang sibuk menggoreng


"Duduk dulu Mah" suruh Argha


"Penuh" balas Emy melihat tidak ada bangku yang kosong


"Kak Argha"


Argha dan Emy menoleh


Argha tersenyum, Begitupun Hani


"Beli nasi goreng juga?" Tanyanya


"Iya kak, di rumah gak ada siapa-siapa. Kunci di bawa sama Babang. Aku laper banget, yaudah deh kesini aja" jawab Hani


Argha menganggukkan kepalanya, menatap Emy yang berdiri di samping Hani


"Siapa?" Tanya Emy tanpa suara


Argha tersenyum


"Kak Argha juga lagi beli?" Tanya Hani sekedar basa-basi


"Iya, ini sama Mama gue"


Hani menoleh kaget


"Eh?" Hani tersenyum menatap Emy


Emy ikut tersenyum


"Namanya Hani, adik kelas Aga"


"Mama baru tau kalo kamu punya temen cewe selain Ran"


"Ya engga lah. Temen cewe Aga banyak, gak cuma Ran"


"Kak Argha kan terkenal di sekolah. Banyak yang suka sama kakak" saut Hani membuat Emy tertawa


"Engga elah, biasa aja. Orang-orang tau ya karena gue waketos"


"Nih mas pesanannya" panggil si abangnya


Argha memberikan uang 30 ribu pas


"Makasih pak"


"Sama-sama mas" balas si abangnya


"Lo mau langsung pulang atau gimana?" Tanya Argha


"Engga deh, Kayanya makan di sini aja. Sambil nungguin Babang jemput"


"Makan di rumah aja bareng kita. Nanti suruh abangnya jemput di rumah" saran Emy


"Hah?" Kaget Hani, tentu saja senang juga


"Yaudah" setuju Argha


"Gak papa?" Tanya Hani


"Ya engga apa-apa dong"


Argha tersenyum karena Hani tersenyum menatapnya


Rasanya ingin terbang saja jika Hani punya sayap. Ia sangat senang, tapi ia tahan karena menjaga imagenya di depan calon pacar dan Mamanya


Kita kan gak tau kedepannya kayak gimana. Siapa tau hari minggu Argha mengajaknya pacaran atau mungkin Argha langsung melamarnya


Siapa tau kan yaa😌


TBC~