
Sehabis mandi, Yunna menghampiri Leon diluar yang lagi gitaran sama Harun. Duduk bersila di samping kiri Leon. Rambutnya masih basah, ada air yang masih menetes
"Laper ih" katanya
"Makan lah" balas Leon tanpa menoleh
"Mie ayam keknya enak"
"Beli lah"
"Lo kenapa sih? Pulang dari ondangan bawaannya bad mood, dingin, kalo ditanya jawabnya singkat-singkat" tanya Yunna "Ceritanya mau jadi tsundere apa gimana hah?"
"Gak papa"
"Kesel dia, gara-gara Haikal" saut Harun
'Harun kampret_-' -Leon
"Hah? Haikal?"
"Apaan sih! Kaga ini elah" sangkal Leon "Keringin dulu rambut lo, masih netes-betes airnya"
"Lo cemburu?"
"Engga!"
"Eyyyyy, cemburu bilang gak usah gengsi" Yunna menoel-noel pipi Leon gemes
"Apaan sih ah!" Leon meletakan gitar lalu pergi masuk
Yunna dan Harun tertawa
Harun memangku gitarnya, memetik secara asal
"Emang tadi ada bang Haikal?" Tanyanya
"Hmmmm" Yunna menganggukan kepalanya
"Pantesan"
"Dia ngomong apaan?"
"Gak usah bocor Run! Gak gue kasih PS yang lo mau kalo mulut lo bocor" Leon kembali membawa handuk kecil dan sisir. Duduk di belakang Yunna
"Rahasia" jawab Harun tersenyum menaik-turunkan alisnya
Leon mengelap rambut Yunna dengan handuk. Membungkuk rambut panjang Yunna dengan handuk lalu menekan dan menggosoknya, supaya kering
"Nyebelin"
"Lo gak pernah cerita soal Haikal" kata Leon masih mengeringkan rambut Yunna
"Pernah, lonya aja yang lupa kali"
"Gak tau kalo sedeket itu"
"Lo cemburu ya?"
"Iya!" Jawab Leon ngegas
"Gue seneng"
"Gue kesel"
"Cemburu kan tandanya sayang"
"Gue juga cinta sama lo"
JRENG JRENG JRENG
Harun menggenjreng gitarnya
"Udah lah, gue pergi aja. Kuping gue panas" katanya lalu pergi membawa gitarnya
Yunna dan Leon tertawa
Sekarang Leon sedang menyisir rambut Yunna
Tidak terlalu kering seperti di hairdryer, hanya setengah kering
"Kalo gue potong rambut, bagus gak?" Tanya Yunna memeluk lututnya karena dingin
"Mau panjang atau pendek, lo pasti keliatan cantik" jawab Leon mengelus rambut yang sudah rapih "Udah yuk masuk, dingin kan?" Tambahnya
...π¦π¦π¦...
"Kok liatin terus sih? Ada yang salah?" Tanya Letha memegangi kedua pipinya, karena Ziko terus menatapnya
"Lo cantik" jawab Ziko membuat Letha tertawa
"Kapan aku keliatan gak cantik?"
"Gak pernah"
"Kapan kamu selalu mikirin aku?"
"Always"
"Apa yang paling benci dari aku?"
"Nothing"
Letha tertawa, Ziko juga
Mereka sedang jalan menuju Kostan Letha
Ceritanya mereka lagi jalan, tiba-tiba motor Ziko mogok. Mau gak mau mereka naik bus. Turun di halte bus yang gak jauh dari kostan Letha
Halte ke kostan gak terlalu jauh. Cuma 15 menitan. Ziko ninggalin motornya sehabis nelpon orang bengkel
"Ziko" panggil Letha
"Hmmm"
"Aku udah suka sama kamu"
Ziko berhenti berjalan, menatap Letha kaget, seneng juga
Letha juga berhenti berjalan membalikkan tubuhnya, menatap Ziko takut dan khawatir dengan reaksinya
Ziko berjalan selangkah, berdiri tepat dihadapan Letha. Menggenggam tangan mungilnya
"Gue bukan Dilan atau Roman yang bisa buat lo bahagia karena puitisnya. Gue gak bisa seromantis Natha. Gue juga engga sesetia Ken yang kekeh mau sama si Maudy. Tapi gue akan selalu sayang sama lo dengan cara gue sendiri. Lo mau kan jadi cewe gue?"
ANJIR LAH, NEMBAK DI PINGGIR JALAN DI BAWAH POHON RAMBUTAN. UNTUNG AJA GAK ADA ULET BULU MENDARAT. KALO BENERAN ADA, GAGAL LAH ACARANYA
Letha tersenyum, menganggukkan kepalanya membuat Ziko sangat sangat sangat senang
"GUE GAK JOMBLO LAGI!" Teriak Ziko kesenengan
Ia langsung memeluk Letha
Untung aja sepi. Kalo rame, Letha malu
"Gak usah teriak-teriak, nanti ngeganggu orang"
"Gak papa, biar semua orang tau kalo lo cewe gue" balas Ziko masih memeluk Letha
...πππ...
"Kalo ngantuk tidur aja"
"Engga ngantuk" jawab Nazwa "Nanti kalo gue tidur, lo gak ada temen ngobrol. Nanti kalo ngantuk pas nyetir gimana? Keselamatan number one" tambahnya
"Cowo yang tadi, keliatannya deket banget sama kalian. Apalagi sama Yunna"
"Aku, Una, Erin sama Haikal udah temen dari SMP. Beda sama Haikal-Una, mereka udah temenan dari SD" jelas Nazwa
"Pantesan"
Agam dan Nazwa sedang di perjalanan pulang ke Jakarta. Mampir sebentar ke rumah Nazwa, mereka langsung pulang karena besok Agam ada urusan
"Thank you for to day" ucap Nazwa
"Biasa ajai, lagian Itung-itung jalan-jalan. Gue kan jadi tau rumah lo" Agam tertawa
"Maaf juga tadi, Ibu riweh banget sama kamu. Bekelin banyak banget makanan"
"Gak papa, santai aja. Gak riweh, malah gue seneng. Bunda juga pasti seneng dapet makanan lagi dari Ibu lo"
Nazwa tersenyum lega
"Bunda juga mau ketemu sama lo"
"Hah?" Kaget Nazwa
"Nanti kalo ada waktu, lo mau gak maen ke rumah gue?"
"Emang boleh?"
"Ya boleh lah! Ngapain gue ngomong"
"Ayo deh kalo dipaksa" Nazwa tertawa, Agam juga ikut tertawa
Ponsel Agam yang tergeletak di dashboard berbunyi
"Tolong angkatin Wa, speakerin" suruhnya
Nazwa mengambil ponsel Agam
"Siapa?"
"BigBos"
Agam tersenyum. Nazwa memegangi telpon Agam
"Kenapa belom tidur jam segini hmmm?"
"Nunggu telpon kamu. Kamu udah sampe mana? Jadi kan kesini?" Balas seseorang di seberang sana
"Jadi, aku masih di jalan"
'Cute banget pake aku-kamu. Agam punya pacar?' -Nazwa
"Jalan mana?"
"Jalan tol"
"Oh, yaudah hati-hati. Jangan ngantuk nyetirnya"
"Iya, kamu tidur sana"
"Iya bawel, kerjaannya nyuruh tidur terus"
"Gak usah ngomel"
"Good night"
"Hmmm"
Sambungan mati. Nazwa meletakan kembali ponsel Agam di dashboard
Nazwa sangat penasaran siapa yang menelpon tadi. Ingin sekali bertanya, tapi gak mau juga nanya-nanya
'Lagian siapa gue nanya-nanya. Kepo amad' -Nazwa
Keduanya diam. Nazwa memilih melihat keluar jendela, sedang Agam fokus menyetir
Agam menoleh sekilas, melihat Nazwa
"Gak penasaran siapa yang nelpon?"
"Hmmm?" Nazwa menoleh "Engga" jawabnya kembali melihat keluar jendela
"Kalo ngantuk mah tidur aja"
"Ini juga mau tidur" Nazwa menyandarkan tubuhnya
"Yaudah. Tapi jangan kaget ya kalo lo buka mata ada di rumah sakit"
"Heh! Gak lucu ya!"
Agam hanya tertawa "Yaudah, tidur aja"
Nazwa memejamkan matanya mencoba untuk tidur
TBC~