
"Anduk kecil udah bawa?"
"Bawa"
"Hoodie buat ganti?"
"Ada"
"Sabun cuci muka?"
"Ada"
"Sikat gigi?"
"Ada"
"Sabun man-"
"Gak bakalan sempet mandi" potong Argha
"Oh iyaya, lo pasti gak sempet mandi soalnya sibuk" Yunna menggaruk belakang kepalanya "Oh iya, vitamin. Obat-obatan udah di bawa?"
"Iya kak, udah semua elah. Lagian lokakarya cuma 2 hari 1 malem"
"Kalo udah semua, kenapa tas lo kayak gak ada isinya?" Curiga Yunna karena Argha hanya membawa tas ransel sedang yang biasa dia pakai sekolah
"Udah gue taro disekolah, kemaren. Sengaja gue taro supaya hari ini gak ribet bawa-bawa" alesan Argha
"Awas ya lo kalo boong, gue punya banyak mata-mata"
"Udah ayo ah, nanti gue telat"
Yunna masih menatap adiknya curiga yang berjalan ke motor
"Mau gue tinggal?"
Yunna menghampiri Argha
"Awas ya lo pulang-pulang sakit lagi"
Argha tidak mendengar ancaman kakaknya itu. Ia menjalankan motor setelah Yunna naik
S
K
I
P
Setelah mengantar Argha sampai sekolahannya, Yunna langsung ke kampus membawa motor. Di parkiran sudah ada Ziko dan Letha yang sengaja menunggu Yunna datang
"Kalo bang Je tau lo bawa motor sendiri, yakin gue, Aga yang kena omel" kata Ziko
"Ya jangan kasih tau lah" jawab Yunna membuka helmnya, lalu menggantungkan ke spion
"Emang kenapa?" Tanya Letha yang kepoan
"Gak papa, emang abang gue mah alay" jawab Yunna "Udah yu, masuk kelas aja. Powerpoint gue ada yang harus dibenerin" ajaknya
"Aku masuk kelas dulu ya" pamit Letha pada Ziko
"Iya, nanti kalo mau pulang telpon aja"
"Oke, byeeee" Letha melambaikan tangannya
Ziko tersenyum, membalas lambaian tangan Letha
"Lama ih" Yunna merangkul Letha, menariknya masuk meninggalkan Ziko yang memang sekarang beda jurusan
Ziko dipaksa pindah jurusan bisnis oleh Papanya. Ya mau tidak mau Ziko pindah. Masih satu kampus tapi beda gedung
"Powerpoint lo udah rampung semuanya?" Tanya Yunna masih merangkul Letha berjalan menuju kelas
"Udah, semalem dibantuin Awa" jawab Letha sambil tersenyum senang
Sampai dikelas, keduanya langsung duduk tepat di belakang meja yang diduduki Ellen dan Nazwa yang sibuk dengan laptopnya masing-masing
Hanif juga sudah datang, ia duduk di meja depan. Sibuk dengan laptopnya
Hampir semua mahasiswa sibuk dengan laptopnya karena bersiap dan mempersiapkan presentasi penilaian semester 1
"Udah kelar?" Tanya Nazwa berbalik menatap Yunna
"Sedikit lagi"
"Ah gila! Deg-degan anjir. Deg-degan pas ditanya sama Mr. Sanjaya nya" Ellen memegangi dadanya
"Fighting Ellen, emot api" balas Letha
Ponsel Yunna bergetar, karena ada telpon masuk
"Leon? Ngapain nelpon?" Gumam Yunna
"Ecieee yang udah baikan" goda Letha
"Engga ya, gue belom maafin Leon" jawab Yunna lalu menjawab telpon Leon
"Iya, halo, kenapa? To the poin aja, gue sibuk"
"Gue sakit" balas Leon terdengar lemas
"Hah? Sakit apa? Ke rumah sakit lah, kenapa ngadu ke gue?"
"Lo kan dokter"
"Gue masih belajar. Gak usah bercanda, gue ada presentasi hari ini"
"Gue beneran sakit" terdengar Leon bersin 3 kali "Badan gue lemes banget, sakit pula. Kepala gue juga puyeng banget. Idung gue mampet. Suara gue serak seperti kodok" lanjutnya
Yunna menghelakan napasnya
"Lo sendiri di rumah?"
"Di apartment"
"Sekarang gue gak bisa kesana. Bentar lagi kelas mulai, gue ada presentasi semester. Lo telpon siapa kek, anak Bangtan lainnya aja"
Terdengar helaan nafas dari sebrang sana
"Yaudah kalo lo sibuk" balas Leon lalu sambungan dimatikan oleh Leon
"Kenapa?" Tanya Letha
"Leon sakit, dia di apartemen sendirian"
"Kok nelpon kamu sih? Kasih tau Mamanya aja"
"Masalahnya itu, Leon gak mau orang tuanya tau kalo dia punya apartemen"
Yunna menggigit bibir bawahnya, berpikir
•
• •
• • •
Ting tong ting tong
"Ada di dalem gak ya? Atau udah pergi berobat?"
Yunna mencoba terus menelpon Leon yang tidak diangkat dan menekan bel pintu apartemen Leon
"Tapi kok telpon gue gak diangkat?" Khawatirnya "Ck! Awas aja kalo boong"
Yunna menekan pin pintu apartemen yang memang diberi tahu Leon. Masuk kedalam mencari keberadaan Leon
"Leon?" Panggilnya, tapi tidak ada sautan
Yunna pergi ke kamar Leon. Ia menghelakan napasnya, menghampiri Leon yang Yunna yakin ada di balik selimut
Perlahan Yunna membuka selimut yang menutupi kepala Leon. Ia sedikit kaget melihat wajah pucat Leon dengan banyak keringat
"Leon" Yunna memegangi kening Leon
Leon membuka matanya perlahan
"Apa gue udah di surga?" Tanya Leon pelan+ngelantur
"Bukan, lo di neraka" balas Yunna sewot
"Di neraka ada bidadari juga?"
Ingin sekali Yunna menjambak rambut Leon jika saja pacarnya itu tidak sakit
Yunna pergi mengambil handuk dan baju ganti untuk Leon. Ia juga menurunkan suhu AC
"Bangun dulu sebentar" suruh Yunna
Leon menyingkirkan selimutnya sampai pinggang, lalu mendudukkan dirinya dibantu Yunna
"Lo demam tinggi Leon. Seharusnya lo pergi berobat, bukanya nelpon gue. Kebiasaan banget sih" omel Yunna sambil mengelap keringat yang ada di wajah dan leher Leon
"Lo kan dokter pribadi gue"
"Gue ingetin sekali lagi. Gue masih belajar" Yunna menatap Leon kesal, tapi ada rasa khawatir juga
Hachiwww
Leon menggosok hidungnya yang sangat geli
"Noh kan, pasti lo juga flu ketularan gue. Lo sih maen sosor aja. Jadi ketularan kan"
"Buka bajunya, nih ganti" suruhannya memberikan kaos putih
Leon membuka bajunya yang basah oleh keringat itu,
"Nanti, dilap dulu" Yunna mengelap punggung Leon
Setelah dilap, Leon kembali memakai bajunya
"Mau kemana?" Leon memegang tangan Yunna
"Yang pastinya gak liat lo"
"Jahat banget"
"Kalo lo gak sakit, udah gue kubur"
"Untung gue sakit"
Lagi,
Yunna membuang napasnya, berusaha sabar tidak betul-betul mengubur pacarnya itu
"Lo tuh nyebelin banget sih"
"Gue lagi sakit, Yunna. Bukanya diobatin malah diomelin terus"
"Ya lo kenapa nelpon gue? Lo kasih tau aja sana si Bellalabela noh" Yunna melipat kedua tangannya di dada "Lo pergi 2 minggu tanpa kasih kabar gue, sedangkan Bella lo kasih tau. Terus tiba-tiba dateng tanpa rasa bersalah. Giliran lagi gini, lo nelpon gue. Kurang sabar apa lagi coba gue?" tambahnya masih kesal
"Kalo gue kasih tau Bella, pasti dia khawatirnya alay. Kan kalo nelpon lo, pasti kena omel. Gue kangen sama omelan lo"
"Ck! Masih sempet-sempetnya yaa"
Yunna bangun, niatnya pergi ke dapur untuk membuat makanan, tapi Leon menarik tangan Yunna membuatnya jatuh kedalam pelukan Leon. Berbaring di atas ranjang king size
"Gue gak butuh makanan, gue butuhnya lo"
"Leon ih, lepas ah. Badan lo panas"
"Sebentar, sampe gue tidur"
Yunna diam beberapa saat
"Cepet tidur" balas Yunna melingkarkan tangannya ke pinggang Leon, menepuk pelan punggung Leon seperti sedang menidurkan anak kecil
Leon tersenyum, mengeratkan pelukannya
TBC~
......................
.............
......................
...Instagram...
YOUna127
❤️19.763 Suka
YOUna127 Baru tau sih kali maung bisa sakit🦁♡ @ b.leon_char01
Lihat semua 76.767 Komentar
-
-
-
-
-
-