Up

Up
Ma Luh Ma



Galuh kembali tertidur pulas setelah mendapatkan pengobatan dan pemeriksaan kembali


"Je-"


"Nanti aja ngobrolnya. Gue ke ruangan lo" potong Jeo


Rizal menganggukkan kepalanya paham. Dia tau, pasti sekarang otak sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja


"Kalo gitu, gue balik. Kalo ada apa-apa, panggil gue lagi"


"Iya" jawab Jeo


Rizal pergi setelah berpamitan kepada Yunna dan Ellen juga


Yunna menghampiri Jeo yang menatap Galuh. "Abang" panggilnya


Jeo menoleh


"Mau ngobrol diluar"


Jeo menganggukkan kepalanya. "Tolong bentar ya, El" pintanya


Ellen menganggukan kepalanya mengerti


Jeo dan Yunna keluar, duduk bersampingan di bangku yang ada di koridor


"Abang serius?" Tanya Yunna to the poin


"Mau gimana lagi? Semuanya udah terlanjur"


"Kak Arin gimana?"


"Nanti, abang coba ngomong baik-baik sama Arin"


"Tapi-"


"Kamu gak usah khawatir. Abang engga apa-apa. Arin sama Galuh juga engga akan kenapa-napa. Udah, kamu jangan nangis lagi" potong Jeo dengan senyumnya "Hari ini kamu berapa kali nangis hmmm? Itu idung, sama pipi kamu merah. Kalo Ziko liat, pasti diketawain abis-abisan"


"Abang ihhh, gak bercanda" rengek Yunna


"Kamu kira abang lagi stand up?"


Yunna menghembuskan nafasnya, lalu memeluk abangnya


Walaupun abangnya itu terlihat baik-baik saja, tapi Yunna sangat tahu jika abangnya sedang tidak baik-baik saja. Yunna sangat merasakannya


"Will everything be alright?" Tanya Yunna lagi


"Yes, everything will be fine. So, don't worry" balas Jeon membalas pelukannya


Yunna melepas pelukannya, menghapus air matanya


"Gak usah nangis. Jelek kamu, mirip si Red" Jeo tertawa meledak adiknya itu seperti tokoh kartun angry bird yang berwarna merah dengan alis tebalnya


Yunna hanya menatap Jeo


"Iya, iya maaf. Gitu aja baper" Jeo merangkul Yunna "Mending kamu sekarang pulang, tidur di rumah aja. Kasian Aga, nanti pulang gak ada siapa-siapa" tambahnya


Yunna melepas rangkulan abangnya


"Aku mau ke kamar Leon dulu"


"Kalo mau pulang bilang ya, nanti abang yang antre"


"Iya" jawab Yunna lalu bangun dan pergi


Jeo kembali masuk



•     •


•     •     •


Tok     tok     tok


Leon yang sibuk dengan laptop diranjangnya, menoleh. Menatap wanitanya yang berdiri di pintu. Dia menyimpan laptop, lalu menepuk kasurnya menyuruh Yunna untuk duduk


Yunna tersenyum, lalu duduk berhadapan dengan Leon


"Feeling better?"


Yunna hanya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban


"Kenapa lagi?"


"Tangan lo gimana?" Tanya Yunna malas menjawab pertanyaan Leon


Leon melihat tangannya yang diinfus


Tadi, saat mendengar Galuh mencoba bunuh diri di atap dan Yunna pergi menyusulnya, buru-buru Leon melepas paksa infusanya, membuat tangan Leon berdarah


"Gak papa" Leon menyodorkan tangan


Yunna memegang tangan Leon. Menunduk, memeriksanya apakah benar tidak apa-apa


"Will be alright?"


Leon menggenggam tangan Yunna yang sedang menggenggam tangannya. Ia mengerti apa yang dikhawatirkan wanitanya itu


Lagi,


Air matanya tidak bisa ditahan, menetes ke tangan Leon


Leon menangkup pipi kiri Yunna, mengangkat supaya menatapnya


"Semuanya pasti baik-baik aja, percaya deh. So, don't worry" katanya menghapus air mata Yunna "Jangan terlalu dipikirin. Nanti yang ada, lo ikutan sakit" tambahnya khawatir


Ini pertama kalinya Leon melihat Yunna seperti ini. Tentu saja membuatnya sangat khawatir. Leon kembali memegang tangan Yunna


"Udah makan?"


Yunna menganggukkan kepalanya


"Lo pulang aja ya, istirahat di rumah"


Yunna menggelengkan kepalanya


"Capek" Yunna memeluk Leon, menyandarkan kepalanya pada bahu pacarnya itu


Leon melepas pelukannya, lalu membaringkan dirinya


"Sini" Leon menyuruh Yunna untuk berbaring di sebelahnya


"Emang boleh?" Tanya Yunna ragu


"Hmmm" jawab Leon menganggukkan kepalanya


Yunna tersenyum, lalu ikut membaringkan tubuhnya di samping Leon dengan lengan kanan menjadi bantal. Memeluk dan bersandar nyaman pada dada bidang Leon. Leon membalas pelukan Yunna. Walaupun tangannya yang sedang diinfus sakit karena tertarik, tapi ia menahannya


"Good night by" bisik Leon


"Too" balas Yunna tidak kalah pelan


Oke,


Malam ini Yunna harus mengistirahatkan tubuh dan juga otaknya untuk esok yang kita tidak tahu akan seperti apa. Yunna harap besok akan lebih baik lagi dari hari ini. Semoga saja


💦


💦


💦


Jeo pergi keluar untuk mengangkat telpon. Duduk di bangku yang ada di koridor rumah sakit. Ia tidak ingin menggangu Ellen dan Galuh yang tertidur pulas


"Halo" jawab Jeo lembut


"Are you okay?" Tanya Emy diseberang sana


"Hmmm" balas Jeo menganggukkan kepalanya


"Besok Mama ngambil penerbang pagi"


"Una sama Aga pasti seneng banget"


"Jangan kasih tau mereka"


"Iyaaa"


Keduanya saling diam


"Everything will be fine. Don't worry" ucapan Emy mencoba memberi kekuatan dan ketenangan untuk putranya itu


Jeo tersenyum, menganggukkan kepalanya


"Iyaa, Ma" balas Jeo seadanya. Dia juga bingung dengan situasi ini. Masih tidak percaya akan ucapannya


Apakah dia akan benar-benar menikah dengan Galuh, membesarkan dan menjadi Ayah untuk bayi yang bukan anaknya?


Lalu,


Bagaimana dengan Arin wanita yang sangat ia cintai selama 7 tahu ini? Wanita yang sangat ia sayangi dan lindungi seperti yang ia lakukan kepada adik dan Mamanya


Bagaimana ia harus memberitahu Arin?


Bagaimana reaksi Arin setelah tahu?


Apakah Arin akan membencinya?


Apakah ia bisa meninggalkan Arin begitu saja? Apakah Jeo bisa melepaskan Arin?


Tidak! Jeo tidak bisa


Tapi bagaimana dengan Galuh nantinya? Dia tidak ingin Galuh mencoba membunuh dirinya sendiri seperti tadi


Jeo sayang kepada Galuh. Tapi hanya sebatas sayang dan care kepada teman, tidak lebih


Sial! Semuanya gara-gara laki-laki sialan itu


Lagi,


Jeo menghelakan napasnya


Kadang Jeo berpikir ingin menukar otak pintarnya dengan otak udang saja. Ia penasaran bagaimana cara berpikir udang dan apa yang dipikirkan udang


Konyol?


Iya konyol. Jeo gila kalo lagi banyak pikiran


Btw,


Arin atau Arina Megan adalah pacar Jeo. 2 tahun lebih tua dari Jeo. Kakak kelas saat SMA. Mereka berpacaran sudah 7 tahun dan mulai menuju serius


Kalian percaya love first sight? Kalo gak percaya engga masalah, tapi itulah yang dialami Jeo pertama masuk SMA saat melihat Arin yang sedang lari di lapangan karena sedang di hukum


Dari situ, Jeo dengan terang-terangan dan berani mendekati Arin yang terkenal galak, julit and judes


Usaha tidak mengecewakan hasil. 6 bulan Jeo berusaha mengejar Arin, banyak sekali rintang seperti halnya drama dan akhirnya saat kelulusan, Arin menerima Jeo sebagai pacarnya


Tidak mudah bagi mereka menjalin hubungan selama 7 tahun ini. Banyak sekali cobaan di hubungan mereka. Apalagi hubungan mereka selalu LDR. Keduanya sibuk dengan kuliah masing-masing. Tentu saja, putus-nyambung adalah hal biasa bagi mereka


Kalo harus diceritain, panjang pasti. Harus buat store lagi


TBC~


...****************...


...*****...


...****************...


~Arina Megan