
29
Leon memberhentikan motornya di depan rumah bibi Yunna
"Ini bener rumahnya?" Tanya Leon, memastikan
Soalnya dari tadi Yunna bilang, lupa-lupa tapi inget, inget tapi lupa-lupa
"Iya lah, masa gue lupa sama rumah bibi sendiri" Yunna turun setelah membuka helmnya
"Tadi lo bilang, inget tapi lupa-lupa, lupa-lupa tapi inget. Kan gak lucu kalo salah rumah" Leon menggantungkan helmnya di kaca spion
Seorang wanita keluar
"Bibi!" Seru Yunna senang
"Una?"
Yunna berlari, langsung memeluk Bibinya
Leon turun dari motor, menghampiri Yunna
"Kok baru nyampe? Dari sana jam berapa?" Tanya Mara
"Jam 2. Tadi banyak berenti di jalan"
"Pantesan lama banget nyampenya. Bibi mah takut nyasar aja"
"Engga lah Bi" Yunna tertawa "Oh iya, ini Leon"
Leon tersenyum, bersalaman dengan Mara
"Saya Leon, pacar Yunna"
Mara tersenyum
"Maaf ya, rumah Bibi segini adanya"
"Jangan bilang gitu Bi, malah saya seneng bisa maen ke rumah Bibi"
"Yaudah yuk masuk, bersih-bersih dulu terus kita makan. Bibi udah bikin banyak masakan buat kalian"
"Haru sama Mamang mana Bi?" Tanya Yuu
"Ke masjid. Dari tadi Haru nanyain kamu terus, kapan dateng"
Mara merangkul Yunna masuk ke dalam rumah, diikuti Leon di belakangnya
S
K
I
P
Dengan membawa kipas tangan yang terbuat dari bambu, Yunna mengipasi dirinya keluar rumah. Duduk di bangku persegi panjang yang terbuat dari kayu yang berada tepat di bawah pohon mangga halaman rumah bibinya
Yunna tidak bisa tidur karena panas, kegerahan
Ia mengambil gitar yang tergeletak. Tidak tau punya siapa, tapi sepertinya milik Haru. Memetik gitar dengan ngasal. Yunna tidak bisa bermain gitar
-
'Papa bisa main gitar?'
'Bisa dong. Emang kenapa? Una mau bisa main gitar?'
'iya! Abang nyebelin banget, gak mau ngajarin aku main gitar'
Alex tersenyum, mengusap rambut Yunna sayang
'Sini Papa ajarin sampe kamu bisa, jago main gitarnya'
'Yes! Papa paling the best deh!' Yunna yang masih berumur 10 tahun memeluk Papanya senang
-
Yunna tersenyum, mengingat soal sang Papa
"Bohong. Katanya Papa mau ngajarin aku main gitar sampe jago. Tapi, Papa pergi duluan" gumamnya
"Dor"
"Astagfirullah!" Kaget Yunna
Leon tertawa, duduk di sebelah Yunna
"Gue kira mba khunti lagi duduk"
"Mana ada mba khunti secantik gue"
"Cantik banget cewe gue" Leon menekan kedua pipi Yunna "Kenapa di keluar? Emang gak capek?" Tambahnya bertanya
"Gak bisa tidur, gerah banget"
"Kenapa senyum-senyum sendiri? Kan serem"
"Lagi keingetan sama Papa. Kangen banget sama Papa. Papa tau gak ya gue lagi kangen?" Yunna menghelakan napasnya "Gimana sih cara ngilangin rasa kangen? Demi apapun, rasanya gak enak banget"
Leon bergeser duduknya
"Sini" Leon menepuk pahanya menyuruh Yunna menidurkan kepalanya
"Ngapain?"
"Sini tiduran, gue kipasin"
Yunna tertawa, ia menidurkan dirinya dengan paha Leon menjadi bantal. Menatap Leon dari bawah yang mengipasinya
Yunna menutup mulutnya karena menguap
"Tidur, nanti gue bangunin kalo mau pindah ke dalem"
"Kirain mau di gendong"
"Gendong udel lo keluar. Lo kira bocah, badan lo berat"
"Usapin dong rambutnya"
"Dasar bocah" Leon mengusap rambut Yunna pelan
Yunna tersenyum, ia menutup matanya
"Jangan sedih sendiri. Mulai sekarang dan seterusnya jangan sedih sendiri. Gue selalu siap nemenin saat lo butuh"
Yunna membuka matanya, menatap Leon yang tersenyum menatapnya
"Sayang banget gue sama lo, Yunna"
Yunna tersenyum
"Me too"
"Mau rasa apa?" Tanya Argha
"Rasa yang pernah ada" jawab Ran so sedih
"Lalu?"
"Pergi jauh begitu saja"
Keduanya tertawa bersama. Mereka sedang di warkop, beli minuman dan gorengan sekalian jalan-jalan di komplek perumahan Ran
Argha sengaja main ke rumah Ran. Katanya males di rumah, sendirian. Mendadak, bang Je dapet telpon dari rumah sakit
"Tea jus apel. Jangan lupa gorengannya"
"Iya bawel"
Argha masuk, sedangkan Ran menunggu di luar
Males dia kalo ikut masuk. Rame banget soalnya, banyak banget cowo lagi pada ngumpul
Argha keluar, membawa 2 gelas es dan seplastik gorengan
Ran mengambil plastik gorengan. Keduanya kembali berjalan pulang ke rumah Ran
"Ga" panggil Ran "Kalo misalnya ada yang suka sama lo, gimana?" Tanyanya
"Alhamdulillah"
"Alhamdulillah doang?"
"Terus?"
"Gak penasaran?"
"Engga, lagian nanti lo ngasih tau gue siapa orangnya" jawab Argha lalu meminum jus jeruknya "Emang kenapa? Ada yang suka sama gue? Lo cemburu?"
"Dih, engga ya"
"Ran, pacaran yu"
"Ngajak pacaran kayak ngajak maen gundu"
Argha tertawa
"Kalo di itung-itung, udah 7 kali gue nembak lo, tapi lo selalu nolak gue. Lo naksir cowo lain?"
"Engga"
"Terus kenapa?"
"Kayanya Hana suka sama lo" Ran mengalihkan pembicaraan
"Gak usah bahas yang lain. Jawab dulu"
"Gue serius"
"Udah tau"
Ran menatap Argha
"Terus?"
"Ya gak terus-terusan" jawab Argha biasa saja"Sekarang jawab yang tadi" tambahnya menatap Ran
"Gue takut kita gak temenan lagi"
"Ya iya lah. Lo pacar gue, gue pacar lo. Kita jadi pacaran, engga temenan lagi"
"Kalo kita pacaran, terus berantem dan ujung-ujungnya putus pasti gue sama lo gak temenan kayak biasa lagi. Pasti bakalan canggung banget dan saling ngehindar. Gue gak mau" jelas Ran "Kalo misalnya kita masih tetep kayak gini, walaupun kita berantem, pasti kita masih temenan kayak biasa lagi. Gak ada rasa canggung" lanjut Ran
"Tapi lo juga suka kan sama gue?"
"Apaan sih?! Engga ya!" Jawab Ran tidak santai membuat Argha tertawa
"Udah ah! Gak usah bahas itu lagi. Males banget"
"Iya napa"
"Kok lo diem-diem aja?" Sekarang Ran yang nanya
"Diem-diem apaan?"
"Lo kan tau, Hana suka sama lo. Lo kok diem-diem aja"
"Ya terus harus gimana? Harus teriak-teriak kasih tau dunia kalo Hana suka sama gue?"
"Alay banget ih"
"Lah makannya itu"
Keduanya sampai di rumah. Mereka duduk lesehan di teras rumah Ran. Argha meletakan gorengannya di bawah
"Apa salahnya nyoba buat pacaran? Kata orang, cinta tumbuh seiring dengan waktu. Hana juga cewe baik, cantik pula. Emang lo gak suka?"
"Katanya udah, gak usah bahas itu. Gimana sih lo"
"Gue nanya doang elahhhhhh"
Argha tersenyum
"Hana cewe baik-baik, gue gak mau nyakitin dia. Lagian ada hati yang harus gue jaga"
Argha mengacak rambut Ran yang diam menatapnya
"Gue ambil cabe dulu" katanya lalu masuk ke dalam
"Hati siapa? Hati gue?" Gumam Ran
Ia tersenyum, memegang atas kepalanya yang diusap Argha
Bohong kalo Ran bilang gak suka sama Argha. Bukanya gak mau pacaran, Ran cuma takut hubungannya dengan Argha jelek nantinya. Seperti di cerita novel atau ******* atau di drama yang ia tonton
Argha?
Jangan ditanya!
Udah 7 kali ngajak pacaran, 7 kali pula di tolak sama Ran
Tentu saja Argha tidak kesal atau benci. Toh mereka sudah kenal lama
TK bareng, SD bareng, SMP bareng dan sekarang SMA juga bareng. Udah tau baik buruk masing-masing
...****************...
...................
...-----...
TBC~