Up

Up
Ga Luh Wa



"Wa, gue tinggal bentar ya. Mau ngambil stok kopi. Udah dateng, bang Piyan chat gue"


"Kesana sama siapa?"


"Minjem motor lo" jawab Paul sambil tersenyum


"Kuncinya di loker"


"Oke" Paul memberikan jempolnya


"Hati-hati kak!"


"Iyoyo!" Balas Paul yang sudah jauh


"Wa, milkshake strawberry 1. Meja nomor 2" kata Abil


"Iya" balas Nazwa lalu membuat pesanan


"Wa" panggil Paul kembali lagi


"Kenapa? Gak jadi?"


"Ban motor lo kempes"


"Hah? Kok bisa?" Nazwa tidak percaya


"Mana gue tau"


"Sini gue aja, lo liat motor lo sana" Abil mengambil alih kerjaan Nazwa


"Tadi engga"


"Bocor kali. Gue pake motor Abil aja" Paul mengembalikan kunci motor pada Nazwa


Nazwa dan Paul keluar bersama


Benar saja, ban belakang kempes


"Bocor kayanya"


Nazwa menghelakan napasnya


"Iya kayanya" balas Paul "Gue mau ngambil kopi dulu" tambahnya pamit


"Iya, hati-hati kak"


Paul pergi dengan motor Beat hitam Abil


Nazwa berjongkok di hadapan ban motornya yang kempes


"Akhir-akhir ini kok lo sering kempes sih? Kenapa?" Tanya Nazwa pada motornya


"Teteh!"


"Teh Awa!"


Nazwa bangun, mencari suara yang sangat dikenalnya. Ia kaget melihat siapa yang menghampirinya


"Kalian kenapa disini?" Tanyanya


"Ayah ada proyek di Jakarta, kebetulan deket sama kampus kamu. Sekalian aja Ayah ajak Ibu sama Sandy ikut, sekalian mau liat kamu"


Nazwa mencium tangan Ayah dan Ibunya bergantian


"Tadi kita ke kontrakan, tapi katanya kamu pindah. Ibu telpon Una aja, di kasih tau alamat kostan kamu yang baru" jelas Ibunya


"Terus kalian ke sana?"


"Iya, kamunya gak ada. Di kasih tau alamat kerjanya sama temen kamu. Yaudah, kita kesini"


Nazwa tersenyum, memeluk sang Ibu


"Temen-temen teteh cantik-cantik" kata Sandy


"Kenapa gak kasih tau aku dulu sebelumnya? Kalian kan jadi muter-muter"


"Kamu gak bilang kalo pindah kontrakan" Ibu melepas pelukannya


"Tadinya aku tidur di rumah Una, tapi gak enak juga sama Una. Aku pindah aja, kebetulan bayaran gak terlalu tinggi"


"Temen Teteh baik-baik, cantik-cantik juga"


Nazwa tersenyum, mengacak rambut adiknya


"Ini, Ibu bawa banyak makanan buat kamu. Makan dulu yuk, kamu udah makan belom?" Ajak Ibu


"Sekarang masih jam kerja, Ibu"


Dari kejauhan, Agam melihat Nazwa dan menghampirinya


"Ada apa ini?" Tanyanya


Nazwa menatap Agam kaget


"Engga ada apa-apa kok, mereka Ibu, Ayah sama adik gue" jawabnya memperkenalkan keluarganya "Ini Agam, yang punya Kafe tempat aku kerja" tambahnya memperkenalkan Agam kepada orang tuanya


"Agam" Agam tersenyum memperkenalkan diri


"Terimakasih banyak sebelumnya udah banyak bantu anak Ibu. Ibu banyak berterimakasih sama kamu nak" Ibu menarik Agam kedalam pelukannya


Tentu saja Agam kaget. Nazwa juga


"I-iya Bu, sama-sama" balas Agam


"Ibu, sekarang aku masih kerja. Ibu, Ayah sama Sandy nunggu di rumah Una aja ya" Nazwa menarik Ibunya "Aku pesenin grab aja. Nanti jam 12 aku ke sana" lanjutnya


"Masuk aja, kalian ngobrolnya di dalem sambil makan juga. Lagian capek juga harus mundar-mandir" kata Agam


Nazwa menatap Agam tidak enak


"Gak papa" lanjut Agam karena tatapan Nazwa "Ayo masuk, ngobrolnya di dalem"


Ibu, Ayah dan Sandy masuk bersama Agam


Ketiganya kagum melihat isi Kafe yang terlihat luar biasa itu. Maklum pertama kali ke Kafe


"Ibu sama bapak mau apa? Saya buatkan" tanya Agam


"Gak usah. Ini Ibu bawa banyak makanan buat Awa sama buat yang lainnya. Sini, kamu ikut gabung juga" balas Ibu membuka box kotak sedang yang berisi banyak makanan


Agam tersenyum, ikut duduk di hadapan Ibu


Nazwa sangat merasa tidak enak pada Agam. Bukanya Nazwa malu, tapi tidak enak saja tiba-tiba keluarganya datang membawa banyak makanan dan memakannya di Kafe. Pasti akan merepotkan Agam juga nantinya


"Ibu, di sini gak boleh bawa makanan dari luar dan di makan disini. Nanti-"


"Gak papa Wa, gak papa" potong Agam "Gak papa, kita lanjutin aja. Ini Ibu buat sendiri?" Tambahnya


Ibu tersenyum, menganggukan kepalanya


Agam memakan bolu gulung yang Ibu bawa


"Wah! Enak banget" seru Agam


"Emang bolu buatan Ibu mah enak banget" seru Ayah ikut memakan bolu


Tidak hanyalah bolu, ada banyak kue tradisional yang Ibu bawa


"Teteh gak ikut makan?" Tanya Sandy


Agam menarik tangan Nazwa supaya duduk di sebelahnya, ikut makan bersama


Agam memberikan sepotong bolu pada Nazwa. Nazwa tersenyum, lalu ikut makan


...🦁🦁🦁...


"Bibi masak apa?" Tanya Yunna menghampiri Bibinya yang sedang masak


"Bikin liwetan. Semalem kamu bilang mau liwetan kan"


Yunna tersenyum


"Leon kemana?"


"Ke balong, bantuin Mamang manen ikan"


"Gak kebayang Leon manen ikan" Yunna tertawa, membayangkan betapa repotnya Leon membantu pamannya di balong


"Ondangan kapan? Abis kondangan jangan langsung pulang. Pulang ke sini dulu yaaa"


"Pulangnya jadi besok aja, ondangannya nanti malem"


"Betah dia di sini" Bibi tertawa


Yunna ikut tertawa


"Iya Bi, betah di sini. Healing banget katanya"


"Semalem Leon keliling pasar nyari tukang kipas angin yang masih buka, buat kamu. Bener-bener cinta banget sama kamu"


"Hah? Seriusan? Itu kipas angin baru? Ih,, aku baru engeh"


"Iya, itu baru. Semalem Leon beli. Abis gendong mindahin kamu, dia minta anter Harun ke pasar" jawab Bibi antusias "Kamu baik-baik sama Leon. Dia cowok baik, jangan sampe kamu nyesel nantinya" tambahnya menasehati


"Kalo kamu bahagia, Bibi juga ikut seneng. Jangan sedih-sedih sendiri lagi yaaa"


Yunna tersenyum, ia memeluk Bibinya


"Iya Bibi kuuu" balas Yunna


"Yang lebih penting! Leon ganteng, kaya pula, plus baik. Memperbaiki keturunan"


"Iya Bi, iya" balas Yunna


...💦💦💦...


Tok      Tok      Tok


"Masuk" suruh Agam


Pintu terbuka, Nazwa masuk menghampiri Agam yang sepertinya sibuk mengerjakan tugas kuliahnya


"Kenapa?" Tanya Agam menatap Nazwa


Nazwa meletakan segelas latte di meja


"Makasih udah nganterin Ibu sama Ayah ke terminal. Maaf juga kalo tadi mereka ngerepotin"


"Lo udah 6 kali bilang kayak gitu, Nazwa"


"Pokonya makasih banyak. Elo udah banyak bantuin gue"


"Iya Nazwa, sama-sama"


Nazwa tersenyum, Agam juga ikut tersenyum


"Aku balik ke depan ya" pamit Nazwa


"Tunggu"


Nazwa berbalik kembali


"Udah makan?"


"Hah?"


"Lo udah makan belom?" Ulang Agam


"Belom, nan-"


"Kok lo belom makan sih? Lo kan punya mag, jam segini perut lo belom diisi. Pasti cuma makan tadi siang doang kan, pas lagi sama keluarga lo. Nanti kalo mag lo kambuh lagi kayak kemaren gimana?" Potong Agam dengan satu tarikan nafas


Nazwa menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal kaget dan bingung juga


"Mau bantuin bang Paul beres-beres tutup dulu. Soalnya Abil mau izin pulang duluan. Abis itu mau beli pecel lele. Sebelumnya aku udah makan roti bakar sama minum obat mag yang kemaren lo beli"


Agam menutup leptopnya, bangun memegang tangan Nazwa


"Ayo gue ikut. Gue juga belom makan, mau banget makan pecel lele" Agam menarik Nazwa keluar


"Terus kak Paul gimana?"


"Abil, bantuin bang Paul tutup Kafe. Nazwa ada urusan sama gue" teriak Agam


"Lah? Bang? Terus acara kencan gue gimana woi!" Bingung Abil berteriak


Tidak disahuti oleh Agam karena sudah di luar Kafe


TBC~


...****************...


...----------------...


..............


Bang Paul




Abil