
"Lama banget ih! Ngapain sih?"
Leon duduk di hadapan Yunna
Mereka sedang berada di kantin, berdekatan dengan masjid kampus yang sudah mulai ramai oleh kaki-kaki yang akan sholat Jum'at
"Nganter Bella ke perpus dulu" jawabnya "Belom mesen apa-apa?" Tambahnya bertanya, karena tidak ada apa-apa dihadapan Yunna, hanya ada milkshake
"Belom lah, kata lo jangan makan sebelum lo dateng"
"Ya Allah, nurut aja anak bagong" Leon mengacak rambut Yunna pelan
"Engga ya, masih kenyang gue"
"Ada aja alesannya, heran"
Yunna mendelikan bahunya malas membalas ucapan Leon
"Mau makan apa?" Tanya Leon
"Mie ayam" jawab Yunna cepat "Tapi pengen seblak juga. Pengen baso mercon, pengen burger. Ah! Banyak pengenya banget sih gue" tambahnya kesal sendiri
"Katanya belom laper"
"Tadi, sekarang udah laper" Yunna tersenyum
"Tadi pagi lo udah sarapan Indomie soto, ya kali mie lagi. Lo tuh calon dokter harus makan makanan yang sehat. Inget 4 sehat 5 sempurna"
Seperti biasa, Leon selalu mengingatkan Yunna tentang makanan sehat
"Iya, gue tau. Tapi makanan 4 enak 5 sempurna harus wajib"
"Yaudah lah suka-suka lo aja. Jadinya apa?"
"Mie ayam bakso"
Leon pergi memesan makanan untuk Yunna
Sambil menunggu Leon, Yunna kembali memainkan ponselnya, membuka apk Instagram dan membalas chat teman-temannya
Leon kembali membawa 1 mangkok mie ayam bakso, 1 air mineral dan es teh manis untuk Yunna. Sedangkan Leon hanya meminum segelas jus mangga
"Lo gak makan?"
"Nanti aja, nanggung bentar lagi Jum'atan"
"Oh" balas Yunna mengaduk mie ayamnya yg sudah diberi sambel
"Jangan banyak-banyak"
"Bawel ih" balas Yunna lalu memakan makanannya
"Mau?" Tawar Yunna
"Emang mau ngasi?"
"Engga" jawab Yunna lalu kembali memakan mienya
"Woi! Pacaran mulu lo berdua. Emang udah official?" Kata Yoga
"Langsung kawin kita mah. Iya gak Na?"
"Ngok!" balas Yunna yang mendapatkan tawa dari Yoga
"Ayo, Alif sama Agam udah duluan" ajak Yoga
"Gue ke masjid dulu. Jangan kemana-mana" kata Leon ke Yunna
"Minjem hp lo dong"
"Demen banget foto di hp gue. Memori penuh sama foto lo doang" Leon memberikan ponselnya
"Lagian hpnya bagus sih"
"Beli yg baru makanya"
"Yaudah sih iya. Nanti dihapus abis gue kirim ke hp gue" balas Yunna sewot "Udah tau penuh, tapi masih banyak aja foto gue" tambahnya
"Jangan di hapus lah! Stok buat nakutin tikus di gudang"
"Sialan lo"
Leon dan Yoga tertawa
"Itu topi lepas. Lo mau sholat pake topi?"
Leon membuka topi hitamnya. Memakaikannya pada Yunna. Ia juga membuka jaket bombernya, diletakan di bangkunya
"Pake lagi jaket lo" suruh Yunna "Ke masjid mau pamer ketek apa lo?" Tambahnya, karena saat Leon membuka jaketnya hanya memakai kaos hitam tanpa lengan
"Ribet, kudu ngegulung dulu"
"Pake lagi! Gue siram pake kuah mie mau?"
Tanpa membalas ucapan Yunna, Leon kembali memakan jaketnya
"Kalo ada yg nanyain nama lo, bilang aja nama lo Ijem. Kalo ada yg nanyain rumah lo, bilang aja lo tinggal di rumah keong. Kalo ada yg minat no hp lo, kasih aja nomor togel. Kalo-"
"Bacot anjing! Kapan sholatnya kalo lo banyak bacot!" Yoga menarik Leon
Yunna tertawa
Ia memainkan ponsel Leon. Banyak mengambil foto dirinya sampai puas untuk stok asupan media sosialnya
🖤
🖤
🖤
Menjadi yang terbaik itu memang sulit, tapi setidaknya berusaha menjadi baik
Selama menjabat sebagai wakil ketua OSIS, Argha sangat sibuk mengurus ini mengurus itu, mundar-mandir kesana-kemari seperti setrikaan mempersiapkan pentas seni hari Sabtu nanti. Karena si ketua OSIS sibuk dengan olimpiade, jadilah Argha menggantikan Bagas si ketua OSIS
saking sibuknya, bahkan Argha lupa sudah makan atau belum sampai sakit perut karena asam lambungnya naik. Untung saja ada Ran yang selalu membantu Argha, entah soal membantu urusan Argha atau mengingatkan soal makanan dan membawakan makanan untuk Argha
Seperti sekarang, Argha memilih untuk tidur di UKS
Tidak salah bukan, jika ia ingin istirahat sebentar?
'Hujan' nama si penelpon
"Hmmm"
"Lo dimana?" Tanya Ran di sebrang sana
"Lo dimana?" Tanya balik Argha
"Kalo di tanya tuh jawab dulu"
"Di UKS, emang kenapa?"
"Oh" jawab Ran lalu mematikan sambungannya
"Gak jelas banget anak perawan Bunda Nasa" gumam Argha lalu kembali memejamkan matanya
Tidak lama ternyata Ran datang
Ran masuk menghampiri Argha yg sedang tidur di ranjang yang sengaja disediakan UKS
Ran duduk di ranjang yang berada di sebelah ranjang yang ditiduri Argha
"Lo terlalu maksain diri" gumamnya
Argha membuka matanya
"Berisik banget"
Ran mendengus sebal
"Nih" Ran memberikan kotak bekal yang berisi roti dengan isian susu coklat
"Tolong dong, jangan sakit"
Argha tertawa. Membuka kotak bekal, lalu memakan rotinya
"Kalo gue sakit kenapa?" Tanya Argha sambil mengunyah
"Hmmmm?" Ran berpikir "Kalo lo sakit ya repot" katanya
"Bilang aja lo khawatir kan"
"Ya iya lah bego, khawatir. Nanti siapa yang anter-jemput gue? Siapa yang beliin gue makanan kalo gue tiba-tiba laper? Siapa yang gue pukul kalo gue kesel? Siapa yang gue isengin? Siapa hah? Siapa?"
"Ohhh,, jadi selama ini gue cuma di manfaatin doang?" Argha berniat menggoda Ran
"Tau ah! Nyebelin banget, rese lo" kesal Ran lalu pergi meninggalkan UKS
Argha tertawa gemas
"Gemes banget gue sama lo hujan. Pengen langsung gue halalin aja rasanya" gumamnya
-
-
-
Flashback
"Apa lo liat-liat?"
"Capek gue liat lo" jawab Ran "Mending kita ke warkop aja yu Din, beli es krim" tambahnya
"Jangan dong. Masa temen lagi galau abis diputusin kita tinggal. Kan kasian, kalo dia gantung diri di pohon toge gimana?" Jawab Nadine
Sekarang mereka sedang berada di rumah Ran. Tepatnya di ruang tv
Argha membaringkan tubuhnya di sofa panjang, sedangkan Nadine dan Ran duduk di bawah lesehan habis memakan mie rebus
"Heran gue mah, apa yang harus digalawin sih dari cewe cabe rawit itu? Kalo putus ya udah, cari yang baru. Ribet banget"
"Seenggaknya dia cantik" balas Argha
"Cantik udel lo buyar!" Saut Nadine
"Dari awal gue liat si Amel itu, gak suka banget gue. Centil, pecicilan, ribet pula" Ran
"Lebih-lebih elo lah Ran. Cantik? Udah pasti lah. Kalian juga kan udah kenal dari didalem rahim noh, udah tau baik-buruknya masing-masing" Nadine berbalik, duduk menghadap Argha "Jangan pacaran sama cabe rawit lah. Kalian aja sana pacaran, gue dukung dah. Jangan buang-buang waktu" tambahnya semangat
Ran menatap Nadine sedikit kaget
Argha menoleh, menatap Ran
"Hujan?" Gumamnya "Engga. Jangan hujan" tambahnya
Ran menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Bingung dia, penasaran juga kenapa Argha jawab gitu
"Why not? Kalian kan udah kenal sejak di dalem rahim"
"Ya soalnya gue gak mau pisah atau menjauh sama Ran" jawab Argha "Kalo misalnya kita pacaran, pasti kemungkinan bisa berantem, terus ujung-ujungnya putus dan hubungan gue sama Ran jadi canggung. Lama-lama bisa menjauh kan"
Nadine berdecak kesal mendengar jawaban Argha yang menurutnya menjadi alasan. Nadine tau selama ini Ran suka dan memendam rasa kepada Argha. Walaupun Ran tidak memberi tahu, tapi Nadine sangat tau dan peka
"Lebih baik kita sahabatan kayak gini aja. Lebih nyaman juga kan, iya gak hujan?" Tambahnya
"Iya in aja, biar cepet" jawab Ran
"Persahabatan yang sangat keras" balas Nadine
"Udah ah, sini gue aja yang nyuci piring" Ran mengambil mangkok kosong milik Nadine dan miliknya lalu pergi ke dapur
'Kalo gue jadi Ran, gue gak bisa nahan selama ini. Kasian banget bebeb hujan gue ditolak secara halus😢' -Nadine
-
-
-
Itu sebabnya kenapa Ran selalu menolak ajakan berpacaran Argha. Ran selalu menganggap ajakan itu dengan candaan. Ia tidak ingin semakin jauh berharap mempunyai hubungan lebih dari teman
Tidak, Ran tidak mau
Ia masih bersyukur walaupun hubungan Ran dan Argha hanya sebatas teman, Argha selalu ada dan selalu siap jika Ran sangat membutuhkannya
Tbc~