
Di ruangan yang sunyi, sepi dan senyap. Hanya ada Leon yang masih sibuk dengan berkasnya, tiba-tiba pintu terbuka lebar tanpa ada yang mengetuk membuat Leon sangat kaget
"Astagfirullahalazim!" Kagetnya "Jantung gue" Leon bersandar, memejamkan mata sambil memegangi dadanya
"Assalamualaikum" salam Hanif menghampiri Leon, menarik bangku dan duduk berhadapan dengan Leon "Tumben banget nyebut" tambahnya
"Apaan sih setan? Kaget gue" omel Leon
"Lo yang setan, gak jawab salam gue"
"Wallaikumsalam" balas Leon "Lu ngapain disini? Kapan dateng?" Tambahnya kembali fokus pada berkasnya
"Bareng Tante Rissa"
"Syukur deh, gue jadi gak sendirian"
"Masih banyak apa kerjaan lo?"
"Mau bantuin?"
Hanif memainkan ponselnya, diam-diam memotret Leon yang sibuk dengan berkas dan pulpen di tangannya lalu dikirimkan kepada Yunna
"Lo sibuk banget sampe gak ngabarin Una" celetuk Hanif
"Hp gue ilang" balas Leon tanpa menoleh
"Beli baru lah. Di sini gak ada konter hp?"
"Gak sempet"
"Ya kan bisa pake telpon ini" Hanif menunjuk telpon kantor
"Gak apal nomornya"
Hanif menatap Leon kesal
"Ditinggal lo gak ada kabar, Una jadi bucin banget. Bucinya ngegalau, puyeng gue ngeladeninya. Setiap di tanya 'Ada balesan?' pasti jawabnya. 'Gak ada, mati kali'. Kalo di tanya 'Mau kemana?' jawabnya 'Mau cari selingkuhan'. Baru ditinggal ke Jepang, apalagi kalo ditinggal mati, beneran gila kali" adu Hanif
"Sembarangan kalo ngomong"
"Lu gak tau aja, akhir-akhir ini Una sering digangguin si Andi sama anak gengnya"
Leon menatap Hanif
"Andi siapa?"
"Cowok brengsek yang gangguin kak Galuh. Sekarang dia gangguin Una juga, udah 3 kali. Parahnya lagi, sampe ngobrak-abrik rumah Una"
"Yunnanya gimana?"
"Gak papa" jawab Hanif "Semenjak itu, kita gak pernah ngebiarin Una pergi sendiri"
"Bukannya udah masuk penjara tu anak?"
"Gue kira juga gitu, tapi gak tau kenapa tu anak bisa lolos dari polisi"
Leon menghelakan napasnya
"Makanya lo cepetan pulang bodoh. Maung lo uring-uringan gak ada pawangnya" tambahnya
~
"Assalamualaikum ukhti~" salam Yunna duduk dihadapan Nazwa yang menidurkan kepalanya di meja
"Wallaikumsalam" balas Nazwa mengangkat kepalanya
"El mana?"
"Kamar mandi"
Keduanya sedang di perpustakaan. Mereka belum pulang karena ada kelas sampai jam 10 malam
"Kenapa lagi?" Tanya Yunna. Ia tau kalau sahabatnya ini sedang memikirkan sesuatu
Nazwa menatap Yunna
"Gue jauh-jauh aja kali ya sama Agam?"
"Emang kenapa?"
"Capek aja" jawab Nazwa 5L
Lelah
Letih
Lesu
Lemas
Love you
Canda love you🤣
"Artinya lo kalah dong"
Lagi, Nazwa menghelakan napasnya
"Nih ya Wa, jangan terlalu diambil pusing omongan orang-orang. Lo gak bisa kan nutup mulut mereka pake 2 tangan lo. Yang lo bisa, lo harus nutup telinga pake tangan lo. Jangan terlalu peduli sama omongan orang tentang lo. Mereka gak tau apa-apa. Pasti selalu ada orang yang sirik dan mau liat lo gagal. So, lo harus kuat. Allah gak akan ngasih cobaan diluar batas kemampuan umatnya"
"Tapi gue emang udah kalah. Kalah cantik, kalah modis, kalah pinter. Dan yang buat gue kalah telak, mereka anak dari keluarga kalangan atas"
"Justru itu! Mereka kalah sama lo. Karena gue yakin, pasti Agam juga ada rasa sama lo"
"Udah ah, pusing gue. Masalah tugas kuliah aja udah buat gue keleyengan" Nazwa kembali melihat bukunya
"Oh iya" Nazwa menatap Yunna "Leon apa kabar? Lo selalu ikut puyeng soal masalah gue, padahal lo juga lagi puyeng mikirin Leon" tambahnya
"Gue kira udah mati, ternyata masih hidup"
"Hah?" Tanya Nazwa tidak paham
"Nih," Yunna menunjukkan foto Leon yang dikirimkan oleh Hanif pada ponselnya
Nazwa mengambil ponsel Yunna
"Wahhh! Ternyata Leon keren banget jadi anak kantoran" kagumnya
"Gak jadi cari selingkuhan kan gue" balas Yunna tersenyum sambil melihat foto Leon di ponselnya
~
"Why?" Tanya Ran
"Dimana?"
"My home"
"Gegayaan ngomong bahasa Inggris. Ulangan aja masih remed"
"Namanya juga belajar kan"
"Ya ya ya, whatever" balas Argha "Gue ke rumah lo" tambahnya
"Sekarang?"
"Taun depan!"
"Disana ujan gak? Disini masih ujan gerimis"
"Gue udah didepan rumah"
"Hah?"
Argha melambaikan tangan kepada Ran yang melihatnya dari jendela kamarnya
Sambungan langsung mati, dan tidak lama Ran membuka pintu pagar supaya Argha masuk
"Lo gini doang? Gak pake jaket?" Tanya Ran menarik-narik lengan kaos Argha
"Hmmm" jawab Argha menganggukan kepalanya
"Bego! Nanti lo masuk anjing"
"Buset,, serem amat"
"Lagian, gak mikir banget. Udah tau ujan, malem, dingin, gak pake jaket pula. Basah baju lo bego" omel Ran
"Males gue tuh di rumah sendirian"
"Kak Una belom pulang?"
"Belom, lembur sampe jam 10. Kak Galuh udah tidur"
"Masuk, ganti baju dulu sana"
Argha turun dari motornya, mengekori Ran masuk kedalam
"Bunda udah tidur apa?"
"Gak ada, pergi ke Kampung Sawah"
"Ngapain ke Kampung Sawah? Nandur?" Tanya Argha
"Bukan bego"
"Terus?"
"Kepo banget kayak pembantu baru" balas Ran lalu pergi ke kamarnya untuk mengambil baju untuk Argha
"Bikin mie ya" pinta Argha
"Gak ada mienya, beli dulu sana"
"Ah, males"
"Sekalian udah basah, beli sono" suruh Ran
Argha menatap Ran jengkel, lalu pergi keluar untuk membeli mie
Ran tersenyum, pergi ke kamarnya untuk mengambil baju dan handuk untuk Argha
~
"Hari Sabtu, Ayah pulang ke Bandung. Kamu mau ikut gak?" Tanya Bagas
"Kayaknya aku belom bisa pulang, tugas masih banyak banget. Belom lagi akhir-akhir ini kafe lagi rame" jawab Nazwa sedih "Proyeknya udah selesai?" Tambahnya bertanya
"Udah hampir selesai, paling Minggu depan"
"Yahhhhhh, jarang ketemu Ayah lagi dong" sedih Nazwa masih memeluk lengan sang Ayah
Karena Bagas pulang malam dan kebetulan sama seperti jam pulang Nazwa, ia sengaja menjemput putrinya ke kafe dan ingin mengantar putrinya pulang sampai ke kostan dengan berjalan kaki seperti ini
Ayah tertawa
"Gimana sama Agam? Lancar?"
"Saingannya banyak, aku kalah jauh" jawab Nazwa melihat langit "Kalo kata El, harus bersaing sama cewe yang suaranya dilebut-lembutin. Selalu pake make-up. Kemana-mana paket high heels. Kena angin koma 100 hari. Yaudah lah, ya gitu. Mending tidur" lanjutnya
"Ceritanya gamang nih putri ayah?"
"Engga dong! Kan ada Ayah" balas Nazwa tersenyum senang menatap sang Ayah
Bagas ikut tersenyum. Ia sangat bersyukur karena Nazwa adalah putrinya. Sangat bangga terhadapnya. Selain itu, Bagas juga sangat merasa bersalah kepada putrinya itu
Membiarkan putrinya bekerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri di kota. Bukankah kuliah saja sudah sibuk dan melelahkan? Apalagi sambil bekerja. Lelah? Itu pasti, tentu saja. Bagas juga sangat berterimakasih kepada sahabat-sahabat Nazwa yang banyak membantu putrinya
"Maaf ya neng, Ayah belum bisa jadi Ayah yang baik. Ayah engga bisa kayak Ayah temen-temen kamu yang bisa ngasih apa yang putrinya mau"
"Ayah kok ngomong gitu sih" balas Nazwa sedih "Ayah adalah Ayah terbaik. Aku engga perlu ayah yang seperti temen-temen lain. Aku cuma mau Ayah, Ayah Bagas Gunawan"
"Nih ya Yah, Kalo misalnya aku terlahir kembali, Eneng maunya jadi anak Ayah dan Ibu lagi" lanjutnya
Bagas tersenyum, mengelus kepala putrinya sayang. Nazwa ikut tersenyum
"Oh iya, bukanya proyek Ayah di jalan Kotwis? Kok kalo sore Ayah sering benerin jalan deket kampus?"
"Karena Eneng sering lewat jalan itu. Ayah sengaja bagusin biar kamu nyaman kalo lewat situ" jawab Bagas "Karena Ayah engga bisa ngasih apa-apa, kayak Ayah temen-temen kamu, jadi Ayah bagusin jalanya buat Eneng" tambahnya
"Ayahhhhhhhhh, Eneng mau nangis jadinya" Nazwa menyandarkan kepalanya pada bahu sang Ayah
Bagas tersenyum, menepuk 2 kali kepala putrinya sayang
"Sehat terus ya Ayah. Eneng sayang banget sama Ayah"
"Iya, Ayah juga sayang sama Eneng, Ibu sama Sandy juga" balas Bagas
TBC~~~~>