Up

Up
Juh Las



"Lo mau langsung pulang?"


"Iya" jawab Letha sambil menganggukan kepalanya


"Ayo gue antri, biar sekalian"


"Boleh?"


"Siapa yang ngelarang?"


Letha hanya tersenyum


Keduanya keluar dari Kafe


Ziko dan Letha baru saja selesai mengerjakan tugas kelompok disebuah Kafe yang ada di dekat taman kota. Karena hujan, mereka menunggu hujan reda sambil menyelesaikan tugas dan mengobrol


Keduanya berjalan beriringan sambil mengobrol menuju parkiran taman. Karena parkiran Kafe penuh, Jadinya Ziko memarkirkan motornya di sana


Seperti biasa, taman terlihat ramai karena malam minggu. Banyak pasangan yg menghabiskan waktu bersama. Ada juga yang bersama keluarga ataupun sahabat mereka. Melepas rindu dan menghabiskan waktu bersama


"Ada tukang martabak" kata Ziko


"Kamu mau beli?" Tanya Letha


"Gue mau ke rumah Una. Kalo gak bawa makanan gak bakal di bukain pintu"


"Jahat banget"


"Maklum, temen-temen gue kaga normal semua"


"Aku gak normal dong?"


"Kecuali lo. Lo paling bener, yg lain kurang"


Letha tertawa


"Lo mau gak? Biar sekalian" tanya Ziko


"Engga deh, masih kenyang"


"Lo paling suka martabak rasa apa?"


"Coklat keju, paling enak banget" jawab Letha


"Wih! Sama dong selera kita"


"Kaya Indomie"


Keduanya tertawa


"Aku mau beli air dulu, kamu mau juga gak?" Tanya Letha


"Gak usah"


"Sebentar yaa" jawab Letha lalu pergi ke warung membeli air mineral. Sedangkan Ziko pergi membeli martabak


"2 bang, rasa pisang coklat sama coklat keju" pesan Ziko


"Tunggu sebentar ya mas" balas si abangnya


Sambil menunggu pesanannya matang, Ziko memainkan ponselnya


"Ini mas"


"Berapa bang?" Tanya Ziko


"50 ribu"


Ziko meberikam uang 50 ribu


"Makasih bang, ambil aja kembaliannya"


"Mau saya taburin kacang?"


Ziko tertawa


"Maaf mang, bercanda"


"Iya mas, santai aja" abangnya ikut ketawa


Letha menghampiri Ziko


"Udah?"


Ziko memberikan 1 plastik pada Letha


"What this?"


"Cinta gue eaaaaaaa~" jawab Ziko bercanda "Martabak lah, buat lo. Gak usah nolak, udah makan aja kalo lo laper"


Letha tertawa


"Thank you"


"Oke"


"Kak Ziko"


Keduanya menoleh


Caca melirik Letha sebelum menatap Ziko


"Kalian duluan aja, gue nyusul" ucap Caca kepada teman-temannya


Ketiga teman Caca pergi


"Kebetulan ketemu disini. Ada yg mau aku omongin"


"Kenapa?" Tanya Ziko


"Dia siapa kak? Pacar atau temen?"


"Itu yang mau lo omongin?"


"Hah? Bukan. Bukan itu"


"Terus?"


"Gak enak ngobrol sambil berdiri. Mending di Kafe sana"


Ziko menatap Letha, menggaruk belakang lehernya


"Sorry Ca, nanti aja deh kalo gak penting-penting amat. Gue mau anterin Letha pulang, udah malem banget soalnya"


"Gak papa kalo kamu masih ada urusan sama dia. Belum terlalu malem juga, aku bisa pulang naik grab"


"Noh kan, ayo kak" Caca menarik tangan Ziko, namun Ziko menahannya dan melepaskan tangan Caca


"Maaf banget Ca, gue mau anter Letha dulu" Ziko menarik tangan Letha meninggalkan Caca


"Ck! Siapa sih cewe itu?" Gumam Caca kesal


Sampai di parkiran, Ziko melepaskan tangan Letha


"Sorry" ucap Ziko


"Gak papa, ayo pulang" balas Letha


Ziko tersenyum. Ia juga merasa tidak enak kepada Caca dan Letha juga


💞


💞


💞


"Ck! Siapa sih gini hari telpon" kesal Yunna bangun dari tidurnya mengambil ponsel yang sedang di charger berbunyi karena panggilan masuk


"Lo tuh kenapa sih? Lo gak punya jam apa di rumah?" Omel Yunna


"Depan rumah siapa?"


"Udah lah, tidur lagi aja sana"


Panggilan di matikan oleh Leon


"Gak mungkin di-?" buru-buru Yunna keluar dari kamarnya. Melihat dari kaca jendela takut-takut jika Leon ada di depan rumahnya


Benar saja, Leon berjongkok di depan rumah menghadap motornya


Yunna menghampiri Leon


"Lo ngapain ke sini malem-malem gini? Mau ngajakin ngepet? Ogah banget"


Leon bangun menatap Yunna yang kaget melihatnya


Bagaimana Yunna tidak kaget, tiba-tiba Leon datang dengan wajah yg tidak baik-baik saja. Ujung bibirnya berdarah dan berwarna kemerahan seperti habis ditonjok? Belom lagi di jidat dekat alis terluka, di siku juga


"What? Lo abis di keroyok warga atau gimana?"


Tanpa menjawab, Leon memeluk Yunna, membuatnya kaget


"Gue gak tau harus kemana, dan lo satu-satunya orang yg gue pikirin" ucapnya pelan namun dapat di dengar dengan jelas oleh Yunna


Tidak tau kenapa, Yunna membalas pelukan Leon, menepuk punggungnya pelan


"Obatin dulu lukanya"


Yunna melepas pelukannya, menarik tangan Leon masuk ke rumahnya


"Duduk sini, gue mau ambil obatnya. Jangan berisik, Aga sama Ziko udah tidur" kata Yunna pergi ke kamarnya mengambil kotak p3k. Sedangkan Leon duduk di sofa


Tidak lama Yunna kembali, duduk di sebelah Leon


"Madep sini" suruhnya


Leon menghadap Yunna


"Lo kenapa? Abis berantem? Atau ketauan nyolong ayam digebukin warga?" Tanya Yunna sambil mengoleksi obat merah pada kening Leon


"Gue bisa beli peternakan ayam"


"Ya terus ini kenapa? Lo lagi ngider ketauan warga?"


"Gue banyak duit"


"Adaw! Pelan-pelan dong, sakit" rintih Leon karena Yunna sengaja menekan luka yg di jidatnya


"Makanya kalo sakit pergi ke rumah sakit, jangan ke rumah gue. Lo kira gue buka klinik"


"Lo kan dokter"


"Belom, gue masih belajar"


Sekarang Yunna mengoleskan salep pada ujung bibir Leon


"Lo mau jadi jagoan berantem-berantem kayak gini? Mending kalo menang, lah ini malah bonyok kayak gini" omel Yunna


"Mereka yg ngajak ribut duluan"


"Ya gak usah di ladenin! Pergi aja, gak rugi juga buat lo. Jangan nyakitin diri sendiri. Pasti nyokap lo khawatir liat muka anak badungnya bonyok gini"


"Makanya gue kesini. Gue gak mau kena amuk Mami" balas Leon tidak mau kalah "Kalo gue pergi pasti mereka ngatain gue pengecut" tambahnya


"Kalo di kasih tau tuh ngejawab mulu ih!" Yunna menekan luka Leon membuat Leon mengadu kesakitan


"Lo sengaja ya?!" Kesal Leon


"Jangan berisik. Nanti Aga sama Ziko bangun" balas Yunna


"Ya jangan di teken!"


Yunna hanya menatap Leon diam untuk beberapa saat


"Apa? Kenapa? Belom selesai ngomelnya hah?"


"Sakit?" Tanya Yunna


"Sakit lah. Terus lo teken, tambah sakit"


Sudah menjadi kebiasaannya,


Dengan reflek, Yunna mengelus pelan ujung bibir Leon sambil meniupi lukanya


Tentu saja membuat Leon kaget perlakuan Yunna yang baru ia ketahui ini. Sedikit demi sedikit, Leon mulai tau dan paham tentang Yunna. Bagaimana sifat dan perilaku Yunna. Apa yang disuka dan tidak suka Yunna yang membuat Leon semakin tertarik kepada Calista Yunna Arghantara


Leon menatap Yunna yg meniupi bibirnya, lebih tepatnya meniupi lukanya


"Jangan berantem lagi" ucap Yunna mengusap lukanya pelan


Oke,


Leon tidak tahan


Chup!


Leon mengecup bibir Yunna sekilas membuat Yunna kaget bukan main


"Lo apa-apaan sih? Stres apa lo?" Omel Yunna


Leon menggaruk belakang lehernya


"Gak tau, pengen aja"


"Gila. Udah pulang sono" usir Yunna


"Gue nginep sini"


"What? Otak lo ikutan sakit, mending lo ke SLB aja deh"


"Lo kira gue orang keterbelakangan mental"


"Oh salah, maksudnya gue ke SRJ aja sana"


"Lo kira gue gila?"


"Iya!" Balas Yunna ngegas


"Mana ada rumah sakit buka gini hari"


"Ya pulang ke rumah lo lah. Ke mana kek asal gak di sini"


"Gue gak mau ganggu mereka"


"Ya lo kenapa ganggu gue bodoh!" Kesal Yunna


"Lo kan pacar gue"


Yunna menghela napasnya


"Pulang Leon" suruhnya lagi


"Emang kenapa sih kalo gue tidur disini? Ziko aja tidur disini"


"Ziko kan tidur sama Aga"


"Ya gue juga tidur di sini, gak tidur sama lo. Gue juga waras lah" balas Leon "Lagian emang lo gak khawatir gue pulang malem-malem gini? Nanti kalo gue di begal terus mati gimana? Lo mau jadi calon janda?" Tambahnya


"Yaudah lah terserah" balas Yunna lalu pergi masuk ke kamarnya


"Buset dah. Kaga di kasih bantal atau selimut apa? Jahat amat" gumam Leon


Yunna kembali membawa bantal dan selimut untuk Leon


"Kalo sakit pinggang jangan ngedumel" katanya lalu kembali masuk ke kamarnya


TBC~