
"Eyooo girls!" Sapa Ellen langsung merangkul Yunna dan Nazwa, menyelip ditengah. Mentang-mentang punya badan kecil "Ecieee, ayang bebnya udah pulang" tambahnya menggoda Yunna
"Yang ada, ayam bebek" balas Yunna malas membahas pacarnya itu
Ketiganya berjalan beriringan akan pergi ke Kantin kampus
"Emang belom nyamperin lo?"
"Lupa kali"
Ellen menggelengkan kepalanya sambil berdecak, merasa kasihan
"Drama yang semalam apa teh judulnya? Gue lupa" tanya Nazwa
"OBS, Our Beloved Summer"
"Oh iya. Gue ingetnya OKB, masa" Nazwa tertawa, Yunna juga ikut tertawa
"Itu mah orang kaya baru"
"Pantesan gue searching gak ada drama Korea yang judulnya OKB"
"Goblok" saut Ellen. Ketiganya tertawa "Gue aja nonton masih episode 5, gak ada kemajuan"
"Sama kek doi ya, gak ada kemajuan" saut Nazwa
"Ternyata minimar lebih berharga dari pada gue" sedih Ellen
"Ya iyalah. Minimarnya kan hidup dan matinya dia. Dapet duit dari situ. Buat beli makan, beli kebutuhan dia sendiri. Lah elo, El? Yang ada ngabisin isinya lo mah"
"Hari Minggu mas Digta ulang tahun. Setiap yang beli, dikasih coklat gitu, gratis" kata Yunna
"Noh El, Bali kado sana. Mungkin kali ini dia baper sama lo"
"Ngapain beli kado, kehadiran gue udah kado terindah buat dia" balas Ellen dengan percaya dirinya
"Geuleh ih" balas Nazwa malas. Sedangkan Yunna hanya tertawa
Ziko dan Hanif yang seperti abis berlari, berdiri dihadapan ketiganya dengan napas yang tidak beraturan
"Kalian kenapa dah?" Tanya Nazwa
Hanif menghempaskan tangan Ziko yang memegangi tangannya dan menetralkan napasnya
"Lu kalo mau lari jangan ajak gue. Capek jink" omelnya
"Kalo gak lari, keburu Yu-"
Ziko dan Hanif menatap Yunna
"Why?" Tanya Yunna
"Wah! Pesawat luar angkasa, Na" tunjuk Ziko
Refleks Yunna berbalik, melihat langit yang ditunjuk Ziko
Nazwa dan Ellen menatap Hanif yang menggelengkan kepalanya. Sedangkan Ziko, menggelengkan kepalanya dan menyilangkan tangannya sambil mengucapkan 'Una gak boleh masuk, bawa pergi' tanpa suara, melarang Yunna untuk masuk
"Mana bego? Boong kan lo"
Hanif dan Ziko langsung bersikap seperti biasa saat Yunna berbalik menatap keduanya
"Beneran, tadi ada"
"Ah! Gue laper banget, mending kita ke kedai Mustopa dulu" Ellen yang masih merangkul Yunna dan Nazwa berbalik, menarik keduanya pergi
"Kita kan ini mau ke kantin El?" Tanya Yunna
"Gue mau nasi goreng Mustopa, Lo juga pengen kan Wa??"
"Oh? Iya! Iya, gue juga laper" balas Nazwa
Ziko menghelakan napasnya lega
"Kalo Una sampe liat, bisa perang dunia lagi"
Hanif pergi, kembali masuk menghampiri Leon dan Bella yang sedang berada di kantin
...✨✨✨...
"Dor"
Hani terlonjak kaget, sedangkan Argha yang mengagetkan hanya tertawa, duduk di sebelah Hani
"Kaget aku"
"Seriusan amat, lagi baca apaan sih?"
Keduanya sedang di taman belakang sekolah yang berdekatan dengan perpustakaan. Duduk di bangku kayu yang berada di bawah pohon mangga
"Novel" jawab Hani seadanya
"Lo ikut lokakarya gak?"
"Mau, kalo dibolehin pergi"
"Emang lo suka dilarang ikut acara gituan?"
"Biasanya sama Papa gak boleh"
"Terus lo gak ikut?"
"Mau, kalo boleh"
"Kalo gak boleh?" Tanya Argha lagi
"Tetep mau ikut"
Argha tertawa, mengacak rambut Hani pelan membuat Hani membulatkan matanya kaget
Selama ini yang berani mengacak rambutnya, hanyalah abangnya
'Ternyata beda rasanya kalo diacak sama kak Argha. Hati juga ikut acak-acakan' -Hani
"Nanti gue bantuin izin deh sama Papa lo"
"Seriusan?"
"Hmmm" balas Argha menganggukkan kepalanya "Gue sama Ran bakalan jagain lo" tambahnya
"Kak Ran juga ikut? Setau aku cuma anak OSIS yang ikut"
"Ran juga anak OSIS, tapi gak terlalu aktif. Kalo ada acara-acara, baru dia ikutan aktif"
"Ohhh" balas Hani menganggukkan kepalanya sambil tersenyum
Gak tau kenapa, dihatinya ada rasa kecewa karena Ran juga ikut
...✨✨✨...
Kelas Anatomi baru saja selesai. Banyak mahasiswa ataupun mahasiswi keluar dari kelas
Leon berdiri didekat pintu, bersandar pada tembok menunggu Yunna keluar
Ellen dan Nazwa keluar
Nazwa membalas senyuman Leon sedangkan Ellen menatap Leon galak
"Cewe gue mana?" Tanya Leon
"Cewe gue? Gak salah denger kan gue Wa? Atau lo yang salah sebut?" Balas Ellen judes
"El" Nazwa memegang tangan Ellen supaya tenang
Ellen melepaskan tangan Nazwa, melipat kedua tangannya di dada. Ternyata Ellen ikut kesal soal Leon yang pergi tanpa mengabari Yunna sama sekali. Ditambah masalah tadi pagi
"Ayo Wa, lama-lama emosi gue gak bisa ditahan" Ellen menarik tangan Nazwa
"Kita duluan" pamit Nazwa sebelum jauh
"Hmmm" balas Leon sambil menganggukkan kepalanya
Leon berdiri di depan pintu memperhatikan Yunna yang sedang tertawa bersama dosen dan Hanif. Ia tersenyum melihat Yunna. Tenaganya seperti sudah full kembali
Bu Anggun keluar kelas
Leon tersenyum karena Bu Anggun tersenyum kearahnya, lalu kembali melihat Yunna yang ternyata menatapnya dengan datar
Leon berjalan masuk ingin menghampiri Yunna, tapi Yunna malah pergi keluar kelas begitu saja
Leon menghelakan napasnya
"Kali ini gue yakin, lo bakal susah bujuk Una" kata Hanif
~. ~. ~.
~. ~.
~.
"Jey"
Jey yang hendak membuka pintu menoleh, menatap Leon yang berjalan menghampirinya
"Una didalem kan?"
"Hmmm" jawab Jey sambil menganggukkan kepalanya
"Itu buat Una kan?"
"Hmmm"
Leon mengambil plastik ditangan Jey
"Biar gue aja. Lo jangan ikut masuk, gue mau ngomong serius sama Una" katanya lalu membuka pintu dan masuk, menutup kembali pintunya
"Lama bang-"
Leon menghampiri Yunna. Meletakan plastik dimeja
Yunna hanya diam, menatap Leon
"Udahan dong marahnya. Emang gak capek apa diemin gue?"
Yunna memasukan bukunya kedalam tas. Tapi Leon memegang tangan Yunna, menahannya agar tidak pergi
"Jangan ngehindar. Mau sampe kapan lo marah gini? Sampe kapan diemin gue gini? Cuma gitu aja lo diemin gue 3 hari, Yunna" kata Leon serius
2 minggu Leon ngilang. Gak ada chat, gak ada telpon, gak kasih kabar apapun. Ngilang gitu aja kayak asep kenalpot. Gak ada ngomong-ngomong mau pergi ke Jepang. Untung aja Yunna nahan-nahan gak cari selingkuhan. Kurang baik apalagi coba Yunna?
Yunna tau, Leon pergi karena pekerjaan. Tapi seenggaknya kasih tau, kasih kabar. Apa susahnya sih? Yang nambah bikin kesel lagi, ternyata Bella tau. Jadi, Leon hanya memberi tahu Bella?
HAHA
"Cuma lo bilang? Cuma?" Yunna tidak percaya dengan ucapan Leon yang menganggapnya sepele
Ia melepaskan tangan Leon
"Lo pergi gitu aja tanpa kasih tau gue. Bahkan 2 minggu lo gak kasih kabar sama sekali, Leon. Lo bisa bilang sama Bella, sama temen-temen lo, tapi kenapa gak bisa bilang, kasih tau gue? Gue paham lo pergi karena kerjaan, gue paham banget, Leon. Tapi apa susahnya kasih tau gue? Gue juga gak akan ngelarang-larang lo buat gak pergi. Lo nganggep gue apa si?"
Lega rasanya setelah mengeluarkan yang Yunna tahan selama 3 hari itu
"Lo bosen sama gue? Lo masih nganggep gue cewe lo gak sih? Gue juga gak mau gini, tapi-" Yunna menghelakan napasnya. Menahan agar tidak menangis
Yunna mengambil tasnya, hendak pergi
"Terus sekarang mau lo apa? Mau terus marah gini? Sampe kapan?" Tanya Leon
Yunna berhenti berjalan, berbalik menatap Leon
"Bahkan lo gak ada minta maaf"
Leon bisa liat air mata yang Yunna tahan di pelupuk matanya. Kedua kalinya Leon membuatnya menangis
"Mau lo apa? Kita udahan?"
Leon membulatkan matanya kaget
"Cuma masalah gini lo bisa bilang gitu?"
Yunna kembali berbalik, membuka pintu keluar meninggalkan Leon. Percuma bahas itu sekarang, dua-duanya masih emosi. Masalah engga selesai, yang ada makin runyam kan
Jey yang masih di dekat pintu kaget sendiri melihat Yunna, lalu ia menghampiri Leon
"Gak ngerti gue jalan pikiran cewe tuh kayak gimana"
Jey duduk di tempat Yunna duduki tadi
"Yang gampang mah jalan tol. Lempeng terus" balas Jey "Cewe, kalo lagi marah gitu, diemin dulu. Kasih dia waktu buat sendiri dulu" tambahnya membuka sekaleng kopi good day, lalu meminumnya
"Udah gue kasih waku 2 minggu, masih kurang?"
Ingin sekali Jey melempar kaleng ditangannya. Masih ada sih, sayang kan kalo kebuang
"Bukan waktu itu bego. Lo mah ganteng doang sih bang. Tapi giliran masalah ginian payah"
Leon menatap Jey garang. Kesel dia dibego-begoin sama orang bego
"Wajar sih kalo Una marah gini sama lo. Kalo jadi Una, gue mah udah cari selingkuhan"
"Mau gue timpuk korsi?"
"Lo gak tau aja bang. Nih ya, Bellalabela elo nieh, make manas-mamasin Una"
Leon menatap Jey tidak mengerti
~Flashback~
"Gak ada Leon sama Agam di kelas, sepi banget. Lo tau gak kenapa Leon sama Agam absen?"
Letha menoleh ke belakang karena mendengar nama Leon dan Agam disebut-sebut
Ternyata Bella dan ke-3 temanya duduk tidak jauh dari meja yang diduduki Yunna, Letha, Ellen dan Ziko. Ada Jey juga yang katanya gak punya temen, jadi weh gabung
Mereka sedang di kantin kampus. Istirahat makan siang
"Agam pergi ke Bali, nengokin neneknya yang lagi sakit. Kalo Leon pergi ke Jepang, bantuin Papinya ngurus anak perusahu disana. Semalem Leon nelpon gue, katanya Leon absen 2 minggu. 2 minggu di Jepang ngurus perusahaan sama Papinya"
"Gak usah disautin El" Yunna memperingati Ellen yang ingin mengeluarkan kata-katanya
Ellen menelan kembali kata yang akan dikeluarkan, berdecak sebal
"Ngapain coba tuh si Bellalabela ngomong kayak gitu? Kenceng pula, kayak sengaja banget. Biar apa coba?"
Kan jadi ngedumel si Ellen
"Kalo misalnya gue lagi gak banyak tugas. Gue mau banget nyusul Leon ke Jepang"
"Mampus! Gue sumpahin supaya tugas lo numpukpukpuk!" saut Ellen lagi ngedumel
Yunna hanya tertawa mendengar dumelan Ellen
~Flashback off~
Leon pergi meninggalkan Jey setelah mendengar cerita Jey yang masih berlanjut
"Belom selesai ceritanya woi!" Panggil Jey tapi tidak dihiraukan oleh Leon
TBC~