Up

Up
Pat Luh Ma



"Apa gue pindah ke ahli gizi aja ya?"


"Ganteng banget gak sih tadi"


"Senyumnya itu loh, bikin hati meleleh kayak es krim kejemur"


"Ck! Gak kuat gue"


"Masih kebayang senyumnya, gila banget gak tuh!"


"Iya El, iya. Elo yang gila" balas Yunna


Ellen memeluk lengan Yunna. Berjalan beriringan di pinggir jalan komplek menuju rumah Yunna. Mereka baru saja pulang dari rumah sakit, karena tidak membawa motor, jadilah mereka naik bis


"Pengen punya pacar" katanya


"Gimana mau punya pacar kalo lo cuek, jutek, males balas chat. Sekalinya dichat cowok, elo blok"


"Ya gimana ya? Gue juga bingung sendiri" bales Ellen "Lagian geli aja gitu ih. Kalo udah gombal, bikin gue merinding.ada setannya kali ya?" Ellen menggelengkan kepalanya "Apalagi kalo udah nanya 'udah makan belom? Udah mandi belom? Lagi apa? Lagi ngapain?' basi banget"


"Emang kalo belom makan mau beliin makanan? Emang kalo belom mandi mau di pandiin? Kepo banget hidupnya" tambahnya


Yunna tertawa "Kalo misalnya ditanya 'lagi ngapain?' Lo jawab apa?" Tanyanya


"Biasa"


"Biasa apa?"


"Ya biasa"


"Iya, biasa apa?" Tanya Yunna masih tidak paham


"Biasa banget nanyanya"


Keduanya tertawa


Pantas saja, setiap laki-laki yang mendekatinya selalu mundur tanpa harus berjuang sampai akhir


Lihat!


Ellen yang bobrok, si ceplas-ceplos, gak ada kalem-kalemnya kecuali saat ada dokter Rama and satu lagi, si tukang makan. Yunna sampai heran, makan banyak kayak babi, tapi badan kecil aja kayak lidih. Itu perut Ellen terbuat dari apa sih? Bahkan Yunna sampai berjanji, kalau ia sudah mendapatkan gelar sarjana kedokteran, ia akan membelah perut sahabatnya itu dan melihat apakah yang didalam adalah perut atau tempat pembuangan sampah


Hanya laki-laki tertentu yang akan benar-benar menerima semua kekurangan Ellen, contohnya Nico- mungkin?


"Lo mah harusnya cowok yang seprekuensi sama lo"


"Tau lah" Ellen menghelakan napasnya "Inget aja kata Afgan, jodoh pasti bertemu~" nyanyi Ellen diakhir kalimat


"Ada Nico, satu prekuensi kan sama lo"


Ellen melepas pelukannya, menatap Yunna sebal


"Lo duluan aja, gue mau ke minimar mas Digta dulu"


"Mau ngapain?"


"Ngapel dong, barangkali mas Digta yang gantengnya kayak Kim Doyoung jodoh gue"


"Eleh!"


Ellen tertawa "Mau sekalian nitip gak?" Tanyanya


"Emina, sabun cuci muka"


"Duit" Ellen menadangkan tangannya


Yunna memberikan uang 50 ribu


Mereka berpisah di pertigaan. Ellen belok, sedangkan Yunna lurus


-


"Assalamualaikum" salam Yunna masuk ke rumahnya


"Wallaikumsalam" balas Galuh dari dapur menghampiri Yunna


"Kak Galuh udah makan?"


"Udah. tadi Aga bikin jamur krispi. Masih ada di dapur kalo kamu mau" balas Galuh


Yunna duduk di sofa, menyandarkan diri disana "Enak?" Tanyanya


"Enak, mau kakak ambilin?"


"Gak usah, nanti aku ambil sendiri aja. Mau mandi dulu, gerah banget" Yunna membuka jaket jins yang sebatas pinggangnya "Anaknya kemana?"


"Ke rumah Ran" Galuh duduk di sebelah Yunna "Ellen gak jadi nginep?"


"Jadi kok, lagi ke minimar"


"Tadi gimana? Lancar?" Tanyanya


"Lancar, tapi pdktanya yang gak lancar" balas Yunna sambil tertawa, mengingat bagaimana lucunya Ellen dan dokter Rama tadi


Baru saja Yunna akan cerita, terdengar bunyi motor dari depan rumah


PRANK!!!


"AAAAA!"


"Astagfirullahalazim!"


Kaget Galuh dan Yunna bersama. Galuh sampai menutup kedua telinganya


Yunna bangun, melihat ada sebuah batu sedang di dekat tv. Ada seseorang melempar batu ke kaca rumahnya


"Tu orang ada masalah apa sih?!" Kesal Yunna


Ia pergi keluar, melihat ada 3 motor gede didepan rumahnya dengan 4 orang disana


"Yunna" panggil Galuh, menyusul Yunna


Galuh kaget melihat orang yang sangat ia kenal disana


"Andi?"


Yunna menatap Galuh


"Cowok brengsek itu?"


"Gak usah kesana. Kita masuk aja, telpon polisi"


"Jadi selama ini lo ngumpet di sini" kata cowok yang bernama Andi itu


"Kak Galuh masuk aja. Telpon Aga atau siapa kek"


"Tapi kalo-"


"Gak papa kak. Telpon Ellen aja, cepetan" potong Yunna


Galuh masuk ke dalam, sedangkan Yunna menghampiri mereka yang seperti geng motor itu


"Woi! Kalian punya masalah apa sama kaca rumah gue hah?!" Omel Yunna garang, kedua tangannya di pinggang


Andi turun dari motornya


"Lo cewe si tukang ikut campur" katanya "Galuh mana?" Tambahnya bertanya


"Lo salah alamat nyari kak Galuh disini. Emang gue nyokapnya? Emang gue bokapnya hah?!"


"Gue tau Galuh ada di sini"


Ketiga temannya ikut turun dari motor masing-masing


"Bawa Galuh sekarang, atau gue obrak-abrik rumah lo?" Ancam Andi


"Pergi sekarang, atau gue telpon polisi?"


Andi tersenyum, tapi senyumnya menyeramkan menurut Yunna, bikin merinding


Jujur, Yunna takut sekarang. Ditambah lagi, sekarang tidak ada laki-laki dirumahnya


"Kalo lo kesini, gue teriak!" Ancam Yunna lagi karena Andi berjalan menghampirinya


"Gue tau lo di dalem, Galuh! Kalo lo gak keluar, cewe ini yang gue bawa!" Teriak Andi


"Gila lo!" Balas Yunna


Saat Yunna akan menelpon, dengan cepat Andi menghampirinya Yunna, memegang tangannya dan mengambil ponselnya. Melemparkannya kepada temannya yang dibelakang


"Lepas! Lo apa-apaan sih!?" Yunna berontak supaya dilepas tapi tidak bisa


"Cari didalem" suruh Andi


2 dari teman Andi masuk kedalam


"Jangan kurang ajar ya lo! Lepas!"


Yunna akan menendang Andi, tapi dengan cepat, Andi memutar tubuh Yunna. Menahan kedua tangan Yunna kebelakang dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya melingkar pada leher Yunna


"Lo udah ganggu kesibukan gue, dan lo harus bertanggung jawab. Gue gak akan lepasin lo" bisiknya di belakang telinga kanan Yunna membuatnya merinding


Dasar setan!


Sedangkan didalam,


Dengan rasa takut dan khawatir, Galuh menelpon Ellen supaya cepat pulang. Ia juga menelpon Aga


~


"How are you mas Digta?" Sapa Ellen sudah di kasir


Digta tersenyum


"Alhamdulillah, sehat. Perasaan baru ketemu tadi pagi deh El"


"Makanya mas Digta, jangan pake perasaan. Nanti baper gak ada yang tanggung jawab. Kaya aku"


"Siapa sih orang yang gak bertanggung jawab itu? Coba bilang sama saya, siapa hah?"


"Emang kalo aku kasih tau, mau mas Digta apain?"


"Gak di apa-apain sih. Nanya doang"


"Untung mas Digta ganteng"


Keduanya kembali tertawa


"Mas Digta jangan ketawa dong" kata Ellen setelah berhenti tertawa


"Eh? Emang kenapa?" Bingung Digta


"Jantung aku lemah kalo liat mas Digta ketawa. Kayak es lilin kejemur, meleleh"


Lagi, Digta tertawa


Baru saja ingin melemparkan gombalan lagi, ponsel Ellen bergetar


"Kak Galuh?" Gumamnya lalu mengangkat telponnya


"Ha-"


"Cepetan pulang sekarang, El! Ada Andi di rumah sama geng motornya" potong Galuh diseberang sana


"Eh? Kok bisa? Terus?"


"Nanti aja nanyanya. Sekarang cepetan pulang. Kakak takut Una kenapa-napa"


"Aku pulang sekarang" sambungan telepon langsung dimatikan


"Kenapa?" Tanya Digta melihat Ellen yang khawatir


"Itu, anu,, ck apa sih ya?!" Ellen kelabakan "ADA GENG MOTOR DI RUMAH UNA"


"Hah? Ngapain?"


"Mana gue tau" jawab Ellen ngegas membuat Digta kaget


Baru saja akan lari, Digta menahan tangan Ellen


"Saya ikut"


"Eh? Nanti tokonya gimana?"


"Iya ya? Yaudah, kamu disini dulu jagain toko, saya yang ke rumah Una"


"Emang, mas Digta tau rumah Una?"


"Engga" jawab Digta polos


Ellen menghela nafas


"Udah lah biarin. Keselamatan Una lebih penting" Digta menarik tangan Ellen berlari ke rumah Una


~


Jangan salah


Yunna punya abang, punya adik cowok yang jago bela diri. Ia menendang Andi yang berada dibelakangnya


Andi melepaskan pegangannya, mengaduh kesakitan, memegangi adik kepunyaannya yang tidak baik-baik saja


Teman Andi yang memegangi ponsel Yunna kaget, langsung menghampiri Andi dan menanyakan keadaan bosnya


Yunna langsung masuk ke dalam. Mengambil tongkat bisbol kesayangan abang Je


"Keluar! Kalian jangan macem-macem. Ini udah masuk ke tindakan kriminal" ucap Yunna "Kalian kira gue takut sama kalian? Engga lah! Kalian cuma geng motor gak guna. Yang kerjaan bikin susah orang. Gue udah lapor polisi, kalian siap-siap aja masuk penjara" tambahnya


"WOI! LO PADA NGAPAIN DI RUMAH GUE HAH!"


Terdengar teriakan Ellen di luar


Yunna menghembuskan nafasnya lega


"GUE UDAH PANGGIL PAK RT SAMA WARGA BIAR KESINI. KALIAN JANGAN PERGI DULU" Teriak Ellen lagi


"Balik" suruh Andi menahan sakit


Ini kedua kalinya Yunna menyakiti adik kesayangannya, sial!


Andi yang masih dengan rasa sakitnya, menaiki motornya. Begitupun teman-temannya


"Lo semua mau pada kemana hah?! Jangan pergi dulu anjir!"


"Takut dikeroyok warga mereka. Makanya kabur" seru Digta


Ellen langsung masuk, menghampiri Yunna


"Una" panggil Ellen langsung memeluk Yunna


"Lo gak papa"


Yunna melepas pelukannya


"Gak papa"


"Kak Galuh?"


"Oh iya"


Yunna langsung pergi ke kamarnya


"Kak Galuh ini aku. Buka pintunya, mereka udah pergi" katanya


Masih dengan rasa takut, Galuh membuka pintu dan langsung memeluk Yunna


"Gak papa kak. Mereka udah pergi. Mereka gak akan berani kesini lagi" Yunna mencoba menenangkan Galuh


Ellen pergi mengambil air minum


Galuh melepas pelukannya


"Kamu gak papa?" Tanyanya


"Gak papa kok" jawab Yunna tersenyum


"Nih kak, minum dulu" Ellen Kembali, memberi gelas yang berisi air hangat kepada Galuh


Galuh meminumnya


"Kak Galuh engga usah khawatir. Andi gak akan kesini lagi"


"Kak Galuh istirahat aja dulu. Gak usah khawatir oke" balas Yunna


"Astagfirullahalazim..." Kaget Digta melihat ruang depan rumah Yunna yang berantakan


"Kalian gak papa?" Tanya Digta


"Gak papa, mas" jawab Yunna


"Kak Galuh istirahat aja di kamar. Biar kita yang beresin ini" suruh Ellen


"Tapi-"


"Udah biarin, kak. Istirahat aja di kamar" potong Yunna


Ia menarik Galuh masuk lagi ke kamar


Ellen dan Digta mulai merapihkan barang-barang yang berserakan


Yunna menghampiri Ellen dan Digta. Ikut membantu mereka


"Maaf ya, mas. Mas Digta jadi ikut repot gini" kata Yunna


"Gak repot kok, Na. Syukur kalo kamu gak papa" balas Digta "Emang mereka siapa sih? Kok bisa ngacak-ngacak rumah gini?" Tambahnya


"Aw!" Yunna memegangi pergelangan tangannya


"Noh kan! Gak papa gimana? Tangan lo kenapa?"


"Tadi kayaknya keplintir"


"Kak Una" panggil Aga khawatir


Yunna menoleh, tiba-tiba saja matanya mulai berkaca-kaca. Tangisnya pecah saat melihat Aga. Ia berhamburan memeluk Aga. Menangis disana


"Noh kan, pasti nangis kalo udah ada Aga" gumam Ellen


"Perasaan tadi keliatan kuat banget. Lah sekarang nangis gitu?" Bingung Digta


"Una emang kayak gitu. Di depan orang lain keliatan kuat, baik-baik saja. Tapi kalo udah di depan abang Jeo sama Aga, numpahin semua rasa takutnya"


Ran mengusap bahu Yunna, mencoba memberikan ketenangan


Walaupun Yunna seorang kakak, tapi menurut Ran dan Aga, Yunna adalah adik kecil yang sangat harus diperhatikan


TBC~~~~~


Hi hi~~~~👋🏻


Aku bisa Up sekarang


Have fun ya guyssssss, semoga sehat selalu


Aminnn


See you next chapter👋🏻


Sekian hari ini, terima lamaran Kim Doyoung♡


SAHHHHHHHHH:)