Up

Up
Ga Luh Pan



Argha yang baru bangun keluar dari kamarnya, menghampiri Yunna yang sudah sibuk memasak di dapur


"Semalem abang pulang?" Tanya Yunna karena melihat ada mobil Jeo di depan


"Iya, jam satuan kalo gak salah" jawab Argha sambil memakan pisang yang ada di meja


"Terus tau?"


"Kayaknya si belom tau. Abis makan, langsung masuk kamar"


"Lo gak sekolah?"


"Gak ah, males"


"Dih! Kayak sekolah punya nenek moyang lo"


"Tugas sejarah gue belom kelar, hari ini harus dikumpulin. Males banget"


Yunna meletakan 3 roti yang sudah dipanggang dengan susu coklat diatasnya, di hadapan Argha


"Keadaan kak Galuh gimana?" Tanya Argha sambil memakan rotinya


"Keliatan lebih baik. Tapi, suka bengong, suka nangis kalo sendiri" jawab Yunna, lalu ia pergi ke kamarnya membawa nampan yang berisi bubur dan teh manis hangat untuk Galuh


Yunna mengetuk pintu sebelum masuk. Galuh yang duduk di kasur, menoleh


"Sarapan dulu, biar ada tenaga" Yunna meletakkan nampan di meja


Galuh tersenyum


"Makasih"


"Sama-sama" jawab Yunna membalas senyuman Galuh "Oh iya, temen-temen aku mau kesini. Mau jenguk kamu, sekalian mau kenal. Gak papa kan?" Tambahnya


Galuh tidak membalas, hanya diam menatap Yunna. Ia masih takut untuk bertemu banyak orang, terlebih lagi laki-laki


"Temen-temen aku orang baik-baik kok. Ya walaupun pada konyol, tapi mereka bukan orang jahat. Aku juga gak akan maksa" tambahnya


Galuh menganggukan kepalanya


"Gak papa"


Yunna tersenyum


"Aku mau ke kampus dulu, kamu sama Aga, gak papa ya?"


Lagi, Galuh menganggukkan kepalanya


Ponsel Yunna yang sedang di charge berbunyi


"Halo?"


"Ngampus sekarang kan?" Tanya Leon diseberang sana


"Iyaaa, gue siap-siap dulu"


"Gue otw sekarang"


"Sekalian mau minta tolong"


"Apaan? Beli apa?"


"Apel sama pisang. Pake uang lo dulu, nanti gue ganti disini"


"Hmmm"


"Lo hati-hati"


"Iya bawel"


Sambungan mati


"Harus abis ya, kalo gak abis aku ngambek"


"Iya" balas Galuh


Yunna tersenyum, lalu ia mengambil baju bersiap untuk ke kampus


~


"Apa? Apa? Apa lagi sekarang?" Jawab Argha kesal


Pasalnya, sudah 14 kali kakaknya itu menelpon dan menanyakan keadaan Galuh


"Kak Galuh gimana? Lo udah anterin makan siang belom?"


"Oh iya, lupa gue"


"Noh kan! Noh kan! Aga!" Omel Yunna


Argha menjauhkan ponsel dari telinganya karena teriakan kakaknya itu


"Gak usah teriak-teriak elah, kuping gue masih normal"


"Anterin sekarang Aga. Kak Galuh masih trauma, dia sering nangis sendiri, emang lo gak kasian? Coba bayangin kalo gue yang ada di posisi kak Galuh, emang lo gak prihatin hah?"


"Gue bunuh itu cowo!"


"Ya makanya"


"Iya, udah ah. Gue mau liat kak Galuh dulu"


"Hmmm!"


Sambungan dimatikan oleh Argha


"Syukur banget kak Una gak inget apa-apa soal kejadian dulu" gumam Argha


Ia bangun, menyiapkan makanan untuk Galuh. Menghangatkan sayur bening, menyiapkan nasi dan buah apel. Tidak lupa air putih hangat


"Beneran nangis?" Gumam Argha di depan pintu kamar Yunna samar-samar mendengar tangisan Galuh


"Masuk jangan ya? Kalo gak masuk, nanti gue digantung sama kak Una"


Argha diam berpikir beberapa saat


"Masuk!"


Argha mengetuk pintu sebelum masuk. Dapat ia lihat, buru-buru Galuh menghapus air matanya


"Makan dulu kak"


"Makasih" ucap Galuh


Argha meletakan nampan di meja samping ranjang. Ia duduk, menggaruk belakang kepalanya canggung


Galuh pun sama, ia mengusap tangannya canggung


"Bisa makan sendiri kan?" Tanya Argha mencoba menghilangkan suasana canggung


"Bisa"


Argha menganggukkan kepalanya


"Yang kuat ya kak. Aku tau, kak Galuh kuat kok" kata Argha tersenyum


"Setiap orang pasti punya masalah. Pasti dihadapkan sama suatu masalah yang gak pernah kita duga. Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Dari situ, kita bisa jadi lebih kuat"


Galuh menundukkan kepalanya. Entah kenapa, setiap ia mendengar ucapan penyemangat, buka membuatnya merasa lebih baik, malah semakin membuatnya menyalahkan takdir yang diberikan Tuhan kepadanya


Bukankah Tuhan selalu memberikan cobaan diluar batas kemampuan umatnya? Tapi kenapa Tuhan memberikan cobaan di luar batas kemampuannya?


Bukankah Tuhan memberikan cobaan pada umatnya karena Tuhan sayang kepada umatnya? Tapi jika sayang kenapa Tuhan memberikan cobaan yang membuat umatnya merasakan sakit dan menangis seperti ini?


"Tapi kenapa harus gini? Ini lebih sakit. Lebih baik mati dari pada kayak gini. Semuanya kayak sampah, kotor-bau" balas Galuh paruh menahan tangisnya


Sepertinya Argha perlu memanggil Pak Zaen untuk memberikan pencerahan. Beliau adalah guru ngaji sekaligus Pak ustad di komplek perumahannya


Benar kata kakaknya, sekarang Galuh perlu diperhatikan. Jangan ditinggal sendiri, takutnya melakukan hal yang tidak baik


Argha menatap Galuh ikut sedih atas kejadian yang menimpanya


"Dunia emang kadang suka bercanda, tapi gak lucu"


"Gak cuma kak Galuh yang mengalami hal kayak gini. Di luar sana banyak, bahkan lebih berat. Dari situ kita di uji seberapa kuat kita bertahan nahan rasa sakit itu. Ibaratkan lomba, mereka yang nyerah dan kalah, milih buat mati. Dengan kita mati, apa semuanya selesai gitu aja?"


Galuh mengangkat kepalanya, menatap Argha. Menunggu Argha melanjutkan ucapannya


"Engga. Dengan mati, kita malah ninggalin luka buat orang yang sayang sama kita. Mama, Papa, saudara atau sahabat, mereka pasti sedih. Belom lagi, diakhirat nanti. Emang udah siap ditanya-tanya sama malaikat? Udah fasih bahasa Arab? Udah punya bekel banyak buat ke akhirat?"


Argha tersenyum, namun terlihat sedih. Galuh dapat melihatnya dengan jelas


"Jujur, liat kak Galuh sekarang, kayak liat kak Una 4 tahun lalu"


Galuh menatap Argha kaget


Yunna pernah mengalami hal seperti ini juga? Batin Galuh


"Waktu itu kak Una kelas 11, pulang les. Untung aja bang Jeo, Mamang sama om Hari cepet nemuin kak Una sebelum telat. Setelah kejadian itu, kak Una gak sadar 4 hari dan setelah bangun kak Una trauma berat. Bahkan kak Una gak mau ketemu sama siapapun kecuali Mama. Kita semua ikut sakit liat keadaan kak Una. Kak Una yang bawel, riang, berisik gak ada lagi. Yang ada kak Una yang menutup diri, nangis sendirian. Bahkan kak Una coba buat bunuh diri, Alhamdulillahnya selalu gagal"


Galuh diam, ingin mendengar kelanjutan cerita Argha


"Bahkan kak Una berani loncat dari lantai 2, kita gak sempet nolongin kak Una. Kak Una masuk rumah sakit dan koma selama 2 minggu. Waktu itu, kita beneran udah pasrah karena gak ada perkembangan apapun. Tapi Allah beri keajaiban. Kak Una bangun, dan gak inget apa-apa. Kak Una lupa semuanya yang terjadi sebelumnya. Dari situ aku percaya kalo keajaiban itu ada kalo kita gak putus asa"


"Beruntungnya Yunna bisa ngelupain kejadian itu" kata Galuh


"Kita bersyukur banget. Kak Una yang bawel, berisik, riang ada lagi. Karena Mama dan bang Jeo takut kak Una inget lagi kejadian itu, kita pindah rumah kesini"


"Jadi kak Galuh jangan nyerah, kak Galuh harus kuat. Aku yakin, kak Galuh cewek kuat, menang hadapin semua ini. Kak Galuh jangan ngerasa sendiri. Sekarang ada kak Una, ada aku bahkan semua temen-temen kak Una sama bang Leon. Kita gak akan ninggalin kak Galuh. Aku juga yakin, pasti cowok brengsek itu bakal masuk penjara. Bang Leon sama temen-temennya lagi ngurusin masalah ini. Jadi, kak Galuh jangan khawatir"


Galuh tersenyum


"Aku bole peluk kamu?"


Tanpa menjawab, Argha memeluk Galuh. Berharap memberinya kekuatan


"Sekarang jangan sedih-sedih lagi ya kak"


Galuh menganggukkan kepalanya


Tanpa keduanya sadari, Jeo berdiri di balik pintu yang sedikit terbuka. Mendengar semua obrolan Argha dan Galuh. Ia juga penasaran apa yang terjadi


Siapa dia? Dia kenapa? Ada apa di sini?


'Kenapa Aga gak pergi ke sekolah?!'


Itu pertanyaan yang paling paling penting yang Jeo pertanyakan


TBC~