Up

Up
Ma Luh put



Happy Reading~~


¥.


¥.


¥.


"Una"


Yunna yang berjalan di koridor menuju ruang rawat Galuh, menoleh


"Abang!" Serunya, lalu berlari menghambur memeluk abangnya


"Jangan lari, nanti kamu jatuh" Jeo membalas pelukan Yunna. Ada Rizal juga


Yunna habis dari kantin untuk mengisi perutnya yang belum diisi dari siang


"Abang lama banget"


"Penerbangannya ditunda. Abang gak bisa berbuat apa-apa"


Yunna mengangkat kepalanya, menatap Jeo sedih


"Kak Galuh. Sekarang kita harus gimana?" Air matanya kembali mengalir


"Una!" Semuanya menoleh. Dari kejauhan, Ellen berlari menghampiri Yunna


Yunna melepas pelukannya


"Kak Galuh-" Ellen mengatur napasnya terengah-engah


"Kak Galuh kenapa?" Tanya Yunna khawatir


"Kak Galuh gak ada di kamarnya!" Heboh Ellen yang sepertinya lupa sedang di rumah sakit


"Gak ada gimana?" Tanya Rizal


"Ya gak ada di kamar. Dikamar mandi gak ada. Awa lagi nyari-nyari di luar"


"Kita harus gimana?" Tanya Yunna bingung, khawatir dan takut juga


Yunna takut jika Galuh mencoba melakukan hal buruk, lagi. Seperti sore tadi, Galuh kembali mencoba membunuh dirinya lagi. Untung saja Nazwa datang dan mencegahnya


"Gue mau cari ke depan" Ellen langsung berlari


"Cctv!" Rizal menunjukkan kamera cctv


"Ruang cctv dimana?" Tanya Jeo


"Bawah, deket tangga darurat"


Yunna langsung berlari diikuti Jeo dan Rizal


Sesampainya di ruang cctv, ketiganya langsung memeriksa cctv setelah mendapatkan izin


Direkaman, terlihat Galuh berjalan ke arah kanan koridor rumah sakit dan berakhir menaiki lift. Selanjutnya  beralih pada cctv didalam lift yang dinaiki Galuh. Terlihat beberapa kali Galuh mengusap air matanya


"Kira-kira kak Galuh kemana?" Gumam Yunna


"Itu naik atau turun liftnya?" Tanya Rizal entah kesiapa


"Periksa disetiap lantai untuk lift nomor 2" suruh petugas itu kepada petugas lainnya


"Lantai 12. Dia keluar di lantai 12" kata petugas lainnya yang duduk di meja pojok


Buru-buru Yunna, Jeo dan Rizal menghampirinya


"Oh? Atap?" Gumam Yunna "Kak Galuh pasti ke atap." Tambahnya yakin


Jeo langsung berlari


"Kamu kasih tau Ellen sama Awa" kata Rizal, lalu ikut berlari menyusul Jeo diikuti Yunna tentunya yang sedikit lambat karena mencoba untuk menelpon Ellen



•     •


•     •     •


Pintu atap terbuka, Galuh berjalan menuju dinding pembatas atap yang berhadapan dengan halaman depan rumah sakit. Menatap langit dan kembali menangis di sana


Galuh kesal pada dirinya. Kecewa, malu dan sangat takut


Harapannya hancur


Harapan dan mimpinya yang 6 bulan ini ia inginkan hancur setelah ada bayi di dalam rahimnya. Bayi dari laki-laki brengsek itu


Sekarang ia harus bagaimana? Bagaimana reaksi keluarganya tahu jika keadaannya seperti ini? Ia juga malu, sangat malu kepada Yunna dan orang-orang yang ia kenal dan dianggap seperti saudaranya


Apakah Galuh harus membesarkan bayinya sendiri?


Tidak, itu tidak gampang


Apakah Galuh akan kuat menghadapi masalah ini?


Tidak


Ia benci dirinya sendiri. Benci laki-laki brengsek itu. Benci bayi yang ada dikandungnya dan benci hidupnya


Katanya, Tuhan tidak akan memberi cobaan di atas kemampuan umatnya, tapi kenapa Tuhan memberi cobaan kepadanya di atas kemampuannya?


Galuh menghapus air matanya, menghembuskan nafasnya dalam-dalam lalu mencoba naik ke atas tembok pembatas atap menggunakan bangku yang ada disana


"Dengan begini, semuanya selesai" gumamnya


Tiba-tiba pintu kembali terbuka


Galuh menoleh kaget melihat Jeo dengan napas yang memburu


"Jangan. Kalo kamu mendekat lagi, aku loncat" ancam Galuh


"Turun dari situ, Gal. Dengan kamu loncat dari situ, emang masalah selesai? Engga, Galuh"


"Seenggaknya semuanya selesai. Gak ada beban lagi"


"Kamu jangan beranggapan kayak gitu, Gal. Inget orang tua kamu. Pasti mereka sedih banget kalo liat kamu kayak gini. Liat Una, dia sedih banget liat kamu kayak gini. Gak cuma Una, yang lain juga sedih, khawatir sama kamu" bujuk Jeo "Jangan egois, pikirin juga mereka yang peduli sama kamu, Galuh. Sekarang turun, kita cari jalan keluarnya sama-sama"


"Aku gak bisa. Aku gak kuat, Jeo. Kalo ibu sama bapak tau, pasti mereka kecewa banget. Pasti mereka marah. Aku malu. Semuanya hancur"


Pintu kembali terbuka,


"Kak Galuh-" Yunna kembali menangis "Kak Galuh jangan gini. Aku gak mau kak Galuh kenapa-napa. Sekarang turun ya, kita cari jalan keluarnya sama-sama" tambahnya membujuk


"Kamu bilang, Tuhan gak akan ngasih cobaan di atas kemampuan hambanya. Tapi sekarang apa? Aku gak kuat"


"Kak Galuh, jangan gini. Aku mohon, kak"


"Sekarang aku harus gimana? Aku juga gak mau kayak gini. Aku takut" Galuh kembali menangis


Perlahan Jeo mendekati Galuh


"Jangan takut, ada aku. Aku janji akan cari jalan keluarnya. Aku, Aga sama yang lain sayang sama kak Galuh. Sekarang kak Galuh turun ya"


"Engga. Aku cuma jadi beban buat kalian"


"Kak Galuh, aku mohon jangan kayak gini" mohon Yunna lagi


Ingatkan Yunna untuk nyantet cowok brengsek yang membuat Galuh seperti ini


Rizal, Ellen dan Leon pun datang


Galuh hanya tersenyum


"Kak-!"


Dengan gesit, Jeo menarik tangan Galuh saat ia hendak menjatuhkan diri


Galuh jatuh di pelukan Jeo


Semua yang disana menghelakan napasnya lega


Galuh memberontak di pelukan Jeo. Memukul dan mendorong, tapi Jeo masih menahannya, kembali memeluknya jika terlepas. Mencoba untuk menenangkan Galuh


"Lepas! Lepas Jeo!" berontak Galuh, menangis meraung-raung di sana


"Aku mohon, jangan kayak gini, Gal" balas Jeo mempererat pelukannya


"Semuanya hancur. Gak ada harapan lagi. Aku malu, Jeo"


Yunna ingin menghampirinya Jeo, tapi ditahan oleh Leon. Leon takut jika Yunna terpukul


"Aku yang akan tanggung jawab!"


Galuh diam. Semuanya pun diam, kaget mendengar ucapan Jeo


"Aku akan tanggung jawab soal anak itu" ulangnya


Galuh diam, ada perasaan lega dihatinya. Ia sangat lega dengan ucapan Jeo barusan tapi terdengar sangat menyedihkan


Rizal menatap Jeo tidak percaya. Sungguh, ini diluar ekspektasinya. Jika Jeo akan pertanggung jawab soal Galuh, lalu bagaimana dengan Arin?


Pasti enggak serius, Jeo mengatakan itu hanya untuk menenangkan Galuh. Pikir Rizal


Yunna juga menatap abangnya tidak percaya dan juga sedih. Apakah ucapannya serius. Lalu bagaimana dengan Arin? Ayolah, drama macam apa lagi ini ya Tuhan


Sedangkan Leon merasa lega dengan ucapan Jeo tanpa tau apa-apa


Kembali, Galuh menangis disana tanpa memberontak atau membalas pelukan Jeo. Sedangkan Jeo merasa lega karena Galuh menjadi tenang. Ia memeluk Galuh erat. Wajah Arin langsung terlintas didepannya


Yunna berbalik, memeluk Leon. Kembali menangis di sana. Leon membalas pelukan Yunna


"Noh kan, semuanya pasti baik-baik aja" ucapnya


Rizal menoleh menatap Leon


"Iya kan? Apa nanti beneran baik-baik aja?" Tanyanya


"Hmmm?" Leon juga menatap Rizal bingung


TBC~