
Aileen yang melihat kenan tampak sangat khawatir membuat nya semakin yakin jika kenan dan aletta memiliki hubungan spesial.
"Bli.. kamu tahu rumah sakit terdekat disini, tolong antar kami".
Tanya karen pada penjual es degan dipinggir jalan.
"Iya saya tahu, mari saya antar, buk kamu tolong jagain ini dulu ya".
Ujar bli menyuruh istrinya untuk menjaga dagangannya.
Merekapun segera bergegas ke rumah sakit, di dalam mobil kenan memberikan jaketnya untuk bantal aletta agar darahnya tidak kemana-mana.
Suasana menjadi haru, semua melihat kenan yang sangat panik hingga menangis sesegukan tidak ada yang berani untuk mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kenan... Segitu khawatir nya ya kamu sama aletta, kalau itu aku apa kamu juga bakal sepanik ini?".
Ucap aileen dalam hati, ia meneteskan air mata bukan karena kondisi aletta melainkan karena rasa cemburunya.
Sandra bersandar di bahu karen, ia tak kuasa menahan tangisnya, bagaimana tidak, aletta merupakan teman terbaiknya disaat ia kesusahan aletta lah yang mengulurkan tangannya terlebih dahulu.
Sedangkan ellen, dia tampak shock berat melihat kondisi aletta yang terjadi karena menyelamatkannya.
"Aletta bangun dongg.. maafin aku".
Rintih ellen.
Kenzo mengusap-usap lengan ellen sembari memeluknya.
Setibanya di rumah sakit, kenan langsung menggendong aletta menuju ruang UGD.
Keadaan menjadi menegangkan saat domter mulai menutup pintunya.
Satu jam berlalu dokter belum juga kunjung keluar.
Mereka yang tadinya ingin mencari makan menjadi tidak lapar sama sekali.
"Kenan sabar ya... Aletta pasti selamat".
Ucap ailen mengusap-usap punggung kenan dan dibalas anggukan oleh kenan.
"Gue ke toilet sebentar".
Ujar kenan meninggalkan teman-temannya.
Di toilet kenan menelpon kedua orangtuanya dan orangtua aletta, ia memberi kabar tentang kecelakaan yang menimpa aletta.
Semuanya sontak terkejut dan langsung menanyakan kondisi bayi. Semuanya ingin menyusul ke bali untuk menemui aletta namun dilarang oleh kenan.
Setelah selesai menelpon kenan kembali ke ruang UGD.
Ceklekk...
Pintu ruangan terbuka, semua sontak berdiri dan menghampiri dokter.
"Gimana dok?".
Tanya kenan lirih dengan mata sembabnya.
"Keluarga pasien? Atau kerabat dekatnya? Mari ikut saya".
Ujar doker.
Kenan kemudian mengacungkan diri dan mengikuti dokter ke ruangan nya.
"Maaf sebelumnya anda siapa pasien?".
Tanya dokter sebelum memberi tahu kondisi aletta lebih jauh.
"Saya suaminya dok, gimana keadaan istri dan anak saya".
Ujar kenan penuh harap.
"Istri anda selamat, dan sekarang bisa di pindah ke ruang rawat, tapi untuk bayi... Maaf saya belum bisa menyelamatkan nya, operasi pengangkatan bayinya juga berhasil, kalau anda ingin melihat anak anda silahkan ke ruang NICU".
Jelas dokter.
"Baik dok, tapi... Apa boleh saya minta tolong, tolong rahasiakan ini dari teman-teman saya yang tadi".
"Baik, saya pasti menjaga privasi pasien".
Ujar dokter.
"Baik dok terimakasih".
Kenan tiba di ruang NICU, ia menggunakan baju steril rumah sakit agar bisa menggendong bayinya.
Kenan membelai lembut rambut bayinya, ia tak henti meneteskan air matanya.
"Hikss...hikks... Cantik...".
Ucap kenan gemetar memandang putri mungilnya itu.
"Maafin papa ya.. papa ga bisa jagain mama, ini salah papa, hikss... Harusnya kamu ada disini bareng mama sama papa".
"Kenan gimana?".
Tanya teman-temannya.
"Aletta selamat".
Senyum tipis keluar dari mulut kenan, sakitt rasanya kehilangan anak yang sudah ia tunggu kehadirannya, apalagi dia dan aletta sudah menyiapkan kamar dan juga perlengkapan bayi lainnya . Kenan bingung harus mengatakan apa pada aletta.
"Syukurlahh...".
"Kalian udah masuk?".
Tanya kenan.
"Belum kita nunggu lo dulu".
Ujar ken.
"Yaudah gue masuk duluan".
Kenan kemudian masuk ke ruang UGD dengan mengenakan baju steril.
"Hikss... Hikss... Kenan... Anak kita manaa".
Aletta menangis ketakutan melihat perutnya yang terasa kosong dan terdapat bekas jahitan di perut.
"Sabar yaa... Mungkin belum waktunya kita dikasih momongan".
Ujar kenan lirih.
Tangis aletta pecah setelah mendengar kabar dari kenan.
"Arrgghh...haa...hiks...hikss... Ga mungkin, gamau kenan, kamu liat kan kemarin dia masih nendang-nendang didalem, di pasti kuat kaya kamu kan, dia pasti kuat kenan hikss... ".
Kenan memeluk erat aletta, ia membiarkan aletta meluapkan emosinya terlebih dahulu.
"Udah ya... Nanti baby nya sedih liat dari atas sana, ini semua udah takdir Tuhan".
Kenan mengusap air mata aletta dan memanggil perawat untuk memindahkan aletta ke ruang rawat.
*Di ruang Rawat*
"Aletta maafin aku ya.. gara-gara nyelametin aku kamu jadi kaya gini, sakit ya pasti hikss... Alettaa, jangan marah ya sama aku".
Ucap ellen menangis di pelukan aletta.
"Gapapa kok, aku udah mendingan".
Ucap aletta tersenyum.
"Hebat banget kamu, bisa nyembunyiin rasa sakit kamu dari temen-temen, dan kamu juga masih konsisten berpura-pura tidak mempunyai hubungan apapun sama aku".
Gumam kenan dalam hati.
"Aletta baik, tapi aku juga gabisa kalau lihat kenan sama dia".
Gumam aileen dalam hati.
"Kalian pasti belum sempet makan kan? Mau aku go food in?".
Aletta menawari teman-temannya.
"Lettaa, apaan sii, harusnya kita yang nawarin".
Ucap sandra kesal karena aletta masih saja mementingkan teman-temannya dibanding dirinya.
"Aletta tau ga lo dari tadi kenan nangis ga berhenti-henti".
Ledek ken mentertawakan kenan.
"Yee.. namanya juga khawatir".
Sahut kenan tak terima.
"Ya tapi di antara kita cuma elo yang paling histeris".
Imbuh ken.
"Oh ya? Gimana?".
Tanya aletta penasaran.
"Gini nih, aletta... Kamu pasti kuat, aletta bertahan yaaa... Huawaaa...".
Kenzo memperagakan kenan dengan dilebih-lebihkan.
"Heii... Ga, ga kaya gitu ya, enak aja".
Bentak kenan kesal.