The Greatest Marriage

The Greatest Marriage
saling melindungi



Flashback


"Satu nama yang hanya perlu kamu ingat. Roy... Dia yang udah buat papa masuk disini".


Ujar papa sandra dari balik jeruji besi.


Sandra mengangguk tak kuasa menahan tangis. Ia kemudian berpamitan karena waktu jenguk sudah habis.


•••


"San? Sandra ? Are u okay?".


Teriakan aletta membuat lamunan sandra buyar seketika.


"Ahh...emm... Aku pamit dulu ya. Om... Letta, permisi".


Sandra segera bergegas keluar ruangan untuk menenangkan diri.


"Sandra kenapa ya? Ga biasanya?".


Gumam aletta bertanya tanya.


"Gimana? Udah mendingan?".


Tanya tn. Handoko memegang kening anaknya.


"Aku kan ga demam pah, ngapain kening aku di cek".


Aletta menepis tangan papanya yang masih menempel di keningnya.


"Oh iya, papa lupa hahaha".


Tn. Handoko dan tn. Roy tertawa serentak, kecuali aletta yang tampak terlihat kesal.


~Kampus~


"ga ada aletta jadi sepi".


Gumam karen terlihat murung.


"Bukannya hari hari lo emang ga ada aletta ya?".


Sahut ken.


Pandangan kenzo tertuju pada kenan yang terlihat gusar.


"Kenapa?".


Tanya kenzo. Kenan seketika mendongak karena terkejut.


"Haa? Ga... Gapapa".


Jawab kenan gugup.


"Hai... Gimana keadaan aletta kemarin?".


Aileen tersenyum menghampiri kenan dan teman temannya.


"Udah mendingan".


Balas kenan.


"Nanti pulang sekolah gimana kalau kita jenguk dia lagi".


Aileen menatap mata teman temannya satu persatu.


"Kenapa aletta seolah jadi temen deket kita gitu sih? Padahal kita gapernah bicara sama dia".


Sahut kenzo heran melihat sikap teman temannya.


"Tapi kan... Dia bukannya deket sama karen?".


Ucap aileen.


"Masa ?".


ujar karen berlagak polos.


Semua teman temannya menatap datar Padanya.


"Tapi kalau aletta nganggepnya gitu sih gapapa hehe".


Mendengar ucapan karen, semua langsung melempar camilan ke arahnya.


"Leen...".


Ujar kenan lirih.


"Ya?".


"Kemarin kamu sebarin brosur buat apa?".


kenan menatap tajam aileen. Pandangannya tidak beralih sedetikpun hingga membuat aileen gugup.


"Emm... Kenapa emang? Aku disuruh bantuin sama angela, katanya sih dari dosen?".


Ujar aileen berusaha tetap santai.


"Ohh gitu, gapapa sih cuma nanya".


Kenan manggut manggut, dia percaya bahwa aileen tidak mungkin ada kaitannya dengan masalah aletta.


Tak lama kemudian sekolah usai. Kenan langsung bergegas pulang tanpa berpamitan dengan teman temannya.


"Kenan kenapa sih semenjak ada aletta jadi aneh".


Gumam ellen pada kenzo.


"Udahlah biarin aja, males gue lama lama".


Kenzo melihat kesal ke arah kenan. Dia kemudian pergi tanpa menghiraukan ellen yang sedang didekatnya.


"Kamu kenapa sih?".


Teriak ellen mengejar kenzo.


"Kamu gimana udah mendingan?".


Kenan berbicara dengan ngos ngosan.


"Gapapa, kamu abis maraton ya? Kenapa ngos ngosan gitu?".


Ujar aletta menatap keheranan.


"Kamu pikir?".


Ucap kenan ketus.


"Isshh... Aku hari ini udah boleh pulang".


Ujar aletta sangat senang.


"Bagus dong".


Jawab kenan singkat.


"Emm...kenan".


"Apaa?".


" karena hari ini aku lagi seneng, aku mau kamu gendong aku sampe mobil".


Ucap aletta manja.


"kenapa jadi aku yang susah?".


Sahut kenan kesal.


"Ayolahh...".


Rengek aletta menarik tangan kenan.


"Ga mau !".


Jawab kenan jutek.


"Maah liat nih kenan, masa ga mau gendong aku sampe mobil".


Lagi lagi aletta mengadu pada mamanya.


"Ya lagian kamu ini aneh aja. Kamu pikir badan kamu ga berat apa?".


Ucap ny. Renatta membela kenan.


Hal tersebut pun semakin membuat aletta kesal.


"Padahalkan orang sakit seharusnya ga jalan sendiri".


Oceh aletta ngedumel pelan.


"Kamu kan yang sakit tangannya bukan kakinya".


sahut kenan mendengar ocehan aletta.


Kenan terus melihat aletta yang sibuk beres beres. Pandangannya tak lepas dari perut aletta.


"Yuk... Kamu kenapa liatin aku gitu sih?".


Aletta melihat kembali bajunya dan memutar tubuh.


"Engga, cuma liat baju kamu beda aja dari biasanya".


kenan kemudian bangkit dari tempat duduk dan mengambil barang yang sudah siap dibawa ke mobil.


Setibanya dirumah, aletta dikejutkan dengan hiasan dan sambutan dari keluarga besarnya.


"Woahh... mereka semua ini siapa".


Bisik aletta pada kenan.


"Keluarga dan temen temen papa".


kenan lalu tersenyum dan menunduk memberi salam satu persatu pada tamunya.


"Aletta gimana tubuh kamu ada efek samping tidak? Kalau masih sakit juga om bisa bawain dokter buat kamu dari singapore sana".


Ujar salah satu kolega tn. Zhackery.


"Hehe... Aletta udah baikan om".


Jawab aletta malu malu.


"Waahh kenan sebentar lagi akan menjadi mitra kerja kita hahaha gimana kenan persiapan kamu".


"Tentu papa nya sudah mengajari dia".


"Untuk saat ini kenan masih fokus sekolah".


Jawab kenan.


Tn. Zhackery langsung menatap tajam kenan setelah mendengar jawaban kenan yang tidak sesuai harapannya.


Aletta yang sadar dengan tatapan tn. Zhackery langsung menyahut pembicaraan.


"Yaa, karena sebentar lagi kita akan ujian. Aku yang menyuruhnya untuk fokus sekolah, karena dia tiap malam memikirkan inovasi baru apa yang akan membuat kantornya maju dan sampai lupa kalau kita akan ujian. Emmm... Jadi, menurutku... Bukankah nilai sekolah itu juga penting?".


Ucap aletta berbohong. Kenan menoleh terkejut dengan ucapan aletta.


"apa yang kamu katakan barusan?!".


Bisik kenan.


Aletta hanya menyenggol lengan kenan, memberi tanda agar kenan diam.


"Iya om setuju bagus sekali pemikiran semacam itu, anak jaman sekarang banyak sekali yang hanya menghabiskan uang orang tuanya dia bahkan tidak memikirkan nilai sekolah. Tn. Zhackery anda benar benar beruntung hahaha".


Tn. Zhackery seketika tersenyum dan merasa bangga. Dia menepuk nepuk pundak kenan dan tertawa pada teman temannya.


Hari semakin gelap, semua tamu mulai berpamitan. Begitu juga dengan orang tua kenan dan aletta.