
Kenan masih mematung tak berkutik. Dia sangat tahu apa yang dirasakan aileen, namun disisi lain dia juga bingung harus berbuat apa.
"Kalian marahan lagi?".
Tanya karen menghampiri kenan.
"Entahlah.. Mana aletta?".
"Heei !!! Aku sudah gak mau lagi jadi pembantu kamu !".
Teriak aletta dari kejauhan. Dia berjalan terengah karena membawa barang barang kenan yang begitu banyak.
"Aku tidak peduli lagi. Hosshh... Hosh... Hoshh...".
Gumam aletta meninggalkan barang barang kenan di tengah lapang.
"Hei ! Mau kemana kamu ! Itu barang mahal, jangan seenaknya meningglakan di tempat.... Ashh !!!".
Kenan langsung berlari untuk mengambil barang barangnya.
Teman temannya hanya tertawa dan menggelengkan kepala.
"Itu aletta? Gemuk banget sekarang".
Ujar ellen.
"Ternyata bukan cuma gue yang merasa begitu".
Timpal karen.
"Omong omong dimana ken?".
Tanya kenzo celingukan.
"Benar juga".
Jawab karen mulai sadar bahwa temannya kurang satu.
"Itu bukan?".
Ucap ellen menunjuk ke arah pintu gerbang.
"Dia pasti menunggu wanita itu lagi".
Gumam karen sambil menatap ken yang sedang melihat satu persatu wajah yang keluar gerbang.
"Huufftt...! Yuk cabut".
Ucap karen terengah.
"Woy ! Ken ! Mau ikut ga?!".
Teriak kenzo.
"Nanti gue nyusul !".
Jawab ken berteriak.
Basecamp
Kenan melamun didekat jendela sembari memikirkan perkataan aileen.
"Grhhmm... Mikirin apa sih?".
Ujar kenzo duduk didekat kenan.
"Kenapa sih cewe itu sulit dipahami".
Jawab kenan bete.
"Aileen ya? Marah lagi? Dia bukan siapa siapa lo tapi kenapa cemburunya berlebihan, menurut gue ga seharusnya sikap dia kaya gitu ke elo".
Balas kenzo.
"Aahh... Entahlah".
Ucap kenan menghela napas.
"Jadi lo mau kita bantuin apa?".
Kenan menoleh, menaikkan alis sebelahnya.
"Tolong pikirin idenya sekalian ya".
Ujar kenan tertawa kecil.
"Hei ! elo emang teman ga tau diri".
Balas kenzo.
Brakk... !!!
Semua seketika menoleh ketika seseorang membuka pintu dengan sangat kasar.
"Kalian pokoknya harus bantuin gue kenalan sama tuh cewe!".
Ujar ken berdiri tegap di depan pintu.
Karen, kenan dan kenzo saling pandang dan memasang wajah datar masing masing.
"grhhmm... Dari pada pusing mikirin cewe, gimana kalau kita liburan aja. Kita udah lama ga liburan bareng bareng, udah lupain cewe cewe kalian itu, kita bisa sewa yang lebih manis".
Ujar karen menaik naikkan kedua alisnya.
"Pergi aja sendiri !".
Ujar ken, kenan dan kenzo serentak.
"mentang mentang udah pada punya pasangan, lupa kalau dulu pernah ngapain aja. Huuuu...".
Gerutu karen kesal.
"Eh tapi ada benernya juga. Nanti kita bantuin deh bujuk cewe lu itu".
Ucap kenzo pada ken.
"serius lo? Berangkat lah kalau gitu".
Balas ken bersemangat.
"Gue ajak ellen. Elo ajak aileen, dan karen biar sama cewe cewe sewaannya itu haha".
Ucap kenzo diiringi tawa.
"Gue sama aletta".
Sahut karen.
"menurut lo gimana?".
Tanya ken pada kenan.
"Ayo ayo aja sih gue".
"Tinggal cewenya aja mau apa engga, kita nya mah siap siap aja".
Drrttt.... Drrrttt...
"eh hp lo bunyi tuh".
Ujar karen melihat hp kenan yang berdering, dia tidak sengaja melihat nama yang tertera di layar ponsel kenan pun sontak terkejut.
"Ehh aletta ! Aletta ngapain telpon elo? Ehh?".
Ucap karen histeris.
"Apaan sih?".
Jawab kenan santai sambil berjalan sedikit menjauh dari teman temannya.
Via telepon
*kenan : hallo... Kenapa?
Aletta : kamu masih di basecamp ya?
Kenan : iya
Aletta : kalau pulang bawain buah ya
kenan : buah apaan?
Aletta : apa aja
kenan : kamu ga inget kalau masih jadi pembantu aku?! Kenapa jadi kamu yang nyuruh?
Aletta : udah deh ! Tinggal bawain aja ribet amat*.
Tutt...
Aletta langsung mematikan telponnya.
"Kenapa jadi galakan dia?".
Gumam kenan heran.
Karen menyilangkan kakinya dan berdiri di belakang kenan.
"???".
"Hei ! Kenan. elo ada kencan buta ya sama aletta".
Ujar karen menatap sinis kenan.
kenan hanya menaikkan alis sebelah dan berlalu gitu aja.
"Aasshh... Anak ini, selalu saja mengabaikanku".
Oceh karen kesal.
Pukul 21 : 00.
Saat di perjalanan pulang dari basecamp, karen tidak sengaja melihat sandra yang sedang berjalan kaki sendirian.
"Itu... Bukannya sandra ya?".
Ujar karen meminggirkan mobilnya.
"Sandra? Mau bareng?".
Ucap karen menawarkan.
"Ga.. Gausah".
Jawab sandra merasa sungkan.
"Yakin lo? udah malem gini loh. Udah buruan masuk, meskipun gue terlihat ga peduli tapi sebenarnya gue itu baik kok".
Ucap karen memuji diri sendiri.
"Beneran gapapa?".
Tanya sandra gugup.
"Iya lah, kita kan temen. Elo kenapa jadi canggung gitu sih".
"Itu kan dulu. Sekarang kita beda kasta".
Ujar sandra sambil masuk ke dalam mobil.
"Ngobrol tinggal ngobrol kasta kasta apaan. Semenjak... Grhhmm... Ya. Elo kenapa jadi menyendiri gitu sih?".
Tanya karen mengurungkan niatnya untuk membahas soal ayah sandra.
"Gue masih punya muka kali. Gue cuma ngerasa ga pantes aja ada diantara kalian".
Jawab sandra.
"Yaelah santai aja kaya dulu".
ujar karen.
"Tenang aja, bentar lagi semua juga akan kebongkar. Papa aku itu bukan orang seperi itu".
Ucap sandra tersenyum tipis.
"Gue percaya kok".
"gue kira.. Karen yang sombong ini tidak punya rasa empati".
Ledek sandra tertawa kecil.
Rumah kenan
Aletta duduk di sofa menunggu kenan pulang. Dia sangat kesal karena sudah tidak sabar ingin makan buah buahan.
ceklekk...
"Aku pulang".
Ujar kenan masuk ke dalam rumah.
"kamu bawain kan?".
Tanya aletta menghampiri kenan.
"Iya.. nih".
Jawab kenan ketus.
"Makasih...".
Cup~
Setelah mencium kenan, aletta langsung berlari karena merasa malu.
Kenan tertawa kecil dengan pipi yang memerah.