The Greatest Marriage

The Greatest Marriage
Tinggal Kenangan



"Dasar mesum ! Ahahaha...".


Ledek kenzo terkekeh.


"lagian lo baru kenal tapi udah berani ngelihat itunya lama banget ahahaa".


Timpal kenan.


"Heii !!! kalian ga bisa diem ya!"


Ken langsung pergi meninggalkan teman temannya yang tak henti tertawa.


"Kita ke basecamp kan ini?".


Ujar kenzo sambil membuka pintu mobil.


"gue mau ke rumah aileen bentar, habis itu gue susul kalian".


Jawab kenan.


"Yaaa... Baiklah...".


Rumah aileen


"Aarrghh ! Ga seharusnya aku mikirin hal ini".


Gumam aileen sembari meneguk segelas bir dengan rambut terlihat acak acakan.


"Aletta... Kenapa? Kenapa kamu harus datang? Kenapa? Aahh... Aku bahkan tidak bisa berbuat jahat sekalipun aku ingin...".


Bruukk...


Tubuh aileen mulai melemas karena terlalu banyak minum, Kepalanya membentur meja karena tubuh yang tak kuat lagi menopang untuk duduk.


Drrtttt.... Drrrttt.... Ddrrrttt....


.Kenan memanggil.


"ckk ! Siapa yang menggangguku disaat seperti ini...".


Ujar aileen setengah sadar. Dia mulai mengambil ponselnya dan menjawab telepon dari kenan.


Via telepon


*Aileen : ya... Hallo...


Kenan : aku dirumah kamu sekarang, keluarlah


Aileen : haa? Apa? Kenapa kamu pergi kerumahku tengah malam


kenan : kamu mabuk ya? kamu dimana biar aku kesana?


Aileen : tidak, tidakk... Biar aku kesana saja*.


Aileen pun menutup telponnya dan mulai berjalan keluar dengan sempoyongan.


"Kamu gapapa?"


ujar kenan berlari kecil begitu melihat aileen tiba didepan rumah.


"Kenapa malam ini cerah sekalii".


Gumam aileen melihat langit.


"Ini masih siang. Kenapa kamu mabuk? Kamu ada masalah?".


Ujar kenan.


"emmmm... Tidak ! Heei... Kenan, apa aku tidak ada disini mu?".


Ucap aileen sambil menepuk dada kenan.


Kenan terdiam mendengar setiap kata yang keluar dari mulut aileen. Bagaimanapun juga saat seseorang sedang mabuk, dia akan mengungkapkan semua masalahnya dengan jujur.


"Kenapa kamu berubah? Ahhh... kamu bahkan mengabaikanku sekarang. Apa aletta lebih penting?".


Aileen mulai melantur kemana mana. Kedua tangannya memegang pipi kenan sembari merengek.


"Aku tidak pernah berubah, karena kita sahabat" .


Ujar kenan merangkul aileen dan membawanya masuk kedalam rumah.


"benar... Kita hanya sahabat. Sahabat?! Ahaha... Aku yang meninggalkanmu dulu, dasar bodoh".


Gumam aileen memukuli kepalanya sendiri.


"Hentikan, aku akan buatkan air madu untukmu. Tunggu sebentar".


Ucap kenan perlahan menuntun aileen untuk berbaring di sofa.


Cafe


"Aletta.. Emm... gue mau minta tolong sama lo, tapi... gue ga enak buat bilang nya".


Ujar sandra gugup.


"gue bakal bantuin lo sebisa gue".


balas aletta tersenyum.


"lo tahu dulu ayah gue bekerja diperusahaan bokap lo, dan dia dituduh korupsi dan sekarang...".


"gue tahu, jangan ceritakan apa apa lagi".


Ujar aletta sangat mengerti perasaan sandra yang sudah tidak dapat lagi menlanjutkan ceritanya.


"Maksud lo papanya angela?".


Ujar aletta terkejut.


Sandra mengangguk dan mulai menceritakan apa tujuannya.


"gue bisa nolongin lo asal lo stop berpikiran buruk tentang lo, heii... jangan menangis, benar atau tidak nya bokap lo, lo berhak bahagia".


Ucap aletta tertawa kecil mencoba menghibur sandra.


"Tapi gue gak bisa langsung melakukannya gitu aja, atau papa gue bakal curiga. Gue harus pura pura buat tertarik mengenai urusan kantor, paling gak satu bulan buat bikin semuanya tidak curiga".


Jelas aletta.


"Aku mengerti, makasih ya udah mau percaya sama aku".


"Tenang aja, kita cheers dulu".


Ting !!!


"Ahaha... Mari kita lupakan semua masalah ! Yeayy !!!".


teriak aletta mengangkat segelas minuman.


Keesokan harinya saat di kampus. Aletta berpapasan dengan aileen saat hendak pergi ke kelas.


Aletta melihat aileen yang tampak kesulitan karena membawa banyak buku.


"pagi... Mau aku bantuin?".


Sapa aileen langsung mengambil setengah dari tumpukan buku yang ada ditangan aletta.


aletta bengong melihat Aileen yang langsung pergi begitu saja.


Kelas


"Aku taruh di meja kamu yah".


Ujar aletta.


Aileen hanya mengangguk tanpa mengungkapkan sepatah katapun.


"Aletta...".


Ujar aileen lirih.


"Aku tahu, kamu mau bertetimakasih kan".


Balas aletta melemparkan senyuman dan dibalas anggukan oleh Aileen.


"Eh leen, gimana udah mendingan?".


Ujar kenan duduk didekat aileen.


"Maaf kalau ngrepotin, lain kali kamu gaperlu pergi ke rumah ku lagi".


Jawab aileen ketus.


Kenan terdiam sejenak menatap aileen.


"Nanti aku mau ngomong sama kamu".


Bisik kenan beranjak dari tempat duduk.


Tukk...


Kenzo dengan sengaja memukul kepala ken dengan pulpen.


"Hei ken ! Apa lo masih mikirin soal kemarin".


Ujar kenzo tertawa kecil.


"Habisnya lo kurang ajar banget, bagaimana bisa seorang laki laki memandang dada perempuan tanpa berkedip".


Sahut ellen.


"Heii !!! Kenapa dia bisa tahu? Arrghh... Astagaa ! gue lupa kalau gue punya teman yang sangat buruk".


gerutu ken sangat kesal.


Beberapa jam kemudian, jam pelajaran selesai. Aileen langsung bergegas keluar kelas karena buru buru ingin pulang untuk menghindari kenan.


"Aileen !".


Teriak kenan mengejar aileen hingga ke parkiran.


"Kenapa kamu kaya gini? apa perlu sampe kaya gini?".


Ujar kenan menahan lengan aileen.


"trus apa yang bakal kamu lakuin kalau berada diposisi aku?


Kamu tidak akan pernah tahu rasanya melihat orang yang kamu sayang, sudah tidak sayang lagi sama kamu !!!".


Balas aileen ketus sembari menepis tangan kenan yang menahannya.


Dia kemudian masuk ke dalam mobil dan menyalakan musik sekencang mungkin.


Aileen mulai membayangkan betapa bahagiannya dulu dengan kenan, masa masa yang sangat sulit untuk dilupakan.


*Sangat sakit...Tangan yang dulu sering aku genggam, sekarang sudah bukan menjadi tempat ku lagi. Senyum yang kamu perlihatkan untukku, kini kamu perlihatkan ke orang lain. Tempat yang seharusnya milikku, kini menjadi milik orang lain. Menyakitkan sekali...*.


Gumam aileen dalam hati. Air matanya mulai mengalir deras.