
11 Tahun berlalu sejak kematian ibunya, gadis kecil itu sudah tumbuh menjadi gadis yg dewasa.
postur tubuh yg Tinggi semampaj,rambut panjang terurai,hidungnya yg mancung,membuat Thalia bagaikan bidadari.
Gadis itu sedang berlatih ketangkasan nya memainkan pedang,sesekali dia melemparkan benda kecil berbentuk bintang,di beberapa benda bergerak,atau sekedar menembakkan pistol nya ke boneka kayu yg bisa muncul tiba tiba.
bahkan dia masih bisa bersalto keudara menghindari beberap balok yg datang menghantamnya,juga memberikan tendangan nya pada sansak yg tergantung,
gerakannya lincah,bahkan semua lemparan dan tembakan nya tepat mengenai sasaran.
Thalia tersenyum puas,menyeka keringatnya dgn handuk kecil,mengambil botol minuman yg disodorkan jein,matanya yg indah menangkap sosok ayahnya yg datang mendekat.
"Thalia,..besok kamu temani papa ke kantor, ada rapat direksi, papa mau kamu hadir."
tuan bernards berkata sambil melirik benda benda yg sudah dihancurkan Thalia saat latihan,ada rasa bangga dalam hatinya,
tak ada kata pujian dari bibirnya atas pencapaian Thalia.
setelah melirik anak gadisnya sebentar Tuan bernard melangkah pergi,baru beberapa langkah dia berhenti, tanpa berpaling Dia berkata
""Selamat ulang Tahun Thalia.papa harap kamu tidak mengharapkan lebih dari sekedar ucapan selamat."
setelah menyelesaikan perkataannya Tuan bernards berlaru dari tempat itu,tanpa memandang ke blakang, melihat expresi Thalia yg gusar, yg melampiaskan kemarahan nya pada sansak di hadapannya,
Thalia berteriak, menembakkan senjata jein yg direbutnya,tembakan beruntun dia arahkan ke boneka kayu,sampai boneka itu hancur.
Jein tak berani menegurnya,karena Dia sendiri mulai takut melihat Thalia,apalagi kalau sedang marah.Gadis ini bahkan sudah bisa merebut senjatanya dengan satu gebrakan.
"Slamat ulang tahun nona muda" jein mengulurkan tangannya setelah melihat Thalia sudah tenang.
" Trimakasih".
jein tersenyum ini pertamakali nya Thalia berterima kasih padanya.setelah membersihkan dirinya,Thalia tidak turun ke bawah untuk makan malam,Dia akan makan dikamarnya merayakan ulang Tahunnya bersama foto ibunya.
mbok rhum sudah mengantarkan makanan nya tadi. setelah makan malam Thalia melangkah menuju balkon yg ada di kamarnya,dia menatap langit diatas sana.
malam ini begitu indah banyak bintang diatas sana,thalia ingat saat dia tidak bisa tidur ibunya akan membawanya ke balkon ini,mereka berdua akan memandang kerlap kerlip nya bintang bintang.
terbawa suasana Thalia meniupkan saxaphone nya,Dia memainkan sebuah lagu dengan penuh perasaan.
lagu yg begitu syahdu,dibawakan dengan penuh penghayatan,lagu yg dimainkan ibunya disaat saat terakhir,
why Do you love me.... seperti itulah jika dinyanyikan.
jein dan mbok rhum yg sedang menontkn tv,ikut hanyut terbawa perasaan mendengar alunan melodi Yg thalia mainkan,
begitu pun dengan Tuan Bernards yg berada di ruang kerjanya, tubuhnya sudah bergetar hebat,keringat dingin sudah membasahi wajahnya,
"Gadis itu..mengapa dia memainkan irama lagu itu,'suaranya agak terbata.
"setiap hari ulang tahunnya nona selalu memaikan lagu itu tuan.jawab David.
"dan Dia selalu membuka luka yg kusimpan dalam hatiku,atas kehilangan istriku,atas ketidak mampuanku melindungi ibunya, Tuan bernards meyeka keringatnya,
" ah.....aa..aa...., apa yang kau lakukan Thalia," Tuan Bernards berteriak kencang sambil menutup telinganya.
Thalia mendengar teriakan Ayahnya ada senyum di bibirnya,bahkan sedetik kemudian dia tertawa, tawa yg menakutkan karna saat dia tertawa ada butiran air jatuh di pipinya.
*Aku sudah mendapat kan kado ku,Trimakasih papa.