Thalia

Thalia
episode 4 (latihan parth 1)



"Pagi nona" bik Rhum tersenyum,melihat Thalia membuka matanya.


terlihat Thalia menggelengkan kepalanya,mencoba mencerna kembali apa yg terjadi,setelah yakin benar kalau dia sudah kehilangan ibunya.


Gadis kecil ini kembali menitikkan airmata.Bik Rhum yg melihat kejadian itu langsung mendekati Thalia duduk dipinggir kasur,mengusap air mata yg jatuh dipipi nona kecilnya.


"Non Thalia harus merelakan mama Non, percayalah Mama Non pasti sedih melihat Non Thalia menangis." bik Rhum menghibur.


"mama pergi,Thalia rindu Mbok"Thalia mulai terisak.


" mama non Thalia ada disini,dan terus menemani non Thalia.sambil mengenggam tangan kecilnya,dan mendekatkannya ke dada Thalia.


Thalia berusaha menguatkan dirinya,dia bangun dari tempat tidur nya,meletakkan foto ibunya yg sejak semalam didekapnya, mencoba tersenyum di depan foto ibunya,


"slamat pagi mama,mulai saat ini Thalia akan selalu mengucapkan salam di depan foto mama."" ucap Thalia sambil memandang foto ibunya yang sedang tersenyum manis.


tak lama kemudian Thalia sudah selesai mandi, mengganti bajunya,dan tak lama kemudian dia sudah melangkah turun menuju ruang makan keluarga,


sesekali matanya memandang beberapa pengawal yg ada di beberapa sudut rumah nya.


Tiba di ruang makan tampak Tuan Bernards sedang duduk, sambil matanya menatap koran yg ada di genggamannya,.


biasanya mama akan protes jika papa membaca koran sambil sarapan.""ah mama".seperti bergumam thalia menyebut mamanya.


Tuan Bernards yg melihat Thalia mendekat,meletakkan korannya menatap putrinya,dia tau Thalia pasti teringat pada ibunya saat melihatnya membaca koran di meja makan.


"duduk lah,makan sarapanMu"


"Baik papa"


Thalia duduk dibangkunya,menatap bangku kosong didepannya,itu tempat mama.


Tak ada kata yg terucap hanya bunyi dentingan sendok di piring yg sesekali terdengar.


setelah selesai sarapan Tuan Bernards bangkit,dia menatap Thalia yg .asih malas memakan sarapan nya.


" mulai saat ini Thalia hanya akan belajar dirumah," setelah mengatakan semua kegiatan yg akan dijalani Putrinya mulai saat ini,Tuan Bernards melangkah keluar dan pergi dengan di ikuti David.


Thalia memandang punggung papa nya yg menjauh,dia rindu senyuman nya,Dia rindu saat papamya berangkat kekantor, pasti mencium pipinya,membelai rambutnya,dan berpesan padanya agar berhati hati kalau main, jangan sampai jatuh,apalagi terluka,


ada kesedihan diraut wajahnya kenapa kepergian mama membuat semuanya terasa dingin.


sementara itu dalam perjalanan ke kantor,Tuan Bernards termenung,wajahnya yg tampan walau terlihat tegar,tapi dari matanya terlihat ada kesedihan yg begitu mendalam.


sesekali Tuan Bernards menghembuskan nafasnya dengan keras," maafkan papa Thalia.


sementara itu di aula tempat para pengawal berlatih,bangunan yg terletak di samping mess karyawan,tampak Thalia sedang berlatih beberapa gerakan beladiri ,terkadang Dia terjatuh saat kakinya salah melangkah, atau saat memperagakan gerakan salto dan tendangan berputar yg di ajarkan Jein.


Tidak ada kata lelah yg keluar dari bibirnya,walau sesekali Dia menyeka peluh nya yg menetes keluar,Thalia terus saja berlatjh.


mereka hanya istrahat saat jam makansiang, dan sorenya mereka tetap berlatih.


sudah hampir 3 bulan Thalia dilatih Jein,gerakannya mulai lincah,kaki mungilnya sudah mulai jago melakukan tendangan berputar,bahkan sesekali dia bersalto mencoba membuat beberapa tendangan saat di udara,tiba tiba...


"aduh.....,"Thalia menjerit saat tubuhnya jatuh kelantai,saat dia kehilangan keseimbangan waktu bersalto,dan melakukan tendangan saat di udara,


Jein yg melihat Thalia jatuh cepat cepat berlari mendekatinya.


" anda Tidak apa apa,nona."


" jangan pedulikan Aku" Thalia menghentakkan tangannya, saat Jein mencoba membantunya berdiri.


"Berhentilah dulu nona,lihat anda terluka,"jein menunjuk lutut Thalia yg berdarah.


"Jangan kasihani aku,"Thalia berteriak di wajah jein yg sedang berjongkok didepan nya.


"Buat Aku lebih hebat darimu dan paman David,Aku ingin bisa melindungi diriku sendiri,tanpa bantuan kalian,Thalia masih menatap jein.


"Bukankah Kau dan paman David tak bisa melindungi Mama",ada senyum sinis di bibirnya.jein terunduk mendengar apa yg baru saja dikatakan Thalia.