Thalia

Thalia
episode 17



Sebenarnya jein Bingung melihat,Thalia dan Reynhards,seperti sudah saling kenal,Tapi Dia hanya diam.Bahkan saat reynhards turun dari mobil,sambil menggendong Thalia yg tertidur,Dia tidak protes,karena saat ini mereka butuh tempat berlindung ,untuk mengobati luka Alex.


" Marck,telepon dokter edward,suruh dia kemari bawa peralatannya,ceritakan kondisi laki laki itu.suara reynhards di pelankan saat bicara,dia takut thalia terbangun.


Marck membantu jein memapah Alex masuk.


Apartemen Reynhards ada dua lantai,cukup besar,ada dua kamar di lantai bawah,dan ruang makan yg tersambung dengan dapur,juga sebuah ruang keluarga.


setelah mennunjukkan kamar yg akan di tempati Alex,Marck keluar,dilihatnya sopir sudah membungkus itu.


" Masuklah", jangan sampai orang orang yg mengejar tadi,melihat kita.


Sementara itu jein sedang membersihkan luka Alex dengan alkohol yg diamblnya di kotak p3k yg ada di rak ruang keluarga.


" Kita tunggu dokter,untuk mengeluarkan pelurunya."


Alex hanya mengangguk kan kepalanya,dia merasa bersalah karena keadaannya yg terluka.


"Kak,maafkan saya jadi merepotkan,nona pasti kesal."


" tenanglah bukan salahmu,mana berkas yg ada padamu"


Alex menyerahkan berkas yg diselipkannya dibalik kemeja nya,jein pun mengambil berkas yg ada di balik kemejanya,menyatukan kedua berkas itu,dan diletakkan di bawah bantal samping Alex.


"Aku tak bisa menghubungi David,karna ponselku terjatuh tadi,bahkan kita tak bisa membawa koper nona.wajah jein terlihat kuatir.


" Ponselku pun tidak ada,kak.Apa ponsel nona masih ada?"


" entahlah,melihat situasi tadi,pasti hp nona juga terjatuh."


Alex dan jein terdiam mereka melihat bagaimana Thalia menghadapi orang orang tadi,.


" kak..,ternyata nona hebat juga,dia bisa menghadapi lawan,bahkan 6 orang bisa di lumpuhkan nya"


"Nona bukan saja bisa berkelahi,Tuan bernards menyuruhnya berlatih menembak,memaikan pedang,memanah,bahkan nona ahli dalam melemparkan senjata senjata kecil."jein menjelaskan sambil tersenyum.


" Astaga pantas saja saya melihat,ada belati kecil,dan lempengan berbentuk bintang,mengenai orang orang itu."


" Itu senjata rahasia nona,ah.....,bahkan saat ini semua itu tertnggal di koper nona." jein mengeluh sambil memukul ranjang.


tiba tiba pintu kamar terbuka seorang pria masuk.


" minggirlah nona saya akan memeriksanya" pria itu rupanya seorang dokter.


jein berdiri dari samping Alex,membiarkan dokter itu bekerja.


"Dia tidak terlihat seperti dokter,pria ygmemiliki postur tubuh yg kekar,wajahnya lumayan tampan, Dia seperti seorang pengawal pribadi" pikir jein.


" Aku akan mengeluarkan pelurunya,untung tidak terlalu dalam,apa kau bisa bertahan tanpa ku suntik obat penghilang rasa sakit?


pria itu bertanya pada Alex.


Alex menganggukkan kepalanya,dan menggigit sebuah handuk kecil yg diberikan dokter itu.


" palingkan wajahmu, ini tidak lama"


setelah selesai mengeluarkan pelurunya,menyuntikkan anti biotik,dan membalut luka marck,dokter itu berdiri menatap alex yg sudah berkeringat menahan sakit.


" Kau lumayanlah bisa menahan nya,lukamu tidak terlalu dalam aku sudah memberi obat,pasti segera sembuh. setelah menatap jein sebentar Dia keluar.


" kau tidak apa apa?" jein menatap Alex


" Aku baik baik saja kak."


" Aku akan keluar sebentar,istirahatlah."


" kak,."..Alex memanggil jein yg sudah di depan pintu.


" Ada apa"jein menengok keblakang dilihatnya Alex sedang tersenyum malu.


" maaf kak,tapi perutku sudah keroncongan,apa tidak ada makanan di rumah ini?


Benar juga ini sudah pukul 3 sore,jein melirik jam yg melingkar di tangannya.


"