Thalia

Thalia
episode 2 (kehilangan ibu parth II)



Tuan Bernards melangkahkan kaki kekamar nya,berhenti sejenak di depan pintu kamarnya,menatap tajam David.


'saya harap kamu tidak kecolongan lagi,kamu harus lebih waspada,tingkatkan keamanan,kalau perlu tambah personilmu David."


"Baik Tuan""


"skarang kamu harus mengawal Thalia," kali ini Tuan bernards menatap jein.


"Baik Tuan"


"latihlah dia beladiri,jangan terlalu lembut padanya".


setelah dirasa cukup Tuan Bernards masuk kekamarnya.


David dan jein saling menatap ,apa yg di perintahkan Tuan Bernards tadi,membuat mereka sedikit menarik kesimpulan ,


kalau Thalia bakal tidak akan lagi bisa seperti anak seusianya,yg bisa bermain ataupun bermanja bersama keluarganya.


tak ada yg bisa mereka lakukan,jika Tuan Bernards sudah memberi perintah,tidak ada tawar menawar lagi.


Mereka bertiga bergerak turun kebawah,membiarkan 4 orang pengawal yg bediri di kiri kanan tangga,bahkan saat dibawah pun terlihat beberapa pengawal yg sengaja berjaga di beberapa tempat dalam rumah utama.


Rumah Tuan Bernards yg begitu besar dan mewah terletak diatas lahan 5hektar,


disamping rumah utama, terdapat dua buah pavilyun,dan di bagian belakang, terdapat bangunan tempat tinggal para pembantu, dan juga pengawal.


di depan rumah mewah bergaya spanyol ada taman yang tertata rapih dengan beraneka bunga ,ditambah air mancur yg berada tepat ditengah taman ,menambah keindahan taman itu.


setelah memberikan intruksi pada para penjaga, David segera menuju pavilyun samping rumah utama .


sedangkan jein dan mbok rhum ,tinggal di belakang rumah utama, tempat tinggal para pembantu dan pengawal itu, berada tepat di belakang , yg tetap terhibung dengan rumah utama.


bangunan itu cukup besar dan luas,bahkan 2 lantai,dengan beberapa kamar yg berjejer persis seperti apartemen kecil, karna tiap tiap kamar punya kamar mandi, dan juga ruang pribadi ,yg walaupun berukuran kecil,tapi cukup nyaman.


jein melangkahkan kaki kekamarnya yg berada dilantai 2,setelah membuka pintu kamarnya,dia langsung merebahkan diri diatas kasur.


cukup lama jein telentang di kasurnya,sambil menatap langit langit kamarnya,


tak lama kemudian jein bangun,mengeluarkan hp disaku celananya,melepaskan pistol yg terselip di belakang,sedetik kemudian terdengar suara air,cukup lama jein membasuh dirinya,


setelah dirasa cukup jein keluar memakai baju tidurnya,masih melilitkan handuk dikepalanya,dia mendekati meja kecil yg berada tepat di saming kasur,


melihat handphonenya, memastikan kalau tidak ada panggilan, ataupun pesan yg terlewatkan.


setelah melihat tak ada yg penting,jein meletakkan hp nya kembali dan berjalan kearah jendela,,dia mengintip dari balik ghorden, memandang langit biru,penuh bertaburan bintang bintang kecil,ada bulan disana yg begitu terang cahayanya .


entah apa yg ada dalam pikiran nya tatapannya kosong menatap rembulan,beberapa kali jein menghela napas panjang, menghempaskannya,seakan ingin membuang semua beban yang ada pada nya.


.pikiran jein melayang kembal,i teringat saat saat terakhirnya menemani nyonya wulan,Dia kembali teringat peristiwa yg merenggut nyawa nyonya wulan yg sudah selama 6 Tahun dijaganya,


nyonya wulan yg cantik,anggun,dan tidak pernah menganggap nya seperti bawahannya,


nyonya yg selalu ramah pada siapa saja,entah mengapa ada yg begitu tega menembakkan jarum beracun ketubuhnya.