
Alunan melodi,yg lembut menghanyutkan hati,sampai ketelinga,tiga pria yg sedang duduk di ruang keluarga lantai bawah.
Ketiganya yg sedang serius bercakap cakap,saling menatap,mereka hanya diam sambil menimati alunan melodi yg terdengar,sampai edward yg biasanya ceria,dan suka bergurau itu,tampak meneteskankan air mata ...
Reynhard menatap marck,dan edward,seakan meminta penjelasan siapa yg memainkan melodi itu,Dia berdiri,dan mulai melangkahkan kakinya ke anak tangga,satu persatu anak tangga itu di naikinya,Dia tau asal suara itu dari ruang atas,tapi siap yg memainkan pianonya?,melihat reynhard yg berjalan keatas,mereka mengikutinya.
sementara itu thalia masih saja memaimkan jarinya diatas tuts tuts piano,walau matanya terpejam,tapi dgn lincah dia memainkan irama lagu yg begitu syahdu,ada airmata yg menetes di pipinya,kenangan tentang ibunya,yg tak pernah dilupakannya,kasih sayangnya sampai saat terakhirnya dengan orang yg paling menyanyangi nya,terus saja bermain di pikirannya dalam hayalannya wajah ibunya ada di depannya sedang tersenyum kearahnya," mama,........mama.....,suaranya lirih,air mata terus mengalir di pipinya.
jein yg melihat keadaan Thalia,hanya menitikkan airmata,...Dia tau betul perasaan majikannya saat ini,gadis ini merindukan ibunya ingin mencurahkan perasaannya,dia ingin dilindungi,terlebih saat ini seperti ada yg akan mengambil kebahagiaannya,kemana dia harus berlari memeluk,seseorang yg bisa mendengarkan curahan hatinya,Dia tidak memiliki,seorang ibu yg akan membelainya menenangkannya,bahkan membelanya.
" Maaf kan Aku nona,percayalah walau Aku akan kehilangan nyawaKu,Aku kali ini tidak akan membiarkan siapapun merenggut kebahagianMu jein berjanji dalam hatinya.
sementara itu Reynhard yg melihat Thalia yg sudah memainkan piano nya,mendekat memandang jein,menatapnya dengan tajam seakan ingin minta penjelasan apa yg terjadi.Tapi jein hanya tertunduk,sambil menyeka sudut matanya.
Reynhard berdiridisamping Thalia, dia menatap gadis itu lembut,ada rasa ingin melindungi dalam hatinya" apa yg terjadi sayang,kenapa gadis yg bahkan bisa membunuh orang tadi dengan satu kali tembakannya,bahkan bisa melumpuhkan lawannya dengan senjata rahasia,kini...tampuh rapuh,seperti telur yg di ujung tanduk,yg kapan saja bisa jatuh, hancur,bahkan hanya ditiup angin,kenapa skarang kau seperti ini..." bathin reynhard dalam hati.
Thalia yg dalam bayangannya,melihat ibunya yg terjatuh saat sedang pentas,tiba giba berteriak
" Mama....a...a..a..a...," teriakannya keras sambil terisak isak,tangannya terangkat keatas seakan ingin meraih ibunya.
Melihat ini...,Reynhard langsung memeluknya,diraihnya kepala gadis itu,di peluknya,dibiarkan nya thalia terus menangis,dia membelai belainya rambut itu,
cukup lama Thalia menangis,setelah bisa menguasai dirinya,dia menatap pria didepannya,jein,dan pandangannya beralih ke edward dan marck yg masih menatapnya dengan sedih,seakan turut merasakan kesedihannya.
" Maaf maafkan Aku,sudah memainkan piano ini tanpa ijin."kata Thalia sambil berdiri.
" Tidak apa apa sayang,"
" Kenapa kalian semua disini"? Thalia kembali memandang marck dan edwatd.
" ah.....eh nona,kami mendengarkan alunan piano iti," gugup marck menjawab lalu berbalik hendak meninggalkan tempat itu.
"hhhh...ah.hhh",thalia membuang nafasnya,lalu menarik tangan reynhard.
" Ayo kita ngopi,Aku jadi pengen minum kopi".
" Kamu tidak apa apa khan"? reynhard bertanya sambil berjalan di samping thalia.
" Tentu saja",jein tolong buatkan kami kopi."!
Thalia terus melangkah,sambil bergelayut manja di tangan reynhard.
jein mengikuti mereka,dan segera ke bagian pantri saat semuanya duduk di ruang keluarga,sebenarnya reynhard protes saat edward dan marck diajak duduk bersama mereka,tapi karena thalia mengatakan dia ingin bersenda gurau bersama menghilangkan kesedihannya.